
Juna memutarkan mobilnya ketika mendengar lantunan suara adzan. Mencari mesjid atau musholla terdekat. Sejenak dia memberhentikan mobilnya. Sesaat ucapan dokter masih membekas di hatinya. Bagaimana dokter menjelaskan kalau janin atau calon anak mereka tidak bisa dipertahankan. Juna sesekali mengusap wajahnya yang tampan. Menyebut nama Allah dalam setiap ucapannya.
Langkah kaki diayunkan menuju rumah Allah. Setapak demi setapak tangga dia naiki hanya untuk menunaikan kewajibannya pada yang maha pemilik kehidupan.
Juna melangkah gontai, netranya menatap pintu gerbang masjid. Ia butuh bicara kepada Sang Pencipta, meminta agar semua akan baik-baik saja. Tidak dapat ia bayangkan jika wanita nya terluka dengan apa yang akan dia sampaikan nanti.
Kondisi sang istri dan buah cinta mereka sedang tidak baik-baik saja, dan doa adalah salah satu cara untuk mengubah takdir itu. Sepanjang kaki menapak mencari tempat yang dituju, air mata terus menguntai di pipinya. Tak sedikitpun ia berniat untuk mengeringkan. Isak yang menjadi pusat perhatian orang sekitar, ia biarkan begitu adanya.
Juna membasuh wajah, juga organ tubuh yang lain. Sedikit sejuk dan tentram ia dapatkan.
Setelahnya, ia khusyuk dalam sujud panjang. Menyampaikan hajat pada Sang Pemilik jiwa.
Orang-orang mulai berdatangan. Mesjid yang tidak terlalu besar ternyata banyak yang datang. Salah seorang lelaki memakai sorban putih maju ke depan. Sholat ashar pun dilaksanakan. Sang membaca lantunan Alfatihah berserta ayat pendeknya. Juna larut dalam kekhusyukan. Meskipun tadi dia sempat menahan tangisnya.
Seusai shalat Juna masih belum beranjak dari mesjid. Dia mencoba menenangkan diri dengan berzikir. Salah satu pengunjung masjid mengenali Juna, lalu duduk di dekat lelaki itu.
"Mas Juna, kan?" sapa lelaki itu.
"Ya, Allah Ical. Kamu apa kabar?" Juna tanya balik.
"Alhamdulillah, mas. aku baik dan sehat wal afiat. Aku sudah nggak kerja lagi di pabrik pak Burhan."
"Kenapa?" tanya Juna.
"Jauh, mas. Fisikku nggak kuat bolak balik Bogor-Jakarta." jelas Ical.
"Mas Juna ada lowongan nggak di tempat kerja."
"Aduh, saya kurang tahu. Nanti saya tanyakan disana"
"Oke, mas Juna saya pulang dulu." pamit Ical pada Juna.
Beberapa saat ketika Ical berjalan di pinggir, tampak seorang lelaki bermobil mewah mengajaknya masuk. Ical pun masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Saya tadi sudah ketemu, Juna, pak. Dia bilang bakal carikan aku kerja."
"Oke, Bagus. Kalau bisa kamu minta dia masukkan kerja di perusahaan PUTRA NUSA. Supaya saya bisa memantau pergerakan perusahaan tersebut."
"Maaf,pak. Kenapa anda ingin masuk ke perusahaan itu. Apakah bapak punya dendam dengan mereka. Ya, kalau bapak dendam sama Arjuna wajar saja. Juna itu tipe tidak tahu terimakasih. Masa dia baru satu bulan kerja sama atasan saya, malah menjilat pak Burhan lalu dijadikan cucu menantu. Terus setelah jadi menantu dia keluar dari pabrik dan balik kerja ke Lembang." cerocos Ical berapi-api.
"Oh, ya. Seperti itu sosok Arjuna. Jadi dia anak seorang pengusaha lalu menyusup ke tempat kerjamu." tanya lelaki itu. Ical pun mengangguk.
"Satu poin buat mereka. Terimakasih Ical, kamu sudah banyak memberikan informasi buat saya. Sekarang kamu keluar dari mobil saya. Karena saya ada urusan lain." usir lelaki itu.
"Saya kira ada imbalan buat informasinya." gerutu Ical.
"Kalau kamu sudah bisa masuk ke perusahaan itu, baru saya kasih imbalan."
"Tapi saya butuh ongkos, pak. Pulang ke Bogor bukan sedikit biayanya." desak Ical.
