SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 88


__ADS_3

Tahun 1987


"Dewi ini ruang kerja kamu sekarang."


Om Burhan mengajakku ke perusahaan papa. Gedung yang katanya di bangun kakek dari nol. Itu yang aku dengar dari papa saat masih kecil dulu.


Eyang Kakung, itu panggilan ku pada kakekku, memulai usaha dengan mengumpulkan barang-barang pulungan. Beliau memanfaatkan barang-barang tersebut menjadi benda berguna seperti pupuk, gelas daur ulang. Dan masih banyak barang yang di daur ulang. Usaha yang di rintis kakeknya berkembang menjadi pabrik kecil.


Jatuh bangun eyang membangun usaha tersebut. Membangkitkan UMKM di daerah tempat tinggal papanya dulu. Pabrik yang sekarang di buka oleh om Burhan menjadi pabrik gula. Itu bekas pabrik yang dibangun eyang.


Kata eyang, papa dan opa Burhan sangat bertentangan. Bukan berarti mereka saling bermusuhan. Mereka bersaing membuktikan pada eyang kalau bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan eyang. Mungkin begitulah cara lelaki bersaing. Aku juga tidak begitu paham.


"Dewi," sapa om Burhan.


"Iya, om." Aku masih berusaha mengenal ruang kerja baruku.


Aku masih mahasiswa tapi harus menjabat jadi direktur PT. Putra Nusa. Aneh nggak sih, aku belum ada pengalaman kerja sekalipun. Saat ini usiaku masih 22 tahun. Masih bau kencur.


Sebelumnya aku kuliah di Belanda dengan jurusan manajemen. Bisa aja aku kuliah di Jakarta karena jurusan seperti itu ada di universitas ternama. Tapi aku pengen cari pengalaman di luar negeri.


"Mulai sekarang kamu yang akan menggantikan almarhum papamu. Karena memang kamulah penerus yang diharapkan papamu."


"Tapi, om. Kuliahku belum kelar. Bagaimana mungkin aku bisa kuliah sekaligus kerja. Aku takut nggak bisa memegang keduanya." ucapku.


"Dewi, soal kuliah kamu tenang saja. Om, sudah siapkan homeschooling untuk kamu. Om akan mengirimkannya dosen-dosen terbaik yang bisa memberikan kamu pelajaran. Kamu akan kuliah seperti kebanyakan orang lain. Tapi ada mata pelajaran tertentu yang sesuai dengan pengelolaan pabrik kita."


"Aku mau kuliah saja, Om. Kayaknya aku akan susah membagi waktu."


"Semua kegiatan kamu akan di pandu sama Khairul. Dia yang mengatur semua jadwal kamu. Dari bangun pagi hingga malam hari. Irul akan mengatur semua jadwal kamu."


Aku mendengarnya seperti rasa sesak nafas. Tidak adakah aku punya waktu untuk kumpul bersama teman-temanku. Ya Allah, kupikir aku bakalan kuliah sama seperti teman yang lain.


Setelah beberapa bulan aku mencoba beradaptasi dengan keadaan. Ya, walaupun aku selalu di kawal sama Irul, ajudan yang dipercayakan om Burhan.


"Dewi, pulang kuliah kamu mau ikut kami ke bioskop."


"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus pulang, sudah di tunggu soalnya." elakku.


"Dewi kamu nggak asik, beda waktu SMA dulu. Dulu kamu royal sama kami. Sekarang diajak main saja susah." protes Ida, temanku.

__ADS_1


"Ya, maaf. Aku sekarang kerja. Nggak bisa kemana-mana. Aku ngurusin perusahaan papaku."


"Kan banyak pegawai disana. Masa sih nggak ada yang bisa bantu kamu. Percuma papa kamu gaji mereka." imbuh Ida.


"Ya kan mereka juga punya kerjaan masing-masing. Masa mereka yang duduk di kursi papaku, kan nggak mungkin. Ya sudah, aku balik, ya. Maaf nggak bisa kumpul sama kalian lagi." pamitku pada mereka.


Aku memasuki mobil. Dari kaca mobil aku lihat kekecewaan mereka padaku. Ada rasa tak enak, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus ikut aturan yang sudah membelit.


"Non, hari ini ada beberapa jadwal pertemuan dengan klien di lobby perusahaan. Jam 12 ada meeting gabungan yang di pimpin oleh pak Burhan. Terus ada ..."


"Rul, aku mau kamu kurangi jadwal kalau diatas jam 12. Aku mau menyelesaikan tugas kuliah. Istirahat di rumah. Aku mau sedikit di kasih nafas."


"Tapi,non. Jadwal ini dari pak Burhan bukan dari saya. Saya hanya menjalankan tugas."


Aku tidak bisa protes. Benar kata Irul. Dia hanya di suruh. Semua sudah dalam kendali om Burhan. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Apakah aku akan terus seperti ini. Entahlah, suka tidak suka harus dinikmati saja.


