
Selama bumi masih berputar dan kita masih bisa bernapas barangkali tidak ada satu pun dari kita yang siap dengan kehilangan ataupun terbiasa dengan duka. Kehilangan merupakan kata atau sesuatu yang sebisa mungkin kita hindari. Sesuatu yang tidak ingin kita alami.
Tapi apa daya, manusia tidak bisa memilih apa yang akan terjadi pada dirinya. Kehilangan kekasih, kehilangan sahabat ataupun kehilangan keluarga dekat tidak pernah menjadi menyenangkan. Semuanya tetap sama.
Meninggalkan luka yang berbekas di hati dan pikiran.Kematian merupakan salah satu takdir dari Allah yang akan dialami oleh setiap makhluk yang hidup termasuk manusia.
Kehilangan yang pertama tentunya masih bisa kita tolerir. Kita masih bisa melakukan upaya untuk mengembalikan kepada dirinya yang semula. Paling tidak apa yang berubah dari dalam dirinya dapat kita maklumi sedikit demi sedikit.
Tanpa penghakiman tentu saja. Namun bagaimana halnya jika kita harus merasakan kehilangan yang mengharuskan kita menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa lagi bertemu, mengobrol, bercerita ataupun mencicipi masakan yang ia buat. Sedih dan duka mendalam. Barangkali tidak ada kata lain.
Segala puji bagi Allah Subhanallahu wa ta’ala, kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa dan keburukan amal perbuatan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata yang tidak memiliki sekutu, dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Kematian adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk-makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185).
Juna dan keluarga besarnya sudah berdiri di area pemakaman. Lokasi pemakaman tak jauh dari kediaman mereka.
"Kamu ingat, nak. Dulu, kamu lah yang membuka lahan ini untuk pemakaman warga. Kamu yang bilang area pemakaman yang lama terlalu dekat dengan irigasi. Sering terjadi air yang menggenang saat orang akan menimbun lobang makam.
Dari semua warga disini,baru papamu yang bisa di makamkan." jelas Salma.
"Assalamualaikum, pa. Ini Juna, pa. Maafkan Juna tidak ada di samping papa saat-saat terakhir. Juna juga minta maaf jika ada sikap yang mengecewakan papa. Minta maaf kalau baru bisa datang sekarang." Juna menangis memeluk batu Nisan yang bertuliskan nama "Johan Bramantyo".
"Assalamualaikum, mas. Apa kabar? maaf baru sempat nengok lagi. setelah beberapa bulan aku juga harus meneruskan pabrik bersama Ayu dan juga Tio.
Juna beserta keluarga yang lain membacakan alfatihah untuk mendoakan Johan. Setelah itu mereka membersihkan makam yang mulai di tutupi tanaman rambatan. Di pucuk nisan tumbuh tanaman kecil yang berbuah. Juna mengambil salah satu buah. Rohim melarang karena dianggap pamali.
"Jangan, nak. Itu berasal dari jasad papamu. Jadi tubuh papamu setelah dua hari meninggal akan terjadi pembusukan, dari proses itu lama kelamaan akan melebur dengan tanah. Karena tanah ini memilik zat yang membantu proses kehidupan tanaman lain. Maka dari itu tidak usah diambil buahnya." kata pak Rohim.
"Iyakah, pakde?"
"Iya, nak. Jadi jangan diambil tanaman diatas kuburan."
__ADS_1
"Maaf, pakde." Juna kembali meletakkan buah kecil itu diatas tanah makam.
Astaghfirullah hal adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi." Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepadaNya."
Selesai ziarah mereka pun meninggalkan area pemakaman. Ayu juga tidak bisa lama meninggalkan rumah lama-lama. Mengingat sang putri tadi dia titipkan pada Mak Wiwit. Takut Salsa bangun dan rewel.
"Mas Juna, mama Salma, dan yang lainnya. Aku harus kembali ke pabrik masih ada yang harus di selesaikan." pamit Tio.
"Aku boleh ikut?" Juna mengajukan diri.
"Kak Juna Istirahat saja. Kan belum lama sampai."
"Enggak apa-apa. Aku malah bosan di rumah saja."
