
"Kita mau kemana, Sa?" tanya Vira sudah berada di mobil bersama Elsa dan juga Pasha.
"Ya, jalan-jalanlah, Ra. Emang kamu nggak bosan satu minggu di rumah saja. Iya emang kamu sedang dalam pemulihan. Tapi kalau terkurung di rumah saja kan bosan, Sa. Aku saja kalau sedang kurang fit, atau dalam masalah. Aku pasti pergi ke tempat yang tenang,"
Vira hanya diam saja. Pandangannya beralih ke jalanan, ketika melihat jalan bukan lagi melihat mobil-mobil berjejeran. Hanya pohon-pohon yang berdiri kokoh seakan mereka ikut mengiringi perjalanan jauh.
Domikado do-do mikado eska
Es-eskado eskado bea-beo, bea-beo
Domikado mikado eska
Eskado eskado bea-beo, bea-beo
Elsa bernyanyi lagu do mikado, yang biasa dia dengar sejak kecil. Biasanya lagu itu di nyanyikan mamanya dan juga Pasha kalau dia sedang ngambek atau lagi galau.
Tangannya bertepuk sambil menyanyikan lagu itu. Wajahnya terlihat riang demi menghibur sahabatnya. Membawa Vira jalan-jalan ke luar kota bukan hal yang gampang. Sikap mama Dewi yang sepertinya overprotektif pada semua anaknya. Termasuk Dira yang tadinya mau pulang ke Lembang di tahan oleh mama Dewi.
Itu yang Elsa dengar dari Dira ada saat dia menginap di rumah Vira. Elsa juga paham sikap mama Dewi bentuk dari rasa khawatir pada Vira atas kejadian penculikan itu.
"Tante, aku mau ajak Vira jalan-jalan, boleh?"
"Mau kemana? tujuannya apa? kamu ingat Elsa, Vira itu masih belum sembuh. Tante nggak mau dia pergi ke sembarang tempat, nanti kalau ada yang ..."
"Tante, bukannya om nya kak Panji sudah di tangkap. Om Irul pun kabarnya sudah di bawa ke sel tahanan. Jadi apa yang Tante takutkan tidak ada lagi?"
"Tapi masih ada Pandawa, Elsa. Dia pasti pura-pura menghilang terus mengintai keluarga kami. Kamu nggak akan paham Elsa, nggak akan paham!"
"Tapi, Tante..."
"Dewi, menurut om lebih bagus Vira itu menenangkan diri. Kalau dia terkungkung di dalam rumah saja, dia tidak akan sembuh. Yang ada dia semakin syok. Kamu ingat saat Dira habis di culik Shahab. Om, langsung mempersiapkan dia bertunangan dengan Arjuna. Karena menurut om itu hadiah untuk Dira setelah semua yang dia alami.
Dan kamu apa tidak mau membuat Vira melupakan apa yang di alami. Dengan jalan-jalan," Kata opa Han.
"Elsa,"
"Ya, opa,"
"Kamu ajak saja Vira jalan-jalan, atau keluar kota seperti ke puncak atau kemana. Kalau tidak ada sopir biar opa suruh Jaka yang bawa,"
__ADS_1
"Opa tenang saja. Elsa akan ajak bodyguard dari papa, untuk membawa kami jalan-jalan. Opa, Tante Dewi dan semua yang ada disini. Kalian percaya kan sama Elsa?" Elsa lega ketika opa Han dan juga Feri menyetujui keinginannnya.
Sekarang mereka memasuki area puncak. Mobil pun melaju dengan kecepatan kecil, sengaja Elsa meminta itu pada Pasha, supaya Vira menikmati perjalanan. Bukan dengan kecepatan tinggi hanya karena ingin cepat sampai. Sama saja memberikan kecemasan baru pada sahabatnya.
Elsa menoleh ke Vira, tampak gadis muda itu sudah tertidur. Elsa pun membaringkan Vira terlentang penuh di kursi belakangan. Setelah itu dia pun pindah ke depan. Duduk di samping sopir.
"Non mau makan, kita berhenti di warmindo saja,"
"Kak Pasha mau makan? aku nggak lapar. Tadi aku sudah makan di rumah. Terus aku bawa bekal banyak yang mama siapkan," Elsa menunjuk tas yang berada di bawah tempat vira berbaring.
"Nanti kalau non Vira jatuh kena dong makanannya,"
"Ya makanya kak Pasha jangan ngebut, slow saja. Kan tujuan kita mau hibur Vira," Elsa mengapa pertanda dia juga sudah mengantuk. Perjalanan menuju ke puncak masih sangat jauh. Pasha tersenyum melihat Elsa yang sudah tertidur pulas.
Lelaki itu membuka jaket jeansnya. Menutup tubuh anak majikannya lalu kembali fokus menyetir.
"Seandainya aku dan kamu bukan dari kalangan yang berbeda. Mungkin aku bisa membuktikan pada pak Irwan buat di pandang layak. Tapi nyatanya pak Irwan selalu menekankan pada kami semua, kalau ada yang mendekati anaknya akan ada konsekuensinya. Aku sadar, sa. Selain umur kita sangat jauh, kasta pun jauh berbeda,"
Mobil pun sampai di sebuah area rekreasi. Elsa merasa mobil sudah berhenti akhirnya bangun. Meregangkan otot badannya, melihat Vira yang sudah duduk melamun di pinggir kaca mobil. Tak ada senyum yang terpancar di wajah temannya.
