SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 30


__ADS_3

"Ya Allah, kak Juna... kak Juna..." jerit Ayu dengan tangis.


"Ya Allah kenapa harus kakak hamba! kenapa harus dia!" lirih Ayu dalam Isak tangisnya.


"Sayang, kamu harus kuat, ingat kandungan kamu. Kalau kamu sedih anak kita ikut sedih. Aku akan akan mengecek lokasi kecelakaan mas Juna." kata Tio.


Ayu terdiam sejenak. Dia juga sedih atas yang menimpa sang kakak. Tapi dia juga harus memikirkan kondisi kandungannya.


"Mas, coba kamu telepon Dira. Atau siapa yang ada di Jakarta. Cari tahu dimana lokasi kecelakaan kak Juna." kata Ayu sambil menyeka air matanya.


"Yu, ..." suara Salma terdengar lirih.


"Ma, sementara kita rahasiakan soal ini dari papa. Aku takut papa ikut drop kalau tahu kak Juna kecelakaan." ucap Ayu pada mamanya.


"Mas, kamu jaga papa, aku akan antar mama ke hotel dulu."


"Biar aku antar kalian dulu." Tio dan ayu menuntun Salma hingga masuk ke mobil.


Jarak hotel dan rumah sakit tidak jauh. Hanya dalam 15 menit mereka sudah memasuki gedung hotel yang terletak di pusat kota Bandung. Lokasi rumah sakit yang terletak di daerah Pasteur, Bandung. Dan hotel yang tak jauh masih sekitar Pasteur.


Ayu dan Salma sudah berada di dalam kamar. Keduanya masih larut dalam kesedihan. Tak ada yang memulai bicara. Ayu menolehkan kepalanya ke arah mamanya yang sudah tertidur. Matanya mengantuk tapi pikirannya entah dimana. Ayu membuka gawainya, mencari info tentang keadaan Dira melalui Cindy. Cindy adalah keponakan Ayu yang tinggal di Jakarta. Cindy lumayan dekat dengan Savira. Jadi dia bisa mengorek informasi dari keponakannya itu.


Ting!


"Really, kak Dira masuk rumah sakit" ~cindy~


"Iya, kamu baru tahu. Emang Vira nggak cerita?" ~Ayu~


"Aku sudah satu bulan nggak kontakan sama kak Vira. Nanti aku tanya sama om Juna, deh." ~Cindy~


"Masalahnya adalah om Juna mengalami kecelakaan saat mau ke Bandung, Cindy. Katanya Dira masuk rumah sakit juga. Makanya Tante mau mastikan apa benar kabar itu."

__ADS_1


"Ya Allah, Tante Ayu. Kenapa baru kabari sekarang? Sekarang Tante lagi dimana? kalau Tante di Bandung, dimananya?"


"Aku lagi di Bandung daerah Pasteur. Nanti aku share lock alamatnya. Kasih tau mama dan papamu soal Om Juna. Bilang juga sama mereka tentang kondisi papaku." kata ayu sambil menyeka air matanya.


"Iya, Tante. Aku akan kabari mereka. Tante yang sabar, ya. Semoga om Juna sembuh seperti sedia kala." Cindy menutup teleponnya.


Ayu juga ikut menutup kontak dengan Cindy, keponakannya. Lalu memasukkan handphone ke laci nakas di dekat ranjang. Ayu masih berusaha menahan tangisnya. Namun apa daya semua yang terjadi akhir-akhir ini membuat kesedihan kembali menerpanya. Tanpa dia sadari Salma terbangun memperhatikan mimik wajah putri bungsunya.


"Padahal mama sudah bilang sama Juna, kalau dia tidak bisa datang mama tidak masalah. Mama maklum apalagi istrinya juga sedang musibah. Tapi mama tidak menyangka Juna nekat pergi ke Bandung. Seandainya tidak ada papa sakit. Mungkin Juna masih ada, mungkin dia masih menelepon mama sekedar menanyakan keadaan papa. Papa nanyain Juna terus, mama bingung bagaimana menjelaskan pada papa."


"Ma, nanti kita pikirkan lagi. Mama jangan banyak pikiran. Nanti mama sakit. Ayu nggak mau kalau mama ikut drop kayak papa. Ma, mas Tio telepon, aku angkat dulu, ya?" Salma mengangguk.


