SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 67


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Seorang wanita usia 50-an berdiri di teras rumahnya. Tampak aneka macam tanaman yang menanti asupan dari wanita itu. Sekarang dia berdiri di depan tanaman tersebut sambil menenteng selang.


Bersama Mak Wiwit yang sering membantunya di rumah. Sejak Johan meninggal dunia, Salma mengajak Mak Wiwit tinggal bersamanya.


Mak Wiwit adalah janda beranak satu. Usianya tak jauh dari Salma. Anak Mak Wiwit sudah menikah dan ikut suaminya. Suami Mak Wiwit sudah meninggal saat anaknya masih SMP. Sejak Johan membuka pabrik di Lembang, Mak Wiwit sudah bekerja di kediaman Johan sebagai asisten rumah tangga. Hanya sampai jam lima sore jam kerja Mak Wiwit.


"Wit,"


"Iya, bu."


"Itu bunga kertasnya kalau ada yang layu di potong saja. Biar kelihatan cantik." Salma mematikan keran air.


"Iya, Bu." Mak Wiwit pun mengerjakan apa yang di perintahkan majikannya.


"Alhamdulillah ya, Wit. Sebentar lagi Juna akan berkumpul dengan kita lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu akan tiba."


"Iya, bu. Alhamdulillah den Juna bisa berkumpul dengan keluarga. Saya senang kalau den Juna ternyata masih hidup."


"Wit, aku rasanya ingin masak gudeg kesukaan Juna. coba cek di dapur, apakah ada bahannya."


"Emang den Juna mau pulang sekarang?"


"Belum ada kabar dari mereka kapan akan pulang ke sini. Katanya setelah acara pernikahan dia akan pulang."


"Pernikahan, ma?" Ayu langsung menyahut mendengar kata pernikahan.


"Maksud apa, ma? apa kak Juna akan menikah lagi dengan perempuan disana?"


"Mama tidak tahu, Yu. Mama hanya mendengar kabar itu dari Awan, lelaki yang mengabari mama tentang keberadaan Arjuna."


"Ya Allah, bagaimana aku bisa menjelaskan pada Dira soal ini. Kematian kak Juna saja sudah membuat Dira down. Apalagi ini?" Ayu masih menata mentalnya.


"Yu, semoga tidak seperti yang kita pikirkan ya, nak. Kamu tahu perjuangan Dira dan Juna tidak mudah. Kamu tidak lupa kan, bagaimana kakakmu memperjuangkan Dira sampai harus di usir dari rumah. Mama percaya kakakmu tidak seperti itu."


"Iya, ma. Aku tidak muka lagi pada Dira kalau benar kak Juna punya istri lagi."


"Ma, beberapa hari yang lalu Dira menelepon kalau kamis besok kita diminta ke Jakarta. Pengajian menjelang pernikahan kak Feri. Kita akan berangkat kesana lusa."

__ADS_1


"Mama nggak ikut, nak. Nanti siapa tahu kakakmu pulang kita nggak ada di rumah."


"Iya juga, ya. Lagian kak Juna kenapa dia tidak mengabari kita kapan mau pulang? kan kalau kayak gini jadi serba salah." gerutu ayu.


"Ibu pergi saja, kalau den Juna pulang kan ada saya."


"Saya rindu sama Juna, Wit. Makanya saya sudah tidak sabaran bertemu anak saya."


Saat orang tua jauh dari anak, tentu ada rasa rindu yang mendalam. Beragam cara dilakukan oleh orang tua untuk mengobati rindu dengan sang anak. Mengungkapkan rasa kangen kepada sang anak, tentu bisa membuat hati menjadi lebih tentram.


apalagi saat anak yang di nyatakan sudah meninggal ternyata masih hidup. Ada ungkapan rasa bahagia dan rasa syukur bagi Salma.


Bukan hanya Salma, Ayu pun merasa senang jika sang kakak akan kembali. Berkumpul dengan keluarga besarnya. Ibu dan anaknya tersebut membayangkan pertemuan itu. Momen itu sebentar lagi akan tiba.


Lantunan adzan ashar pun berkumandang. Baik Salma dan juga Wiwit pun meninggalkan pekerjaan mereka. Menghadap sang khalik untuk menunaikan kewajibannya.


