SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 117


__ADS_3

"Kenapa kamu begitu ngotot mempertahankan Dira? apa hebatnya wanita itu? kamu kalau ada masa lalu Dira yang kelam? aku yakin kalau kamu tahu yang sebenarnya, pasti kamu akan kaget. Dira dan juga Delia itu tidak jauh beda. Sama-sama perempuan kotor."


PLAAAAAK!


Sebuah tangan mendarat di wajah cantik Maria. Bukan dari Arjuna melainkan dari tangan Dira. Bagi Dira sikap Maria sudah terlalu jauh. Dia tidak peduli bagaimana Maria bisa tahu masa lalunya. Tapi yang pasti itu bukan urusan Maria. Itu urusan pribadi Dira.


"Kenapa dengan masa lalu saya? ada masalah sama kamu? enggak kan? sebegitu nya kamu terobsesi sama suami saya. Dari kalian SMA saya sudah sering melihat kamu caper sama Juna. Kamu juga pernah macari mantannya kak Tina yang namanya Glen. Padahal kamu tahu kalau Glen itu sudah punya kekasih.


Mana yang lebih buruk saya atau kamu?"


"Tapi saya tidak membuat pernikahan orang lain hancur. Sampai istrinya bunuh diri ketika kamu menerima lamaran suaminya."


"Oh, ya. Terus apa yang kamu lakukan sekarang lebih baik? hah! Dalam posisi itu saya tidak tahu kalau lelaki itu sudah beristri, kalau saya tahu sejak awal tidak akan mau menerimanya.


Sedangkan kamu sudah tahu tapi tetap mengejar suami saya. Benar kata mas Juna kamu pantas disini." Dira sudah terlanjur kesal keluar dari ruang interogasi.


"Satu yang harus kamu sadari, Dira. Apa yang terjadi sama kamu dan keluargamu adalah karma! karma papamu adalah lelaki yang suka celap celup sana sini. Dia punya istri yang sukses dan anak. Kamu bilang di tipu oleh lelaki itu. Tapi kamu lupa sudah banyak wanita yang di tipu oleh papamu."


"Kamu mau ngadu apa sama saya? soal masa lalu Dira yang pacaran dengan suami orang? asal kamu tahu saya dan Dira sudah mengenal sejak kecil. Saya tahu semua lelaki yang dekat dengan Dira dari dia masih ABG sampai dewasa. Dira juga tidak tahu kalau lelaki itu suami orang. Kalau tahu dia juga tidak akan mau. Semua tentang Dira luar dalam saya tahu. Seperti kata saya tadi, kamu tidak ada ampunnya. Saya tidak akan memaafkan kamu." Juna meninggalkan ruang interogasi demi mengejar istrinya.


Maria tersenyum menang. Dia sudah mengorek semua masa lalu Dira. Dari tentang orangtuanya sampai kisah asmaranya. Semua dia dapatkan dengan mudah. Papanya punya kenalan mata-mata. Dari Tania dia pun punya banyak informasi tentang Dira dan Juna. Setidaknya dia bisa membuat Dira down.


Kaki Juna menjejaki semua lantai yang yang ada di kantor polisi. Lelaki itu tak menemukan Istrinya. Juna berlari keluar ruangan. Dia yakin Dira pasti down setelah tahu istri Wawan meninggal bukan karena sakit. Melainkan bunuh diri. Sebenarnya Juna sudah lama mengetahui hal itu. Hanya saja dia menganggap hal itu bukan kesalahan Dira.


"Dira,"


Kaki Juna terhenti pada sosok yang duduk sambil menikmati es krim cone coklat. Wajahnya tampak tenang menikmati makanan manis tersebut. Juna merasa lega kalau istrinya tidak merajuk. Kakinya berjalan dengan pelan, dia tak mau kedatangannya malah mengganggu keasyikan istrinya. Bahkan Dira pun tak menyadari kalau Juna sudah duduk di sebelahnya.


"Es krim itu dingin dan manis. Melambangkan sebuah kisah yang penuh ketenangan." Dira menghentikan makannya ketika mengetahui ada Juna di sebelahnya.


"Mas, maaf." Dira merapikan cara duduknya.

__ADS_1


"Nggak apa, sayang. Teruskan saja makannya. Kalau hal itu yang buat hatimu tenang."


"Iya, mas. Tadi aku sedih banget. Segitu buruknya masa laluku. Sampai Maria tahu semuanya. Apa kamu ada cerita sama dia?"


"Enggak. Untuk apa aku cerita sama oranglain. Aku nggak pernah cerita tentang kamu atau siapapun pada oranglain."


"Kenapa dia bisa tahu tentang aku, tentang papaku?"


"Tapi aku juga heran, darimana kamu tahu soal Maria, Glen dan Tina. Aku saja yang ketua OSIS nggak pernah tahu soal itu. Aku pikir cuma rumor saja. Apa dari kak Feri?" Dira mengangguk kecil.


