
"Jadi ada pabrik baru yang mau buka di sini?" tanya Dira pada suaminya.
"Iya, sayang. Jadi aku dapat informasi ada beberapa oknum yang merayu warga sini untuk kerja dengan mereka. Menjanjikan gaji yang besar pada mereka. Menurut info yang aku dapat, ada 50 orang yang sudah datang kesana daftar kerja. Dan sebagian dari mereka adalah pekerja di pabrik kita."
"Kalau gitu kamu harus berusaha keras mencari pegawai baru lagi. Dengan peraturan yang bikin mereka tertarik untuk bertahan bersama kita. Kamu masih ingat kan paket kerja program Putra Nusa dulu."
Juna berpikir sejenak. Dia sedikit lupa dengan program itu. Mungkin karena sudah lama tidak berkecimpung di sana lagi.
"Ingat nggak,Mas?" Juna menggeleng. Dia benar-benar tidak ingat dengan program itu.
"Laptop kamu yang dulu, Mana?" tanya Dira.
Satu tahun yang lalu, saat mereka baru menikah. Juna masih sering membawa laptop yang sering dia pakai waktu kerja di Putra Nusa. Dira masih ingat saat ada beberapa file bekas pekerjaan Arjuna yang harus dia selesaikan. Juna selalu meminta memakai laptopnya. Dan sampai sebelum Juna kecelakaan, laptop itu masih di pakai suaminya.
"Kayaknya dia ikut kecelakaan. Aku ingat saat mama mengizinkan untuk pulang menengok papa yang sedang kritis. Aku bawa laptopnya karena di dalam ada file kerjasama dengan klien. Termasuk program yang dulu."
"Yah, jadi gimana ya? Mas aku mau nanya apa kamu membahas ini karena merasa tersaingi?" Tanya Dira.
Juna bukan merasa tersaingi. Kalau memang warga sekitar mau masuk ke pabrik lain tidak masalah. Kalaupun pihak pabrik baru itu mau cari pekerja juga tidak masalah. Tapi bersainglah secara sehat. Jangan mendadak merekrut karyawan saat mereka masih kerja di PT. Bramantyo. Bukankah mereka bisa merekrut warga yang memang belum bekerja. Yang parahnya mereka sempat mengajak Tio dan Ayu untuk kerja disana. Padahal semua orang tahu kalau mereka adalah keluarga Bramantyo.
"Aku enggak merasa tersaingi, sayang. Tapi sedikit heran kenapa mereka mendatangi karyawan yang masih kerja dengan kita. Kenapa bukan yang masih menganggur? dan parahnya mereka juga menawarkan pada Tio dan Ayu. Apalagi Ayu kemarin sempat ngotot mau tinggal disana. Karena ada temannya yang namanya Ambar."
"Apa, Mas? Ambar?"
"Iya, kamu tahu. Kata Ayu dia sekampus sama kamu."
Dira tentu mengenal Ambar. Teman sekampusnya sekaligus antek-antek Tania. Apalagi dulu Tania di kenal nyinyir dan sedikit memiliki teman. Dira ingat bagaimana Tania dan Ambar menyebarkan berita tentang dirinya yang pacaran sama Wawan. Di mana katanya Ambar adalah saudara jauhnya Wawan.
"Ambar itu temannya Tania. Dulu mereka dekat sekali. Dimana ada Tania disitu ada Ambar. Dan mereka juga di kenal dengan hal yang negatif. Suka membully orang. Salah satunya waktu aku bermasalah karena hubungan dengan Wawan. Mas ingatkan saat aku sempat minta cuti sampai mama heboh banget."
"Maksudnya mereka rada berbahaya gitu?"
"Itu yang aku ingat waktu kuliah, Mas. Nggak tahu kalau sekarang Ambar masih begitu apa tidak. Tapi kalau dilihat dari kasus ini, aku yakin Ambar masih sama seperti yang dulu. Mas, aku harus bilang sama Ayu supaya hati-hati sama Ambar." Dira meninggalkan teras menuju rumah mertuanya. Dimana Ayu tinggal disana.
"Dira," sapa mama Salma yang sedang mengasuh cucunya.
"Ma, Ayu ada?"
"Ayu? kayaknya tadi di jemput temannya. Yang namanya Ambar. Kenapa Dira?"
__ADS_1
Dira tidak mungkin cerita soal Ambar pada mama mertuanya. Yang ada akan jadi beban pikiran. Di masa tua, harusnya mama Salma menikmati dengan tenang.
"Nggak apa-apa, Ma." Dira pun menyapa keponakannya. "Halo adek cantik sudah mandi belum?"
"Sudah, Bude." Mama Salma menirukan suara seperti anak kecil.
"ueee ... ueeeee ..." Salsa berceloteh menurut bahasanya.
"Wah, anak bude bisa bicara. Aku gemes lihatnya. Aku boleh nggak, Ma ajak Salsa ke rumah. Mama ikut juga."
"Wah, Salsa mau ikut sama bude?"
"ueeee ... ueeeee ... " Salsa membentang tangannya supaya pindah ke Dira.
****
Jakarta, 19 Maret 2023.
