SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 87


__ADS_3

Malam ini bulan tertutup awan, namun keindahannya sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Feri memandang fenomena itu dengan perasaan bahagia. Sementara Tina sudah berada di kamar mandi setelah hampir seharian menjadi ratu di singgasana pelaminan.


Sebelumnya Tina membantu suaminya membuka jas dan sepatu. Sebagai bakti awal istri. Tina membuka tali rok bridal yang membelit di pinggangnya. Kini hanya tersisa dress yang membentuk lekuk tubuhnya.


"Mas, aku ke kamar mandi dulu." pamit Tina.


"Jangan lama-lama, sayang."


Feri menjawab bukan hanya sekedar bertatapan saja. Tangan Feri sudah membalung di pinggang istrinya. Tina terpaku, jantungnya berdetak kencang. Ada rasa tersendiri yang menyusut di ubun-ubun.


"Iya, mas." jawab Tina terbata-bata.


Meskipun dia sudah pernah menikah tapi ini malam pengantin pertamanya. Kalau dulu saat pernikahan masih dalam keadaan berduka. Namun, bukannya merasakan malam pengantin dia malah di jadikanlah pembantu oleh suami dan mertuanya. Bahkan suaminya membawa perempuan yang berbeda ke rumah.


Tina masih berada di kamar mandi. Membersihkan diri karena tubuhnya sudah sangat lengket sekali. Jujur dia ingin merebahkan diri ke tempat tidur. Tapi entah kenapa dia takut Feri menagih jatahnya.


"Sayang, Istriku. Kamu nggak apa-apa kan?"


"Enggak, mas. Aku lagi BAB." dusta nya.


"Cepetan, Sayang. Nggak bagus lama-lama di kamar mandi."


Ceklek!


Tina sudah keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya yang basah. Feri mengkerut melihat istrinya sudah wangi sabun. Bukan wangi parfum. Tina memakai kimono putih sebatas diatas lutut.


Melihat kemulusan bagian dari istrinya Feri pun terdiam. Seluruh syarafnya bergetar. Ada getaran yang hebat terasa sampai ubun-ubun kepalanya. Darah lelakinya berdesir kuat.


"Mas," sapa Tina.


Feri mengambil parfum untuk mendekati istrinya. Rasanya dia sudah siap lahir batin mereguk indahnya malam pertama mereka. Tina melepaskan handuk yang menutupi rambutnya. Wangi parfum di tubuh suaminya menyibak rasa wanita itu. Tanpa sadar Feri sudah tidak berjarak lagi dengan dirinya.


"Mas,"


Tina menggeliat geli saat pundaknya sudah mendarat beberapa kecupan. Tangan Feri sudah menggelitik kain kimono yang menutupi tubuhnya.


"Mas, tadi kata mama kita akan makan malam keluarga." Tina mencoba mengingatkan.


"Kita nggak usah ikut, ya. Aku capek. Mau istirahat disini sama kamu."

__ADS_1


"Jangan gitulah, mas. Kasihan keluargamu menunggu. Bukannya tadi kamu bilang kalau mereka berasal dari kota jauh."


"Bentar, aku telepon Juna dulu. Kalau mereka pergi berarti kita tidak usah datang."


Selang beberapa waktu kemudian, Feri nampak berkerut dahinya.


"Kenapa, mas?"


"Juna bilang Dira kakinya lecet pakai sepatu tinggi. Jadi dia sudah pamit sama mama untuk tidak datang."


"Yasudah, mas. Kamu siap-siap. Aku juga mau dandan dulu." Tina sudah duduk di depan meja riasnya.


Tina dan Feri sudah berjalan menuju restoran di hotel. Mereka menjadi pusat perhatian oleh semua kerabat yang ada di sana. Restoran itu sengaja di booking untuk keluarga pengantin baik dari keluarga pihak pria maupun pihak wanita. Dari keluarga Feri, keluarga Tina, dan keluarga Arjuna. Hanya saja pihak Arjuna hanya ada mama Salma, Mak Wiwit dan keluarga kecil Ayu.


Tina sedari tadi hanya diam saja. Dia bingung bagaimana mau membaur dengan keluarga besar suaminya. Kalau sama keluarga Juna dia sudah kenal, karena dulu mamanya satu arisan dengan mama Juna.


