
Setelah sholat Maghrib, sepasang suami-istri muda itu telah sampai di rumah mama Salma. Jarak rumah yang berkelang satu rumah pun tak menghalanginya niat mereka untuk menengok orangtuanya. Suasana sekitar rumah tampak sepi dan lengang. Terdengar suara mobil melintas di sekitar perkebunan.
Hanya ada delapan rumah di sekitar mess. Dulu rumah tengah adalah tempat tinggal ayu dan Tio. Tapi sejak Johan meninggal dunia, mau tidak mau Ayu dan Tio pindah tinggal sama mama Salma. Apalagi saat itu Ayu sudah hamil. Tidak mungkin Tio tenang meninggalkan istrinya disana.
Meskipun rumah itu sudah tidak berpenghuni. Tapi orang-orang suruhan Juna tetap membersihkan rumah tersebut. Mereka berjaga-jaga siapa tahu ayu dan Tio akan kembali kesana. Sementara juna sudah punya rumah sendiri.
"Mas, dulu kalau kamu liburan sekolah apa tiap liburan selalu kesini?" tanya Dira sambil menatap langit yang bertabur bintang.
"Kadang-kadang, banyak enggaknya sih. Soalnya dulu Ayu nggak pernah betah disini. Jadi mama dan papa yang pulang ke rumah Jakarta."
"Oh, begitu. Tapi kadang kalau libur sekolah, kamarmu sering gelap."
"Nah kan, kamu sering ngitipin aku, ya."
"Enggak, ah. La wong emang gelap. Dari kaca jendela kamar kelihatan"
"Jadi benar kata Cindy kalau kamu suka ngintipin aku"
"Aku juga lihat saat Delia dan kak Juna sedang di kamar. Jauh sebelum mama drop. Kamu masih ingatkan, Mas. Malah aku lihat kamu mendorong Delia ke ranjang. Setelah itu aku memilih turun. Karena rasanya sesak sekali."
Dira teringat saat malam itu, dia melihat lampu kamar Juna terang benderang. Awalnya dia enggan mengintip kamar itu. Hari sudah malam harusnya dia tidur, tapi saat dia mengintip ada Juna dan Delia bermesraan di kamar. Setahu Dira, Juna tidak pernah memperbolehkan siapapun masuk ke kamarnya. Bahkan Ayu pun tidak berani masuk ke kamar Juna.
Dira memilih turun ke bawah. Karena Vira belum pulang jalan sama Satria, sedangkan Feri saat itu sedang pergi ke rumah om Amran, mantan mertuanya. Awalnya dia hanya ingin duduk di teras, menunggu kepulangan kakak dan adiknya. Mengenyampingkan perasaan yang berdesir saat melihat Juna dan Delia.
Baru saja mendarat di lantai bawah, Dira di kejutkan dengan suara pecahan barang. Dia pikir itu terjadi di dapur. Apalagi lokasi tangga dan dapur sangat dekat. Namum dia malah melihat bi Inah berlari menuju kamar mamanya. Mendapati mama Dewi terkapar di lantai depan pintu kamarnya. Semua yang di rumah panik. Hanya Dira dan Bi Inah yang berada di rumah. Dia hanya tahu meminta bantuan sama Arjuna sebagai tetangga dekat.
"Kak Juna tolong. Mama pingsan, kak Feri dan Vira tidak ada di rumah. Mobil di bawa kak Feri"
"Kamu tenang dulu, ya. Kakak sedang di jalan mengantar Delia pulang."
"Owh, maaf kalau mengganggu"
"Bukan gitu, Ra" Dira langsung menutup teleponnya. Rasanya tidak mungkin berharap Juna datang. Pasti Delia lebih prioritas daripada dirinya.
"Rian ... Iya, hanya Rian yang bisa aku minta tolong."
(Yang masih ingat waktu scene Delia mencoba menggoda Juna di sayembara jodoh)
Setelah mendengar cerita istrinya, Juna menggenggam erat tangan Dira. Ada rasa bersalah membuat wanita di hadapannya merasa tersakiti. Dia tidak menyangka kalau Dira melihat saat Delia mencoba menggodanya.
"Maafkan aku, sayang. Tapi yang kamu lihat tidak sepenuhnya benar. Delia memang mencoba menggodaku. Aku memang mendorong Delia ke teman tidur. Itu untuk melepaskan diri dari godaan Delia. Bagiku, aku akan menjaga kesucian wanitaku hingga saatnya tiba."
