SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 58


__ADS_3

Seperti kesepakatan bersama. Masalah Dira akhirnya diselesaikan di balai desa. Dira di dampingi Naura dan Awan datang ke balai warga. Di sambut tatapan warga yang sinis padanya. Mereka malah memuji Naura yang masih baik pada Dira.


Kenapa orang-orang membenci Dira? karena sejak malam di rumah Sandi, warga menganggap Dira bisa membawa sial. Hal-hal yang bersifat tabu masih tertanam di desa tersebut.


Bahkan mereka yang tadinya tidak menyukai Sandi kini berfokus ke sosok Dira.


Dari Naura, Bu Halimah tahu kalau Dira adalah perempuan lainnya Sandi.


Imbas dari kejadian tadi, Warga meminta Dira untuk pergi dari kampung. Orangtua Inggar juga menyalahkan Dira. Menganggap kalau kejadian itu salahnya Dira. Orangtua Inggar juga merasa malu dengan kelakuan anaknya. Tak ada yang membela Dira, kejadian tidak memiliki saksi. Tubuh Dira bergetar hebat, seakan minta keajaiban dari Allah.


Warga sangat marah dan menghajar Inggar habis-habisan. Mereka menuntut Dira dan Inggar agar dinikahkan. Tentu saja Dira menolak. Dia tidak mau dinikahi oleh Inggar. Ada yang minta Dira diarak keliling kampung, lalu mereka diusir dari kampung.


"Saya tidak masalah kalau harus di usir dari sini. Tapi sebelum saya pergi, saya mau minta keadilan. Karena Inggar yang tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam rumah. Dia juga yang mencoba menyekap dan menggerayangi saya. Kalau tidak ada Sandi, mungkin saya sudah habis di makan sama Inggar." Bela Dira.


"Jangan di dengerin, pak Kades. Dia cuma cari pembelaan. Dia kan janda, jadi biasanya janda itu gatal."


Begitu Dira mengeluarkan isi hatinya selama tiga hari tinggal di desa Tulang Bawang. Waktu semakin terus berjalan. Dira menyentuh bahu Naura, spontan Naura menoleh kearah Dira.


"Bang Inggar," suara Dira terdengar lirih pada pria yang tadi hampir menodai dirinya.


Lelaki kemarin masih ramah padanya. Sekarang malah membuatnya kecewa, Dira masih mencoba bersikap ramah pada Inggar. Masih terekam dalam ingatannya bagaimana Inggar menuduh dirinya perusak hubungan Naura dan Sandi.


"Saya tidak menyangka kamu ternyata seperti ini?"


"Tidak menyangka?" tanya Inggar mengernyitkan dahinya heran.


"Iya saya tidak menyangka kamu ternyata bejat."


"Bejat? saya belum ngapa-ngapain kamu, kan?"


"Tapi sikap kamu kurang ajar sama saya. Saya ini perempuan. Sama seperti ibumu. Saya masih bisa bicara sopan sama kamu. Kalau perempuan lain mungkin sudah mengamuk pada anda."

__ADS_1


"Heh!" Inggar masih bersikap santai.


Sandi yang baru saja datang melihat Inggar dengan penuh emosi. Mengingat apa yang lelaki itu lakukan pada Dira. Marah campur kecewa. Kenapa lelaki yang dianggapnya teman baik malah seperti ini. Tampak Dira hanya menundukkan kepalanya.


Netranya beralih ke Naura yang masih berdiri di dekat Awan. Dia tidak merasakan kecemburuan saat melihat Naura berdiri di dekat Awan. Aneh, tapi itu yang dia rasakan sekarang.


"Kenapa saya tidak cemburu melihat Naura dekat dengan lelaki lain. Seharusnya saya kecewa melihat cara Awan menatap Naura. Ya Allah, hati saya terbuat dari apa?


Kenapa darah saya berdesir saat melihat wanita ini. Bukan pada Naura."


"Inggar saya kecewa sama kamu. Ngapain kamu ganggu mbak Dira. Dia ada masalah apa sama kamu!" Amuk Sandi pada temannya.


Sandi marah bukan tanpa alasan. Dia tidak pernah melihat sosok Inggar kurang pada wanita. Apalagi melihatnya bersikap baik pada Naura. Tapi kejadian tadi membuat ekspetasinya punah tentang temannya. Diliriknya sosok Dira yang masih menunduk lemas. Suara susutan hidung terdengar. Dira kaget saat menatap sejajar dengan wajahnya. Tangan Sandi mengusap wajah Dira yang sembab.