*


*


*


"Sebentar lagi kita akan sampai di Lembang, kak." kata Awan yang membawa mobil sewaannya.


Juna mengira Dira pasti ada diantara keluarga besarnya. Dia mendengar dari Awan kalau Dira adalah istri sah dirinya. Sudah pasti dia menebak kalau istrinya tahu kedatangannya. Rasanya seperti mimpi kalau bisa pulang dan berkumpul keluarga besar.


"Ayah Juna menangis?" suara Jimmy membuyarkan lamunan Juna.


"Enggak, nak. Ayah Juna hanya kelilipan debu." kilah Juna.


" Ayah Juna terharu Jimmy, dia sudah tidak sabaran bertemu non Dira." sahut Awan.


"Ayah Juna dan Tante Dira temenan apa pacaran?" jawab Jimmy polos.


"Eh, kamu masih kecil sudah tahu sama pacaran?"


"Iya, kayak bibi Uti sama om Thomas. Kalau ketemu kayak malu-malu kucing."


"Benar itu, bu." kata Awan pada Bu Halimah yang duduk di belakang bersama Pak Rohim.

__ADS_1


"Ibu nggak tahu, Sandi. Lagian Uti nggak pernah di datangi laki-laki. Kalau iya Thomas suka sama Uti ibu nggak masalah. Kamu, Dodi, Thomas dan juga Inggar kan sudah sama-sama sejak kecil. Jadi sudah seperti anak sendiri."


"Bapak kurang setuju dengan Thomas. Anak kita bisa mendapatkan yang lebih baik dari Thomas. Bukan soal Thomas itu baik apa tidak. Tapi Uti masih panjang masa depannya."


"Pak, sepanjang aku tinggal dengan kalian, Uti nggak pernah bahas soal pasangan kok. Tapi kalau memang ada hubungan Uti dan Thomas nggak apa-apa."


"Ibu takut nanti malah kayak kejadian ..."


"Maafkan aku, Bu. Karena kelakuanku kalian jadi ikut menanggung malu." sahut Sandi.


Mobil sudah memasuki perkebunan teh di Lembang. Hamparan kebun teh yang indah dengan udara sejuk disekitar area perkebunan. Pemandangan asri dengan lingkungan bersih dan terjaga. Perkebunan teh memiliki keindahan alam yang sangat instagramable. Menawarkan destinasi wisata alam perkebunan teh dengan panorama indah.


Tempatnya cukup mudah dijangkau. Untuk mencapai lokasi disarankan menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor.


Hal tersebut untuk memudahkan penggunaan jalur dikarenakan kondisi jalan yang kurang bagus. Jalan yang dilalui berbatu dan jika musim hujan jalanan berlumpur dan juga licin.


"Kamu hapal tempatnya, Mas?" kata Naura.


"Aku pernah kesini empat tahun yang lalu. Tadinya berharap jalannya tidak berubah. Takutnya bingung karena itu sudah lama sekali. Tapi ternyata disini


tidak berubah. Itu pabrik punya paklik johan" Sandi menunjuk gedung besar tak jauh dari posisi mereka.


Juna langsung turun dari mobil. menghirup udara segar dari hamparan perkebunan teh. Kakinya melangkah memasuki area perkebunan.


"Aku pulaaaaaaang!" pekik nya.


"Dira aku pulang! aku merindukan kamu!" ucapnya dalam hati.


"Kak, kata Jaka non Dira ada di Jakarta." kata Sandi mendekati Juna.


"Jadi apa kita ke Jakarta saja?"


"Apa kakak tidak merindukan keluargamu?"


"Tentu saja aku merindukan mereka."


"Yasudah kita pulang ke rumah kak Juna, dulu." ajak Sandi.


Sebuah rumah bergaya peninggalan Belanda menjadi pemandangan selanjutnya. Kakinya berdiri di sebuah pagar yang hiasi tanaman rambatan. Air matanya menetes seakan ada Dejavu yang kembali menyapanya.

__ADS_1


Juna berjalan memasuki pekarangan tersebut. Dengan hati yang bergetar dia melangkah hingga berdiri di depan pintu. seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Suara wanita itu seakan memanggilnya.


"Maaaaamaaaaa!"


__ADS_2