SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 150


__ADS_3

"Bagaimana? apakah kalian sudah menemukan keberadaan Pandawa?" Khairul memeriksa hasil kerja anak buahnya.


"Kami kehilangan jejak Pandawa, pak. Menurut keterangan yang bekerja di rumahnya. Pandawa sudah lima hari tidak pulang ke rumah. Saya sempat berpikir mereka menyembunyikan majikannya. Namun setelah kami periksa memang Pandawa tidak ada di rumah. Dan bajunya hanya di sisakan beberapa lembar. Hanya kami menemukan photo ini, Tuan?" anak buah Irul menyerahkan sebuah photo.


"Hmmm ... Jadi dia masih mencoba mencari anaknya Andre! Hah! benar-benar gila dia, buat apa coba mencari gadis kecil itu. Tapi tunggu! ini bisa jadi senjata yang ampuh agar Pandawa bertekuk lutut di hadapanku! hahahaha... hahahaha!" tawa Irul melengking menggema di mansion mewah tersebut.


Irul meminta anak buahnya kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Salah satu nya memantau perusahaan Dewi Savitri juga mencari keberadaan Kayla yang semalaman tidak pulang ke rumah.


Meskipun Pandawa sudah mundur jadi calon menantunya, bukan berarti Khairul mau melepaskan anak muda itu. Anak muda yang dia beri kasih sayang seperti anak sendiri. Irul masih mau memanfaatkan Dawa untuk memuluskan dendamnya.


Khairul membuka beberapa berkas dari perusahaan milik Pandawa. Banyak klien yang komplain karena dirinya mengubah semua peraturan di perusahaan tersebut. Bagi irul peraturan yang di buat anak angkatnya terlalu lembek. Dawa tidak memberi jarak antara hubungan atasan dan bawahan. Dawa juga tidak pilih dalam menjalankan bisnis. Kebanyakan kliennya perusahaan kecil yang mungkin tidak memberikan keuntungan perusahaan. Seharusnya bekerjasama dengan perusahaan besar seperti PT. PUTRA NUSA.


"Kalau saja kamu mau menikah Kayla, saya tidak akan begini sama kamu, Dawa. Meskipun sebenarnya kamu bukan adik kandung Padma. Kamu hanya anak dari seorang janda yang bekerja di rumah keluarga Paundra.


Ah, kenapa aku harus memikirkan asal usul Pandawa. itu bukan urusan aku. Mau dia anak siapa kek, yang penting dia harus membalaskan dendam Padma pada keluarga itu. Ya walaupun bayi yang dikandung sudah aku gugurkan. Lebih baik begitu kan?"


Lamunan Irul buyar saat handphonenya bergetar dan berdering. Lelaki paruh baya itu tersentak lalu mengangkat telepon dari teman bisnis.


"Halo bang Irul apa kabar?"


"Hai juga Irwan, wah sudah lama kita tidak saling berkomunikasi. Kamu apa kabar? seorang bos pertelevisian tiba-tiba menghubungi saya. Ada yang bisa saya bantu,"


"Bang, saya mau mengundang pertunangan anak saya Elsa dengan salah satu pengusaha muda. Rencananya tanggal dua mereka akan bertunangan. Abang bisa datang kan? ingatlah bang kita dulu teman baik. Walaupun sekarang kita jarang bertemu karena kesibukan masing-masing,"


"Boleh juga, wah akhirnya kamu mau menantu juga. Selamat ya, Wan. Nanti aku datang bareng anakku,"


Irul dan Irwan menutup komunikasi mereka. Dia mengenal beberapa pengusaha besar seperti Irwan dan juga Dewi Savitri. Meskipun hubungannya dulu dengan Dewi sangat buruk. Akan tetapi dia masih bisa terhubung melalui Pandawa. Dari anak angkat dia bisa memantau kegiatan bekas tempat dia dulu menjadi orang kepercayaan Wiryawan Harahap.

__ADS_1


Irul keluar dari ruangan kerja Pandawa. Kakinya melangkah menelusuri lorong-lorong kota. Dari lantai atas Irul masih memantau aktivitas perusahaan. Netranya beralih ke sosok wanita dengan penampilan kusut mendekati resepsionis.


