
Sehabis makan siang bareng klien, baik Panji maupun Theresia pun bergegas meninggalkan restoran. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.
Panji berencana meminta tolong pada asistennya untuk mencarikan kado buat Vira. Itu sebagai bentuk usaha agar gadis itu menerimanya kembali.
"Bapak mau bawa saya kemana?" There masih belum paham tujuan utama Panji.
"Saya harus tahu dulu, pak. Sebab saya tadi sempat izin kan sama anda. Ibu saya mau datang dari kampung. Jadi saya harus sampai lebih cepat,"
Panji menatap There sambil melipat kedua tangannya. Sesekali memasang tampang sangar pada gadis di hadapannya. Anehnya There tidak begitu takut pada atasannya. Dia sudah kerja selama dua tahun jadi sekretarisnya Panji. Hanya saja baru enam bulan ini di libatkan Panji untuk kerja dalam beberapa proyek besar. Salah satu yang baru saja mereka dapatkan.
Kerja sama pengembangan produk madu untuk anak dan ibu hamil. Tentu saja dengan hasil yang menjanjikan.
Kembali ke There dan Panji, keduanya sudah dalam perjalanan menuju ke sebuah butik. Rencana Panji akan membelikan Vira gaun cantik serta mengajak dinner romantis.
"Emang dia mau ulang tahun, Pak?" tanya There sambil memilih gaun yang cocok untuk Vira.
"Enggak." Panji memperhatikan barang yang di pilih There sambil duduk.
There pun menghentikan aktivitasnya. Perempuan itu memilih duduk di kursi sebelah atasannya.
"Terus?"
"Sebagai permintaan maaf aku sama dia," There mengkerutkan dahinya.
"Non Savira nggak cemburu kan sama saya, Pak. Bapak tenang saja, saya nggak akan ngelirik anda kok. Lagian saya juga tahu diri," Panji melirik sekilas ke arah asistennya. Setelah itu dia hanya tertawa kecil.
"Bapak ganteng kalau ketawa. Eh, maaf, pak," There langsung meralat ucapannya.
"Ikhlas nggak pujiannya?"
"Ikhlas, pak. Kalau bisa di naikkan gajinya," keduanya langsung tertawa bersamaan.
"Kenapa jantungku berdetak kencang sama pak Panji? Ah, tidak Theresia. Kamu tahu pak Panji sudah punya non Vira. Mana mungkin dia mau sama kamu, There. Bangun, Re! jangan mimpi kejauhan!" There terus menepuk pipinya.
"Kamu kenapa,Re?" Panji merasa aneh atas kelakuan asistennya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pak. Biar nggak ngantuk," elak There sambil berpura-pura berkaca di butik.
"Maaf, Pak. Gini saya mau nanya kesalahan apa yang bapak buat sehingga membutuhkan permintaan maaf dari non Vira. Biar saya tahu kado apa yang cocok buat non Vira,"
Panji akhirnya menceritakan bahwa Vira marah saat dia membatalkan rencana pertunangan. Lelaki itu menyatakan penyesalannya karena terpengaruh ucapan Adrian yang mengatakan Vira sudah tidak perawan akibat di lecehkan papa kandungnya.
There mendengar cerita Panji hanya menggelengkan kepalanya. Menurut There kalau yang di lakukan Panji sangat fatal akibatnya. Karena ucapan Panji bisa berdampak ketidakpercayaan si wanita.
"Maaf, pak. Kayaknya saya perlu kasih pemahaman sama bapak jenis pelecehan apa yang di terima non Vira. Karena ada yang pelecehan verbal dan non verbal. Tapi kayaknya nggak disini, pak. Nggak enak kedengaran orang lain,"
Panji akhirnya menuruti permintaan There. Selama ini dia sering bertukar pikiran dengan sekretarisnya itu. Termasuk saat tahu Dawa juga suka sama Vira. There meminta Panji pantang menyerah. Dan itu benar-benar di usahakan Panji meskipun tetap di tolak Vira.
Mereka tiba di sebuah cafe kecil tak jauh dari butik. Setelah memesan minuman, Panji mulai menagih janji There.
"Sekarang kamu jelaskan,"
"Pertama saya minta maaf kalau cara bicara yang terkesan lancang. Karena sikap saya tadi terbawa suasana,"
"Saya suka dengan sikap kamu seperti ini, Re. Tidak ada kesenjangan antara saya dan kamu. Saya pernah bilang sama kamu kalau di kantor kita adalah atasan dan asisten. Tapi kalau di luar kantor kita sudah seperti manusia pada umumnya, saling berkomunikasi satu sama lain. Sudah jelaskan intinya saja,"
"Saya orangnya to the point, Re. Kalau suka saya akan menunjukkan rasa suka itu dengan berbagai cara. Kalau tidak suka saya akan mengatakan apa yang membuat saya tidak suka. Saya hanya bilang sama Vira kalau dia sudah tidak perawan lagi. Akibat pelecehan papa kandungnya,"
"Non Vira marah?" Panji mengangguk.
