
Mobil berjalan menembus jalanan kota. Udara semakin dingin efek turunnya air dari langit. Kata orang hujan itu turun mewakili perasaan seseorang. Rintikan hujan yang turun ke bumi sering kali disamakan dengan tetesan air mata. Itulah sebabnya, hujan begitu identik dengan kesedihan. Tak heran berbagai kenangan yang menyedihkan juga sering muncul secara tiba-tiba kita melihat hujan.Langit menjatuhkan bulir-bulir yang sedih, yang sedikit, yang sakit, yang tak sungguh-sungguh menghapus dosa, apalagi kenangan.
Setelah sampai di rumah, Dira langsung masuk ke kamar. Wanita itu tak sempat melihat apakah ada orang lain di sana. Dia juga tak menyapa bi Inah yang sedari tadi menyambutnya di depan pintu. Kakinya melangkah ke tangga di mana kamarnya berada.
"Maaf, tuan non Dira kenapa?" tanya bi Inah.
Burhan hanya menaikkan bahunya. Dia sendiri bingung dengan cucu keduanya itu. Sejak dalam perjalanan pulang selalu bermuram durja. Burhan sempat menebak ini ada hubungannya dengan anaknya Rohim. Tapi Dira terus membantah hal itu.
Lelaki usia 75 tahun tersebut memilih duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya berasa remuk setelah beberapa jam berada di mobil. Meskipun aktivitas mereka hanya duduk saja.
"Tuan, ini teh nya?" Bi Inah datang membawa secangkir teh hangat.
"Terimakasih, Inah. Kenapa rumah sepi sekali?"
"Mereka ziarah ke makam non Meyra, Tuan. Sebagai bukti untuk meminta restu katanya."
"Owh .." Bi Inah meninggalkan opa Han.
Lelaki paruh baya tersebut meminta Bi Inah menyiapkan kamar untuknya. Opa Han juga meminta Bi Inah untuk menyiapkan kamar untuk Jaka sang asisten.
Bi Inah mengangguk menyanggupi permintaan mantan atasannya. Seraya meninggalkan ruangan dimana opa Han berada.
"Jaka, kita menginap disini dulu, ya. Opa mau bicara penting dengan Dewi. Oh ya, kamu sudah hubungi Panji, relasi bisnis saya?"
"Belum, Opa."
"Kamu hubungi perusahaan PT. Madu berkah. Bilang sama dia saya mau mengenalkan cucu saya sama dia."
"Baik, opa. Tapi maaf, apa tidak terlalu cepat ngenalin non Dira dengan lelaki lain."
"Saya cuma mau mengenalkan mereka. Masalah cocok atau tidaknya itu kembali ke mereka. saya tidak memaksa." ucap opa Han.
Jaka tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Sebenarnya Jaka merasa yakin kalau Dira pasti menolak keinginan pak Burhan. Jarang ada perempuan yang gampang membuka hati pada pria baru. Apalagi setelah di tinggal meninggal oleh suaminya.
Jaka pernah mendengar ceramah di masjid jika perempuan setia, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya lantas menahan diri untuk menikah karena ingin mengurus anak-anak yatimnya, bukan sebuah persyaratan yang diharuskan. Ketika di belakang hari dia merasa butuh menikah atau menganggap sudah saatnya untuk menikah sehingga dia pun menikah, keputusan menikah ini tidaklah dicela. Tidaklah dikatakan dia telah melakukan sesuatu yang terlarang.
"Kalau non Dira ada anak, nggak apa-apa setia dan fokus sama anak. Tapi non Dira belum ada keturunan. Kalau menurut saya wajar kalau keluarga ingin non Dira move on dari Arjuna. Tapi nggak secepat ini, sih. Kasih dia waktu untuk sendiri dulu." batin Jaka.
Dira memandang photo yang terpasang jelas di dinding kamarnya. Dinding putih yang mewarnai kamar luasnya. Sudah mau masuk Magrib, dia pun tak ingin bangkit dari ranjangnya.
__ADS_1
PRAAAANKK!
