SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 207


__ADS_3

...Menikah itu seperti pusaran angin, makin lama makin kencang atau makin besar pusarannya, tapi pada akhirnya akan berhenti juga. Ibaratnya seperti perdebatan rumah tangga, sekesal apa pun dengannya akan berhenti juga dan berubah menjadi napas dalam kehidupan kita....


...(Quote by Teman Tapi Menikah)...


...****************...


Bu, Dira," sapa Cahaya


"Diminum dulu teh hangatnya," Cahaya meletakkan secangkir teh hangat bersama ubi jalar rebus.


"Terimakasih, Cahaya," Dira menyeruput teh hangat yang di buat cahaya. Gadis muda yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


"Sama-sama,Bu. Maaf kalau boleh tahu ada apa bu Dira kesini, ya kan biasanya kita ngobrol di teras rumah ibu. Tumben tumbenan ibu datang kesini pakai wajah mendung pula. Nanti luntur cantiknya," Dira tertawa kecil. Cahaya menatap istri atasannya lekat-lekat. Sejak pulang dari Singapura, cahaya merasa dekat dengan keluarga Dira, padahal dulu mereka tidak saling kenal.


Bukan hanya itu, setiap main ke rumah Yasmin, Cahaya seperti memasuki rumah sendiri. Di tambah perlakuan Yasmine seperti menganggap anaknya sendiri. Walaupun dia dan Oka sudah selesai, bahkan lelaki itu sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.


"Walaupun kamu tidak lagi dengan Oka. Saya harap silaturahmi kita tetap terjalin dengan baik. Saya sudah anggap kamu seperti anak sendiri, setiap melihat kamu saya merasa Delia hidup kembali. Entahlah apa karena aku tidak punya anak perempuan, mungkin karena saya merindukan Delia," kata Yasmin saat itu.


"Terimakasih, Bu. Tetap baik sama saya, maafkan saya tidak bisa menantu ibu. Karena masih ingin membahagiakan orangtua, belum mau menikah. Kak Oka orang baik, istrinya pun adalah perempuan yang baik. Mereka serasi," kata Cahaya.


Sejak saat itu Cahaya sering main ke rumah Yasmin. Bahkan Yasmin sering main ke rumah orangtuanya Cahaya. Ayahnya Cahaya adalah teman kecil Yasmin, bahkan menurut cerita ibunya dulu yang menjadi Mak comblang adalah Yasmin. Karena saat itu Yasmin sudah punya anak yaitu Delia.


Usia Cahaya sekarang menginjak 20 tahun. Tadinya dia mau kuliah di Jakarta. Setelah banyak perenungan dia memilih tetap di Lembang menemani ibu nya. Dua bulan yang lalu adik perempuannya ikut saudara kerja di Malaysia sebagai TKW. Cahaya merasa harus menjaga sang ibu. Apalagi setelah tahun yang lalu ayahnya meninggal dunia.


"Aku pengen nenangin diri sebentar, boleh kan? rumah kamu itu bagus lokasinya strategis untuk menghirup udara segar. Di tambah pohon rindang serta hamparan perkebunan yang bikin makin adem. Orangtua kamu pinter cari tempat tinggal. Nggak perlu yang wah lokasinya,"


"Kata ibu tempat ini adalah bagaimana bapak menyatakan perasaannya dan langsung diajak nikah. Makanya lokasinya disini, banyak kenangan katanya," kata Cahaya.


"Ngomong-ngomong soal nikah? kenapa kamu putus sama kak Oka. Kalian sudah lama kan pacaran? sayang Lo, eh tapi sekarang kak Oka dah nikah kan?" Cahaya mengangguk.


"Soal siap, Kak. Aku belum siap nikah muda saat ini. Ya, memang usiaku sudah masuk usia pernikahan. Tapi mentalku belum siap, banyak yang harus aku kejar termasuk membahagiakan ibu," pandangan Cahaya mengedar ke segala arah.


