
Dira berjalan memasuki lorong perusahaan PT. PUTRA NUSA. Sejak pulang dari desa Tulang Bawang Dira tidak sedang bekerja lagi. Waktunya sekarang lebih banyak di rumah, masak, hangout bareng Vira. Sementara pabrik kembali di urus sama opa Han. Kakinya yang panjang melenggang bebas seakan mengikuti blok-blok lantai yang berwarna putih. Sejak dia dikantor Opa Han, pekerjaannya di handle oleh Feri sang kakak. Sementara posisi direktur diisi kembali oleh mama Dewi.
Dira datang ke kantor hanya sekedar main dan bersilaturahmi dengan teman-temannya. Banyak teman-temannya menanyakan kapan Dira kembali kerja disana. Mungkin terlihat konyol jika dia kembali ke kantor setelah lama meninggalkan tugasnya disana.
Mungkin kalau dia bukan anak pemilik perusahaan tentu sudah lama di pecat. Tapi semua paham atas yang telah terjadi pada Dira. Bagaimana manajer mereka sudah kehilangan sang bayi, dan sekarang kehilangan suaminya. Dira pun tahu diri, tak mungkin mempermainkan suatu profesi meskipun dia anak pemilik perusahaan.
Setahun tanpa seseorang yang kita cintai bukanlah hal yang gampang. Setahun tanpa penopang bukanlah hal yang mudah. Dira sudah berusaha kuat, Dia juga sudah berusaha ikhlas. Kalaupun Arjuna bukanlah jodoh nya tidak apa. Mungkin mereka hanya sebatas pernikahan dalam dua bulan. Kakinya berdiri di depan sebuah ruangan yang kosong. Decitan suara pintu pun terdengar.
Ruangan yang dia masuki membuka kenangan. Dimana benih-benih cinta mulai tumbuh di tempat ini. Dimana cinta yang sudah di kuburnya dalam-dalam.
Flashback on
Lima tahun yang lalu
"Kak Feri tidak bisa datang, jadi aku yang mewakili."
"Mama kan bisa datang." protes Dira.
"Kalau Tante Dewi bisa datang dia nggak akan minta kakak ke kampusmu. Emang kenapa orangtuamu di suruh ke kampus? kamu berantem? pasti rebutan cowok ya? makanya kuliah yang benar. Jangan pacaran dulu." tangan kekar mencubit hidung Dira yang mancung.
"Ih, bawel. Emangnya kakak yang ngumpet-ngumpet sama Delia? Ngumpet-ngumpet iya, jadi juga kagak. Apa nggak capek tuh!"
"Delia itu sedang menjaga kesetiaannya buat kakak, Dira. Makanya cari ganti Wawan, move on ... move on!
"Rese! katanya di suruh lupain Wawan tapi malah diungkit terus. Kapan aku bisa move on. Jadi nggak perginya. Aku dari rumah kesini buat jemput mama atau kak Feri. Eh, malah kak Juna yang jadi wali ku."
"Ra, kalau kamu belum menemukan seseorang yang benar-benar mencintai kamu. Bersabarlah, waktu mu masih panjang."
"Ya, kalau aku belum ketemu sama jodohku, tenang saja, kan cita-cita aku jadi .."
"sudah, cerita masa kecil jangan diungkit terus. sekarang kita berangkat ke kampusmu." Juna menarik tangan Dira keluar dari ruangannya.
Sepanjang jalan lorong Dira memandang tangannya yang tak lepas dari lelaki itu. Sepanjang itu pula jantungnya berdetak kencang.
"Andai kakak tahu kalau aku tetap memegang teguh cita-citaku sejak kecil. Meskipun ada Wawan yang pernah menggeser kakak. Tapi nyatanya setiap berada di samping kakak ada rasa nyaman. Apa ini namanya cinta? tapi untuk apa cinta itu ada kalau hati kak Juna malah terarah pada Delia."
Mereka berdiri di depan gerbang kantor menunggu mobil keluar dari area parkiran. Juna izin ke dalam karena ada barang yang tertinggal.
Seorang lelaki baru saja keluar dari gerbang perusahaan PT. Putra Nusa. Melihat ada gadis muda yang sedang berdiri, dia pun mengambil kesempatan.
