
Malam ini Kayla masih di dalam sebuah ruangan bawah tanah. Di kurung dalam sebuah gudang kosong. Perutnya yang sudah semakin besar. Sudah seharusnya dia kontrol kehamilannya. Tapi nyata dia sekarang di buat tersiksa oleh ayah kandungnya. Hanya tangisan dalam diam yang bisa dia lakukan. Meratapi nasib hidupnya di tangan papanya.
"Jordy, tolong aku! Jordy, jika aku tidak selamat tolong selamatkan anak kita. Maafkan aku yang selama ini jahat sama kamu." batin Kayla.
Sejak di sekap, Irul belum ada datang ke markas mereka. Tapi Kayla yakin papanya memantau pergerakannya dari sisi lain.
Kata orang anak atau bayi akan meluruhkan hati yang keras. Beberapa kali dia memohon pada papanya untuk di bebaskan apalagi dengan kondisi hamil tua. Tapi Irul tetap menyiksanya bahkan sempat menampar perut Kayla saat.
"Dasar anak tidak berguna! susah payah aku merawatmu, mengenyahkan rasa benci karena kamu yang buat istriku meninggal dunia. Kalau saja anakku lahir laki-laki, istriku masih selamat. Tapi nyatanya dia melahirkan bayi perempuan. Bayi yang besar dan tumbuh malah menjadi benalu dalam hidupku. Hamil di luar nikah! pacaran sama orang miskin!"
"Pa, maafin aku. Aku tahu papa kecewa karena kehamilanku ini. Tapi aku dan Jordy saling mencintai, pa. Tolong keluarkan aku dari sini! papa, kenapa begitu tega sama anak sendiri!" Kayla masih meneriaki Irul. Memohon belas kasihan pada papanya supaya di bebaskan. Tapi percuma saja. Papanya sudah terlanjur murka. Kayla pernah melihat papanya murka saat masih kecil. Dia melihat sosok papanya yang beda dari biasanya. Menyiksa salah satu anak buahnya yang dianggap berkhianat.
Sejak saat itu Kayla jadi segan pada papanya. Semua yang di minta Irul selalu di turuti. Dia takut nanti akan berujung sama seperti orang itu. Mati secara mengenaskan. Dia juga melihat bagaimana papanya membuat Padma menjadi pecandu, dan membuat Dawa menyalahkan keluarga Savira.
Kayla sebenarnya melihat bagaimana Irul membuat Padma perlahan-lahan meninggal dunia. Itu membuatnya semakin takut melawan papanya. Walaupun dia sadari kalau selama ini sudah jahat pada Vira dan Pandawa.
"Vira, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kamu lah yang di cari kak Dawa selama ini. Aku juga minta maaf karena sudah memfitnah kak Dawa soal ayah dari kandunganku.
Sebelum terjadi sesuatu padaku dan anakku. Aku ingin sekali bertemu dengan kak Dawa dengan Vira. Menceritakan yang sebenarnya terjadi."
Wati diam-diam memasuki lorong tempat dimana Kayla di sekap. Dia kasihan pada anak majikannya yang sedang hamil besar. Sepanjang Kayla di rumah Vila, tidak ada pemeriksaan kehamilan. Tidak ada dokter yang datang ke tempat mereka. Jangankan dokter, dia mau ke pasar saja di kawal sama anak buah Irul.
__ADS_1
Wati membawa selembar kertas untuk Kayla. Siapa tahu membutuhkan sesuatu. Atau mau minta sesuatu. Tampak penjagaan sedang melonggar, kesempatan untuk Wati menyusup masuk ke tempat yang lumayan dalam. Dengan udara pentilasi yang sangat kecil.
"Non," Wati mengecilkan volume. Berharap Kayla mendengar panggilannya. Pintu yang memiliki kaca tengah, Wati mengedarkan pandangan dari celah tersebut.
"Kayla," batin Wati merasa iba.
Tampak wanita itu terlentang dengan mata terbuka. Wati menganggap Kayla hanya tergolek saja. Akan tetapi Wati merasa aneh karena tatapan hanya ke langit-langit. Wati pun mulai cemas.
