SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 165


__ADS_3

"Assalamualaikum," suara bariton menyapa di depan pintu apartemen keponakannya. Pandangan berputar pada bel pintu serta monitor agar bisa melihat si pemilik rumah.


Tak lama si pemilik rumah membuka pintunya. Senyum ramah juga menyalami sang tamu sebagai rasa hormatnya.


"Kamu sudah pulang dari luar kota? bagaimana hasil rapatnya? ada hasil nggak. Pasti nggak ada kan? sudah beberapa kali saya bilang sama kamu. Ikut di perusahaan saja. Jangan pabrik, langsung buat perusahaan besar. Om akan modali, asal kamu mau ikuti permintaan Om." kata lelaki itu sambil duduk di sofa.


"Om mau minum apa?"


"Aku apa saja yang penting dingin. Otak masih panas, mana urusan kantor, belum lagi urusan rengekan Tante kamu yang lagi ngidam. Almarhumah Tante kamu nggak seribet ini, deh." lelaki muda itu hanya tersenyum kecil mendengar keluhan om nya.


"Setiap wanita hamil punya masa-masa ngidam yang berbeda-beda. Mungkin Tante dulu termasuk hamil nggak banyak ngidam atau mau, beda nya sekarang si Tante muda malah mengalami fase ngidam. Sebenarnya ngidam itu untuk melatih pria agar lebih peka ataupun tanggap dengan kondisi istrinya." jelas nya sambil memberikan satu botol air mineral.


"Dulu perasaan kamu suka koleksi minum bersoda, kenapa malah banyak air mineral? kamu mau diet? ngapain diet, tubuh kamu sudah ideal sebagai seorang lelaki."


"Sebentar, Om. Ini ada sopir saya menelepon" tangannya langsung berselancar di layar pipihnya. Tampak wajah seorang pemuda di layar tersebut. Adrian sebagai om seperti mengenali sosok lelaki di layar handphone keponakannya.


"Iya, Dawa."


"Maaf, Pak mengganggu. Apa yang harus saya kerjakan hari ini?"


"Oh iya saya ada janji dengan calon istri untuk fitting gaun. Bilang sama dia saya tunggu di butik sore ini."


"Baik, pak. Ada lagi?"


"Cukup itu saja." Panji pun menutup teleponnya.


Adrian dengan gaya formalnya meminta keponakannya duduk. Panji akhirnya menurut dan duduk di sebelah Om nya. Entah kenapa dia merasa ada feeling salah melihat sikap om nya.


"Kamu itu tampan dan juga mapan. Om tahu kalau selera kamu bukan main-main. seperti sekarang ini. Kamu menjalani sendiri tanpa diskusi sama kami keluarga besarmu.


Om mau tanya sejauh mana hubungan kamu sama Savira?" tanya Adrian pada Panji.


"Hubungan kamu Alhamdulillah baik dan lancar. Dia saat ini sedang menyelesaikannya materi terakhir sebelum mengajukan skripsi."


"Saya tahu itu, sebab dia mahasiswinya Randi. Saya kuah sudah banyak mengorek masa lalu keluarga Dewi Savitri."


"Kamu serius sama dia?" Panji mengangguk kecil.

__ADS_1


"Serius, Om."


"Kamu tahu usianya masih terbilang muda. Bahkan jauh dari misi kamu untuk mencari istri. Dia masih harus kejar cita-cita. Apalagi dia usianya masih 20 tahun kan."


"Saya akan menunggu dia sampai selesai."


"Kamu yakin dia mau langsung nikah kalau sudah tamat kuliah. Sedangkan kakaknya beberapa kali mengalami jatuh bangun mencari pasangan."


"Kok om tahu?"


"Hey, Panji. Mata dan telinga saya banyak. Jangankan tentang kakaknya tentang masa lalu Vira dan papanya saja saya tahu."


"Masa lalu?" Panji menelan salivanya. Jujur soal ini dia baru tahu.


"Kamu belum tahu? untung Om sudah bicara sekarang kalau tidak kamu sudah keduluan bertunangan dengan gadis itu. Eh gadis aku rasa kata gadis masih harus di pikirkan lagi." Adrian tertawa melihat ekspresi keponakannya.


"Dewi pernah mendatangi saya terkait hubungan kalian berdua. Dia menyogok Om dengan pertukaran saham agar kalian jadi menikah. Itu sama kalau Dewi menjual anaknya demi bisnis. Mertua macam itu yang mau kamu banggakan. Kalau kamu lebih sukses dia akan jadi benalu diantara kalian berdua"


"Saya kenal Tante Dewi, Om. Dia tidak mungkin seperti itu."


Adrian masih mencoba mematahkan keinginan keponakannya untuk melangkah serius dengan Savira. Tentu saja berbekal informasi yang sudah dia kumpulkan.


