
Lembang, Jawa barat
Pukul 09.00
Dira sudah membersihkan diri. Dia mengganti baju untuk mengunjungi mama Dewi di kediaman mertuanya. Dira menutup bekas kepemilikan dari suaminya menggunakan fondation yang tebal setebalnya. Dia malu kalau terlihat oleh orang banyak.
Sesaat Dira mencari suaminya. Tentu dia mau minta izin untuk pergi ke tempat mama mertuanya. Rumah yang hanya berjarak dua rumah.
"Mas Juna mana ya?"'
Sejak Juna pergi bersama Ayu, lelaki itu belum juga pulang. Dira menelepon suaminya. Tapi ternyata handphone Juna ada di kamar. Dira memilih duduk di ruang tamu. Dia tidak berani main pergi sebelum di beri izin sama suaminya.
Ting!
Dira mengerutkan dahinya saat tahu siapa pengirim pesan.
"Eka?" batinnya.
"Assalamualaikum, Ra. Maaf mengganggu. Ini aku Eka, kamu masih ingat kan sama aku. Masih adakah kontak ku di handphonemu.
Ra, Tadi mas Wandi mengabari kalau Delia meninggal dunia. Apa itu tadi bener, Ra?
Ya Allah, aku belum sempat melihat keadaan terakhirnya.
Kamu pasti heran kenapa aku bisa kirim pesan. Tenang saja, Ra. Aku masih di penjara, ini mas Wandi yang membawa handphoneku untuk memastikan kabar ini."'
Dira masih asyik membaca pesan dari Eka. Sampai dia tidak tahu kalau Juna sudah ada di sebelahnya. Tangan Juna sudah melilit di pinggang istrinya. Dira masih tidak bergeming. Masih asyik dengan handphonenya.
"Assalamualaikum, Ka. Aku masih simpan nomor kamu. Ya walaupun aku masih kecewa sama kamu. Tapi itu sudah berlalu, ambil hikmah dalam setiap permasalahan yang menimpa.
Ka, Delia memang sudah tiada. Dia meninggal setelah melahirkan anak keduanya. Dia meninggal setelah satu tahun melawan penyakit alzheimer. Kita semua sama-sama mendoakan agar Delia di tempatkan di surga.
Delia sudah tobat, Ka. Dia sudah minta maaf sama aku soal kasus yang dulu. Aku juga sudah maafin dia. Kan yang culik aku papanya bukan Delia nya. Dan aku paham yang dilakukan om Abdul sebagai tanda rasa sayang ayah pada putrinya, Ka."
Dira membalas pesan dari Eka. Temannya yang dulu terlibat dalam penculikan dirinya. Eka yang dekat dengan dirinya sejak kecil. Setiap manusia pasti tidak luput dari kekhilafan. Dia sadar andai dulu tidak diantara Juna dan Delia, mungkin akan beda ceritanya. Tapi Dira juga sudah berusaha untuk menghindari Arjuna tapi nyatanya banyak hal membuat mereka kembali dekat.
"Yang," Dira tersentak saat sebuah suara memanggil dirinya.
"Eh, mas." sapa Dira.
"Itu dari Eka, ya." Dira mengangguk.
"Kamu masih marah sama Eka?"
"Tidak, mas. Aku tidak marah lagi sama Eka. Hanya saja masih ada sedikit rasa sakit karena Eka bisa senekat itu. Mas, Eka itu berapa lama masa tahanan."
__ADS_1
"Empat apa lima tahun kalau tidak salah. Aku juga lupa. Itu juga karena Wandi yang cerita." ungkap Juna.
"Mas, kadang aku berpikir kenapa Eka seperti itu? kenapa dia tega menjebakku demi membela Delia. Tapi sesaat aku sadar, Eka adalah sahabat sesungguhnya. Dimana dia pasang badan untuk Delia karena aku masuk dalam hubungan kalian."
"Sayang, dengarkan aku. Tidak ada yang perlu di sesali.
Aku yang menautkan hati sama kamu. Aku yang mengambil keputusan untuk memilihmu. Jadi kamu bukan masuk dalam hubungan kami. Tapi Delia lah yang buat aku berpaling ke kamu. Setelah semua kebohongan yang dia buat selama ini."
Arjuna tahu kalau perpecahan persahabatan mereka diawali oleh dirinya. Dia yang mendekati Dira meskipun masih terikat perjodohan dengan Delia. Dulu memang dia mencintai Delia. Walaupun mereka tidak pernah pacaran, toh perjodohan itu membuktikan kalau keluarga tahu perasaan satu sama lain. Tapi nyatanya hatinya bukan terarah pada Delia.
Setelah satu tahun Delia menghilangkan, dia makin mencintai sisi lain dari Dira. Sosok Dira yang selalu dingin menanggapi dirinya. Satu kantor,pulang bareng, bertetangga membuat hatinya terketuk pada Dira.
"Mas," Dira membuyarkan lamunannya.