"Kamu yang semangat ya, Aya. Kalau kamu butuh tempat buang isi pikiran saya siap mendengarnya. Kamu itu ngingetin aku sama Vira, adikku. Dulu Vira juga gitu, dia membatalkan rencana pernikahannya karena banyak yang hal harus di kejarnya. Dia yakin kalau sudah menikah akan banyak batasan yang di lalui."


Dira kembali di kagetkan dengan handphonenya yang berdering. Entah kenapa dia malas mengangkat telepon tersebut. Masih terasa kekecewaan akibat Juna berurusan dengan Tania. Harusnya Juna tahu kalau Dira tidak suka dengan wanita itu. Harusnya suaminya peka akan hal itu.

__ADS_1


Tapi nyatanya, Dira menemukan surat yang menyatakan kalau Juna akan menjadi wali buat Tania. Perempuan mana yang tidak sakit mengetahui hal itu. Istri mana yang tidak hancur kalau suaminya mengurusi wanita lain.


"Itu telepon kenapa tidak diangkat,Bu. Pasti dari pak Juna kan? angkat saja, Bu. Dia pasti cemas nyari ibu," kata Cahaya.


"Nanti saja, Aya. Saya lagi pengen menenangkan diri," Dira langsung mematikan telepon dari Juna.


"Bu, kalau ada masalah dalam rumah tangga baiknya di bicarakan dengan kepala dingin. Saya memang belum berumah tangga, tapi saya lihat bagaimana bapak dan ibu menyelesaikan masalah. Ibu kalau marah sama bapak ya seperti yang dilakukan Bu Dira saat ini. Pergi mencari tempat tenang, atau kadang dia menyibukkan diri dengan kegiatan lain.


Dan bapak, biasanya dia duluan yang memulai mendamaikan hati, membicarakan solusi dari permasalahan mereka. Nggak lama mereka akur lagi" cerita Cahaya.


"Dan aku jadi kangen sama bapak," batinnya.


Beda ceritanya, Cahaya. Kalau masalah yang kamu maksudkan merupakan kerikil dalam rumah tangga. Tapi bagaimana kalau suami kita ternyata lebih peduli dengan wanita lain. Bahkan selama ini dia tidak suka dengan kemunculan wanita itu. Nyata ada topeng di balik semua ini. Apakah mas Juna memang ada hubungan dengan Tania selama ini?Bisa jadi.


Dira hanya bisa bicara dalam hati saja. Dia tidak mungkin menceritakan permasalahan rumah tangganya pada orang lain. Walaupun gadis di depannya sudah dianggap seperti adik sendiri. Dira merapikan cara duduknya saat tahu seorang wanita paruh baya ikut membaur dengan dirinya.


"Non Dira, di depan ada pak Juna? sepertinya dia dari tadi nyari non di area perkebunan. Dia kayak orang linglung saking paniknya. Apalagi non saat ini lagi hamil muda. Makanya dia cemas melihat non tidak di rumah.


Ibu tadi tidak tahu kalau non ada disini, Ibu kasihan lihat nak Juna kayak orang bingung. Orangnya di depan, temuilah, Nak. Jika ada masalah di bicarakan baik-baik," kata ibu nya Cahaya.


"Sayang," Juna langsung memeluk Dira. Memeriksa kondisi tubuh istrinya apakah ada lecet sedikitpun. Juna lega istrinya baik-baik saja. Berada di tempat yang aman.


"Mas," Dira melerai tubuhnya dari pelukan Juna.


"Sayang, kenapa kamu pergi tanpa pesan. Aku khawatir sama kamu, sama anak kita. Aku mencari kamu kemana, tapi ternyata kamu disini,"


"Mas, aku minta kamu jelaskan soal Tania," Dira langsung to the point.


"Kita pulang dulu, Sayang. Kita bicarakan di rumah,"


"Kenapa tidak disini saja?"


"Karena ini masalah rumah tangga kita. Jatuhnya privaci. Jangan sampai ada orang luar terlibat dalam urusan kita,"


Dira menyunggingkan senyum, rupanya suaminya masih mencari alasan.