Wati berlari mencari bantuan. Terserah kalau nanti dia yang ikut di tahan oleh anak buah Irul. Saat ini yang terpenting keselamatan Kayla terlebih dahulu.
Tampak seorang pengawal sedang berdiri di depan pintu. Wati pun tanpa malu mendekati pengawal tersebut.
"Mas, bapak atau siapalah kamu, tolong non Kayla. Sepertinya dia kritis. Matanya keluar terus tapi tidak bergerak." adu Wati.
"Nanti bahas soal itu. Sekarang kamu cek keadaan non Kayla. Kamu mau kalau dia mati jadi hantu gentayangan disini. Apalagi dia dalam bunting besar. Kamu tahu beberapa tahun yang lalu pak Irul juga melakukan hal yang sama pada perempuan lain. Pokoknya sekarang tolong non Kayla dulu. Nanti kalian mau apakan saya terserah."
Pengawal itu tentu tidak mengindahkan peringatan Wati. Dia memanggil kawan-kawannya untuk menyekap Wati di tempat lain.
Tak berapa lama beberapa anak buah Irul pun berdatangan. Mereka mengikat tangan Wati membawa ke lain tempat.
"Aku mohon tolong non Kayla jika kalian masih punya hati nurani. Non Kayla itu kritis, dia dan bayinya harus di selamatkan. Tolong non Kayla, saya mohon sangat!" Pekik Wati.
__ADS_1
PLAAAAAK!
Salah satu anak buah Irul menampar Wati beberapa kali. Wati pun tak tinggal diam. Dia mencoba berontak dan menendang anak buah Irul yang memegang dirinya.
Berbekal kepiawaiannya bela diri Wati pun melawan anak buah Irul, satu persatu. Sayangnya meskipun jago bela diri dia tetap kewalahan menghadapi para pria yang tentunya lebih kuat. Para lelaki berbadan atletis dan berotot.
Sebelum Wati mendatangi Kayla di ruang bawah tanah. Wati sudah menghubungi beberapa nomor telepon yang di berikan Kayla. Salah satunya adalah Pandawa. Wati tahu gerak geriknya juga di pantau oleh Irul. Dia juga di jaga ketat oleh anak buah Irul. Cctv pun dimana-mana.
"Assalamualaikum pak Pandawa, Saya Wati asistennya non Kayla. Maaf kalau saya mengganggu aktivitas anda. Tapi saat ini saya butuh bantuan anda menyelamatkan non Kayla. Dia di sekap sama pak Irul sudah satu minggu. Non Kayla sedang hamil besar. Dan saya di beri nomor ini sama dia. Saya hanya minta tolong bantu dia itu saja."
Selesai Wati memberikan kabar pada Dawa, panggilan pun dialihkan dengan menelepon polisi. Mengabari adanya penyekapan pada seorang wanita hamil. Wati menceritakannya apa yang dia ketahui tentang Irul.
"Apa aku harus menghubungi nomor ini juga. Kalau memang dia aktif, kenapa dia tidak mencoba menghubungkan non Kayla. Dasar lelaki tidak bertanggung jawab. Nanam benih tapi di telantarkan begitu saja." umpat Wati.
Wati akhirnya menghubungi pemilik nomor tersebut. Ternyata masuk teleponnya. Dan cepat si penerimaan telepon mengangkat.
"Halo assalamu'alaikum, ini siapa? ada yang bisa saya bantu. Mau pesan susu sapi pak Hamdan atau pesan dagingnya."
"Kok jadi pesan susu sapi sih? apa aku salah pencet telepon?" batin Wati
"Maaf, Mas atau Mbak kalau tidak serius memesan saya akan tutup telepon ini." ancam dari seberang sana.
__ADS_1
"Eh, maaf saya mau mengabari Kayla sedang disekap papanya di ruang bawah tanah. Kalau kamu memang sayang sama Kayla dan calon bayinya. Tolong selamatkan dia!" Wati pun menutup teleponnya.