"Hai, kamu adiknya Feri kan?"
__ADS_1
"Iya, anda tadi yang meeting di ruangan kak Feri kan?"
"Iya, perkenalkan nama saya ...."
"Dira! masuk ke mobil!" Juna menarik tangan Dira dengan paksa.
"Nggak usah segitunya kali kak. Sakit tahu!" Dira memegang pergelangan tangannya.
"Ya kamu sih kecentilan."
"Kecentilan? sama siapa? cowok tadi? hahahaha ... kak Juna cemburu sama cowok tadi."
"Dia itu bukan cowok baik-baik, Dira. Pokoknya kalau dia berani ganggu kamu lagi, awas!"
"Yeeee ... Ada yang panas"
Flashback off
"Dira," sapaan manis mengagetkan lamunannya. Sesaat tangannya menyeka air matanya.
"Tari," Dira membalas sapaan rekan kerjanya.
"Iya, aku kangen kerja lagi."
"Kangen kerja lagi apa kangen sama si empunya ruangan."
"Apa sih, Tari? Aku kangen kerja lagi. Tapi rasanya tidak memungkinkan untuk saat ini. Aku juga pasti merindukan si empunya ruangan. Bagaimanapun dia adalah suamiku. Lelaki yang menghalalkan aku."
"Waktu Bu Dewi mengumumkan kalau kamu mau nikah sama mas Juna. Semua orang di kantor meng-aminkan kalian. Kami semua mendukung hubungan kalian.
Tidak di sangka juga kalau Tuhan cepat sekali memanggil mas Juna. Tidak di sangka dia pergi saat kamu baru saja kehilangan anakmu. Seperti kata pepatah, ajal itu tidak kenal tempat dan waktu."
"Tapi mas Juna masih hidup." batin Dira.
"By the way, aku mau nanya. Apa benar calon istri pak Feri itu yang dulu jadi OB disini?"
"Iya, emang dia."
"Kok bisa ya, pak Feri mau sama cewek itu?"
"Emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Ya, beda kelaslah, Dira. Bayangkan saja kalau publik tahu seorang bos perusahaan menikahi OB. Bisa heboh dunia persilatan."
"Dengar, ya, nona Tari. Cinta itu tidak butuh status sosial. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kebahagiaan sebagai seorang pasangan. Kebahagiaan mereka menjalani sebuah hubungan yang didasari cinta.
Percuma kalau kamu mandang seseorang dari materi. Tapi kamu tidak bahagia di dalamnya."
Dira pergi meninggalkan Tari sendirian di bekas ruangannya. Terselip rasa kesal setelah mendengar pemikiran Tari. Pantas saja rekan kerjanya itu sampai sekarang belum menikah. Dasar pemikiran seperti itu tidak akan ada ujungnya.
Langkah kakinya terhenti saat getaran di sakunya. Dira langsung mengambil benda pipih tersebut dari kantong celananya.
"Iya, opa."
"Nak, opa bisa minta tolong gantikan buat ketemu klien."
"Aduh, opa. Suka sekali dadak mendadak kayak gini."
"Opa sekarang di rumah sakit, non. Tadi opa pingsan, terus opa baru ingat ada janji penting dengan klien. Kata opa dia sangat berharap kalau non yang gantikan."
"Paling tidak aku punya pegangannya, Jaka."
"Tadi saya minta teman saya yang mengantarkan berkasnya."
"Yasudah, jam berapa dan dimana pertemuannya."
"Di cafe rainbow, atas nama tuan Panji."
Dira turun ke lobby, tentu saja menunggu jemputan dari suruhan Opa Han. Sambil menunggu jemputan Dira kembali tenggelam dalam dunia maya. Berbagai kabar dari belahan dunia.
"Non," Dira tersentak saat ada yang menyapanya. Q
Kepalanya mendongak ke arah lelaki yang berdiri di hadapannya. Cukup kaget saat tahu siapa yang diminta opa Han menjemput dirinya.
"Awan?"
'Iya, non."
"Kapan kamu kesini?"
"Semalam, non. Non jadi mau pergi ketemu klien?"
"Antarkan saya ke cafe Rainbow." Dira berjalan meninggalkan lobby sementara Awan mengikutinya dari belakang.
__ADS_1