
Vira mencoba meninggalkan gedung Global Machine. Merasa ancaman mamanya tidak main-main. Sesaat dia merasa kenapa harus pergi? Toh, dia disana juga ajakan Panji.
"Kak, aku tunggu di lobby saja." Vira langsung mengirimkan pesan singkat kepada Panji.
"Kenapa tidak di dalam saja?" balas Panji.
"Nggak mungkinlah itu acara isinya orang penting. Nggak sembarangan bisa masuk."
"Kamu juga orang penting, Savira. Penting buat aku dan masa depan kamu. Kamu memang bukan orang sembarangan bagi aku. Karena kamu adalah pondasi yang kuat dalam hidupku. I love you."
"Mulai deh, Love you to." balas Vira.
Keduanya saling menutup komunikasi. Vira hanya tersenyum kecil membawa pesan-pesannya gombal dari Panji.
Dawa sudah berdiri di depan beberapa direksi dan para kolega perusahaan. Pandangannya di edarkan ke sekelilingnya. Tatapan demi tatapan tertuju kepadanya. Entah itu tatapan sinis kepadanya, entah itu tatapan mengiba pada dirinya.
Tapi untuk mengiba pada dirinya. Toh dia bukan menjadi orang yang paling menyedihkan. Beberapa malam menjadi renungan bagi dirinya. Mempersiapkan kemungkinan yang terburuk akan terjadi. Lelaki berwajah Asia itu menyalami semua yang ada di ruangan. Tak terkecuali mama Dewi yang dia anggap sudah seperti ibu sendiri. Walaupun dia pernah berkerjasama dengan PT. PUTRA NUSA. Secara mendadak tanpa alasan kerjasama dan investasinya di cabut. Dawa tidak pernah benci dengan wanita itu.
"Aku hanya membenci suamimu, Tante." batin Dawa.
Sampai sekarang dia masih mempertanyakan apa yang membuat wanita itu menghentikan kerjasamanya. Tapi seperti kata orang mati satu tumbuh seribu. Tante Dewi memang menghentikan kerjasamanya, masih ada klien lainnya yang tetap bertahan jalin silaturahmi pada perusahaannya. Dawa tadinya ingin menyelidiki penyebabnya menjadi urung. Dia percaya rejeki tidak akan tertukar.
Panji langsung menyamperin temannya yang masih terpaku di depan pintu ruangan. Sebisa mungkin lelaki itu menguatkan Pandawa. Dawa melihat Panji merangkul dirinya menjadi terharu. Lelaki yang dianggap seperti kakak itu menggandengnya menuju mejanya.
"Om," Dawa menyalami Irul.
Irul masih bersikap seperti orang asing di hadapan Pandawa. Lelaki paruh baya itu tak menjawab sapaan anak angkatnya. Dawa akhirnya berdiri di sebuah podium yang telah di sediakan.
"Assalamualaikum Wr. wb.
Alhamdulillahi robbil ‘Alamin Assholatu Wassalamu Ala Asyrofil Ambiya Wal Mursalin, Wa ’Ala Wasohbihi Ajmain Amma Ba’du.
Puji kami senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah. lantaran kelimpahan kasih anugerah, kita bisa berkumpul bersama pada acara ini dalam kondisi sehat tanpa ada kekurangan.
__ADS_1
Sholawat serta salam kami terus dicurahkan ke baginda kami, Nabi besar Muhammad SAW, Yang menuntun kita ke jalan yang benar,aman serta barokah.
Puji syukur pada Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat kesehatan, keselamatan, dan karunia kepada kita. Sehingga kita dapat hadir diacara ini dengan selamat tanpa kurang apapun.
Sebelumnya, saya dengan rasa syukur yang sebesar-besarnya berterima kasih kepada Bapak/Ibu karena sudah memberikan saya kesempatan untuk dapat bekerja, belajar, dan berkembang di perusahaan ini. Selain itu, saya juga ingin mengucapkan rasa terima kasih pada rekan-rekan kerja saya di sini yang telah berjuang bersama dalam mencapai target perusahaan.
Yang terhormat Bapak Khairul Azzam selaku pemilik asli perusahaan ini. Yang terhormat direksi besar PT. GLOBAL MACHINE, saya sangat berterimakasih karena sudah mempercayakan memegang kendali perusahaan ini. Tujuh tahun saya belajar, berkembang dan masih belajar sampai saat ini.
Yang terhormat semua petinggi perusahaan seantero Jakarta. Saya berterimakasih pada kalian yang masih dan mungkin sudah tidak berkerja sama lagi dengan perusahaan ini. Tanpa dukungan dari kalian mungkin aku tidak bisa berdiri di sini. Berbicara kepada mereka yang sudah lebih dulu malang melintang di dunia bisnis.