Lelaki itu mendengus kesal. Dengan terpaksa dia merogoh dompetnya untuk memberikan imbalan. Ical tersenyum menang ketika kertas berwarna merah tiga lembar sudah berada di tangannya. Dalam sekejap lelaki itu sudah berada di jalanan. Masih di depan masjid. Ical pun berjalan mencari angkot.
"Siapa bilang aku pulang ke Bogor? wong aku sudah tidak kerja disana lagi. Dasar orang kaya, gampang banget di tipu." ucap Ical.
"Mas, Juna. Aku dari tadi nunggu angkutan umum. nggak ada yang lewat ke Kramat jati." jawab Ical.
"Aku antar, ya. Kamu masih tinggal di dekat Jamal kan?" Ical menggangguk.
"Pucuk cinta ulam tiba. Sudah dapat ongkos dan dikasih tumpangan gratis pula."
"Yasudah, kamu masuk biar aku antar." ajak Juna.
Ical pun masuk ke mobil Juna. Awalnya dia duduk di kursi belakang. Tapi ternyata Juna meminta lelaki itu duduk di sampingnya. Ical pun maju ke kursi depan.
Dalam perjalanan mereka pun asyik bertukar cerita. Dimana Juna menanyakan keadaan pabrik. Ical pun cerita kalau anak pak Dono sekarang kerja di pabrik mereka menggantikan pak Dono. Setidaknya dia melupakan kegundahannya soal kehamilan istrinya.
"Katanya Jamal mau lamaran? lancar?" tanya Juna.
__ADS_1
"Enggak, mas. Tadinya si Tina mau menerima Jamal tapi ternyata Jamal malah menolak." cerita Ical.
"Kok gitu? bukannya Jamal suka sama Tina? kenapa di tolak?" Juna kaget mendengar lamaran Jamal gagal.
"Kata Jamal keluarga Tina yang maksa. Jamal bilang dia merasa kalau Tina nggak ada perasaan sama dia. Jamal merasa Tina terpaksa menerima dia. Dan Jamal bilang dia tidak mau menjalani hubungan setengah hati."
"OOO..." Juna merasa handphonenya bergetar. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang meneleponnya. Sesaat dia memberhentikan mobilnya untuk mengangkat telepon.
"Iya, sayang."
"Mas, kok kamu belum pulang?" suara Dira merengek manja.
"Ini lagi di jalan. Aku antar Ical dulu ke Kramat jati. Sudah itu aku langsung pulang."
"Jangan lama-lama, mas. Tuh si perawan tua udah nunggu kamu dari tadi." kata Dira.
"Perawan tua?" Juna belum paham siapa yang dimaksud istrinya.
"Sekretaris kamu." jawab Dira tegas.
"Ooooo... Iya, aku lupa. Kamu kasih ke dia ada map merah yang di dalam lemari. Kasih ke Maria, bilang sama dia aku sudah suruh Tio yang datang menemui pak Surya di Lembang. Jadi dia datang sama Tio saja besok." jelas Juna.
"Map merah ya, Dimananya, mas?" tanya Dira masih di telepon. Kayaknya di lemari atas sayang. Kamu suruh Vira atau bibi yang ambilkan. Jangan kamu yang naik."
Dira tak mengindahkan ucapan suaminya. Dia mematikan telepon lalu mencari Map yang dimaksud Juna. Lemari yang terdiri dari tiga pintu. Sedangkan map terletak di bagian tengah atas. Dia merasa kursi yang di naiki tak terlalu tinggi, serta gampang untuk turun.
Merasa terbiasa melakukan sesuatu sendiri membuatnya terlalu mandiri. Dia menganggap kalau bisa dilakukan sendiri untuk apa merepotkan orang lain. Kakinya melangkah mengambil kursi dibawah meja rias.
Dira pun mengambil kursi dan mencari barang yang dimaksud. Pada akhirnya Dira menemukan barang tersebut. Dalam keadaan itu dia merasa kepalanya sedikit pusing. Namun dia masih mencoba kuat dengan merapikan lagi barang-barang yang sudah dia berantaki. Dira mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang mulai linglung akibat kepala yang berdenyut. Dia berusaha turun dari kursi tapi sayangnya kakinya tergelincir. Tubuhnya ambruk di lantai bersamaan suara teriakan.
"Ya, Allah, Non Dira!" pekik bibi yang kebetulan mendengar suara orang jatuh di kamar Dira.
"Bi, sakit!" rintih Dira.
__ADS_1
Bibi mencoba mengangkat Dira. Netranya beralih pada cairan merah yang keluar dari paha Dira. Dira melihat hal itu langsung pingsan. Bibi pun mencari pertolongan. Semua yang ada di rumah membawa Dira ke rumah sakit. Wajah Dira sangat pucat.