SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 81


__ADS_3

Mobil berhenti di area pemakaman. Seorang lelaki turun membawa sebuket bunga. Bukan untuk di persembahkan pada gadis cantik tapi pada sosok yang membuatnya bertahan hidup. Derap langkah kaki tegap memecahkan keheningan di area pemakaman.


Tiba di depan batu nisan berwarna hitam. Lelaki itu jongkok merapikan rumput-rumput diatas makam. Tangan sebelahnya mengelus batu nisan bertuliskan "Padmawati Anggraini". Lelaki itu berdoa membaca alfatihah. Berharap sang kakak tenang di sana.


"Assalamualaikum, kak. Apa kabar? maaf aku baru bisa nengok kakak sekarang. Begitu banyak kesibukan saat ini. Tapi kakak tenang saja. Aku tidak akan melupakan kakak. Tidak akan melupakan janji untuk menuntaskan dendam pada Andre. Orang yang membuat kakak seperti ini."


Dawa masih duduk di pusara makam. Ada rasa penyesalan saat kakaknya meninggal dia sedang ikut studi banding di kampusnya. Hanya dia mendapat kabar dari pak Irul, lelaki yang dianggapnya seperti orangtua sendiri. Ketika Dawa sampai kakaknya sudah dimakamkan.


Lamunan Dawa buyar saat handphonenya bergetar. Sebuah nama tertera di layar pipih dalam genggamannya. Dengan cepat dia mengangkat telepon tersebut.


"Iya, ada apa, Baron?"


"Kamu dimana?"


"Di pemakaman kakak gue, udah lama nggak ziarah. Ada apa?"


"Aku lagi di cafe nih. Mau ngumpul nggak ada Adit, ada Joshua, ada .... Karen, mantan kamu."


Dawa mengangkat alisnya. "Ngapain kalian ajak dia?"


"Kami nggak ajak dia. Tapi ketemu di cafe ini. Jadi dia nimbrung sendiri."


"Yasudah, aku nggak jadi ikut kalau ada dia. Malas!" Dawa menutup teleponnya.


Dawa berjalan meninggalkan area pemakaman. Pikirannya beralih pada gelang kecil yang bertengger di gantung kunci mobil. Senyumnya mengembang mengingat sosok gadis kecil yang dulu sering dibawa kakaknya ke rumah. Gadis kecil yang katanya anak bos kakaknya.


"Sapi kamu apa kabar? pasti kamu sudah besar dan menjadi gadis cantik." ucapnya dalam hati.


Saat itu usia gadis kecil itu masih lima tahun. Gadis kecil yang selalu diajak sang kakak kalau weekend. Dawa tidak pernah tahu dimana kakaknya kerja. Dia hanya tahu di rumah semua selalu ada. Kalau kakaknya sibuk pasti kakaknya yang lain menemaninya.


"Kakak nggak bawa sapi?" tanya dawa yang saat itu masih SMP.


"Kakak nggak kerja lagi di kantor mamanya sapi. Sekarang kakak kerja di kantor yang baru." ucap sang kakak saat itu.


"Tapi terakhir kakak ketemu, dia nggak mau lagi kakak ajak. Katanya kamu sering ganggu dia. Kalau kamu mau ketemu dia, datang saja ke TK nya. Tapi jangan kerumahnya. Eh, kamu nggak tahu rumahnya kan?" Dawa muda menggeleng.


"Kenapa kak?"


"Karena kakak sudah nggak kerja sama mereka. Kamu sayang sama dia?"


"Anaknya ngegemesin, kak." ucap Dawa.


"Emang sih, karena cuma dia yang masih kecil, kakak-kakaknya sudah pada ABG semua."


"Oh, begitu."

__ADS_1


Keesokan harinya, Dawa pun datang ke sekolah taman kanak-kanak. Dimana gadis kecil itu bersekolah. Suasana taman kanak-kanak sangat ramai oleh beberapa orangtua yang menjemput anaknya.


Sepasang kaki mungil berlari saat seorang lelaki berseragam putih biru berdiri di depan gerbang.


"Kak Danu!" pekikan riang seorang gadis kecil disambut bentangan tangan. Seketika tubuh kecil itu berada dalam kungkungannya.


"Adik kecil kakak." Dawa mencubit pipi gadis kecilnya.


"Maaf, kak. Aku nggak main ke tempat kakak lagi." netra gadis kecil beralih pada lelaki dewasa tak jauh dari dirinya.


"Kakak, aku sudah di jemput sama papa. Aku pulang dulu, ya." Dawa hanya mengangguk kecil. Merelakan adik kecil di bawa oleh papanya.


