
"Juna, mama dan Tio mau ke Tulang Bawang, jemput pakde dan budemu untuk acara empat bulanan kehamilan Dira. Mama juga mau ajak Awan untuk kerja disini. Menurut kamu bagaimana?"
Juna yang baru saja datang ke rumah mamanya langsung duduk di sofa utama. Sebenarnya dari awal Juna sudah bilang tidak usah mengajak pakde dan budenya. Bukan tidak mau berbagi kebahagiaan, tapi acara bakal diadakan di rumah Dira. otomatis akan bertemu dengan Bi Inah.
Juna sudah mendengar kisah antara Bi Inah, pakde Rohim dan Bu Halimah. Jika ketiganya di pertemukan bukannya jadi runyam. Sedangkan waktu pengajian menjelang pernikahan dulu saja sudah terasa aura yang tidak baik.
"Maaf, Ma. Juna rasa tidak usah mengundang mereka. Cukup Awan dan Naura saja yang datang. Bukan Juna tidak mau berbagi kebahagiaan. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Okelah kita tidak masalah soal transportasi mereka ataupun tempat tinggal mereka. Tapi yang akan jadi masalah adalah di sana ada Bi Inah.
Mama tidak lupa kan, sewaktu pernikahan kami mereka enggan ikut. Karena Bu Halimah tidak mau Pakde Rohim bertemu Bi Inah."
Acara empat bulanan kehamilan Dira dan Tina akan diadakan Minggu depan. Tidak terasa kalau kehamilan anak dan menantu Dewi Savitri sudah menginjak empat bulan. Bagi Dira ini adalah kehamilan kedua setelah satu tahun yang lalu sempat keguguran. Tapi buat Tina ini adalah kehamilan pertama, meskipun Feri pun pernah jadi calon ayah di pernikahan pertamanya.
Acara empat bulanan Dira dan Tina juga akan di sertai dengan pertunangan Vira dan Panji. Dira yang mendengar kabar pertunangan itu merasa cemas dengan adiknya. Dia tahu Panji adalah lelaki yang baik. Tapi Dira juga paham adiknya mulai gelisah dengan hatinya. Entah karena perasaan dengan Panji atau mungkin masih ada kaitannya dengan Danu. Hanya Vira yang tahu.
Kembali ke permasalahan sebelumnya, terkait keinginan mama Salma yang ingin mengajak keluarganya. Keinginan mama Salma yang sebenarnya ingin berkumpul dengan keluarga besarnya. Bukan sekedar mengajak keacara empat bulannya Dira.
Terkait dengan keinginan Mak Wiwit yang akan di ajak kakaknya tinggal di Kalimantan. Ayu yang katanya mau pindah ke perumahan masih di sekitar Lembang. Mama Salma mulai ancang-ancang mengajak kakaknya untuk kembali ke Lembang. Biar dia ada yang menemani. Apalagi dia sebenarnya kurang akrab dengan Halimah. Momen ini ingin di manfaatkan mengenal kakak iparnya.
"Tapi mama mau menebus beberapa tahun yang sudah mama sia-sia kan akibat ulah papa kamu." Mama Salma mengajak Juna duduk di sebelahnya.
Lima belas tahun yang lalu, Bang Rohim kerja di pabrik ini. Dia meninggalkan anak dan istrinya untuk mencari nafkah yang lebih baik. Sebenarnya dia bisa bekerja di ladang mertuanya. Hanya saja saat itu pakdemu selalu merasa mertuanya menekan dirinya.
Papamu, sejak awal kedatangan Bang Rohim sudah keberatan. Dia menganggap Bang Rohim numpang hidup dengan kita. Apalagi papamu selalu percaya dengan saran yang diberikan oleh tuan Shahab. Apapun yang di katakan Abdul selalu di telannya mentah-mentah.
Puncaknya...
Saat Bang Rohim mengurusi pupuk untuk daun teh. Tiba-tiba daunnya layu satu hektar. Semua orang menuduh bang Rohim. Karena memang dia yang mengurusi soal pupuk. Papamu murka dan memaki Bang Rohim. Dia pun bersumpah tidak akan mau membantu mengirim uang untuk anak bang Rohim yang saat itu masih kecil-kecil. Apalagi sebelumnya anak bang Rohim yang tua meninggal dunia. Bang Rohim tidak bisa pulang karena tidak diizinkan sama papa kamu.
Mama sebagai adik merasa malu karena tidak bisa bertindak membela kakaknya. Mama merasa bersalah setelah bang Rohim pergi baru terkuak kalau itu adalah kerjaan orang-orang tuan Shahab yang ingin mengusir bang Rohim. Sayangnya papamu tidak murka pada temannya itu. Karena sesungguhnya mereka memang berkerjasama untuk menyingkirkan pakdemu.
__ADS_1
Juna mendengar cerita mamanya hanya bisa mengurut dada. Betapa liciknya papanya menyingkirkan kakak iparnya sendiri. Dia juga tidak habis pikir kenapa papanya sangat percaya pada tuan Shahab. Apa karena di janjikan modal yang lebih besar.