Dira membanting photo pernikahannya. Meluapkan rasa kecewanya yang teramat dalam. Kecewa karena pernikahannya akan berakhir, kecewa karena suaminya sudah menjadi milik orang lain, kecewa karena tidak bisa membantu Arjuna mengembalikan ingatannya. Dia sadar kalau Juna bukan hak nya lagi, tapi hak milik Naura. Tubuhnya bergetar menangis pernikahannya. Semua sudah selesai.
"Non nggak apa-apa?" suara Bi Inah menggedor pintu kamar Dira.
"Aku nggak apa-apa, Bi."
Bi Inah tidak percaya. Dia mendengar suara Dira seperti habis menangis. Dengan bala bantuan Jaka, pintu kamar Dira pun di gedor sampai terbuka.
"Non," pekik Bi Inah.
Jaka membantu Bi Inah menggotong Dira ke atas ranjang. Bi Inah bingung apa yang membuat majikannya seperti itu.
"Jaka kamu tahu sesuatu?" tanya bi Inah.
"Soal?"
"Soal non Dira, Jaka. Masa habis liburan dia malah tambah down. Harusnya dia bahagia."
"Saya nggak tahu apa yang terjadi, Bi."
"Kan saya sudah bilang, nggak tahu. Bibi, ih." protes Jaka.
Sekitar jam 8 malam, Dira memaksakan diri untuk bangun. Menjalankan sholat isya. Dira sudah mencoba ikhlas dengan kondisi rumah tangganya. Dia sudah menerima kalau sekarang dia punya madu yaitu Naura.
"Assalamualaikum, Ami." Dira menelepon temannya yang bernama Ami.
"Waalaikumsalam salam, Dira. Ada apa kamu menelepon malam-malam?"
"Aku mau nanya jika mendaftarkan proses perceraian syaratnya apa?"
"Siapa yang mau cerai, Dira? bukannya suamimu sudah meninggal?"
"Temanku, Ra. Dia kerja di kantor ku."
"Owh, gampang sih. Surat nikah asli,Fotokopi surat nikah, Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari penggugat, Surat keterangan dari kelurahan, Fotokopi Kartu Keluarga (KK),
Fotokopi akte kelahiran anak (jika memiliki anak)
__ADS_1
Meterai."
"Ribet juga ya?"
"Nggak ribet kok, Dira. by the way, tadi emaknya Eka kantorku."
"Ngapain?"
"Minta hak asuh Radit ke nama mereka. Padahal Eka dan Wandi tidak bercerai. Kamu tahu kalau Eka terlibat penculikan yang di dalangi papanya Delia. Ya katanya cewek itu merusak hubungan Delia dan calonnya. Dan Eka di tahan selama tiga tahun masa tahanan." cerita Ami.
Dira hanya terdiam mendengar cerita Ami, teman satu sekolah SMA nya. Kisah penculikan yang sudah dilupakannya kini kembali terbuka. Kisah dimana ada seorang teman yang membela Delia, karena hubungan dirinya dan Arjuna.
"Apa ini karma buatku?" kata Dira lirih.
Dewi baru saja pulang bersama Vira dan juga Feri. Mereka terkejut melihat Dira sudah duduk di meja makan bersama Opa Han.
Wanita usia 50-an itu memeluk putri keduanya penuh Rindu. Di susul oleh Vira yang memeluk sang kakak penuh kerinduan.
"Kok nggak bilang kalau mau pulang? gimana liburannya?"
"Suprise dong, ma. Liburannya lancar,kok."
"Apa aku harus kasih tahu pada Dira soal yang dibilang jeng Salma di telepon?" batin mama Dewi.
"Nak, doa mu akhirnya terkabul." Mama Dewi masih membatin.
"Dira mama mau bicara soal .."
"Ma, Dira capek. Aku istirahat dulu, ya." Dira langsung meninggalkan ruang makan.
"Nak," sapa mama Dewi.
"Tadi mertuamu menelepon, mereka bilang kalau... Dira kamu dengarkan mama dulu,nak." Mama Dewi mengejar Dira yang sudah naik ke tangga.
"Dewi, biarkan saja dulu. Dira masih lelah."
"Om, aku cuma mau bilang kalau Juna masih hidup. Bukankah ini adalah kabar bahagia buat Dira."
"Kita akan rembuk lagi soal ini, Dewi. Om mau istirahat. Rasanya lelah sekali."
__ADS_1