
"Bagaimana, yu? kamu jadi kan satu kompleks sama kami?" tanya Ambar teman satu arisan yang Ayu ikuti.
"Aku bicarakan sama mas Tio dulu. Dia sudah siapkan rumah tidak jauh dari rumah mama” jawab Ayu.
"Hey, kamu itu sudah dewasa, sudah punya anak. Masa masih ngintil sama mama kamu. Ya aku tahu kalau kamu tidak bisa meninggalkan orangtuamu. Tapi bukannya ada Arjuna, ada istrinya juga kan. Apa jangan-jangan istrinya keberatan mengurus mama kamu."
Ayu hanya tersenyum kecut mendengar ucapan temannya itu. Dia juga ingin punya kehidupan sendiri. Rumah sendiri tanpa dianggap menumpang dengan orangtua. Dia juga tidak tega melihat Tio di rundung rasa minder terus menerus.
"Enggak, kok. Bar. Kamu kayak nggak tahu sama Dira saja. Bukannya kita satu kampus sama Dira. Dia bukan tipe orang yang semau gue." bela Ayu.
"Yah, aku juga tahu Dira seperti itu. Tentu dia tidak akan keberatan kalau mengurus mama kamu. Lalu apa yang kamu takutkan. Biasanya orangtua itu tugas untuk anak pertama, Yu.
Kamu lihat ibuku sekarang tinggal sama siapa, sama abangku, Yu. Anak laki-laki itu sudah kewajiban mengurus orangtuanya. Makanya kalau aku nanti punya anak, aku harus dapat anak laki-laki. Karena kalau anakku perempuannya pasti nanti harus ikut dan nurut sama suami. Seperti yang aku lakukan saat ini." Cerita Ambar.
"Emang suami kamu meminta anak laki-laki? kamu bicara seperti itu seperti menyalahi kodrat Tuhan. Terimalah apa yang di kasih Tuhan, Ambar." Ayu kesal mendengar ucapan temannya.
"Harusnya kamu bersyukur dong, Yu. Tidak di libatkan mengurus mama kamu. Kamu bisa fokus sama anak dan suami. Ya cuma kamu harus pisah tempat tinggal. Mandiri seperti aku." Ambar lagi-lagi memanasi Ayu.
Lama Ayu mencerna ucapan Ambar. Ada benarnya kata temannya. Kenapa dia takut soal mengurus mamanya. Ada Juna yang selalu siaga untuk keluarganya. Tanpa dia bahas pun kakaknya akan tetap menomorsatukan keluarganya.
Setiap anak laki-laki memiliki kadar tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan, ketika sudah dewasa. Seorang laki-laki dikatakan demikian karena memang ia merupakan pemimpin bagi kaum perempuan. Hal itu menyebabkan beban moral yang menjadi tanggungan laki-laki ini jauh lebih besar.
Sedangkan anak perempuan lebih berkiblat ke suaminya setelah menikah. Jika anak perempuan setelah menikah maka ketaatan dan bakti tertingginya ada pada suaminya, maka bagi anak laki-laki posisi itu tetap ada pada orang tuanya.
Sejak kecil Ayu sudah terbiasa dengan sikap kakaknya yang mengayomi. Walaupun dia sering ribut sama papanya akibat pemikiran yang bertolak belakang. Tapi Juna selalu terdepan membelanya. Papanya selalu mendikte kakaknya harus belajar menjadi pemimpin sejak dini. Maka itu dia tidak kaget kalau papanya terlalu mengandalkan Arjuna.
Ayu akhirnya pamit pada Ambar, teman kuliahnya yang ikut suaminya kerja di Lembang. Suami Ambar adalah anak dari pengusaha terkenal. Yang punya pabrik teh "SARIMELATI". Ayu senang ada teman kuliahnya yang tinggal di Lembang, disamping ada Dira teman kecilnya. Namun Ayu merasa frekuensi Dira untuk berbaur dengan orang lain masih sangat kecil. Dimatanya Dira terlalu disibukkan dengan rutinitas rumah tangga.
Dia juga ibu rumah tangga, seorang istri dan juga seorang ibu. Tapi baginya semua harus seimbang, antara rutinitas dengan memanjakan diri sendiri.
Ayu baru saja sampai di depan rumah mamanya. Dia langsung berjalan memasuki kamar. Teringat sang putri pasti rewel karena lama di tinggalkan. Tapi ternyata ekspetasinya salah. Dia melihat putrinya tampak riang bermain dengan neneknya.
"Ayo, Cung. Ambil mainannya" kata mama Salma.
__ADS_1
Kaki Salsa menggeser dari sisi kanan. Tapi kali kirinya di biarkan terseret. Ayu hanya tersenyum kecil lalu masuk ke kamar. Dia tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Ayu mencoba menelepon Tio, tapi tidak diangkat. "Mungkin sedang di jalan." kata Ayu.