"Tahu nggak yang bapak bilang kalau ucapan itu sudah termasuk pelecehan secara lisan. Ucapan yang melukai perasaan seseorang karena sangat bahkan terlalu sensitif. Saya nggak tahu bagaimana perasaan non Vira saat bapak melontarkan kata itu. Sama seperti ketika suami bilang sama istrinya dengan ucapan gendut atau tidak menarik lagi.
Saya kalau di posisi mbak Vira, pintu maaf sudah sulit saya buka. Itu kalau saya yang di posisi non Vira, loh pak,
Bapak tahu dia korban pelecehan tapi bapak juga melecehkan dia secara verbal,"
"Maaf, pak saya dengar cerita anda saja ikut emosi. Walaupun saya belum pernah mengalaminya, dan amit-amit jabang bayi jangan sampai seperti itu,"
Kekerasan verbal misalnya ketika seseorang menggunakan ucapannya untuk menyerang, mendominasi, mengejek, memanipulasi, dan menghina orang lain serta mempengaruhi kesehatan mental orang tersebut.
Selain kekerasan berbentuk intimidasi, bisa dalam berbagai bentuk, termasuk kata-kata, video, meme, atau gambar yang diposting di jejaring sosial .Kekerasan verbal dapat mendahului kekerasan fisik. Namun, ini tidak selalu terjadi. Kekerasan verbal dapat dilakukan tanpa kekerasan fisik. Efek kekerasan verbal sama berbahayanya dengan kekerasan fisik.
__ADS_1
Panji terdiam. Dia paham Vira memang sangat marah padanya. Sadar apa yang dia lakukan menyakiti perasaan gadis itu. Tapi dia kan di pengaruhi, mana lah dia tahu kalau Vira sampai semarah itu.
...****...
Mobil Panji sudah berada di depan kediaman Dewi Savitri. Rencana membawa hadiah pun dia batalkan. Pada akhirnya dia datang dengan tangan kosong.
Langit masih menyisakan air hujan. Walaupun hanya sisa rintik-rintik hujan tak menyurutkan semangatnya untuk memperbaiki hubungan dengan Vira. Dia cinta sama Vira, sangat mencintai gadis itu. Tapi berkat ketololannya membuat Vira menjauhinya.
"Assalamualaikum," Panji mengucapkan salam sambil memencet bel pintu.
Suara decitan pintu terdengar. Lelaki itu tersenyum saat tahu siapa yang membuka pintu rumah. Setelah menyalami si empunya rumah Panji pun di persilahkan masuk.
"Kebetulan kamu kesini, nak Panji. Tante mau bicara penting sama kamu. Bisa ke ruang kerja saya, sebentar," Panji mengangguk lalu mengikuti langkah Dewi menuju ruang kerjanya.
Panji memandang ke sekelilingnya. Ruangan yang sangat luas hanya sekedar untuk ruang kerja. Di sudut ruangan ada pintu lain. Apa mungkin pintu tempat rahasia mereka, Panji tidak begitu paham.
"Itu kamar papanya anak-anak saya. Sekarang dia tinggal disini karena sudah kena stroke. Jadi saya minta kamu jawab dengan jujur.
Selama ini saya sangat berharap sekali kamu jadi pasangan hidup Vira. Kamu mapan, cerdas, dan baik. Hanya satu hal yang harus saya tekankan, saya tidak suka di permainkan.
Jujur setelah saya tahu kamu mau melamar Elsa, ekspetasi saya tentang kamu punah seketika. Saya pikir kamu benar-benar mencintai Vira. Ternyata .. kamu ... tidak punya pendirian. Saya kecewa sama kamu, Panji,"
Panji terus menundukkan kepalanya. Untuk menegakkan kepalanya saja dia tidak berani. Paham akan perasaan seorang ibu, paham kalau ternyata bukan hanya menghancurkan perasaan Vira. Tapi juga keluarganya.
"Maafkan saya, Tante. Saya termakan ucapan om Adrian, saya sempat meragukan kesucian Vira,"
Dewi terkejut mendengar pernyataan Panji. Jadi seperti inikah pemikiran pria yang di diharapkannya menjadi menantu. Lelaki pemikiran sumbu pendek mengambil kesimpulan tanpa mengetahui faktanya. Kecewa, sudah pasti. Sesak rasanya apabila putrinya di tuduh seperti itu.
"Tante tidak menyangka kamu berpikir seperti itu Panji. Tante pikir kamu lelaki yang baik. Apalagi dengan title pendidikan kamu yang katanya sempat kuliah di luar negeri.
Alhamdulillah Vira masih menjaga miliknya saat ini. Dia tidak pernah di rusak oleh siapapun. Tapi hampir iya, Dan mulai sekarang...."
Dewi menarik nafas dalam-dalam.
"Panji sejak saat ini, kamu tidak usah datang kesini lagi. Jangan temui Vira lagi. Soal kerjasama dengan pabrik om Burhan kamu tenang saja, saya tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan,"
__ADS_1