
"Usir Sandi dari desa ini!" seru salah satu warga.
"Iya, usir Sandi dari desa ini! untuk apa dia kembali ke desa ini." pekik warga lainnya.
Seorang lelaki tua dan wanita paruh baya tampak kaget. Mereka berlari keluar dari teras rumah. Melihat banyak warga yang memenuhi pekarangan rumahnya. Salah seorang wanita muda masuk ke dalam kamar. Menjaga seorang lelaki yang masih tak berdaya di kasur spring bed kecil. Tampak suasana kamar di penuhi photo para rocker.
"Uti, jaga mas, mu. Biar bapak yang hadapi mereka." ucap pria paruh baya tersebut.
"Sandi! keluar kamu!" pekik seorang lelaki paruh baya memakai batik dan berpeci.
Semua warga desa Talang Bawang mengamuk di depan rumah berbahan kayu. Amukan warga tentang kembalinya sandi yang menghilang selama tujuh tahun.
Sandi dimata warga saat itu adalah pemuda yang tidak punya sopan santun. Dia selalu melakukan sesuatu sesuka hati. Siapa yang tak kenal pak Rohim, lelaki yang dikenal sangat humble di mata masyarakat, namun kelakuan putranya sangat berbalik. Puncaknya saat salah satu anak gadis yang dihamili sandi minta pertanggungjawaban. Alhasil, Sandi harus dinikahkan oleh Naura, nama gadis itu. Satu jam sebelum akad, Sandi memilih kabur dari rumah.
"Saya mohon jangan usir anak saya. Mungkin dulu dia buruk dimata kalian. Tapi saat ini anak saya sedang sakit. Tidakkah kalian berempati sedikit." mohon pak Rohim.
"pak Rohim jangan membela Sandi. Dia itu mencoreng desa kita. Bapak tidak lupa kalau Sandi menghamili Naura dan kabur dari tanggung jawab. Gara-gara sandi, ibu nya Naura jatuh sakit dan meninggal dunia. Apa bapak lupa itu! sekarang jangan halangi kami untuk mengusir Sandi. mana dia, anda jangan menyembunyikan."
"Tapi anak saya sedang sakit. Jangankan mengganggu kalian, bangun saja dia tidak bisa."
"Aaaaaaah... sudah kalian jangan terpengaruh. Ayo yang lain kita seret Sandi! usir dia dari kampung kita!" seru pak Gondo.
Para warga yang masih tersulut emosi menerobos masuk ke kediaman pak Rohim. Mereka berbagi tugas menggeledah rumah tua itu. Bu Halimah dan Uti terlihat ketakutan dengan aksi warga. Hingga ruangan terakhir yang mereka yakini dimana Sandi di sembunyikan.
"Pak ini Sandi lagi tidur!" pekik warga yang lain.
Warga yang masih mengamuk mendekati sosok yang di yakininya adalah Sandi. Mereka memaksa membangunkan sandi dengan kasar.
"Hei, bangun! jangan kamu kira bisa menipu kami." salah satu warga menendang pinggang Sandi. Bu Halimah marah, dia tidak suka cara mereka membangunkan Sandi.
__ADS_1
Uti dan Bu Halimah menghalangi warga yang menarik paksa sandi yang masih belum sadar. Kediaman pak Rohim jadi bahan tontonan para warga yang lain.
"Jangan perlakukan anak saya seperti itu." Amuk Bu Halimah.
"Diam! atau ibu juga saya ikut seret seperti dia!"
"Kalian! apa yang kalian lakukan pada keluarga pak Rohim." ucap seorang lelaki berdiri di depan pintu.
"Kami hanya membersihkan nama kampung kita dari lelaki bajingan ini. Kalau dia disini hanya akan menambah buruk desa kita."
"Tidakkah kalian lihat keadaannya? bagaimana dia bisa merusak kampung sedangkan untuk dirinya sendiri saja dia tidak mampu bangun. Kalian kalau melakukan sesuatu pakai kepala dingin, bukan mengandalkan otot."
"Saya mohon jangan usir anak saya." mohon Bu Halimah.
"Tapi, Bu ...dia itu lelaki bejat! dia tidak pantas..."