"Benar kamu nggak jauh sama Delia. Aku hanya takut apa yang menimpaku selama ini adalah karma kita pada Delia."
Juna membungkuk di depan pintu rumah mama Salma. Masih dengan mode menggenggam erat jemari Dira.
"Mas," tangan Juna membelit pinggang Dira.
__ADS_1
"Kita sudah sampai di depan rumah mama. Emang kamu nggak mau masuk ke dalam?"
Juna menoleh ke samping arah pintu rumah mamanya.
"Astaga, kamu sih."
"Loh kok aku?"
"Kamu selalu saja membuatku mengalihkan duniaku." Juna berjalan meninggalkan istrinya menuju pintu rumah.
"Tapi ingat pesan aku tadi jangan bahas soal hak asuh mama. Toh itu kewajiban kalian berdua" jelas Dira.
"Justru aku mau bicarakan ini sama mama dan Ayu. Tentu dengan kepala dingin. Kalau dengan hati panas bakal runyam jadinya."
"Tapi, Mas..." Dira takut akan reaksi mama Salma ketika tahu rencana Ayu dan Tio.
Juna membimbing Istrinya masuk ke dalam rumah mama Salma. Di sambut aroma ikan pindang favorit Juna dan juga Dira. Mereka melangkah masuk ke dapur. Ayu melihat Dira menyalami mama Salma. Dira pun menyapa Ayu tapi tanggapan hanya datar saja. Dira merasa heran apa yang membuat teman masa kecilnya itu tidak ramah padanya.
"Ingat Ayu, kamu jangan kalah sama Dira. Selama ini kamu sudah terlalu ramah sama dia. Aku yakin kalau kakak kamu melarang pindah, ada pengaruh sama istrinya. Kamu tidak lupa track record Dira yang pernah jadi selingkuhan suami orang. Kalau lelaki itu bisa berpaling ke Dira sampai istrinya meninggal dunia. Dia juga pengaruhi kakak kamu, untuk nurut sama dia. Apalagi lagi kakak kamu bucin sama Dira" Kata Ambar saat Ayu mengadukan masalahnya sama temannya.
"Yu, jujur aku kurang suka kamu dekat dengan Ambar. Kamu berubah sejak dekat sama Ambar. Apa kamu tergiur sama kebiasaan hedonisnya. Ayu yang aku kenal nggak kayak gini. Istriku biasanya nggak gampang di pengaruhi orang lain. Apalagi sikap kamu sudah membuat keluarga kita seperti jauh.
Kamu juga sering meninggalkan Salsa sama mama. Ingat dia anak kamu. Bukan anak mama Salma, meskipun mama Salma adalah neneknya tapi jangan membebankan semua ke beliau. Beda sama Ambar dia belum punya anak.
Aku mohon please, kurangi keluyurannya. Kalau kamu seperti ini aku akan membatalkan rencana pindah rumah" Kata Tio melihat kedekatan Ayu dengan Ambar.
Ayu sudah mencoba membantah apa yang di tuduhkan Ambar pada Dira. Dia paham Dira tidak seperti yang mereka tuduhkan. Tapi ternyata ucapan Ambar terus menari-nari di pikirannya.
Ferdy Sambo divonis hukuman mati oleh hakim. Sebelumnya dia dituntut hukuman penjara seumur hidup.
Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo berjalan keluar ruangan sidang usai menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Vonis hakim untuk para terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua lebih tinggi dari tuntutan jaksa. Ferdy Sambo divonis hukuman mati dan Putri Candrawathi dihukum 20 tahun penjara. Adapun Ricky Rizal divonis 13 tahun penjara dan Kuat Ma’ruf 15 tahun penjara.
"Akhirnya selesai juga drama Sambo cs, mereka sudah dapat hukuman sesuai dengan perbuatannya." sahut Tio.
"Jujur aku kurang memantau ceritanya. Tapi ya begitulah hukum kita, tumpul, ada uang semuanya lancar."
"Mas, Tio, makanan sudah siap" panggil Dira.
Semua berkumpul di meja makan. Juna terus berceloteh menilai masakan mamanya. Masakan yang penuh kerinduan. Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat keceriwisan suaminya.
"Ma, malam ini Dira mau nginap disini. Boleh, kan?" tanya Dira.
"Boleh, di kamar Juna nanti mama siapkan."
"Enggak, Ma. Aku mau tidur sama mama. Bolehkan?"
__ADS_1
"Ehmmm.... kayaknya bakal ada yang tidur sendirian malam ini." Goda Tio.
