
Pagi ini Dira bangun terlebih dahulu, membereskan apa yang berantakan di rumahnya. Mumpung Fajar belum bangun, dia masih bisa masak untuk sarapan, lalu menyapu rumah.
Juna meraba ranjang disampingnya sudah kosong. Bisa dia tebak kalau istrinya sudaH bangun mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal Juna sudah mewanti-wanti Dira untuk banyak istirahat, apalagi dalam kondisi menyusui dan berbadan dua.
"Sayang," Juna melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Dira masih tak memperdulikan sapaan suaminya.
Sejak Juna menjelaskan masalah Tania beberapa hari yang lalu, Dira masih mendiami Juna. Juna paham tidak mudah memberikan pengertian pada Dira yang suka cemburuan. Seharusnya tak perlu Dira berpikiran kalau Juna akan mendua, karena memang yang dia lakukan demi kemanusiaan. Hanya sekedar iba saja.
"Tapi kenapa harus Tania, Mas. Emangnya tidak ada perempuan lain yang lain yang lebih layak di tolong selain Tania. Apa jangan-jangan, Mas ayah kandungnya Raja," kata Dira saat itu.
"Enggaklah, Sayang. Mana mungkin aku mengkhianati cinta kita. Berjuang mendapatkan kamu saja sudah banyak rintangan. Dan aku tidak pernah punya anak dengan wanita lain," Juna masih mencoba meyakini Dira.
"Entahlah, Mas. Aku tidak bisa percaya begitu saja. Mas tahu setiap wanita yang kamu tolong pasti berujung obsesi. Seperti Naura dulu, dia tahu kamu bukan Sandi tapi tetap menganggap kamu adalah Sandi. Seperti Maria yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kamu, padahal dia tahu kamu suami orang. Dan sekarang Tania, mas tidak lupa kan kalau Tania pernah ngotot minta mas nikahi karena janji papa Johan dulu,"
Dira tak pernah lupa bagaimana perempuan-perempuan yang berada di dekat suaminya. Dari Delia yang sudah tidak perawan tetap bertahan dengan Arjuna. kalau versi Delia, dia paham bagaimana Juna berpaling dengan alasan Delia tak ada kabar selama setahun. Bahkan keluarga Delia saja ikut bungkam. Dira juga tahu memposisikan diri saat itu, dia memilih menolak Juna karena tidak ingin merusak hubungan mereka. Tapi nyatanya lelaki itu tanpa gentar mendekati dirinya.
Dia juga tidak lupa setelah menikah Juna hilang dalam kecelakaan. Menemukan suaminya menjadi sosok lain, dan lagi-lagi ada seorang perempuan dibalik semua itu. Juna yang menjadi sosok Sandi sudah memperlihatkan ciri-ciri kalau lelaki itu memang suaminya. Tapi Naura yang tahu itu tetap bungkam dan memperlakukan Juna sebagai Sandi.
Begitu juga dengan Maria dan sekarang Tania. Entah kenapa Dira sudah khatam sekaligus trauma dengan hal ini.
Setelah beberapa hari Juna menjelaskan permasalahan itu. Dira masih mendiamkan suaminya. Entah kenapa rasanya masih sesak mengetahui siapa yang di tolong Juna. Kalau sekedar cemburu dia takkan sesakit ini. Tapi sikap Juna seakan memberi harapan pada Tania.
"Aku tahu kamu masih marah sama aku soal Tania. Tapi tolong jangan begini sayang. Aku nggak kuat di diamkan selama lebih dari tiga hari. Dosa marah lebih dari tiga hari,"
"Mas, kalau mau sarapan itu sudah ada nasi goreng. Aku mau check Fajar dulu. Takutnya dia sudah bangun," kata Dira sambil berlalu meninggalkan suaminya. Juna memandang istrinya yang masuk ke kamar. Mau sarapan dia tidak semangat, bukan karena soal enak atau tidak. Tapi karena sikap Dira.
Dira sudah keluar kamar menggendong Fajar yang sudah tertawa lepas. Apalagi Dira asyik bercengkrama dengan sang anak tanpa memperdulikan dirinya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini," Juna pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Juna mendapati mamanya sedang di teras bersama Dira. Dari jauh tampak keduanya berbincang-bincang lepas. Entah apa yang mereka bicarakan, wajah Dira tampak tersenyum lepas. Tak murung saat bertemu dengan dirinya.
"Ma," Juna menyapa mamanya setelah Dira memilih masuk ke dalam.
"Apa Dira masih mendiamkan kamu?" tanya mama Salma.