"Jangan menangis mbak, Saya takut bukan hanya pipi mu yang basah, tapi langitpun akan ikut basah melihat kesedihanmu. Langit itu sangat sensitif saat ada salah satu manusia yang bersedih,"


'Jangan menangis Dira, Kamu tahu? Jika kamu menangis maka langitpun akan merespon, Dia juga akan ikut menumpahkan air matanya. Kamu tenang saja, aku akan menghapus air mata dalam hidupmu."


Mendengar itu Dira langsung terdiam, Hatinya bergetar. Ucapan itu sama halnya dengan ucapan yang diucapkan oleh Juna Dulu.


"Nikahkan saja!" sahut yang lain.


"Iya, nikahkan saja mereka."


"Tidak! saya tidak mau menikah dengan dia. Saya lebih baik pergi dari desa ini daripada harus menikah dengan dia." ucap Dira dengan lantang.


"Kalau begitu malam ini kamu harus pergi dari pergi dari kampung ini!" kata Bu Halimah.


"Ibu nggak usah ikut campur urusan mereka." lagi-lagi Sandi angkat bicara.


"Mas, ibu itu memang benar. Lebih bagus mbak Dira pulang saja ke Jakarta." kata Naura.

__ADS_1


Dira mengalihkan pandangannya kearah Naura. Dia yakin karena ucapan Naura tempo hari membuat semuanya berubah.


"Ayo, Sandi kita pulang!" Bu Halimah menarik Sandi dengan paksa.


Sandi hanya pasrah mengikuti keinginan ibunya. Pandangan mereka saling bertabrakan. Tatapan sendu yang berasal dari Dira membuat hatinya tidak karuan.


"Mas Juna!" batin Dira.


Selama dalam perjalanan pulang ke rumah, Sandi layaknya anak yang sedang di marahi ibunya. Sambil mengomel tiada henti, Bu Halimah selalu mewanti-wanti Sandi agar jaga sikap. Dia tidak enak sama Naura.


"Di, ibu harap kamu jangan seperti itu lagi. Yang kamu lakukan tadi bisa menyakiti perasaan Naura. Sebentar lagi kamu dan Naura akan menikah."


"Saya sudah mencoba belajar membuka hati untuk Naura. Tapi hati saya tidak tergerak sedikitpun. Oke, saya adalah ayah biologis Jimmy. Tapi Bukankah hubungan juga harus di dasari cinta. Dan itu tidak saya rasakan pada Naura."


Dan...


Saya jatuh cinta pada tamunya Naura


Setelah kesepakatan dengan perangkat desa dan warga tulang bawang. Dira akan meninggalkan desa tersebut. Dia minta waktu agar bisa pulang besok pagi. Semua warga pun setuju hal itu. Pak kades pun membubarkan para warga untuk pulang ke rumah masing-masing. Mengingat malam semakin larut.


Malam semakin larut dan nyanyian sang penghuni malam mulai bersorak mengisi dalam pikirannya. Dira terdiam sambil ditemani dinginnya angin malam. Menambah rasa berat dalam hatinya.


Sesampainya di rumah, Dira tidak langsung masuk ke dalam. Dia langsung mendatangi Naura dan Awan. mengeluarkan apa yang sedari tadi menjadi beban pikirannya.


"Maaf mbak Naura, apa mbak yakin kalau Sandi, suami mbak itu asli. Bukan apa-apa, mbak. Bukan saya mau rebut Sandi dari mbak, saya cuma mendapat satu point dari masalah makan tadi.


Mbak bilang Sandi tidak suka ikan? tapi nyatanya suami mbak malah lahap makannya. Malah Awan yang tidak suka ikan.


Mbak bilang Sandi alergi sama terasi. Tapi nyata malah Awan yang alergi. Dari situ saya bisa menyimpulkan kalau Sandi yang kalian kenal adalah suami saya, Arjuna Bramantyo. Sandi yang asli adalah dia, Awan." kata Dira kepada Naura dengan lantang.


Dira tiba-tiba bersujud di kaki Awan. Memohon pada lelaki itu agar menyelesaikan semua ini. Dia berharap ketika dia pulang ke Jakarta tidak meninggalkan masalah lagi.

__ADS_1


"Tolong bantu saya, Wan. Saya hanya mau menyelamatkan rumah tangga saya. Bantu saya mengembalikan mas Juna pada keluarga. Sebab dia sudah menikah dengan mbak Naura. Sebab dia ayahnya Jimmy. Maka saya siap mundur dari kehidupan mas Juna. Maka saya mohon sama kamu, Wan. Bantu saya. Bantu menyelesaikan semuanya.


Kasihan mama Salma yang selalu berharap anaknya pulang. Harapan orangtuanya ya mas Juna. Saya mohon sama kamu, Wan."


__ADS_2