Salma menerawang ke langit dinding kamar. Saat Dira mengumumkan kehamilannya dia sangat bahagia. Setelah satu bulan Juna menikah dan langsung di beri kepercayaan untuk punya anak. Dan sekarang Tuhan bukan hanya mengambil calon cucunya tapi juga mengambil putranya. Putra yang amat di banggakannya.


Air mata Salma meleleh. Belum sempat dia menjenguk menantu dan anaknya di Jakarta. Tuhan sudah mengambilnya.


"Tidak, jasad Juna belum ditemukan. Itu besar kemungkinan Juna masih hidup. Juna itu pintar berenang. Jadi tidak mungkin dia tenggelam. Salma kamu harus yakin kalau anakmu masih hidup. Ya Allah, jika anakku masih hidup lindungilah dimana pun dia berada."


"Iya, mas." jawab Ayu lirih.


"Sayang, aku dapat informasi kalau lokasi kak Juna kecelakaan di desa Mening Agung, perbatasan Bekasi. Mobilnya sudah ditemukan, tapi jasad kak Juna masih dalam pencarian. Kalau tidak salah, dari keterangan yang aku cek dari kenalanku di sana, ada warga yang melihat mobil kak Juna masuk ke danau. Apalagi lokasi danau berada di bawah jurang. Antara dua kemungkinan kalau menurut aku. Ada yang selamat kan kak Juna atau bisa jadi kak Juna masih dalam danau. Apalagi katanya danau itu ada buaya nya."


"Mas, tolong pantau terus. Kami yakin kak Juna masih hidup. Tidak mungkin dia bisa tenggelam, dia itu pintar renang."


"Sayang, dalam situasi bahaya pun tak ada bisa memikirkan menyelamatkan diri. Kadang ada yang panik dan tidak bisa berpikir jernih. Apalagi dalam keadaan genting seperti itu." kata Tio.


"Mas, kalau Tuhan sudah berkehendak mas Juna pasti di temukan. Tapi nyatanya belum, kan? itu artinya mas Juna masih hidup, aku yakin sekali kakakku masih hidup!" Ayu tidak terima dengan ucapan suaminya.


"Yu, papa sepertinya bangun aku takut dia dengar. Kamu istirahat saja." Tio menutup teleponnya.


*

__ADS_1


*


*


"Assalamualaikum, Bu Dewi." seorang pemuda datang ke rumah sakit menjenguk Dira. Berita tentang Dira yang koma sudah hampir tiga hari menghebohkan dunia maya. Apalagi saat yang bersamaan suami Dira, Arjuna Bramantyo juga dinyatakan meninggal dalam kecelakaan.


Dewi menoleh kearah tamu yang datang ke ruang putrinya. Sambutan hangat di berikan Dewi sebagai tuan rumah. Namun Dewi masih asing dengan pemuda itu.


"Waalaikumsalam, maaf anda siapa ya?" tanya Dewi


"Saya Pandawa, bu Dewi. Saya yang bekerja sama dengan perusahaan anda dari GLOBAL MACHINE. Seperti yang pernah saya jelaskan pada tuan Arjuna Bramantyo kalau perusahaan saya menawarkan beberapa mesin mesin bekas untuk diolah kembali menjadi barang pakai."


"Oh, begitu. Iya menantu saya ada cerita soal perusahaan anda. Silahkan duduk, nak. Maaf pertemuan ini malah di rumah sakit." kata Dewi.


"Nggak apa-apa, bu. Saya paham, situasinya lagi tidak memungkinkan mengulas kerjasama di sini. Saya kesini juga sekalian jenguk Bu Dira. Bagaimana keadaannya?"


"Belum ada perubahan nak Pandawa. Sebelumnya dia sudah sadar tapi saat mendengar kabar kecelakaan suaminya Dira kembali drop dan akhirnya seperti ini."


Pandawa menatap kearah Dira yang masih tertidur indah. Suara detak monitor jantung masih terdengar nyaring. Dalam hati nya dia menyumpahi Dira mengalami sama seperti kakaknya. Dimana sang kakak bertaruh nyawa karena melabrak Andre yang sedang bersama perempuan lain. Dimana masih terngiang saat sang kakak koma. kakak iparnya malah menalak kakaknya.


"Karma itu ada, Dira." batin Dawa.


*


*


*


Sambil baca yuk mampir ke karyaku yang lain


__ADS_1


__ADS_2