"Iya, Ma. Juna tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan Dira soal Tania. Tahu kalau memang ini salahku. aku sudah memberi penjelasan pada Dira. Tapi harusnya dia mengerti setelah aku cerita yang sebenarnya. Bingung aku, Ma? Juna takut kalau Dira nekat pulang ke Jakarta,"
"Seharusnya kamu saat melakukan sesuatu diskusikan dengan istrimu. Bukankah dalam rumah tangga harus ada saling keterbukaan. Kalau salah satu saling menutupi ya buntu jalannya.
Kamu lihat kan,Juna. Dira yang hidup dengan kemewahan harus meninggalkan semua itu demi baktinya sama pernikahan kalian. Harusnya kamu hargai itu. Mama tahu kamu menolong Tania sebagai rasa kemanusiaan saja. Mama kenal sama anak mama yang gampang iba sama orang lain. Tapi ada hal yang lain harus kamu pikirkan. Istri dan anakmu,"
"Kamu sadar, Juna. Kamu dan papamu sama saja. Sama-sama keras kepala. Sama-sama merasa apa yang di lakukannya benar, pada endingnya malah memberi masalah baru. Sekarang kamu ajak Dira keluar rumah, kalau perlu menginap di sebuah tempat. Agar kalian bisa menyelesaikan serta bicara dari hati ke hati. Soal Fajar biar sama mama saja,"
"Kamu lihat pohon-pohon yang berjejer mengiringi perjalanan kita. Atap dan daunnya bergoyang ikuti alunan angin.
Kiri kanan ku lihat saja banyak pohon Cemara. Kiri kanan ku lihat saja banyak pohon Cemara.
Naik-naik ke bukit Lembang tinggi-tinggi sekali,"
"Bukannya ke puncak gunung, Mas?" Dira tiba-tiba bersuara.
"Bukannya tempat kita sudah termasuk daerah pegunungan, sayang,"
"Ya beda, Mas. Lagunya kan dari sananya udah lirik begitu. Ini malah di ubah seenaknya. Pencipta nya susah payah nulisnya. Ada hak ciptanya,Lo,"
__ADS_1
"Lagu via Vallen lagu aslinya dari jepang. Ada hak ciptanya juga kan, tapi disini lebih di terima versi via Vallen daripada musik aslinya," Juna tidak mau kalah.
"Kok ke via Vallen sih, Mas. Kan yang kita bahas lagu naik-naik ke puncak gunung," Dira makin nyolot.
"Ya kan kamu tadi bilang soal hak cipta, makanya aku ..."
"Sudah nyetir sana, entah kemana tujuan kita sekarang,"
"Bulan madu di awan biru,tiada yang mengganggu.
Bulan madu di atas pelangi hanya kita berdua. Nyanyikan lagu cinta, walau seribu duka kita takkan terpisah,"
"Kamu kenapa, Sayang?" Juna kaget melihat Dira memijit kepalanya.
"Mas, sepertinya si adek tidak suka suaramu. Buktinya dia langsung kasih reaksi waktu kamu nyanyi,"
Juna mematikan mobilnya. Lelaki itu membuka laci di dekat Dira, dengan sigap mengusap kepala Dira melalui minyak angin. Mata mereka saling bertabrakan, denyut rasa dengan debaran jantung berdetak kencang.
Dira memalingkan wajahnya, tersadar dia
Masih marah atas sikap suaminya. Namun bukan Juna Namanya, pantang menyerah demi menyelamatkan rumah tangganya.
Kenangan saat debaran itu muncul, ketika makan bersama di ruang kerja Juna. Membersihkan bibir Dira yang belepotan. Kenangan ketika hatinya panas ketika Dira datang ke kantor bersama Rian.
"Aku mencintaimu, Dira. Aku harap kamu tahu tidak ada wanita lain yang mampu menggantikan kamu. Bahkan saat aku melamarmu ketika Delia hilang tanpa kabar. Bahkan saat aku mengungkapkan perasaanku padahal malam itu kamu akan bertunangan dengan Rian. Aku tidak peduli saat mamamu, kakakmu dan Rian menghajar dan memaki ku karena memberi kamu nafas buatan.
Tapi satu hal yang kamu tahu, Tania bukan sesuatu yang spesial buat aku. Dia hanya aku bantu, karena aku kasihan pada anaknya. Jangankan Tania, jika ada kejadian serupa aku akan bantu jika memang pantas di bantu,"
__ADS_1
Dira dan Juna saling berpelukan. Lega akhirnya permasalahan rumah tangganya selesai juga. Sekarang mereka fokus ke perjalanan selanjutnya. Perjalanan dimana akan menclear pangkal masalah. Juna juga belajar bagaimana mencari jalan keluar pada setiap permasalahan yang terjadi.