SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 89


__ADS_3

"Mana yang sakit sayang?" Juna membungkuk saat melihat istrinya kesulitan berjalan.


"Dua-duanya, Mas. Mas kan tahu kalau aku susah pakai sepatu tinggi. Aduh aku lupa kalau kamu masih amnesia."


"Kamu ingat saat pernikahan kita di Bengkulu. Kamu juga mengeluhkan kakimu. Kamu sampai tidak bisa berdiri saking susah berjalan."


Dira menoleh kearah suaminya. Apakah ingatan Juna sudah kembali. Kalau iya, Alhamdulillah. Tapi kenapa kemarin dia bilang belum ingat apa-apa.


"Sayang," Juna membuyarkan lamunan istrinya.


"Mas,"


"Iya, sayang." Juna duduk merapat di samping istrinya.


"Kamu sudah ingat semuanya? sudah bisa berjalan seperti sediakala? kemarin katanya kamu masih di kursi roda. Terus kamu bilang ingatannya masih tumpul." Dira membalikkan badannya membelakangi suaminya.


Juna berusaha membujuk istrinya yang terlihat ngambek. Tidak ada maksud membuat Dira kesal, apalagi ini adalah malam pertama mereka. Setelah satu tahun terpisah. Tangan Juna menggenggam erat jemari Dira. Berusaha meyakinkan Dira bahwa ini salah satu surprise yang dia persembahkan untuk istrinya.


"Sayang, tadinya aku pikir ini jadi kejutan yang manis buat kamu. Aku hanya tidak mau kamu malu punya suami yang duduk di kursi roda. Aku juga nggak mau melihat kamu sedih karena aku belum ingat semua tentang kita. Dari sejak aku sampai ke Lembang. Aku selalu berusaha mencari semua yang berhubungan dengan masa laluku.


Mama, terus Ayu, mereka terus membantu aku membangkitkan kembali ingatanku. Hanya saja aku belum ingat bagaimana bisa menjadi kecelakaan. Itu saja."


"Mas, kamu tahu. Dari waktu demi waktu aku selalu merasa kamu masih hidup. Entah itu firasat atau apapun. Aku selalu di beri petunjuk dan semakin yakin kalau kamu masih hidup.


Hingga aku bertemu sama kamu yang sudah menjadi ayahnya Jimmy. Saat itu aku merasa sudah selesai. Semua selesai. Aku selalu merasa kamu tidak jauh beda dengan papa."


"Sayang, maafkan aku. Aku nggak ada maksud bikin kamu sedih. Maafkan aku kalau sudah bikin kamu sedih. Aku janji akan lebih terbuka setelah ini."


"Mas, bukannya kita di tunggu sama mama dan keluarga besarnya. Aku tidak bisa ikut. Kakiku masih sakit."


"Aku sudah bilang sama mereka kalau kamu kecapekan. Jadi tidak bisa ikut. Tadi kak Tina sepertinya menghubungi kita."


"Kok nggak diangkat?"


"Ya kan tadi dia menghubungi, sekarang sudah tidak lagi."

__ADS_1


Juna mencium tangan Dira. Mata mereka beradu. Dira mencoba menahan degup jantungnya yang terasa kencang. Juna merebahkan tubuh Dira di atas ranjang. Tangannya mulai nakal.


"Sekarang sudah jam berapa sayang?"


Dira melirik handphonenya "Jam 8 malam, mas."


"Kita sholat isya yuk." Juna mengangguk. Juna masuk kamar mandi sambil menggendong Dira untuk mengambil wudhu.


"Kalau kamu tidak kuat berdiri aku ambilkan kursi."


"Aku cuma lecet, Mas. Bukan patah tulang." jawab Dira.


"Aku berniat salat sunah setelah nikah dua rakaat karena Allah Ta'ala Allah Maha Besar."


Dalam ibadah salat sunah ini, sang suami menjadi imam bagi istrinya. Pasangan baru ini pun melangsungkan ibadah itu dengan berdua saja. Selain itu, bacaan salat yang dilakukan boleh diucapkan secara keras. Juna dan Dira akhirnya selesai menunaikan ibadah sholat sunah dilanjutkan dengan Sholat Fardhu.


"Ra,"


"Iya, mas."


"Aku menginginkannya. Bolehkah?"


Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”


Juna mengecup kening istrinya. Keduanya saling bertatapan dengan lekat. Meskipun ini bukanlah yang pertama bagi mereka. Namun tetap saja membuat Dira masih merasakan berdebar kencang.