Mobil melaju meninggalkan butik, Dawa meletakkan Vira yang masih pingsan di kursi samping sopir. Tatapan penuh kecemasan melihat gadis yang di cintai nya merasa terpuruk.
Dawa sedikit heran dengan keputusan Panji yang mendadak. Apakah ini cuma sekedar batal kostum saja. Atau ada hal yang lain. Dawa masih belum paham semua ini.
"Ra, jangan seperti ini? aku yakin Panji nggak seperti itu? aku yakin kalau Panji mungkin sudah punya persiapan selain yang tadi.
Tolong sadar, Sapi. Adek kak Danu yang ngegemesin"
Tiba-tiba tangan Vira membalas genggaman tangan Dawa. Genggaman yang begitu erat. Genggaman seakan ada rasa takut dalam dirinya. Untungnya mobil belum berjalan.
"Kakak .. kakak ... ini aku kasih gelang buat kakak. Aku nggak punya oleh-oleh buat Kakak.
Kakak ... kakak kenapa tidak pernah datang lagi... katanya kalau ada libur mau kesini ...
Kakak jahat... kakak jahat! aku benci kakak!"
Dawa tertegun mendengar igauan Vira. Dia paham kakak yang dimaksud adalah dirinya. Dia paham kalau sebenarnya Vira pasti sangat merindukan dirinya.
"Sapi," Dawa berbicara dengan bergetar. " Kakak disini, kakak tidak pernah ingkar janji, hanya saja kakak tidak pernah tahu kamu tinggal dimana. Kakak tidak pernah tahu keberadaan kamu. Kakak sudah berusaha mencari kamu. Om Irul dan kak Padma yang mengirim surat-surat kakak buat kamu.
Kakak datang saat kamu sampai kelas 3 SD. Hanya saja kakak tidak pernah dapat kesempatan buat lihat kamu."
__ADS_1
Dawa sedikit kaget saat mobil di belakangnya mulai mengklakson. Itu tandanya mobil harus kembali melaju.
Akhirnya mobil memasuki perumahan Griya Samara. Lokasi butik yang hanya bisa menempuh tidak sampai 30 menit. Hanya berselang dengan pemberhentian di lampu merah dan sekarang mereka hampir sampai.
"Ya Allah, Non Dira kenapa?" Bi Inah kaget saat Dawa datang membopong tubuh Vira yang sedang pingsan.
"Bi, kamar Vira dimana?" tanya Dawa.
"Sini, Den." Bi Inah menuntun serta menemani Dawa meletakkan gadis itu ke pembaringan.
"Non Vira kenapa, Den?" tanya Bi Inah.
Dawa menceritakan soal Vira yang pingsan di butik. Bi Inah menanyakan apa sebab anak majikannya bisa pingsan. Dawa mengatakan kalau Panji membatalkan bookingan baju pertunangan.
"Saya sopirnya Panji, tadi saya di minta menjemput Vira. Eh maaf non Vira maksud saya. Katanya mau fitting baju pertunangan. Jadi saya antar, jadi pas di sana ternyata pak Panji membatalkan pesanannya." jelas Dawa.
"Cuma batal pesanan sampai pingsan begini? kan bisa jadi calonnya non Vira punya pesanan di tempat lain." suara seorang gadis ikut menimbrung pembicaraan mereka.
"Uti, kamu ngapain sih nimbrung pembicaraan orang lain." kata Bi Inah yang merasa anaknya agak lancang.
"Maaf, Bu. Saya lancang. Saya cuma heran, cuma masalah seperti sampai pingsan segala. Kak Naura saja dulu nggak sampai pingsan pas kak Sandi kabur di pernikahan mereka. Hanya yang drop malah orangtuanya." cerita Uti.
"Maaf, Ya, Den. Anak saya memang seperti ini. Dia memang ceplas-ceplos."
"Nggak apa-apa, Bi." Langkah kaki Dawa terhenti melihat photo kecil Vira yang terpajang di nakas kamar.
"Jadi benar feeling aku kalau kamu adalah sapi. Maafkan ketidakpekaanku selama ini."
Dawa tidak melihat Bi Inah dan Uti di kamar Vira. Dia pun akhirnya memilih meninggalkan kamar Vira. Suasana rumah tampak lenggang.
"Kamu bukannya yang dulu pernah jenguk Dira?" sapa Tina saat melihat Dawa keluar dari kamar Vira.
"Apa yang anda lakukan di kamar adik saya?" Tina kembali melayangkan pertanyaannya.
"Saya Pandawa. Saya sopir pribadi Panji. Saya diamanatkan mengantarkan Vira untuk fitting baju pertunangan mereka. Tapi Panji tidak datang dan membatalkan pesanannya. Aku rasa Vira syok makanya pingsan.
Maaf mbak Tina, saya pamit. Tugas saya sudah selesai mengantarkan Vira pulang."
Dawa pun berjalan meninggalkan kediaman Dewi Savitri. Kakinya menuruni tangga, lama dia terdiam. Berpapasan dengan mobil Dewi yang memasuki gerbang rumah.
__ADS_1
Dawa berdiri di depan mobil. Menyapa sang pemilik rumah bersama anak lelakinya keluar dari mobil. Tatapan kebencian tersirat dari wanita paruh baya itu.