"PLAAAAAK! Saya ibunya, saya yang tahu anak saya seperti apa! Kejadian itu saat dia masih muda. Dan sekarang dia lagi sakit. Dimana otak Kalian."
Para warga pun akhirnya membubarkan diri. Termasuk beberapa lelaki yang mengamuk di kediaman pak Rohim tadi. Lima lelaki tadi diajak duduk di dalam untuk membahas soal Sandi.
"begini pak Rohim, bapak masih ingat bagaimana kelakuan Sandi yang meresahkan warga. Bapak tidak lupa Sandi kabur di hari pernikahannya. Padahal dia harus mempertanggungjawabkan calon anak di kandungan Naura. Dan sekarang dia kembali tanpa rasa bersalah."
"Saya tahu itu, tapi itu sudah masa lalu. Saya yakin kalau dia sadar nanti pasti dia akan bertobat. Saya janji akan membimbing dia dengan baik. Saya janji sama kalian.
Saya minta maaf jika dulu kelakuan Sandi meresahkan kalian semua. Tapi saya juga mohon jangan usir anak saya yang sedang sekarat."
"Oke, saya kasih waktu sampai dia sembuh. Setelah itu kami minta sandi tidak menginjakkan kaki di desa ini lagi."
"Terimakasih! terimakasih sudah menerima anak kami kembali." sujud Bu Halimah.
__ADS_1
Setelah para warga bubar. Bu Halimah, pak Rohim dan Uti berkumpul di kamar Sandi. Mereka membersihkan luka yang ada di wajah anak sulung mereka. Tetesan air mata menetes di pergelangan tangan anak sulungnya itu.
"Bu, bukankah setiap malam ibu mendoakan mas Sandi. Sekarang doa ibu terkabul. Mas Sandi sudah pulang. Walaupun dalam keadaan seperti ini." kata Uti sambil mengompres wajah kakaknya.
"Alhamdulillah, nak. Tuhan mengabulkan doa ibu. Jika mas mu sudah sadar, ibu akan minta dia mau bertanggung jawab atas Naura dan Jimmy."
"Jimmy sekarang sudah besar, Bu. mirip sekali sama mas sandi, sepertinya Jimmy memang darah daging mas Sandi." ucap Uti.
"Untungnya Naura tetap bersilaturahmi dengan baik pada kita. Ibu sudah malu sama nak Naura, ti."
"Tapi Bu, Kak Naura sebentar lagi mau menikah dengan pilihan sanak familinya. Mana mungkin dia mau menunggu mas Sandi bangun. Sebaiknya kita bawa mas Sandi ke rumah sakit. Biar bisa dirawat."
"Bagaimana mau kerumah sakit, nak. Kita nggak ada biaya buat kesana. Kamu ingat bapakmu saja tidak berani kita bawa kesana. Apalagi kakakmu,nak."
*
*
*
*
"Jadi bagaimana?" tanya mama Dewi saat mendapati Feri sudah ada di rumah.
"Tidak ada harapan, ma. Kemungkinan terbesar Juna memang tewas dalam kecelakaan itu. Ya memang kata polisi jasad Juna belum ditemukan. Tapi bisa jadi dia sudah menjadi santapan binatang buas di dalam air. Apalagi tadi ada orang suruhanku mengecek kalau disana ada piton dan buaya." jelas Feri.
"Feri, kamu jangan berkesimpulan seperti itu. Siapa tahu kalau ada yang menyelamatkan Juna. Atau mungkin jasad Juna menyangkut di dalam air. Mungkin dia duluan yang lompat untuk menyelamatkan diri." tebak Dewi.
"Saat ini kita tidak bisa berspekulasi banyak, ma. Satu kemungkinan yaitu Juna dimakan hewan buas di dalam danau." kata Feri sambil mendaratkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Dira?" tanya Feri.
"Masih belum sadar. Padahal kata dokter semua anggota tubuhnya sudah membaik. Tapi Dira belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Ya Allah, nak, kenapa nasib kamu begini, kamu baru kehilangan calon anak dan sekarang harus kehilangan suaminya. Ya Allah kenapa semua kau timpakan pada anakku, dia baru saja kehilangan dua orang yang disayanginya, yang mencintainya. Kenapa harus Dira?" tangis mama Dewi