Ayu langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ucapan demi ucapan dari Ambar terus menari di pikirannya. Dia sudah lama ingin tinggal mandiri. Hidup bahagia tanpa campur tangan orang tau ataupun mertua.
"Mertua dan orangtua setelah anaknya menikah jangan campur rumah tangganya anak, gak usah campurin, biarin mereka hidup dengan suka dukanya, Kalau mereka datang minta pendapat baru kita kasih saran.
Ada ibu-ibu masuk dapur anaknya, periksa, kenapa gelasmu begini, kenapa begini, terus dimarahi anak mantunya, kenapa begini, ini ngacauin semua.
Kita berkunjung ke rumah tangga anak jangan tanggapin apapun, mau piringnnya kurang kah, mau gelasnya dihidangkan retakkah, biarin gak usah dicampurin. Rumah tangganya anak sudah biarin, kalau dia bahagia biarin dia bahagia, sudah begitu hidupnya"
Ayu teringat ceramah yang dia dengar dari mesjid dekat rumah Ambar tadi. Jahatkah dia pada mamanya. Entahlah biarlah orang yang menilai. Saat ini dia percaya hidupnya akan baik-baik saja setelah pindah nanti.
Ting!
Dari kak Juna: Yu, nanti habis Magrib kamu dan Tio, Kakak tunggu di rumah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.
Ayu: Soal?
Ayu: Sekarang saja, bagaimana?
Juna: Bukannya suamimu sedang ke Gegerkalong? tunggu dia saja dulu. ini penting."
Ayu:Oke.
Ayu dan Arjuna pun menutup komunikasi mereka. Lagi-lagi dia mencoba memejamkan matanya.
...*****...
Vira berdiri di gedung tak jauh dari gerbang kampus. Hujan yang tadinya mengecil kini semakin lebat. Baru saja kakaknya tidak jadi menjemputnya. Belum lagi Panji yang katanya sedang di luar kota. Membuat dirinya hanya memajukan bibirnya. Udara yang semakin dingin, di tambah angin yang kencang. Vira melihat Elsa di jemput sama bodyguard papanya. Akhir-akhir ini dia selalu melihat Elsa antar jemput oleh bodyguard Irwan Chandra. Padahal sebelumnya, Elsa selalu diantar jemput oleh Pandawa. Dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa dalam hubungan sahabatnya. Apa karena Dawa bukan lagi seorang direktur.
"Dulu dia suka sekali bilang jangan memandang orang dari luarnya. Tapi sekarang nyatanya apa? jadi simalakama buat kamu, Elsa." gerutu Vira.
"Vira!" suara bariton menyembulkan kepalanya di balik kaca mobil.
__ADS_1
"Kak Dawa?"
"Kamu ngapain sendiri hujan-hujan begini?"
"Nggak apa-apa. Aku lagi menunggu grab jemputan" Vira berusaha membuang mukanya. Dia tak berani menatap wajah lelaki itu.
"Tidak ada yang jemput? kak Panji tidak jemput kamu?"
"Kak Feri tidak bisa jemput. Kak Panji sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi aku ngandelin grab saja."
"Kak Dawa kok keluar. Hujan, Lo." Vira kaget saat lelaki itu menerobos hujan guna menjemput dirinya.
"Elsa sudah pulang duluan lagi, ya?" Vira menggangguk kecil. Ada rasa kasihan pada lelaki itu. Dimana sudah beberapa kali Dawa menjemput Elsa selalu keduluan sama bodyguardnya.
"Tadinya aku mau kasih surprise sama dia. Eh kecolongan lagi" Dawa tertawa kesannya di paksakan.
"Ra, apa kamu mencintai Panji?" Vira menegakkan kepalanya. Pertanyaan yang mengejutkan keluar dari mulut Pandawa.
"Tentu aku sangat mencintainya. Dia lelaki terbaik dari yang pernah aku temui" jawab Vira mantap.
"Aku disini, Ra. Orang yang sedang bicara sama kamu ada di samping bukan di depan." Dawa menarik wajah Vira. Keduanya lalu kembali memberi jarak berdiri agar tidak berdekatan.
"Kak Dawa aku boleh tanya sesuatu?"
"Silahkan"
"Elsa cerita soal kak Dawa punya masa kecil bersamanya. Apa yang ingin kakak lakukan setelah bertemu dengan Elsa?"
Dawa menunduk menatap lantai beralas semen. Entah sejak beberapa bulan dekat dengan Elsa, dia tidak menemukan ada sosok sapi dalam diri gadis itu. Apa yang di sukai gadis itu malah berbanding terbalik dengan kesukaan sapi. Lama dia menatap kearah gadis di sampingnya.
"Ra, jika dia yang sudah lama mencarimu datang memenuhi janjinya. Apa yang kamu lakukan?" Dawa menarik tangan Vira yang memakai gelang yang sama seperti yang sekarang dia pakai.
"Bahkan dia masih memakai gelang favoritnya."
__ADS_1