"Iya, sayang."
"Aku mau ketempat mama Salma. Tadi mama bilang kalau opa Han dalam perjalanan kesini. Karena setelah acara mama langsung pulang ke Jakarta."
"Ya sudah, kita langsung kesana sekarang. Aku belum sempat ketemu Rian." kata Juna.
"Sama, Mas. Aku juga belum ketemu Rian. Kasihan dia jadi duda dalam satu tahun pernikahannya."
Juna dan Dira meninggalkan kediaman mereka. Jarak rumah yang hanya berselang dua rumah saja. Mereka pun sudah mendapati dua wanita satu generasi duduk santai di teras rumah.
"Wah, ada pengantin baru." Goda mama Dewi.
"Ada apa gerangan kalian kesini?" kata mama Dewi.
"Lah, emang tidak boleh, ya, ma?" Juna terheran dengan ucapan mama mertuanya.
"Ya, boleh sih. Tapi kan biasanya kalau pengantin baru mau nya berduaan."
"Itu mah mau nya Mas Juna. Aku bosan di rumah terus. Aku mau tahu daerah sekitar sini."
"Juna, ajak istrimu jalan-jalan keliling perkebunan. Kenalkan sama lingkungan pabrik. Kamu kan nanti bakal janji nyonya bos direktur." kata mama Salma.
"Ciyeee...bos nih yeee.." mama Dewi ikut menimpali.
"Harapan mama cuma sama kamu dan juga Ayu. Kalian lah yang akan meneruskan perjuangan papa Johan."
Juna terdiam sesaat. Ingatannya beralih saat Ayu mengadukan soal Tio. Juna rasa dia akan membagi pekerjaannya dengan Tio.
Saat ini kebanyakan dari generasi penerus mereka berpendidikan tinggi dan memiliki mimpi serta pola pikir yang berbeda dengan orang tua mereka. Ketika anak sudah dianggap cukup umur. Sebagai orang tua wajib mengajarkan nilai-nilai bisnis keluarga yang telah mereka bangun kepada anak-anak.
Itulah yang Salma harapkan kepada kedua anaknya. Baik kepada Ayu maupun Arjuna dan juga kepada kedua menantunya. Salma berharap kalau mereka saling bahu membahu membangun pabrik untuk lebih baik ke depannya.
__ADS_1
"Ra, mama tadi sudah bilang kalau nanti setelah tahlilan di tempat Delia, mama langsung pulang. Mama rasa sudah saatnya kamu menetap disini. Mendampingi suami kamu."
"Iya, Dira dan mas Juna sudah sepakat untuk menetap disini. Karena sejatinya seorang istri harus ikut kemana suami berada."
"Soal barang-barang..."
"Mama tenang saja, dirumah kami sudah tersedia. Aku cuma bawa baju saja." jelas Dira.
*****
yuk mampir ke karya temanku yang bernama iklima maulidia
Yes, It's U
Iklima Mauliddyah
Cuplikan bab,
"Rania, kamu belum memberiku jawaban tentang pernyataanku beberapa Minggu lalu?" tanya Nalendra memandang Rania yang masih menunduk. "Sebenarnya aku bisa memberimu waktu sebanyak waktu yang kamu butuhkan untuk memikirkannya."
"Lalu, kenapa kamu menanyakannya sekarang?
"Orangtuaku hanya memberi waktu sampai sebelum puasa," jawab Nalendra.
"Ndra, aku janda lho punya anak juga. Apa keluargamu tidak keberatan dengan itu semua?"
"Orangtuaku tidak akan keberatan dengan pilihanku. Aku yang akan menjalani rumah tangga bersamamu. Mereka sudah tahu jika aku menyukaimu," tutur Nalendra.
"Ndra, bukankah masih ada satu Minggu lagi sebelum puasa?" tanya Rania. "Ndra, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" keluh Rania yang tiba-tiba merasa kesal.
Nalendra terdiam, dia menatap Rania dengan sejuta ekspresi hingga sulit mengartikannya. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya.
Apa itu artinya dia menolakku? tanyanya dalam hati.
Cukup lama mereka terdiam tidak berkata-kata.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Rania memecah kesunyian dalam mobil karena di luar benar-benar tidak sunyi banyak suara kendaraan berlalu lalang.
"Aku ga tau harus berkata apa," ujarnya. "Aku tau kamu menolakku 'kan?"
"Aku ga bilang gitu!" jawab Rania.
"Bukannya tadi kamu bilang, kamu ga mau menjawab pertanyaan ku?"
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan kaya gitu. Bukankah kita bukan anak sekolah atau kuliahan lagi yang harus menjawab iya atau tidak. Kalau aku menolakmu, aku ga akan mau semobil denganmu, aku pasti menolak pergi denganmu dan menjauh darimu!" jawab Rania geram. Dia menarik napas pelan meredam rasa kesal dalam hatinya.
__ADS_1