
Vira berjalan memasuki area perkebunan. Perasaan kesalnya semakin menjauh karena terus di kaitkan oleh Danu. Setidaknya dia pergi ke Lembang bisa menenangkan diri. Tapi nyatanya semakin ruwet.
"Sudah jelek mukanya, cemberut terus, kapan sih kamu cantiknya?" Vira mendengar suara menyahut entah dari mana. Pandangannya mengedarkan di sekelilingnya.
"Cari siapa?" suara itu semakin dekat. Vira masih berlagak mencari pemilik suara.
"Cari suara tapi nggak tahu darimana wujudnya,"
"Emangnya wujudnya seperti apa?"
"Wujudnya tinggi besar, terus orangnya narsis abis, suka godain anak kecil. Sok ngerasa kegantengan, apalagi ya,"
"Biar aku tambahin, ya. Dari semua itu yang pasti orangnya baik, rajin menabung dan lebih heran kenapa selalu di pertemukan oleh makhluk cantik paling gemesin"
Vira menatap aneh kearah sosok itu. Vira duduk di hamparan rumput hijau diikuti oleh Panji. Keduanya memandang hamparan daun-daun hijau nan segar. Sambil melihat beberapa petani memetik daun teh. Vira masih fokus pada pandangannya di depan mata. Beda dengan Panji yang masih asyik dengan dunia halunya ketika memandang gadis di sampingnya.
"Katanya mau pulang?" Vira memulai obrolan tanpa menoleh ke teman bicaranya.
"Bagaimana, ya? ada yang lebih penting daripada pulang. Ada sesuatu yang takut aku tinggalkan saat pulang nanti."
"Oh, begitu."
"Ra,"
"Hmmm,"
"Aku boleh bertanya?"
"Kenapa kamu dengan pacarmu tidak jadi menikah? apa pacarmu selingkuh? apa itu yang membuat kamu tidak bisa buka hati dengan pria lain."
"Kenapa bertanya seperti itu? darimana om Panji tahu soal itu"
"Kalau kamu tidak mau jawab tidak apa-apa. Aku tidak memaksa. Aku juga pernah gagal nikah. Ya karena saat itu aku masih muda, belum punya pekerjaan. Padahal kedua orang kami sudah saling mengenal. Saat itu masih baru tamat SMA, bahkan sempat belum ada keinginan kuliah."
"Om perasaan saya yang di tanya kenapa situ yang curhat?" tawa Vira.
"Ya saya hanya berbagi pengalaman sama kamu. Karena saya sudah makan asam garam kehidupan"
"Asam di campur garam bagaimana rasanya itu? om saya minta kamu jangan ganggu dulu. Saya pengen sendiri. Saya kesini butuh ketenangan di samping liburan."
__ADS_1
"Disini itu sepi, saya tidak mau kamu kenapa-kenapa. lagian kamu lagi ada masalah apa sampai harus menyendiri segala. Putus cinta? anak muda sekarang ya, putus cinta pergi ke tempat sepi. Eh, besok sudah tinggal nama. Semudah itukah pikiran mereka dalam mengambil keputusan"
"Om nyumpahin aku mati begitu? siapa juga yang mau bunuh diri? siapa juga yang putus cinta. Saya hanya ingin menenangkan diri itu saja. Sudah om, tinggalkan saya ...." ucapan Vira terhenti merasa ada yang bergetar di kantongnya.
"Elsa?" batin Vira.
"Iya, Sa. Apa kamu suruh aku datang ke villa? alamatnya dimana?"
"Oke...Oke.. aku kesana ya?"
"Kenapa?" tanya Panji.
"Elsa suruh aku ke villanya. Om mau antarkan aku ke villanya Elsa. Mau nggak?"
"Apapun akan aku lakukan demi tuan Puteri, Savira Gayatri. Jangankan mengantar ke mana pun kamu pergi? memberikan kamu kebahagiaan lebih akan aku lakukan"
"Please, Om ini masih pagi sudah ngegombal." Panji terkikik melihat wajah bete Vira. Tangannya mengacak rambut gadis muda itu.
"Yuk," Panji menarik tangan Vira meninggalkan area tempat mereka berdiri.
Vira dan Panji sudah berada di dalam mobil. Sebelumnya Vira menghubungi kakaknya pamit pergi ke villa Elsa.