Toh di luar sana banyak orang susah mencari pekerjaan. Banyak sarjana yang luntang-lantung mencari kerja. Dan aku yang tinggal duduk manis hanya bisa mengeluh.


Setelah beberapa tahun aku bekerja sebagai direktur muda diperusahaan papa, akhirnya aku berada di puncak karier. Masuk menjadi Iwapi dan bertemu dengan ibu Tien Soeharto. Itu pengalaman yang tak terlupakan. Berkat didikan keras om Burhan dan bantuan dari Irul pastinya.


"Pagi, Bu Dewi." sapa seorang staf di kantor.


"Pagi juga Andre. Ada apa?"


"Oh, ya. Kenapa kamu yang tahu? bukankah ini bagian Irul? kenapa malah kamu yang menyerahkan bagian ini?"


"Maaf, Bu. bukan saya yang mengecek tapi Bu Linda. Dia yang minta menyerahkan ini sama ibu. Soalnya Bu Linda ada keperluan mendadak makanya dia titip sama saya."


Dia Andreas, staf yang lama kerja di kantor papa. Aku kenal Andre karena dia kakak kelasku saat SMA. Katanya dia bisa masuk ke kerja pake ijazah SMA saja. Aku perhatikan kalau kerjanya sangat bagus. Masih kalah jauh dengan kerjaku yang sarjana.


Setelah Andre menyerahkan berkas tentang kinerja Irul. Aku pun mempelajarinya. Memang banyak sekali kejanggalan dari catatan keuangan perusahaan. Tapi kenapa belum ada klien yang komplain tentang proyek ini. Sepertinya berjalan dengan baik.


"Baik terimakasih, silahkan anda kembali ke ruang kerja." Andre pun pamit dari hadapan bosnya.


"Om bisakah ke kantor sebentar?" aku menelepon om Burhan melalui telepon kantor.


"Ada apa? apa ada masalah di kantor?"


"Iya, Om. Aku tidak berpikir jernih saat ini. Makanya aku minta bantuan Om."

__ADS_1


"Oke, om akan kesana. kamu pulang saja dulu. biar kita bahas di rumah saja."


"Baik, Om. Aku tunggu dirumah."


Setibanya di rumah, om Burhan sudah menunggu di ruang tengah. Salah satu asisten rumah tangga memberitahukan kalau om Burhan sudah lama sampai di rumah.


"Apa yang mau kamu bicarakan, Dewi?"


Aku menyerahkan berkas yang kuduga sebagai pengkhianatan Irul di perusahaan. Tampak Om Burhan membaca hasil berkas itu dengan seksama. Tak berapa lama dia menggelengkan kepalanya. Mungkin sebagai bentuk kekecewaan beliau pada Irul.


"Irul ternyata sangat pintar melakukan semua ini. Om juga tidak menyangka kalau dia tega memotong uang proyek perusahaan. Sebenarnya Om sedang menyelidiki hal ini sudah satu tahun ini. Om pikir, ini dugaan semata. Tapi ternyata ..." Om Burhan mengusap kasar wajahnya.


"Jadi aku harus bagaimana, Om?"


"Budi, coba kamu jelaskan apa yang kamu dapatkan dari penyelidikan kita."


"Tuan Khairul adalah keponakan dari perusahaan PT. Machine Warior. Perusahaan yang mendaur ulang barang-barang elektronik bekas. Dimana itu saingan kuat dari perusahaan PT Putra Nusa. Dimana perusahaan pernah kalah saing hingga hampir bangkrut."


"Ya Allah, Om. Jadi harus bagaimana?"


"Kamu tenang saja. Ini nanti biar om urus. Dan kamu harus pecat Irul. Agar dia tidak lagi leluasa masuk kantor.Om sudah siapkan pengganti Irul."


"Siapa?"


"Andre, om sudah perhatikan kinerja dia. Bagus, kerjanya rapi. Jadi tidak masalah kalau dia yang gantikan Irul."


Keesokan Harinya.


"Ini, apa, kak!" aku melemparkan hasil catatan keuangan proyek.


"Ini adalah hasil proyek kita Dewi. Banyak klien kita yang tiba-tiba berpindah ke perusahaan sebelah. Menurut mereka perusahaan sebelah lebih menjanjikan."


"Tapi kenapa kak Irul tidak bilang sejak awal. Kan kalau di bicarakan bisa di antipasi. Ini kalau sudah kejadian seperti ini. Kita yang rugi."


"Rugi? kamu bilang rugi? tidak ada yang rugi, Dewi. Kamu yang buat perusahaan rugi. Kamu yang belum bisa mengelola jabatanmu dengan baik."


"Kenapa saya yang dituduh? anda mau memutar balikkan fakta. Disini jelas-jelas uang perusahaan menurun. Bukankah ini pekerjaan anda?"


"Sekarang kamu saya pecat! silahkan tinggalkan ruangan ini!"

__ADS_1


"Oke! tapi kamu akan lihat bagaimana saya akan membalaskan semua ini! ingat itu, Dewi! bau kencur sudah berani mengatur senior!"


"Keluar!"


__ADS_2