SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 187


__ADS_3

Setelah lebih dari satu minggu Dira dan Juna berada di Jakarta. Akhirnya keduanya berencana pulang ke Lembang. Juna merasa sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya di pabrik. apalagi mama Salma sudah merengek mau pulang karena merindukan Salsa sang cucu.


Akan tetapi Dewi melarang Dira ikut pulang, karena dia masih ingin anak-anaknya berkumpul. Mumpung momen sembuhnya Vira serta pulangnya Andre. Dira tidak masalah asalkan sudah mengantongi izin dari suaminya.


"Mas mau pulang?"


Juna yang sedang merapikan pakaiannya berjalan mendekati sudut ranjang. Duduk sebelah istrinya yang tengah hamil empat bulan bahkan sebentar lagi sudah memasuki lima bulan. Tangannya mengelus perut istrinya yang sudah mulai terlihat besar.


"Kamu nggak apa-apa, kan kalau aku tinggal beberapa hari. Ayu dan Tio kan sudah pulang terlebih dahulu, sudah pasti aku harus menginstruksikan Tio terlebih dahulu. Aku harus belajar mempercayakan pabrik pada Tio," Dira langsung memeluk suaminya. Ada rasa ketakutan kalau Juna pergi sendiri.


"Aku ikut, Ya, Mas. Aku takut kalau kamu kenapa-kenapa? aku takut kalau kamu kecelakaan lagi,"


Juna membalas pelukan istrinya, tangannya langsung menangkap ujung dagu Dira. Tak melewatkan kesempatan menikmati nikmatnya benda ranum milik istrinya. Sebuah kebiasaan keduanya saat sedang berdua. Jaket jeans yang tadi membalut tubuh Juna kini sudah tergeletak di lantai.


Tangannya pun meraba kimono yang di gunakan Dira lalu melemparkannya ke sembarang arah.


"Mas," cicit Dira di sertai dengan lengguhan.


Juna terkekeh, melihat wajah istrinya merah merona. Kembali menarik dagu istrinya. Lupa dengan tujuan sebenarnya kalau dia akan pamit pada istrinya untuk mengantarkan mamanya ke Lembang. Ada rasa berat meninggalkan Dira dalam keadaan hamil. Situasi rumah mertuanya yang masih tegang.


"Mas, kalau kamu pergi aku ikut, bukankah sudah tugas istri berada di samping suaminya, masa istrinya lagi hamil malah di titipkan sama orangtua,"


"Tapi, sayang,..." Juna menghirup nafas dalam-dalam.


"Oke nanti aku bilang sama mama Salma. Biar mama saja yang pulang duluan. Atau aku akan bilang sama mama Dewi kalau kamu juga ikut pulang ke Lembang,"


"Aku pilih yang kedua," kata Dira mengedipkan mata.

__ADS_1


"Aku juga takut meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini. Tapi harus bagaimana lagi, Awan dan Naura sudah pulang sebelum Ayu dan Tio. Naura kan tidak bisa jauh-jauh dari Jimmy. Makanya mereka cuma sehari di sini," jelas Juna.


"Jadi aku ikut kamu saja, Mas. Nggak apa-apa kan? lagian emang kamu nggak kangen sama aku. Sama anak kita," Dira memindahkan tangan Juna diatas perutnya.


"Mau nya di panggil apa, papa apa ayah?" kata Juna mengelus perut istrinya.


"Papa kayaknya bagus juga, Abah aja sesuaikan dengan tempat tinggal kita, Mas. Bagaimana?"


"Terus kamu di panggil Ambu gitu?" tawa Juna membayangkan anak-anaknya memanggil sebutan Abah dan Ambu.


"Ih, Mas. Aku belum bisa membayangkan kalau dapat panggilan Ambu. Itu harus rada cerewet gitu,"


"Ya enggaklah, sayang. Ambu Salma contohnya lembut kok orangnya, penyayang pula,"


Dira tersenyum mendengar pujian tentang ibu mertua. Jauh sebelum mereka dekat, mama Salma selalu bersikap sinis pada Dira dan keluarganya. Hal itu di buktikan setelah Juna mengajaknya menikahi tanpa angin dan hujan. Padahal saat itu Juna masih berstatus tunangan Delia.