Kayla baru saja turun dari taksi. Kakinya turun dan melangkah mendekati pintu gerbang perusahaan Global Machine. Semua yang ada disana tahu siapa Kayla. Calon istri dari atasan mereka, mereka menunduk hormat saat Kayla melintas. Tak ada yang tahu kalau Kayla dan Dawa bukan lagi pasangan.


"Mbak, saya mau ketemu sama Pandawa,"


Resepsionis mencium aroma tidak enak dari nafas wanita di depannya. Sedikit menjauhi akibat aroma alkohol yang keluar dari nafas Kayla.


"Aih, non Kayla suka minum juga. Di kirain dia wanita baik-baik," batin resepsionis.


BRAAAAAK!


"Kamu budeg! saya tanya mana Pandawa! dia harus menikahi saya!" amuk Kayla.


Irul melihat hal itu langsung meminta anak buahnya membawa Kayla pulang. Tak berapa lama ajudan Irul langsung datang membawa Kayla keluar dari kantor Global Machine. Bak orang gila Kayla berteriak kencang mengatakan kalau dia mau menikah dengan Pandawa.


"Non, pulang dulu! nanti bertemu Pandawa di rumah. Dia sudah menunggu non Kayla," bujuk pengawal Irul yang bername tag "Adrian". Wajah Kayla yang tadi muram mendadak cerah. Meskipun dalam keadaan mabuk dia tetap bisa berdiri sendiri. Kayla memberontak itu tidak di tuntun layaknya orang sakit. Masih dalam keadaan sempoyongan Kayla berjalan menuju mobil. Sebentar jatuh sebentar berdiri lagi.


"Vira kamu lihat kan? dia lebih memilih aku daripada kamu. Dari sejak pertama masuk kuliah semua lelaki mendekatimu. Termasuk kak Dawa, hahahaha... kamu lihat Vira, aku menang! aku menang!" Kayla terus mencerocos tanpa henti.


Irul sudah berada di mobil hanya menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan putri semata wayangnya. Lelaki itu hanya bisa mengelus dada.


"Maaf, pak sepertinya non Kayla mabuk," kata salah satu pengawal. Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. Namun satu hal yang terselip di hatinya.


"Kalau Kayla mabuk aku tidak perlu mengotori tangan untuk membuat kandungannya keguguran. Mungkin sudah nasibnya seperti itu," batin Irul.


...****...

__ADS_1


Jam sembilan pagi sudah di suguhkan aroma rempah mewangi dari arah dapur. Sepasang suami-istri yang sudah segar merasa ada magnet yang menarik mereka ke dapur.


Mama Dewi yang semalam baru sampai ke Lembang menghidangkan nasi goreng kecap ditambah bakwan jagung. Tak ketinggalan ada lima gelas teh hangat terhidang di meja. Kenapa lima karena ada Jaka yang ikut menginap di sana. Jaka bertugas mengantar mama Dewi ke Lembang.


Satu mangkuk besar nasi goreng dan satu mangkuk bubur ayam sudah terhidang di meja makan.


"Anak-anak ini sarapannya sudah siap," suara mama Dewi terdengar dari kamar. Bahkan kokokan suara ayam pun kalah.


Dira dan Vira berjalan berjejer di ikuti Juna dan Jaka berjalan di belakang. Mama Dewi menyambut kedatangan anak-anaknya di meja makan. Dira duduk di kursi samping kiri mamanya. Sementara Vira duduk di sebelah kanan mamanya. Juna dan Jaka duduk di tempat yang kosong.


"Jaka, kamu bisa duduk di satu hadapan dengan saya. Soalnya ada satu orang yang akan duduk di sana,"


"Siapa, Ma?" tanya Dira.


"Mantu mama, Dira,"


"Oh aku tahu itu," Vira melihat Dira mesem-mesem sendiri menatap kakaknya dengan tajam.


"Assalamualaikum,"


"Wah, itu dia, cah Bagus ku sudah datang,"


Mama Dewi berjalan menuju pintu depan rumah menyambut kedatangan calon menantunya.


"Panji ayo masuk...." Dewi terdiam saat melihat siapa yang datang. Bukan Panji yang di tunggunya.


"Tante Dewi," sapa lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2