Dulu saya bukan apa-apa kalau bukan jasa dari om Khairul. Saya hanya seorang anak yang dulu di titipkan untuk melanjutkan hidup. Kakak saya yang tertua meninggal dunia karena kecelakaan. Dia mengurus perusahaan orangtua kami. Sayangnya ada gonjang ganjing membuat perusahaan itu berakhir tinggal nama. Kakak perempuan saya akhirnya bekerja sambil kuliah. Demi membiayai sekolah saya. Tidak ada campur tangan dari keluarga lain.
Om Irul saya sangat berterimakasih pada anda. Sudah mau membiayai pendidikannya saya hingga tamat kuliah. Saya hanya lulusan S1 tehnik elektro salah universitas di kota Bandung. Belum sempat sambung S2 karena sibuk kerja. Tapi saya sangat berterimakasih pada anda.
Saya ucapkan permintaan maaf kepada yang sebesar-besarnya atas sikap saya selama menjabat disini. Baik sengaja maupun tidak disengaja. Saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa.
Saya Pandawa Danuarta Mengundurkan diri dari jabatan direktur di perusahaan PT. GLOBAL MACHINE. Terimakasih buat semua yang pernah berpartisipasi dalam program di perusahaan ini. Semoga pengganti saya nanti bisa lebih baik lagi dari saya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
"Sejak pak Khairul memegang perusahaan ini. Banyak peraturan-peraturan yang tidak masuk di akal. Termasuk pemutusan kontrak kerja karyawan. Pemutusan hubungan kerja dengan pengusaha kecil. Padahal lebih bagus program pak Dawa. Kata pak Dawa bisnis itu sama seperti simbiosis mutualisme. Kita membantu mereka dan mereka bisa memberi untung untuk perusahaan ini." keluh salah satu karyawan Pandawa.
"Lah pak Aktar saja langsung di pecat sama pak Khairul. Karena tidak mau anak gadisnya di nikahi pak Khairul. Terus pak Aktar juga memprotes cara kerja pak Khairul." sahut yang lainnya.
"Bagaimana kalau kita juga berhenti kerja di sana?" usul mereka.
"Kamu kira gampang cari kerja. Pak Dawa saja sah jadi pengangguran. Belum tentu juga dia dengan mudah dapat kerja"
"Lah, kalau dia orang baik pasti banyak yang beri dia kerja."
"Baik ada maunya para relasinya itu. Yang di bantu sama pak Dawa belum tentu juga mau bantu balik." jelas karyawan lain.
Setelah Dawa meninggalkan acara, pemuda berusia 31 tahun itu mendekati Irwan Chandra yang kebetulan hadir di konferensi pers nya. Dawa menyalami Irwan sebagai calon menantu. Sayangnya Irwan menolak ukuran tangan pemuda itu.
__ADS_1
"Apa mungkin karena aku sekarang pengangguran?"batin Dawa.
"Bro, kamu hebat!" Panji mengacungkan jempolnya.
"Masa orang mengundurkan diri di bilang hebat. Gimana sih kak Panji?"
"Iya hebat kamu sudah berjiwa besar. Aku keluar dulu kasihan Vira menunggu di lobby. Elsa mana, kok nggak datang? kalian nggak ada masalah kan?" Dawa menaikkan bahunya. Seharian ini Elsa tidak bisa di hubungi. Dawa merasa Elsa mulai ancang ancang meninggalkan dirinya.
...****...
"Kak Panji mau ke lobby kan?" Panji mengangguk tentu saja dia mau menemui kekasihnya.
"Aku traktir, ya. Aku lapar, nih. Kan kalau ramai seru" ajak Dawa.
"Boleh," Panji dan Dawa meninggalkan ruang acara. Masuk ke lift untuk pergi ke lobby kantor yang berada di lantai atas. Dawa memang meminta pembuatan lobby di rooftop. Katanya biar kelihatan hidup. Apalagi perusahaan lokasinya bukan di tengah kota. Sengaja di bangun di tempat yang sejuk.
Vira memandang dua lelaki berjalan kearah dirinya. Panji lebih dulu mendekati Vira yang duduk di teras. Sedangkan Dawa langsung ke kantin memesan makanan.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Dawa
"Aku sudah pesan, Kak. Ayam goreng kremes sama teh susu dingin. Kalian pesan saja sendiri."
"Aku samain saja dengan punya kamu, Dawa." sahut Panji.
Sambil menunggu, Panji dan Dawa duduk diantara Vira. Dawa melihat makanan Vira hanya tersisa kulit ayam saja.
"Kok kamu nggak makan kulitnya?" tanya Dawa.
"Aku nggak suka kulit ayam. Lihatnya saja sudah geli apa lagi makannya."
"Sapi, kok kulitnya nggak dimakan?"
"Nggak mau ah, geli" Gadis kecil itu menatap jijik pada kulit ayam yang goreng.
__ADS_1
Danu langsung mengambil kulit ayam punya Sapi.
"Enak gini di bilang geli. Nyam nyam nyam ..."