__ADS_1


"Kamu takut, Mas? takut kalau orang tahu kamu poligami di belakang aku? jahat kamu, Mas,"


"Enggak gitu ceritanya sayang, aku nggak pernah poligami dengan wanita manapun. Kamu tahu itu yang aku cintai cuma satu orang, Mamanya Fajar,"


"Bukan mamanya Raja," tuduh Dira.


Juna menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya istrinya salah paham akan masalah Tania.


"Makanya aku mau kita bicara empat mata di rumah. Bukan rumah orang lain. Please, aku ini suami kamu, tolong nurut sekali ini saja," mohon Juna. Dira akhirnya mengikuti suaminya untuk pulang ke rumah. Mereka pun berpamitan dengan Cahaya dan ibunya.


Sesampainya di rumah Dira hanya memilih duduk di ruang tamu. Juna masuk ke kamar seperti akan mengambil sesuatu. Dira masih berkalut mendung. Pandangannya di lemparkan ke lain arah. Seperti masih menyimpan rasa kecewanya.


"Sayang, sebelum aku kasih ini sama kamu, aku mau jelaskan sesuatu dulu.


Aku minta maaf kalau baru cerita sekarang sama kamu. Sebenarnya aku sudah mau cerita sama kamu, yang.


Tapi kita masih di rundung kesedihan saat kasus Vira hilang. Dan mama meminta kamu tetap di Jakarta. Saat usia kamu masuk enam bulan aku sempat pulang ke Lembang karena konflik besar antara Ayu dan temannya. Kamu masih ingat kan kalau Ayu sempat ngotot mau pindah rumah.


Dalam perjalanan pulang aku menabrak seorang wanita. Ternyata wanita itu Tania, aku membawanya ke rumah sakit. Baru di ketahui Tania tengah mabuk. Itu terbukti dengan aroma alkohol dalam tubuhnya. Satu minggu Tania sempat koma. Aku masih harus di sibukkan urusan pabrik, urusan kamu, dan urusan Tania. Dalam momen itu aku sempat drop dan mama Salma tidak tahu hal itu. Aku beralasan sudah di Jakarta.


Saat dua hari aku sembuh Tania sadar. Aku sempat mencari tahu soal keluarga Tania yang lain. Yang aku temukan fakta kalau Ibu Suprapto sudah meninggal gantung diri. Stress karena suaminya menghamili wanita lain, anaknya yang mau menikah malah gagal karena calonnya meninggal dunia. Sementara Tania sudah berbadan dua,"


Dira masih mendengarkan penjelasan suaminya. Baru dia tahu ternyata seberat itu beban di pundak suaminya.


"Lalu soal Raja?"


"Raja itu anak Tania dengan kekasihnya. Kekasihnya yang meninggal dunia padahal mereka berencana menikah. Saat Tania koma, aku titipkan Raja dengan temanku. Mereka sangat senang, apalagi mereka belum di karunia anak. Tentu kehadiran Raja menjadi pengobat kerinduan memiliki buah hati.


Enam bulan kemudian Tania datang mengambil anaknya. Saat itu usia Raja sudah 14 bulan. Tentu akan susah memisahkan anak itu dengan keluarga barunya. Tania mengeluh anaknya terus mencari ibu angkatnya. Sang anak merengek tak mau dengan dirinya. Pada akhirnya dia pun berbuat kasar agar sang anak diam,"


Juna menyerahkan map berwarna merah. Map yang bertulis nama Raja Abdullah Suprapto. Dari yang dia selidiki Nama itu di beri oleh sang Ayah. Tania pernah bilang kalau dia membawa Raja berumur satu minggu ke lapas tempat pak Suprapto berada.


"Sekarang dia di bawa ke panti rehabilitasi, karena mengalami depresi berat. Aku tadi mau meminta temanku mengadopsi Raja. Tapi ternyata mereka sudah pindah ke luar kota. Dan Raja sekarang di urus ke dinas sosial,


Maaf aku baru cerita sekarang soal ini. Aku beberapa kali mencari waktu yang tepat untuk bahas ini. Maafkan aku, Dira,"

__ADS_1


__ADS_2