SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 227


__ADS_3

Kelingking kita berjanji


Jari manis jadi saksi


Bahagia


Hingga sang bumi


Tak berputar lagi


Pandawa


Malam sebelum pesta


Suara deburan ombak terdengar sangat jelas. Biasanya kalau menjelang malam air laut sudah naik. Semua tepian pantai sudah menjadi muara kecil.


Lelaki itu duduk di teras vila tempat dia menginap. Setelah tadi bertemu dengan Vira, melepaskan rindu. Status mereka sudah sepasang kekasih, namun harus berakhir besok. Kegundahan itu terlihat jelas dari sorot matanya.


"Dawa,"


Deka sudah duduk di samping putra semata wayangnya. Lelaki paruh baya itu tahu kalau ada yang di pikirkan anaknya.


"Iya, Pa," Dawa menyunggingkan senyum sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi anyaman.


"Maafkan papa, ya,"


"Papa kenapa menikah dengan Tante Dewi, aku tidak masalah kalau papa mencari pendamping baru, tapi kenapa harus sama Tante Dewi?"


"Nak, Kalau kamu mau meneruskan hubungan dengan Vira tidak apa. Kalian tidak sedarah jadi bukan halangan untuk bersama ke hubungan selanjutnya,"


"Kenapa papa malah bilang saat mau menikah dengan Tante Dewi? kenapa tidak dulu-dulu saat aku mencoba bangkit dari keterpurukan demi Savira?"


"Maafkan papa, Nak. Ini semua di luar kendali papa sebagai manusia," ucap Deka.


"Danu," suara wanita paruh baya membaur dalam obrolan ayah dan anak.


"Oma tahu pasti berat untuk kamu. Oma pernah bertemu dengan seorang gadis yang baik hati. Menolong Oma tanpa memandang siapa yang di tolong. Mungkin kamu bisa mengenalnya setelah kamu gagal dengan anaknya Dewi. Maaf bukan maksud Oma untuk jodoh-jodohkan. Tapi apa salahnya kamu mengenalnya. Walaupun Oma tadi mau jodohkan kamu dengan cucu teman Oma,"


"Bude Kenanga besok datang nggak?" tanya Dawa.


"Bude kamu tidak bisa datang, Nak. Dia ...."


"Dia belum bisa menerima aku kan, Pa," tebak Dawa.


"Perlu proses untuk hal ini, Nak. Papa juga akan mengusahakan supaya dia menerima anakku,"

__ADS_1


Dawa sadar, sebagai orang baru tidak mudah dia di terima oleh keluarga besar Abraham. Meskipun demikian, neneknya menganggapnya cucu saja sudah di syukuri. Apalagi dia juga sadar diri status nasabnya.


Setelah Deka menuntun mamanya masuk ke dalam rumah. Dawa kembali di terpa kesepian. Memejamkan mata sambil menikmati udara malam di sekitar cottage.


"Kakak jangan gila! mana mungkin kita lari," pesan balasan dari Savira.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan demi memperjuangkan cinta kita, Vira,"


"Hanya itu? hanya seorang pengecut yang bisa berpikir seperti itu. Kalau kakak berani mendekati mama, melunakkan hati mama, itu baru namanya perjuangan. Cara yang kakak tempuh hanya akan menambah masalah baru,"


"Tapi, Sapi,"


"Terserah kakak saja, kalau masih berpikir seperti itu jangan harap aku mau mengenal kamu,"


Dawa membaca pesan yang terakhir di balas Savira.


"Maafkan aku, Sapi," Dawa membalas pesan terakhir Savira.


Tangannya meraba tongkat penyangga kakinya. Suara ketukan terdengar dari ruang depan. Matanya memandang jam sudah menunjukkan pukul 23.00.


Masuk ke kamar melihat papanya sudah pulas. Biasanya kalau orang yang menikah tidurnya tak nyenyak seakan ada yang di pikirkan.


Berkaca saat Irul meminta mempercepat pernikahannya dengan Kayla. Entah kenapa ada yang janggal. Di bilang belum siap memang belum siap. Saat itu dia belum memenuhi ikhtiarnya menemukan "Sapi" kalau seandainya dia menikah dengan Kayla. Otomatis urusannya tersita pada rumah tangganya.


Kenapa sekarang aku yang gelisah? apa karena aku dan Vira akan jadi saudara. Entahlah! aku melihat papa terlalu santai untuk jadi pengantin. Tidak ada rasa deg-degan sama sekali. Tapi kenapa malah aku yang seperti mau jadi pengantin?


Mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari beragam persoalan hidup menjadi cara terbaik agar dapat memaknainya secara bijak. Setiap persoalan yang di hadapi dalam hidup ini seringkali memberi pelajaran berharga dan pengalaman terbaik. Ya, perjalanan hidup memang tidak selalu mulus seperti kehendak manusia. Sebab, ada kalanya kita merasakan pahit manis kehidupan dengan persoalan yang berbeda.


Saat Pandawa sholat, diam-diam Deka melihat putranya. Ada rasa sejuk melihat putra semata wayangnya menyempatkan sholat malam.


"Sekar, andai kamu disini melihat tumbuh kembang anak kita. Bukan tumbuh kembang lagi tapi sudah mau jadi suami orang.


