SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 194


__ADS_3

Di sebuah taman tak jauh dari kompleks perumahan. Taman yang memang di peruntukkan bagi warga sekitarnya. Tak luas seperti lapangan bola, akan tetapi bisa menampung ratusan orang kalau di kumpulkan.


Dira Ingat saat dia masih SD taman ini tempat dia bermain bersama Ayu, Eka dan Juna. Sedangkan Delia sering berkumpul kalau di rumah saja. Maklum setiap temannya itu datang pasti diikuti oleh baby sitter, dan salah satu kakaknya. Ketat penjagaan dari keluarga Shahab membuat temannya makin mengurangi jadwal kumpul. Waktu berkumpul hanya di sekolah saja. Itu yang Dira ingat.


Langkah kakinya memutarkan area kompleks taman, sambil mengelus perutnya yang sudah membesar. Tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ibu. Anak yang kini di kandungnya akan menjadi harapan besar bagi dia dan Juna.


"Sayang, mama duduk dulu ya, kaki mama pegel. Sudah tiga kali putaran," oceh Dira pada calon anak mereka.


Baru saja dia akan duduk, perutnya seperti terasa ditendang. Seolah-olah memberikan protes karena mamanya tidak mengikuti keinginannya. Dira menghela nafas dalam-dalam. Kakinya memang sudah tidak kuat berjalan. Namun sepertinya anaknya tidak ingin berhenti.


Matanya berarah pada lelaki yang sedang sibuk berbicara di telepon. Seingatnya sejak mereka sampai di taman hingga saat ini, komunikasi udara itu belum juga selesai. Tampak lelaki itu mengerutkan dahinya. Seperti ada sesuatu yang tidak baik.


Dira mau nya suaminya membujuk anak mereka supaya sedikit tenang. Seperti biasanya kalau mulai kontraksi selalu Juna yang ikut membujuk anaknya. Anehnya anak mereka lebih nurut sounding Juna daripada dari Dira.


"Apa aku sounding pake ayat Alquran, ya. Kata orang kalau disounding pakai ayat Alquran anak akan hilang rewelnya," Dira merogoh handphone beserta headsetnya.


Sounding adalah bisikan berupa kata – kata positif yang diberikan secara berulang dan dilakukan di alam bawah sadar seseorang yang bertujuan untuk merubah perilaku seseorang.


Sounding janin melalui ayat Alquran memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan senandung Asmaul Husma dipercaya bisa menstimulasi perkembangan otak bayi dan membuat anak bisa berakhlak mulia.Ayat suci Al-Qur’an yang didengar atau dibaca oleh seorang ibu hamil sangat baik, itu akan membuat kejiwaannya berelaksasi, sehingga kesehatan janin dan ibu semakin terjaga dan sang janin akan semakin sehat dan tenang secara kejiwaan, otaknya juga akan tumbuh dengan baik.


Itu harapan Dira, harapan setiap calon orangtua pastinya. Dira pun mendaratkan tubuhnya di kursi taman. Merasa anak mereka sedikit tenang setelah di sounding dengan lantunan ayat suci Alquran. Tangannya tak berhenti mengelus ke perut besarnya. Matanya masih memandang kearah Juna yang baru baru saja menutup teleponnya.


"Capek, ya, Sayang," Dira mengangguk. Juna ikut mengelus perut istrinya. Mendaratkan kecupan di perut besar Dira.


"Anak Papa, mama istirahat dulu, ya. Kasihan mama kecapekan karena nurutin mau kamu. Kan anak papa hebat," kata Juna.


"Mama dan papa nya juga hebat," sambung Dira.


"Tadi kok lama teleponan, ada apa?"tanya Dira.


"Enggak apa-apa, cuma ngobrol lama sama Awan. Katanya pakde Rohim masuk rumah sakit, dia mau ketemu sama Uti. Tapi sepertinya Bude Halimah masih keras kepala. Awan pusing melihat sikap keras kepala ibunya. Kata Awan memang karakter ibunya seperti itu,"


"Semoga pakde Rohim sembuh seperti sedia kala. Dia orang baik selama aku disana. Kamu ingat saat aku mempertanyakan antara kamu dan sosok Sandi. Bude Halimah seperti tidak suka sama aku. Tapi mungkin dia begitu karena mengira si Sandi ini akan mangkir tanggungjawab pada Naura dan Jimmy.

__ADS_1


Aku sudah pernah dengar cerita tentang Sandi dan Naura dari Uti belum lama ini,"


"Iya, Sayang. Saat aku bangun mereka langsung memanggilku dengan sebutan Sandi. Hidup dengan keluarga baru di perlakukan seperti sosok Sandi yang asli.


Saat jadi Sandi, aku bukan sosok yang gampang di terima warga sekitar. Beberapa minggu pertama saat disana, aku di musuhi warga Tulang Bawang. Awalnya aku heran, tapi setelah tahu kasus sebenarnya, ternyata sosok Sandi ini memang buruk di mata warga disana,"


"Lalu apa yang membuat ingatan Mas kembali? terakhir saat aku mau berangkat pulang ke Jakarta, kamu masih merasa jadi Sandi,"


"Kamu,"


"Hah! aku?"