"Aku kangen Vira yang dulu," kata Elsa berharap ucapannya di dengar sama Vira.
"Ayo, non Elsa dan non Vira saya sudah daftarkan masuk ke wahana wisata," kata Pasha yang mengagetkan Elsa. Lelaki itu muncul di samping jendela kaca mobil Elsa. Jarak wajah yang sangat dekat, sesaat keduanya terdiam sejenak.
"Uhuuukkk ..." suara dari belakang membuat keduanya memerah.
"Apaan sih, Ra? tadi diajak ngobrol diem aja. Sekarang pakai batuk segala," rutuk Elsa.
"Pipimu seperti tomat merah, merona saking tembemnya," tawa Vira meledek temannya.
"Viraaaa!" Elsa langsung pindah ke kursi belakang. Memeluk sahabatnya yang terlihat lebih baik dari sebelum berangkat.
"Saaaa, gue sesak nafas," pelukan erat dari Elsa bikin Vira kewalahan.
"Vira-ku sudah kembali!"
"Kak Pasha tolong, ada Teddy bear mau mangsa aku," panggil Vira.
" Bukan Teddy bear tapi ular piton. Di belit terus di mangsa," tawa Elsa melengking.
__ADS_1
"Non, lepasin non Vira, nanti non terlanjur nyaman lagi," seketika Elsa melepaskan pelukannya pada Vira.
Mereka memasuki wahana wisata di Cisarua Bogor. Elsa berjalan di belakang Pasha, langkah kaki beriringan antara Elsa dan Vira. Sementara Pasha hanya melenggang solo menjauh dari dua sahabat.
Elsa dan Vira terhenti saat melihat seorang lelaki berjalan ke arah mereka berdua. Elsa berusaha melindungi temannya dari sosok yang berjalan mendekati Pasha.
"Sa, itu dia kenapa disini? kamu janjian sama dia? kamu bilang mau ajak aku liburan, tapi kenapa dia juga ikut?" Vira memilih berlindung di belakang Pasha. Dia sudah terlanjur kesal sama Elsa.
"Ra, please jangan kayak gini?" tangan kekar menarik Vira dengan kuat.
"Eh, jangan begitu sama Vira? kasar banget?!" bentak Elsa pada lelaki itu.
"Maaf, Ra. Maafkan aku, tadi reflek kamu terus menghindar dari aku. Aku cuma mau memperbaiki semuanya. Mama kamu juga yang mengutus aku kesini.
Please kasih aku kesempatan sekali lagi," tubuh kekarnya menyimpan kepala Vira di balik dada kekarnya.
"Non kasih kesempatan mereka untuk bicara dari hati ke hati. Menyelesaikan masalah yang belum selesai," Pasha menarik Elsa menjauh dari Vira.
...*****...
Polisi melakukan penyitaan terhadap sejumlah aset milik Khairul Azzam, tersangka kasus dugaan penipuan berkedok rentenir, termasuk rumah, kendaraan milik Irul. Sementara Irul masih berada di rumah sakit karena tubuhnya stroke sebelah. Hanya saja dia masih lancar bicara.
Dalam hal adanya dugaan perbuatan tindak pidana, kepolisian berhak melakukan penyitaan terhadap benda yang dikuasai oleh terduga pelaku yang dimana ada beberapa cara atau syarat yang harus dipenuhi kepolisian dalam hal melakukan penyitaan tersebut.
Dewi mendengar kalau penculik putri bungsunya yang buron sudah di tangkap. Menurut info yang dia dapat dari pihak kepolisian, buronan yang sekongkol sama Adrian sudah di temukan. Rasa penasaran siapa sosok itu masih membelenggu pikirannya. Bersama Feri, Dewi pun mendatangi kamar rawat sosok itu.
"Mari, Bu," salah satu petugas kepolisian mengajak Dewi dan Feri masuk ke dalam.
PLAAAAAK!
PLAAAAAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Irul. Dewi tidak akan segan melakukan yang lebih dari itu. Bahkan baginya apa yang di alami Irul belum sepadan dengan apa yang sudah dialami anak-anaknya. Feri yang sudah geram pun melakukan hal yang sama pada Irul.
"DASAR TUA BANGKA TIDAK TAHU DIRI! KURANG BAIK APA PAPAKU SAMA KAMU, IRUL! AKU TIDAK MENYANGKA KAMU SEJAUH INI. SALAH APA VIRA SAMA KAMU!" Dewi langsung mengamuk memukuli tubuh Irul.
"Salahnya dia adalah keluarga kalian, salahnya dia juga target pancingan aku untuk Pandawa. Karena Dawa lebih memilih Vira daripada Kayla, anakku. Salahnya kalian tidak bisa membalas jasa ku selama ini, Dewi! Kamu membuat aku tidak bisa di terima bekerja di perusahaan manapun! kamu yang buat aku Luntang-lantung di jalanan!" amuk Irul.
"Dimana dia? dimana anak angkatmu itu, kalian kerjasama kan?" Dewi mendekati salah satu pihak polisi. "Pak, saya minta cari yang namanya Pandawa, dia pasti terlibat dalam kasus, saya mohon cari lelaki itu, pak. Demi keselamatan anak saya, saya mohon, pak," Dewi bersujud di kaki petugas kepolisian.
__ADS_1