"Yasudah aku juga tidur di kamar mama juga. Boleh kan, Ma?"
"Ya ampun bagaimana tuh. Yang satu pengen kelonan sama bini, yang bini nya pengen kelonan sama emaknya ... Yasudah sayang kita kelonan berdua" Tio menyikut lengan istrinya. Ayu yang pikiran entah kemana dikagetkan dengan sikutan suaminya.
"Sehabis makan aku mau bicara sama kalian berdua." Juna menatap serius kearah adik dan iparnya.
Seperti instruksi Juna mereka akhirnya kumpul di ruang tamu. Juna meminta mamanya mengajak Dira ke kamar untuk beristirahat. Dia juga tidak menyuruh mamanya terlibat dalam pembicaraan. Karena takut mamanya akan banyak pikiran.
"Langsung to the point, saya mau nanya sama kamu, Tio? Apa benar kamu mau kerja di pabrik baru itu?" Juna menyilangkan kakinya.
"Rencananya, Iya. Tapi saya berubah pikiran, setelah beberapa kali kami membicarakan pembahasan soal pindah rumah dan pindah kerja. Saya memutuskan hanya pindah rumah di dekat sini saja."
Ayu tadinya duduk bersandar kini menaikan punggungnya sejajar dengan suaminya. Dia kaget dengan perubahan keputusan suaminya.
"Mas, aku bilang mau rumah di deretan tempat Ambar. Kok kamu seenaknya merubah keputusan"
"Aku suami kamu, Yu. Tolong hargai keputusan aku. Aku sudah memikirkan masak-masak semua ini. Aku sudah tahu kenapa Ambar dan suaminya menawarkan pekerjaan dan gaji yang besar karena campur tangan seseorang."
"Seseorang? mas kamu ini sudah berbelit-belit. Bukannya kamu sendiri yang mau mandiri. Tidak mau di bandingkan sama kak Juna. Kalau pun memang ada campur tangan seseorang, itu siapa?"
"Tania, dia yang membayar Ambar dan suaminya mengadu domba kita. Buat kita semua terpecah belah. Dan kamu sudah kemakan semua omongan Ambar."
"Stop!" Juna mencoba melerai pertengkaran Adik dan iparnya.
"Disini mau menyelesaikan masalah kalian termasuk soal mama. Kalian tega mau meninggalkan mama sendirian disini?"
"Kan ada kak Juna, sebagai anak tertua sudah kewajiban menjaga mama. Aku perempuan kak, kiblatku sama suami, bukan pada orangtuanya lagi. Karena setelah menikah aku bukan tanggung jawab orangtua lagi." jawab Ayu lantang.
Juna yang emosi hendak melayangkan tangan pada adiknya. Ucapan Ayu sungguh membuat darahnya mendidih. Tidak ada orangtua yang minta anaknya membalas kasih sayangnya selama ini. Harusnya ada kepekaan dari anaknya. Juna sebenarnya membenarkan apa yang di ucapkan Ayu. Kalau tugas anak lelaki merawat orang tua. Tapi bukankah harus ada kerjasama dari saudara lainnya.
"Juna!" suara mama Salma menghentikan anak pertamanya.
"Mama, tidak suka cara kamu. kalau memang ada yang harus di bicarakan. Selesaikan dengan kepala dingin."
"Astaghfirullah," Juna mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mama tidak masalah kalau Ayu mau cari tempat yang membuat dia lebih nyaman daripada disini. Mama ngerti kalau Ayu ingin punya kehidupan privasi." Salma mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.
"Ini, nak. Mama dengar uang kalian belum cukup untuk membeli rumah itu. Ini ada tabungan punya mama dan almarhum papamu. Ada sedikit perhiasan yang bisa kalian gadaikan."
"Ma," sela Juna.
"Mas, Alhamdulillah kita dapat rezeki dari mama. Terimakasih, Ma." Ayu memeluk mama Salma dengan bahagia.
"Maaf, Ma." Tio mengembalikannya pemberian mama Salma.
__ADS_1
"Tio berterimakasih sekali sama mama. Mau bantu saya. Tapi Tio tetap memakai uang Tio sendiri. Sesuai kemampuan ekonomi saya. Tio pindah di rumah dekat sini saja." Ayu mendengar ucapan suaminya langsung masuk ke kamar.
"Kak Juna maafkan sikap Ayu tadi. Tio janji akan mendidiknya lebih baik lagi." Tio pun meninggalkan ruang tamu mengikuti istrinya masuk ke kamar.