"Aaaah!" Dawa terbangun.


Sesekali dia melihat kanan kiri. Ternyata dia masih di area pemakaman. Langit mulai gelap. Dawa pun segera melajukan mobilnya.


Dawa menghentikan mobilnya di sebuah rumah kosong. Rumah yang memiliki banyak kenangan semasa kecilnya hingga remaja. Rumah yang masih berdiri kok tanpa rusak sedikit pun. Dawa turun dari mobil memasuki rumah yang sebagian pagarnya sudah di tutup deng besi seng. Tangisannya pecah melihat isi rumah masih lengkap.


*


*


*


*


Angin diibaratkan sebagai ujian yang mampu menggoncang kehidupan manusia. Manusia yang hatinya kokoh dan kuat tidak akan mudah tertiup dengan segala ujian yang ada. Justru manusia yang rapuh akan mudah goyah menghadapi ujiannya.


Tina memandang gaun pengantin yang akan dikenakannya minggu depan. Gaun yang kata calon suaminya pernah di pakai mendiang Meyra. Gaun yang kata calon mertuanya adalah gaun pengantin saat mama Dewi masih muda. Lama Tina memandang gaun itu. Ada rasa sesak di dada.


"Mey, sebentar lagi kakak akan menikah dengan Feri, suamimu. Kakak tidak menyangka kalau akhirnya berlabuh ke hati Feri. Kakak juga minta maaf saat kamu menikah dan kamu meninggal dunia tidak melihatmu.


Kakak janji akan menjadi istri yang baik untuk Feri. Walaupun kakak tahu akan susah menggeser status kamu sebagai istri pertama."


Tok tok ...


Tina mendengar ada pintu rumahnya di ketuk. Tubuhnya yang kecil pergi menuju ruang depan.


Suara decitan pintu berbarengan dengan sosok cantik berdiri di depannya. Tina tak menyangka sosok itu mendatangi dirinya.


"Kak Mayka." seru Tina.


"Na," Mayka langsung menghambur ke pelukan adik sepupunya. Suara susutan hidung membuat Tina sedikit kaget. Apakah kakaknya sudah menerima semua ini.


"Kak, Tina.."

__ADS_1


"Maafkan, kakak, Na. Kakak selama ini egois karena cuma mikirin diri sendiri. Selama ini kakak selalu kalah sama Meyra. Setiap apa yang kakak suka selalu Mey yang dapat. Kakak juga merasakan kalau mama dan papa selalu mengutamakan Mey.


Alasan mereka cuma satu. Karena Mey fisiknya lemah, dia punya bawaan jantung dari kecil."


"Kak, aku tidak pernah marah sama kak Mayka. Aku malah berharap kita berkumpul saat pernikahan kami nanti. Aku juga minta maaf karena sudah merebut Feri dari kakak."


"Enggak, Na. Tidak ada yang merebut dan direbut. Kakak yang salah karena memaksakan hati yang tidak memilih. Kakak sadar segala sesuatu tidak harus kita wujudkan." kata Mayka.


Tina senang kalau Mayka sudah menerima pernikahan dirinya dan Feri. Tinggal meminta restu dari pakdenya. Tina berharap tidak ada kendala lagi.


"Ya Allah, kakak masuk dulu. Sampai lupa ajak kakak kedalam."


"Iya, juga ya. Kata orang tua zaman dulu, tidak bagus berdiri di depan pintu."


"Kenapa, kak?"


"Katanya jauh jodoh."


Tina meminta Mayka untuk duduk di ruang dekat dapur. Mayka pun berputar mengelilingi setiap sudut ruangan.


"Na, kakak lupa tadi ada janji sama teman. Maaf, ya, Na. Nggak bisa lama." suara panggilan Mayka terdengar sampai ke dapur.


"Kak, minum dulu." Tina mengejar Mayka yang sudah keburu keluar rumah.


"Nggak keburu. Maaf, ya, Na kan kita bisa ketemu di pernikahan kamu nanti."


Tina tidak bisa memaksa dia pun menatap punggung Mayka dari kejauhan.


*


*


*


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


terimakasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan mampir ke karya saya.


Semoga kalian di limpahkan kesehatan dan rejeki yang berlimpah.


Saya mau nanya, kalian mau kisah Vira di sambung di sini atau buku baru. Soalnya aku puyeng sudah bab 80 tapi pendapatannya malah menurun.


Takut kalian makin bosan kalau sudah panjang.


__ADS_1


__ADS_2