Maafkan aku, Sekar andaikan aku bisa lebih cepat menemukan kamu. Mungkin kita sudah menjadi keluarga bahagia,"


Deka menyeka air matanya. Mengingat masa di mana Sekar hanya meninggalkan surat saat tahu mamanya akan menjodohkan dengan Yasmin. Meskipun dia tahu Yasmin saat itu sudah punya kekasih. Tapi demi persahabatan mamanya dengan ibunya Yasmin. Sekar rela mengalah.


Dari cerita mamanya, keluarga mereka banyak hutang budi sama kakeknya Yasmin. Mamanya juga bukan dari kalangan orang kaya. Hanya saja di pertemukan oleh papanya Abraham Samad. Lelaki yang katanya mampu menaklukkan Oma nya kala itu.


Dari cerita mamanya, sang nenek tidak mau kalau Helena menikah dengan orang kaya. Takutnya Helena akan di perlakukan seperti pembantu. Atas usaha dan kerja keras sang papa. Mereka akhirnya di restui sama neneknya yang tinggal di Sukabumi.


Untuk mencapai sebuah kesuksesan, usaha dan doa merupakan dua hal yang wajib dilakukan seorang muslim. Namun, semua itu akan semakin lengkap dengan tawakal, atau berpasrah diri kepada Allah SWT.


Pasrah kepada Allah bukan berarti kita melepaskan semuanya tanpa adanya usaha badan untuk mencapainya. Sikap berserah diri kepada Allah juga harus disertai dengan usaha.


Dawa melihat sang papa bangkit dari peraduan malam. Dia tidak berusaha memanggil ataupun sekedar menanyakan kenapa bangun. Lelaki itu duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


Setelah mengadu pada yang maha kuasa. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Meskipun belum bisa memejamkan matanya.


Bayang-bayang Savira kembali menari dalam ingatannya. Gelang yang dia buat menyerupai gelang kecil yang di beri Savira. Tapi dia tidak menyangka kalau Vira memakai gelang yang sama.


Kata-kata Elsa mengiang di ingatannya.


"Kakak pernah lihat gelang yang di pakai Vira. Itu sama persis dengan gelang yang kakak pakai. Seharusnya kakak peka sedikit. Vira selama ini diam karena Tante Dewi tidak setuju dengan hubungan kalian. Tante Dewi masih trauma dengan om Irul dan kak Padma. Harusnya kepekaan kakak lebih tajam,"


"Aku tahu, Sa. Tapi Vira masih tidak mengakui kalau dia sapi."


"Iyalah, kalau dia mengaku terus kakak mendekatinya. Maka perang besar antara ibu dan anak. Yang kakak perjuangankan bukan Vira. Tapi Tante Dewi. Meluluhkan batu lebih susah dari pada meluluhkan es. Karena jika Tante Dewi setuju Vira pasti mau membuka hatinya untuk kakak,"


Dawa meninggalkan kamarnya. Serasa kerongkongannya kering, meraba tangan meraih tongkat penyangga kakinya. Samar-samar dia mendengar pembicaraan Oma dan papanya. Dawa memilih duduk di ruang tamu tak jauh dari posisi pembicaraan.


"Deka," Oma Helena menyapa putra bungsunya.


"Iya, Ma," Deka meneguk segelas air putih sampai habis.


"Kamu belum tidur?"


"Tapi sempat tidur sekarang sudah tidak mengantuk lagi. Aku lapar mama mau aku masakan mie instan?"


"Mama kenyang tadi Dewi kasih makanan banyak banget. Mama tidak menyangka bakal jadi satu keluarga sama Dewi. Dulu mama sempat menentang hubungan Dewi dan Zaki. Karena mama pikir Dewi hanya dari keluarga biasa. Beberapa tahun belakangan mama baru tahu kalau dia anak seorang pengusaha,"


"Jadikan pelajaran jangan lihat seseorang dari luarnya saja," Deka berlalu meninggalkan dapur. Belum jauh kakinya melangkah, suara Helena menahan dirinya.


"Mama minta maaf soal Sekar, seandainya..."


"Sudahlah, Ma. itu sudah berlalu. Aku tahu mama ingin yang terbaik. Aku sudah memaafkan mama,"


"Soal Sekar pergi itu keterlibatan mama,..." Helena menjeda ucapannya.


"Sekar pergi karena mama yang membawanya ke agen pencari kerja. Mama juga tahu saat itu dia sedang mengandung anak kalian," Deka membalikan badannya.


"Sudah malam, besok kan acara keluarga kita," nada suara Deka terdengar datar.


Deka masuk ke kamar lalu menutup pintu dengan keras. Dawa berusaha kembali ke kamar suara isakan kecil menahan niatnya masuk.


"Danu, kecewa sama Oma. Karena Oma Danu lahir tanpa mengenal ibu kandungku. Karena Oma, Danu harus hidup di opor sana-sini,"


"Maafkan, Oma, Nak. Oma salah sama kalian semua, Oma berkerjasama dengan Irul yang punya agent pencari kerja. Oma tidak ..." Helena menghentikan ucapannya karena yang diajak bicara sudah meninggalkan dirinya.


...*****...


yuk mampir ke karya temanku

__ADS_1



__ADS_2