Makan malam keluarga besar sangat menyenangkan. Beberapa anggota keluarga mencoba memulai obrolan pada Tina. Meskipun Dira dan Juna tidak ikut acara tetap berjalan dengan lancar.


"Setelah ini kalian mau tinggal di mana?" tanya Tante Rani.


"Kami tetap tinggal sama mama, Tante." jawab Feri.


"Kami tidak mungkin meninggalkan mama. Dira rencananya mau tinggal di Lembang ikut suaminya. Jadi tidak mungkin aku ninggalin mama sendirian. Itu sudah kesepakatan aku dan Tina."


"Owh, baguslah kalau begitu."


"Sedari tadi saya tidak melihat Vira." tanya Tante Rani.


"Vira pulang sama Elsa, dia kayaknya kecapekan."


"Berdua saja, mbak. Mbak dia itu perempuan masih muda pula. Masa di biarkan pulang tanpa kawalan."


"Dia nggak cuma berdua,. tapi diantar sama teman prianya." kata mama Dewi.


"Teman pria nya bisa dipercaya tidak. Mbak nggak lupa kan kejadian Vira sama papanya. Untung saja kepergok, kalau tidak udah nggak perawan anak itu."


"Rani!" suara mama Dewi meninggi.


"Tapi faktanya begitu kan, Mbak. Vira itu...!"

__ADS_1


PLAAAAAK!


Mama Dewi tidak suka cara bicara Rani, adik sepupunya yang dianggap kelewatan. Baginya masalah seperti itu adalah masalah intern. Hanya keluarga besar yang tahu masalah ini. Bahkan Vira tidak pernah tahu masalah ini sebenarnya. Dewi hanya bilang ke Vira kalau papanya selingkuh itu yang buat mereka untuk berpisah.


Acara makan malam pun terpaksa di hentikan. Mama Dewi memilih pulang terlebih dahulu. Begitu juga Feri dan Tina, yang mengejar mamanya.


"Mas, lebih baik malam ini kita pulang kerumah saja. Aku takut terjadi sesuatu dengan mama."


"Kamu nggak apa-apa kalau kita pulang sekarang?"


"Mas, saat ini mama lebih penting dari apapun. Saat anak butuh sesuatu seorang ibu pasti selalu menyempatkan waktu untuk anaknya. Baik dalam keadaan sehat maupun sakitpun dia rela berusaha kuat. Dan sekarang tugas seorang anak untuk meluangkan waktu di saat mamanya butuh sandaran.


Oh ya, mas. Aku tadi coba hubungi Dira dan Juna. Tapi nggak diangkat."


"Sayang, maaf, ya. Ini harusnya jadi malam pengantin kita. Tapi ternyata malah kejadian kayak gini. Aku benar-benar minta maaf." kata Feri.


"Sayang, aku tidak masalah soal itu. Mau malam pertama malam kedua atau kapanpun kan bisa lain waktu. Terpenting saat ini adalah keadaan mama. Sekarang kita siap-siap buat pulang. Kamu telepon Bi Inah buat tanya apakah mama sudah sampai dirumah apa belum."


"Pasti belumlah sayang, Ancol sama Jatinegara kan jauh. Mama pasti masih di jalan."


"Yasudah, kita siap-siap buat pulang. Yuk, mas." ajak Tina.


Tina sudah membereskan barang bawaan dirinya dan suaminya. Tina pun mengancingkan tas kopernya. Mengangkat koper, Feri dengan sigap membantu istrinya.


"Ini tugas pegawai hotel yang membawanya. Tugas aku cuma bawa kamu saja." kata Feri.


Dalam sekejap Tina sudah berada dalam rentangan kedua tangan suami ala Bridal style. Tangan Tina mengalung di leher suaminya. Sejenak Tina membenamkan kepalanya di balik dada suaminya. Malu karena jadi bahan tontonan warga.


"Mas, kok belum sampai ke mobil."


"Kenapa?"


"Malu, mas. Dari tadi mereka melihat kita."


"Nggak apa-apa, di viralin juga nggak masalah. Asalkan sama kamu."


"Mas yakin nggak ngabarin Juna dan Dira."


"Biarkan mereka untuk menikmati malam pengantinnya. Mereka sudah satu tahun terpisah. Beda dengan kita sudah sering ketemu."

__ADS_1


__ADS_2