"Tio, ajak saja Juna ke pabrik. Biar dia bisa kembali melanjutkan aktivitas. Juna harus beradaptasi sama pabrik. Lagian kalian bukannya sering berkerjasama."
"Jika dia kembali ke pabrik, pasti orang-orang akan mengelu-elukan dirinya. Sudah pasti dia akan menjadi pujaan para warga lagi. Kenapa dia selalu beruntung hidupnya? kenapa aku yang selalu menjadi nomor dua? Ah, tidak boleh begitu Tio. Juna bukan Johan. Juna tidak pernah membedakan kamu. Beda dengan Johan yang selalu memandang aku sebelah mata. Tapi tetap saja aku akan kembali menjadi bayangan."
"Mas," tepukan pundak dari Ayu membuyarkan lamunannya.
"Kamu kok melamun? nggak bagus melamun di makam." tegur Ayu.
"Maaf, sayang. Ayo, kita pulang. Aku rindu sama Salsa." Tio menarik lengan istrinya meninggalkan area pemakaman.
"Sama Salsa apa sama Mak Wiwit?"
"Sama mamanya Salsa pastinya." Tio melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Tio melabuhkan kecupan di dahi Ayu. Wajah Ayu mendadak merah.
"Ehmmm... Tio... Ayu... ingat tempat." tegur Salma.
"Iya, kak Ayu. Kasihan yang lagi jauhan sama istrinya. Ya, kan sayang." Awan pun ikut memeluk mesra ke pinggang Naura.
"Wan," suara bariton pun ikut menegur dirinya.
__ADS_1
"Tuh, kan, mas. Kamu sih?" Naura ikut menegur lelaki yang resmi menjadi suaminya tiga hari yang lalu.
"Kan kita pengantin baru." kata Awan.
"Kamu lihat Dira, perempuan yang kamu cemburui sekarang sudah bahagia bersama pasangan sebenarnya. Andai kamu ada disini dan melihat mereka, apakah kamu masih menjaga jarak denganku. Yang sudah jelas aku lah pemilik hatimu yang sebenarnya." batin Juna.
mereka berjalan beriringan meninggalkan area pemakaman. Bu Halimah dan Pak Rohim, Naura dan Awan, Ayu dan Tio, sementara Juna mendampingi mamanya berada di barisan paling depan.
"Nak, apakah kamu ingin menghubungi Dira?"
"Dira sempat koma beberapa hari saat mengetahui kamu meninggal dalam kecelakaan. Dia pun sempat mengasingkan diri dalam kehidupan sekitar.
Mama rasa kamu harus menemui Dira, menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga kalian."
"Aku pasti akan menyelesaikannya. Tapi saat ini Juna pun masih belum tahu harus memulai darimana. Sejak dia pergi tanpa pamit saat liburan di desa Tulang Bawang. sejak itu dia tidak pernah mengangkat telepon Juna, ma. Bahkan Awan pun dia abaikan juga."
"Jujur mama masih bingung dengan permasalahan kalian. Kenapa Dira bisa ada di desa Tulang Bawang? kenapa kamu bisa ada di desa itu juga? dan anehnya kamu menjadi anaknya Rohim?"
"Juna juga tidak tahu, ma. Juna juga belum bisa mengingat apa yang terjadi sampai bisa tinggal disana. Yang Juna tahu saat bangun mereka memanggilku dengan nama Sandi.
Saat Dira datang ke desa, aku seperti di seret berbagai macam kisah. Aku seperti tersedot dengan pesona Dira. Di situ Juna sadar, kalau aku jatuh cinta sama Dira. Bersama Dira Juna seperti merasakan Dejavu berulang-ulang.
Apakah Sandi dan Juna semirip itukah?" lagi-lagi Juna masih mempertanyakan semua yang dia alami.
"Sekarang mana Sandi nya? dialah titik kunci permasalahan kamu, nak" tanya Salma.
"Itu." Juna menunjuk kearah Awan yang bergandengan dengan Naura.
"Biar mama bicara sama dia."
Juna menahan tangan Salma.
"Ma, urusan aku dan mereka sudah ada titik terang. Aku tinggal menyelesaikan hal ini dengan Dira. Aku yang akan menjelaskan pada Dira."
__ADS_1
Apa aku minta Juna saja yang datang ke pengajian keluarga jeng Dewi?