Mama Salma yang menjaga jarak dengan dirinya dan juga mama Dewi. Efek dari pemecatan sepihak yang di lakukan perusahaan pada Arjuna. Belum lagi lelaki itu semakin gencar mendekatinya.


"Aku adalah perempuan beruntung, Mas. Punya dua mama yang sayang sama aku, punya suami yang mencintaiku, dan sebentar lagi akan menjadi ibu. Aku akan menerapkan apa yang mama limpahkanlah kepada kami, meskipun dulu mama lebih sibuk di luar. Mama tapi semenjak kejadian Vira, mama meluangkan waktunya untuk kami bertiga. Mama melimpahkan kasih sayangnya kepada kami semua,"


"Dan aku beruntung punya Istri seperti kamu, sayang," Juna melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


Dira dan Juna keluar dari kamar. Sebenarnya mereka ingin sekali berlama-lama di kamar. Tapi waktu masih terang untuk bermadu kasih. Juna yang tadi sudah harum mewangi terpaksa harus mandi lagi. Sebentar lagi sholat Jumat akan di laksanakan.


"Kamu bukannya tadi sudah pamit mau pulang ke Lembang, Juna," kata mama Dewi melihat menantunya sudah berganti pakaian.


"Nggak jadi, Ma. Ada yang ngambek pas aku mau berangkat," yang di tunjuk hanya menyeringai kecil.

__ADS_1


"Mama minta maaf, ya Juna. Bukan mama mengekang Dira pulang sama kamu. Mama butuh teman selama pemulihan Vira, ya kalau bisa Dira melahirkan di sini saja, itu juga kalau kamu tidak keberatan," kata mama Dewi.


"Juna tidak masalah, Ma. Sepertinya Juna akan disini menemani Dira. Rasanya tidak tenang kalau harus meninggalkan Dira dalam keadaan hamil. Jadi juna akan instruksi Tio supaya dia yang mengatur pabrik selama aku disini,"


"Terimakasih, Juna. Mama bangga punya menantu seperti kamu, selalu siaga dalam hal apapun. Sekarang kalian sarapan dulu, mama mau ke kamar Vira diatas," kata mama Dewi hendak naik ke tangga kamar atas.


"Kenapa Vira tidak tidur lagi sama mama?" tanya Dira.


"Vira bilang kalau kamar sendiri lebih bebas privacy nya. Kamu juga dulu begitu kan? mama ajak tidur bareng saja banyak banget alasannya," Dira hanya menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mama Dewi memasuki kamar anak bungsunya. Pintu kamar tidak di kunci membuatnya leluasa masuk ke dalam. Tampak Vira sedang asyik memainkan laptop dengan telinga di tutup headset.


Vira masih asyik di depan laptop tidak menyadari mamanya sudah duduk di tepi ranjang. Mama Dewi sengaja tidak mau mengganggu aktivitas putrinya. Memperhatikan dengan seksama kegiatan Vira.


Teringat perdebatan tadi malam. Vira kesal mamanya masih mempersilahkan Panji datang ke rumah.


"Kamu pulang sama Panji kan?" tanya mama Dewi.


"Mama kenapa suruh Om Panji jemput aku. Apa mama tidak percaya sama Elsa sampai harus mengutus Om Panji?"


"Mama cuma khawatir sama kamu, Nak. Setelah kejadian saat itu, mama takut kamu di culik lagi. Kamu ingat kan, saat mau ke panti jompo tempat acara Dira dan Feri, kita di hadang sampai tidak sadarkan diri. Saat mama bangun kamu sudah tidak ada. Mama takut kejadian lagi, apalagi Pandawa buron, pasti ...."


"Kenapa dia harus buron, Ma? kak Dawa justru ikut di sekap bareng aku, Ma,"


"Kalau dia di sekap kenapa cuma kamu dan Kayla yang hanya di temukan. Kenapa dia tidak ada di tempat. Itu sudah pasti cuma sekapan sandiwara. Kamu itu target mereka, Vira. Apalagi Dawa, dia terobsesi sama kamu, Nak."


"Keluar! aku minta mama keluar dari kamarku!" Vira berteriak sambil menutup kedua telinganya.

__ADS_1


"Vira... Vira! kamu nggak apa-apa, Nak?" mama Dewi semakin cemas melihat reaksi anak bungsunya.


"Aku mohon mama keluar," mohon Vira.


__ADS_2