Lalu beberapa tahun kemudian seorang pemuda yang wajahnya mirip sama kamu datang ke pabrik. Namanya Sandi, dia bilang kalau anaknya Rohim. Papa kamu masih kurang suka sama keluarga bang Rohim. Sandi di usir seperti pengemis. Mama lalu memberikan uang untuk Sandi. Bahkan sampai seminggu Sandi berada di Lembang saat itu. Mama hanya bolak-balik ke kostnya untuk memberikan makan. Karena mama merasa bersalah pada keluarga Bang Rohim.
Mama harap sekarang bisa menebus apa yang papa kamu lakukan pada mereka. Mama merasa bersalah. Karena keegoisan papa kamu hubungan keluarga kami jadi hancur. Untungnya bang Rohim tidak dendam sama kami. Seperti saat dia menemukan kamu dan merawat kamu. Mama rasa kamu lah jembatan untuk menyatukan kami lagi.
"Ma, semua yang pernah terjadi ambil hikmahnya saja. Tuhan punya cara untuk memberi kebahagiaan umatnya. Seperti kata mama tadi, dengan aku di temukan sama pakde Rohim itu sebagai jalan silaturahmi dua saudara yang sempat renggang."
"Tapi yang jadi masalah, bude Halimah masih tidak sudi bertemu dengan Bi Inah saat ini. Mama tahu tidak kalau mereka pernah punya hubungan khusus di belakang bude Halimah."
Mama Salma kaget. Dia memang pernah mendengar kedekatan kakaknya dengan gadis muda di desa itu. Tapi dia tidak menyangka kalau gadis muda itu adalah Inah.
Juna pamit dari rumah mamanya. Tadi nya dia mau bertemu dengan Ayu dan Tio. Terkait rencana adiknya yang mau pindah ke perumahan lain. Padahal Juna sedang mempersiapkan rumah untuk adiknya. Saat ini posisinya bukan hanya sebagai seorang suami dan calon ayah. Dia sudah menjadi kepala keluarga untuk mamanya dan juga adiknya. Meskipun ayu sudah berkeluarga. Masih merasa ada kewajiban membantu Ayu semampunya.
Belum lagi memastikan rumor soal Tio yang mau berkerja di pabrik baru. Usaha yang belum lama ini bangun tak jauh dari pabriknya. Juna tidak merasa tersaingi dengan kehadiran pabrik baru. Rejeki tidak akan tertukar, itu prinsipnya. Tapi Tio adalah keluarganya. Suami dari adiknya, apa kata orang kalau iparnya kerja di pabrik lain.
"Mas," suara lembut itu membuyarkan lamunannya.
"Belum, sih. Tadi ada Ayu nyari mas Juna." Adu Dira.
"Nyari aku? Untuk?"
"Kita bicara di rumah saja, Mas. Nggak enak nanti di dengar orang lain." Ajak Dira sambil menarik tangan suaminya pulang rumah.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Dira meninggalkan suaminya di ruang tamu. Sementara dirinya membuatkan minum hangat untuk suaminya.
"Ini mas teh nya." Dira meletakkan secangkir teh hangat di meja.
"Ayu tadi bicara apa sama kamu, sayang." Juna bertanya sambil meminta Dira duduk di pahanya.
__ADS_1
"Yakin aku duduk disini, aku sekarang berat, Lo."
"Kenapa emangnya? Kan aku yang buat kamu jadi berat. Nggak masalah kan?"
"Yasudah, aku langsung ke inti, Mas. Tadi Ayu kesini mau membicarakan soal kepindahannya. Sama ..." Dira tidak melanjutkan ucapannya.
"Sama apa, sayang?"
"Maaf, Mas. Aku nggak enak membicarakan hal ini."
"Coba ceritakan, aku akan dengarkan"'
"Ayu minta hak asuh mama untuk sama kamu saja, Mas. Dia bilang mau fokus sama Salsa saja" Jelas Dira.
"Hak asuh mama? maksudnya gimana?" Juna masih bingung.
"Ayu mau cari perumahan yang sedikit ramai, beda dengan disini yang sepi. Dia juga mewanti-wanti aku supaya mengecek makanan mama. Karena Mak Wiwit mau di bawa ke Kalimantan sama keluarganya."
"Ngapain dia bicara seperti itu sama kamu? kalau dia mau pergi ya pergi saja. Nggak pakai ngatur ini itu. Kelihatan kalau dia terbebani tinggal sama mama. Padahal dia nggak pernah masak atau bantu mama di sana." Juna mulai emosi setelah tahu pikiran adiknya.
"Lalu kamu jawab apa, Sayang?" tanya Juna lagi.
"Aku hanya bilang bicarakan sama kamu saja, Mas. Aku nggak akan bisa memberikan pendapat karena statusku menantu ibaratnya masih orang lain."
"Aku mau ke rumah mama dulu. Tadi pas aku kesana belum ada Ayu. Siapa tahu sekarang dia ada di rumah."
"Mas," Dira menahan suaminya untuk pergi.
"Aku minta kamu dinginkan pikiran dulu. Kamu sekarang lagi panas, Mas. Jangan sampai karena hati yang panas semuanya jadi runyam."
__ADS_1
"Astaghfirullah," Juna mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku nggak masalah kalau mengurusi mama. Cuma aku tidak habis pikir kalau Ayu berpikir seperti itu."