Adrian malah lebih tertarik bekerja sama dengan PT. RAJAWALI perusahaan di bidang pertelevisan. Perusahaan yang sejajar kaya dengan hari Tanoesoedibjo. Apalagi keluarga itu memiliki aset yang lebih besar. Dia pun menggadaikan nama sang keponakan demi kelangsungan bisnisnya.


"Sayangnya dia tidak punya anak laki-laki. Bisa aku sodorkan untuk Mia." batin Adrian.


"Panji, ..."


"Kalau boleh tahu sopir kamu itu mantan direktur Global Machine, bukan? kenapa dia jadi sopir kamu?"


"Dia minta kerja sama aku. Awalnya aku bingung kasih lowongan dia apa. Tapi dia bilang mau jadi sopir aku. Mau antar aku kemana pun pergi, ya aku nggak bisa nolak. Sekedar untuk bantu dia. Sampai dia dapat pekerjaan yang sepadan dengan pendidikannya,Sarjana Tehnik elektro."


"Om aku mau nanya, apa yang om tahu tentang rahasia Vira dan papanya."


Adrian menyunggingkan senyum penuh arti. Dia kira Panji tidak akan tertarik soal itu. Tapi sepertinya ini akan membuat Panji membatalkan hubungan mereka. Serta mau ikut dengan gadis pilihan dirinya. Yang menurutnya bibit bebet bobot lebih terjamin.


"Benar kamu mau tahu?" Adrian lalu membisikkan sesuatu di indera pendengaran Panji. Tak lama wajah Panji berubah seketika. Entah apa yang di katakan Adrian.

__ADS_1


...*****...


Vira berdiri di depan gerbang kampus. Lagi-lagi kali ini kakaknya tidak bisa menjemput. Vira pasrah jika harus kembali memesan grab.


"Sayang, nanti sopirku yang jemput kamu. Aku tunggu di butik." Vira memajukan bibirnya beberapa centimeter.


Dia kesal karena diminta menyusul ke butik. Harusnya kalau memang mereka mau fitting bersama bukannya lebih bagus di jemput. Vira masih bingung sejak kapan kekasihnya punya sopir.


Kakinya sedikit memundurkan langkah, tampak beberapa mahasiswa yang senasib dengannya menunggu redanya hujan.


"Vira, kamu belum pulang?" suara bariton itu terdengar dari belakang punggungnya.


"Eh, pak Randi. Belum, tadi kakakku katanya mau jemput. Eh sekarang dia bilang tidak bisa datang. Katanya kak Tina alias istrinya minta di cariin kecombrang"


"Kecombrang? buat masak?" tebak Randi.


"Ya kali, nggak tahu Juga. Kayaknya kak Tina ngidam. Kalau enggak, mana mungkin kakakku kayak urgen banget. By the way, pak Randi kok belum pulang?"


"Saya barusan memeriksa tugas mahasiswa, mendadak kepala nyut-nyutan. Saya jeda dulu untuk menghirup udara segar. Makanya pas ngeliat kamu disini saya samperin, calon kakak ipar." Randi sambil menyengir.


Vira merasa malu saat Randi menyebutnya kakak ipar. Rasanya nano-nano ketika lelaki lebih tua darinya malah akan jadi adik iparnya.


Obrolan mereka pun terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan mereka. Vira mengenali mobil itu milik Panji.


"Aku pergi dulu, ya." Randi mencoba undur diri. Dia tahu pasti mereka butuh waktu berdua. Vira hanya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam mobil. Saking senangnya dia langsung mencerocos tanpa tahu siapa yang membawa mobil.


"Kak Panji katanya suruh aku susul ke butik, gila aja sih, aku ini cewek masa nyamperin cowok, harusnya sebagai calon suami yang baik itu cowok yang menyusul. Emang kakak mau kalau aku di culik? ya emang aku banyak makannya, tapi aku kan ngegemesin. Dulu ada kakak ku yang namanya..." Vira menoleh ke samping. Matanya membulat saat tahu siapa yang bawa mobil kekasihnya.


"Aku nggak salah masuk kan?" batin Vira.


"Kakak yang mana?" suara itu langsung membungkam Vira.


"Nggak lupakan," Vira memilih keluar dari mobil. Tangannya di tahan oleh Pandawa, sopir baru Panji.


"Aku di tugaskan sama kak Panji buat jemput kamu untuk antar ke butik. Jadi kamu nggak usah sok ngelak, Sapi."


"Sapi ... Sapi aku bukan ..." Dawa memasang belt savety Vira. Gadis itu hanya menelan salivanya. Aroma tubuh yang di rasa tidak asing dalam indera penciumannya.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang kalau ada kakak yang namanya Danu kan? kakak yang selalu bilang sama kamu kalau kamu itu ngegemesin, sejak kecil saat kamu taman kanak-kanak. Aku selalu bilang cuma kamu yang paling ngegemesin."


"Jalan, kak. Kak Panji pasti sudah menunggu." Vira melemparkan pandangan ke arah luar.


__ADS_2