"Iya, kamu ingat saat di bawa ke balai desa karena kasus dengan Inggar. Entah kenapa aku seperti merasa dekat pada sosok wanita cantik di hadapanku. Seperti ada magnet yang menarikku kearah kamu. Mungkin benar kata Awan, ingatan boleh hilang. Tapi hati tidak akan bohong.


Awan bilang dia beberapa kali memperhatikan aku yang selalu cemburu saat kamu sedang sama dia. Ya mungkin itulah namanya cinta,"


Dira hanya tersenyum simpul. Tidak sia-sia kesetiaannya selama ini. Tadinya dia pikir kalau sudah menikah dengan Naura, dia akan melayangkan gugatan cerai untuk suaminya. Begitu banyak cobaan yang dia hadapi sejak mencintai Arjuna, sempat mencoba mundur dan memilih Rian. Tapi nyatanya dia selalu di pertemukan pada Arjuna.


Begitu juga saat di awal pernikahan mereka, kehilangan anak dan suami hilang dalam kecelakaan. Semua terasa bertubi-tubi. Ada yang pernah bilang Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.


"Mas, kayaknya mau mendung. Kita pulang, yuk, kasihan kak Tina di rumah sendirian sama Bi Inah dan Uti. Kan kak Feri antarin mama, Vira dan juga opa Han ke Bogor, mau lihat tanah disana katanya,"


Juna menuntun Dira berjalan pulang ke rumah. Lokasi taman dan rumah mereka cukup jauh. Harus melewati lima gang yang cukup banyak kelangnya.


"By the way katanya Ayu mabuk lagi, Ya, Mas," Juna tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Kok ketawa, emang pertanyaan aku tadi lucu?"


"Bukan. Kamu tahu pas Ayu mual-mual dan muntah. Semua di rumah heboh mengira Ayu hamil. Apalagi Tio yang heboh mempersiapkan semuanya. Apalagi ada bidan baru yang ceroboh saat itu,"


Dira mengerutkan dahinya.


"Bidan baru? bukannya biasanya bidan Ratih,"

__ADS_1


"Iya, bidan Ratih kan punya asisten sesama bidan. Terus pas periksa di Puskesmas, Ayu tidak diminta tes pack. Malah langsung di bilang hamil. Bodohnya Tio percaya saja. Malah sudah di kasih KIA,


Bidan Ratih sedang ada urusan di luar kota saat itu,"


"Dua Minggu kemudian Ayu menemukan bercak darah di celananya. Dia mengira kalau keguguran. Karena dulu Ayu kan pernah keguguran dan baru tahu dia hamil tapi langsung kehilangan calon bayi mereka.


Akhirnya mereka membawa Ayu ke rumah sakit. Kamu tahu apa kata Bidan Ratih. Ayu bukan keguguran tapi haid,"


"Gara-gara itu, asisten bidan Ratih di skors dari pekerjaannya. Kan termasuk teledor namanya, masa iya nggak pakai periksa testpack atau USG langsung di nyatakan hamil.


Apalagi hanya mengandalkan cerita ayu yang hampir satu bulan lebih belum haid,"


Kamu pikir apa yang dialami Ayu itu lucu, Mas?"


"Eh, Bukan begitu," Juna memperhatikan raut wajah Dira yang tidak suka cara penyampaian cerita.


"Siapa yang tidak senang kalau istrinya hamil? tidak ada kan. Aku rasa wajar dengan reaksi Tio, saat itu istrinya mengandung lagi. Mama Salma juga ikut senang kalau Ayu bakal hamil lagi. Yang salah dimana,Mas.


Kalau pun itu kesalahan dari pihak Puskesmas, bukan berarti itu bukan hal yang pantas menjadi bahan olok-olok, Mas,"


Juna baru menyadari kalau ceritanya terkesan menertawakan. Padahal maksud dia bukan begitu. Dia hanya merasa lucu dengan kehebohan yang ternyata zonk.


"Bukan maksud mengolok sayang. Hanya saja saat aku bilang sama Tio kenapa tidak di testpack, dia bilang gejalanya sudah yakin kalau Ayu hamil. Makanya saat dia seperti kecewa kalau Ayu masih kena haid sempat aku tertawakan. Kan dulu sudah di suruh testpack mereka nggak mau,"


"Lucu tidak pada tempatnya itu, Mas," Dira membuang muka karena terlanjur kesal pada suaminya.


"Maaf, Sayang. Jangan ngambek, dong. Kalau kamu begitu nanti anak kita protes lagi loh," Dira mengelus perut besarnya ini pertama kandungannya masuk sembilan bulan.


Dira dan Juna baru saja sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Tiba-tiba di kagetkan dengan mobil ambulans sudah di depan teras.


"Ini ada apa?" tanya Dira.


"Tina kontraksi hebat sepertinya akan melahirkan," kata Bude nya Tina yang sedang berkunjung ke sana.

__ADS_1


"Ya, Allah. Mas tolong hubungi kak Feri!"


__ADS_2