Dira kembali menikmati es krimnya sambil menikmati udara kota Bandung yang mulai mendung. Juna mengajak Dira berteduh, tapi wanita itu tak bergeming. Masih asyik dengan nikmatnya es krim.


Tanpa pikir panjang Juna menggendong Dira dengan gaya panggul. Tak ada protes dari Dira. Ternyata Dira sangat menikmati aksi suaminya. Mereka pun sampai di sebuah warung kecil. Menurunkan Dira di dekat gazebo depan warung.


"Mas, es krimnya habis. Mau beliin lagi nggak. Aku tadi mau beli yang ada oreonya. Pakai cup besar. Tadi kayaknya tas ku ketinggalan di kantor polisi. Kamu mau kan beliin?" Dira memohon dengan wajah imutnya.


"Kamu jangan banyak makan es krim. Sejak sampai di Bandung tiap kita jalan kamu beli es krim terus. Nanti kamu ..." bujuk Juna.


Huft!


Tumben dia kayak gini?


Juna sampai di kantor polisi. Dira masih asyik dengan gawainya.


Hari ini sikap Dira tidak gampang di tebak. Di kira ngambek nyatanya enggak. Mirip kayak cuaca kadang hujan kadang cerah.


"Yang," Juna mengalungkan tangannya di pinggang istrinya.


Keduanya saling bertatapan lama. Senyum Dira tampak merekah ketika Juna mengeluarkan hadiahnya.


"Makasih, sayang. Aku dari kemarin nyari es krim ini. Di Jakarta susah banget nyarinya. Kamu tahu banget apa yang bikin aku makin cinta." ucap Dira manja.

__ADS_1


...****...


"Papa mau kemana?" Feri melihat Andre sudah membawa tas kecilnya.


"Papa diajak teman tinggal di Surabaya, Fer. Ada pekerjaan yang cocok untuk usia papa. Papa sangat berterimakasih atas tumpangan yang kalian berikan. Papa minta maaf kalau selama disini sudah membuat kericuhan."


"Papa ngomong apa sih? ini bukan tumpangan. Ini juga rumah Feri berarti rumah papa juga. Papa kan belum terlalu sehat. Papa mau kemana biar Feri antar papa ke Surabaya. Kebetulan kata Tina ada familinya disana. Adiknya pakde Amran."


Andre bingung cari alasan apa lagi. Sebenarnya dia bukan mau ke Surabaya. Dia sudah daftarkan diri ke panti jompo. Bagi Andre satu-satunya cara untuk tidak merepotkan anak-anaknya adalah tinggal di panti jompo.


Maafkan papa,nak. Papa terpaksa daftarkan diri ke panti jompo. Sejak kamu bawa papa ke rumah ini, ada saja masalah yang terjadi. Sampai mama kamu ribut dengan saudara-saudaranya. Lebih baik papa yang pergi dari sini. Membiarkan kalian hidup tenang tanpa kehadiran papa.


"Pa," Feri menepuk pundak Andre.


"Iya,"


"Papa bisakah bicara sama mama soal rapat itu. Feri tahu kalau mama mau menyidang Pandawa. Tapi kalau menurut Feri itu terlalu berlebihan. Mama harusnya tinggal mencabut semua yang berurusan dengan Dawa.


Feri merasa Dawa tidak seperti yang mama tuduhkan. Ya kalau dia memang punya rencana jahat pasti ada masalah selama dia dekat dengan kita. Tapi selama ini nggak ada apa-apa."


"Papa tidak bisa membujuk mama kamu. Kebenciannya pada Padma dan Irul sudah mendarah daging. Dia seperti ini karena kelakuan papa dulu."


"Maka dari itu. Papa kunci dari semua ini. Tolong redam masalah ini, pa. Feri mohon. Feri mau nanya apa benar Dawa dan Danu itu orang yang sama?" Andre mengangguk.


"Papa tahu kan kalau Danu dan Vira itu?"


"Danu itu cinta sama Vira." jawab Andre.


"Maksudnya, nggak mungkin, pa. Terakhir mereka bertemu Vira masih TK. Gila saja kalau anak remaja suka sama anak TK." Feri masih tidak percaya.


"Terakhir papa ketemu sama Dawa, saat papa mendapati lelaki itu menunggu Vira di depan SD. Papa masih mencoba menjauhkan Dawa dari Vira. Karena mama kamu masih marah sama Padma. Sampai papa bilang sama salah satu petugas supaya mengusir Dawa dari sekolah.

__ADS_1


Tolong cari surat yang papa simpan di gudang. Semoga masih tersimpan di sana. Ada satu surat yang pernah dia tulis buat Vira. Dia minta Vira menunggunya untuk pengantin."


__ADS_2