Bibir mereka beradu, dari kecupan kecil berubah menjadi menuntut. Juna kembali merebahkan tubuh Dira diatas ranjang, tangannya mulai menuntun kearah mukena yang dipakai Dira.


"Sayang," bisik Juna.


"Mas, .." Dira menggeliat geli ketika tangan Juna berselancar di setiap titik tubuhnya. Jemari Dira terus meremas rambut Juna. Juna terus membisikkan kata-kata saktinya. Membuat Dira semakin melambung.


Keduanya saling bertatapan, Tatapan itu membuat Juna memajukan wajahnya sehingga membuat jarak di antara mereka berdua hanya beberapa senti saja.


Hembusan nafas menyapu wajah cantik Dira, Juna mendaratkan kecupan di bibir ranum Dira. Lama-kelamaan kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang saling menuntut, Juna menahan tengkuk leher Dira untuk memperdalam ciuman itu. Suasana yang mendukung membuat gejolak hasrat semakin membara di keduanya.

__ADS_1


Suasana yang mendukung seakan semesta merestui mereka, Alam semesta seakan menjadi perantara perasaan keduanya.


Perlahan namun pasti Juna membaringkan Dira ke kasur secara perlahan tanpa melepaskan tautan itu, Dira seakan tak mau kalah. Tangan mungilnya itu mulai membuka kaos yang dikenakan suaminya.


Spontan tangan Dira bergerak meraba roti sobek suaminya itu, Juna melepaskan tautan itu saat Dira menggigit bibirnya.


Juna memekik kaget saat Dira membalikkan posisi sehingga kini Dira ada di atas tubuhnya, "Kamu mau apa sayang?" Tanya Juna yang kini berada di bawah tubuh Dira.


Dira tersenyum nakal, "Aku mau membuktikan kepada semua orang kalau Mas Arjuna itu milikku, Hanya untukku, Dan tidak ada yang boleh memiliki Mas Arjuna selain aku!" Jawab Dira.


Juna seakan terhipnotis dengan jawaban Dira, Dia tersenyum manis kepada istrinya ini. "Buktikan lah," Lirih Juna yang membuat jiwa Dira seakan tertantang!


Dira mulai bergerak di tubuh Juna, Dia mencari titik lemah Juna. Targetnya jatuh kepada leher suaminya, Perlahan Dira mendekat ke arah leher itu. Dan cup! Dira mengecup leher suaminya.


Bak drakula Dira berubah menjadi Drakula yang siap menghisap mangsa dihadapannya ini, Juna memejamkan matanya saat sang istri mulai menghisap lehernya.


"Agh..." Suara itu lolos di bibir tebal Juna. Hisapan Dira sangat kuat sehingga memunculkan cap kepemilikan.


Juna menggulung rambut istrinya. Leher jenjang yang terlihat mulus membuat dadanya semakin bergetak. Layaknya seperti drakula, Juna pun melakukan hal yang sama. Menghisap leher istrinya lebih dalam lagi. Tangan Dira seakan mencakar punggung suaminya. Erangan terus terdengar dari bibir tipisnya.


Hingga


Dira menghempaskan tubuh Juna ke atas ranjang. Posisi Dira berada diatas suaminya. Dira kembali melabuhkan kecupannya ke roti sobek suaminya. Terus menjalar hingga pertemuan saliva kembali terjadi. Juna merasakan nikmatnya malam pengantin mereka.


"Sayang, kamu agresif sekali." bisik Juna.


Dia tidak menyangka istrinya menunjukkan sisi liarnya. Tidak masalah bagi Juna, karena mereka sudah dalam ikatan pernikahan.


"Bukankah itu yang setiap suami inginkan?"


"Iya, aku senang. Hanya saja, lain kali biarkan aku yang bermain. Kamu cukup menikmatinya."


"Iya, Mas."


Dira pun sekarang berada dibawah Juna. Juna kembali mengingatkan kalau istrinya cukup menikmatinya. Sedari tadi Dira lebih b iaanyak bermain ketimbang dirinya. Sekarang waktunya Juna yang mengambil peran.

__ADS_1


Setelah lama mereka bergerilya. Akhirnya Dira maupun Juna tumbang juga. Keduanya tampak kelelahan. Juna menarik selimut menutupi tubuh mereka yang polos. Sesekali mengecup dahi istrinya. Kepala Dira kini berada diatas pundak suaminya. Jemari Juna menelisik di setiap sisi wajah Dira.


"I love you, Dira"


__ADS_2