"Sama om Panji."
"Ehmmm... Yasudah, kalian jalan saja ke tempat Elsa. Atau mau jalan kemana gitu. Soalnya kami mau ke posyandu buat periksa di sana. Takutnya lama. Sekalian quality time."
"Iya, quality time mulu." decih Vira.
"Makanya nikah, biar bisa quality time sama yang halal. Atau mau kak Juna bilang sama Panji untuk secepatnya ..."
"Kak, aku pergi dulu ya..." Vira cepat-cepat menutup teleponnya. Malas dia mendengar cerita perjodohan dari sang kakak.
"Apaan sih kak Dira? Tadi Danu sekarang Panji .... besok siapa lagi?" batin Vira.
"Sudah siap?" Vira menggangguk kecil.
Mobil pun melaju meninggalkan area perkebunan. Panji membawa mobil jeep biar bisa menikmati udara segar sekitar Lembang. Vira memandang jalanan luas area perkebunan. Tampak orang-orang lalu lalang sambil membawa bakul rotan. Alat yang biasa mereka pakai untuk menampung daun teh yang di petik.
Setelah berputar hampir 30 menit, akhirnya mereka sampai sebuah rumah besar bak istana. Pertama kalinya dia datang ke villa temannya. Vira menatap takjub penuh damba. Panji menyikut lengannya, Vira langsung tersadar dan ingat pada tujuan utamanya ke villa Elsa. Sebelum masuk kedalam Vira berdoa agar tidak terpancing emosi seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Panji.
"Nggak apa-apa, Om yuk masuk" ajak Vira.
Vira menyerukan salam di depan pintu villa milik Elsa. Tak ada sahutan, suara Panji yang ikut mengucapkan salam. Suara Vira bahkan kalah kencang dari suara Panji.
Suara decitan pintu terdengar sebagai penyambut kedatangan mereka. Seorang wanita bertubuh mungil menyapa dirinya.
"Assalamualaikum, Elsa nya ada?" sapa Vira.
"Ada mbak, mas, lagi kasih makan den Dawa. Kasihan nggak bisa bangun katanya habis di hajar preman cewek." cerocos bibi.
"Huuufttt, ada ya cowok kalah sama cewek. Kayak keren cewek itu bisa bikin cowok babak belur" cerocos Panji. Vira menyikut lengan Panji.
"Maaf," kata Panji.
Vira dan Panji pun di persilahkan duduk di sofa utama. Mereka masih berdiri di ruang tamu dengan rasa takjub pada isi villa tersebut. Dari luar saja sudah terlihat rupa mewahnya apalagi dalamnya. Mata mereka di suguhi pemandangan ala drama Korea. Arsitekturnya membuat dirinya berdecak kagum.
"Vira," sapa Elsa keluar dari kamar Dawa. Vira hanya menyunggingkan senyum.
"E ciyeee... sudah makin dekat nih. Kamu mau jenguk kak Dawa kan, yuk aku antar ke dalam. Kak Dawa belum bisa bangun. kakinya masih tidak bisa di gerakkan. Efek itu nya ada hajar sampai 3 kali tendangan"
"Uuuuh, pasti sakit banget tuh" sahut Panji.
Vira masuk ke dalam kamar tempat Dawa Istirahat. Tampak lelaki itu sedang asyik bermain game di handphone.
"Bisa tinggalkan kami berdua" ucap Dawa tanpa menoleh kearah lawan bicara.
"Aku kesini memang mau minta maaf. Tapi nggak pakai harus berdua, kak ..." Vira tercekat hampir saja memanggil Danu.
"Danu tidak boleh tahu kalau aku Sapi. Kalau dia tahu pasti nanti dia masuk ke keluarga kami dan menghancurkan keluarga"batin Vira.
"Sapi sayang, bisa tinggalkan aku dan Vira sebentar. Aku mau bicara penting sama dia"
"Oke kak Danu, sayang" Elsa mencium pipi Danu.
"Saaaa.. Piii... Elsa mengaku sebagai Sapi. Dan Elsa memanggil lelaki itu dengan sebutan Danu" batin Vira.
"Aku memang cerita semuanya sama Elsa tapi kenapa Elsa malah .. Ah, sudahlah Vira. Biarin saja."
__ADS_1