SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 27


__ADS_3

POV DIRA


Aku membuka mata pelan-pelan. Silaunya cahaya entah dari lampu atau mungkin cahaya lain. Tapi kenapa masih berat mataku terbuka jelas. Kenapa aku merasakan seperti tak punya daya untuk bangkit.


Pelan-pelan cahaya itu menembus retinaku. Terlihat jelas kalau aku berada di ruangan yang bukan di kamarku. Entahlah, yang pasti sayup-sayup kudengar suara isakan wanita. Oh, mungkinkah mama. Bisa jadi. Karena mamalah yang selalu sigap buatku. Mama selalu terdepan saat kami anak-anaknya membutuhkannya.


Aku ingat saat kak Feri terpuruk karena kak Meyra meninggal bersama calon bayi mereka. Terlihat seperti orang patah hati yang mendalam. Kak Feri malah hampir satu bulan tidak pergi ke kantor dan mama- lah yang mengurusi sisa pekerjaannya. Mama pun membayar seorang psikiater karena kak Feri sampai tidak bisa mengurus dirinya sendiri.


Aku juga ingat saat Vira hampir di lecehkan papa. Meskipun awalnya dia tidak paham kalau papa mengajaknya tidur bersama. Vira yang masih kelas tiga SD hanya manut saja. Papa sempat minta Vira hanya memakai kaos dalam sama celana shot ( Boxer dalaman). Itu yang kami dapatkan dari keterangan Vira. Sebelum aksinya terjadi kak Feri yang tadinya minta tanda tangan papa untuk izin praktik kuliahnya malah mendapati papa meminta Vira buka bajunya. Saat itu Vira sedang melepas celana tidurnya.


Kejadian itu tentu mendapat amukan dari kak Feri dan juga opa Burhan. Aku ingat sekali saat pulang sekolah mendapati rumah seperti kapal pecah. Mama masih di kantor sementara Vira diamankan oleh Tante Salma (sekarang jadi mertuaku). Kak Feri masih kuliah entah semester berapa aku lupa. Sedangkan aku sudah SMA saat itu. Jarak usiaku dengan Vira adalah tujuh tahun. Saat Vira lahir aku sudah SD kelas satu.


Kembali ke masa sekarang. Aku membuka mata pelan-pelan, kulihat Vira masih tertidur disampingku. Kenapa harus Vira? kenapa bukan suamiku yang tidur di sampingku? kemana mas Juna? dan aku berada dimana?


"Kak Dira," lirihnya sambil menatapku dengan wajah sembab.


"Ra," aku masih sulit menggerakkan bibir.


"Kak, iya ini aku. Alhamdulillah akhirnya kakak sadar setelah tiga hari kakak tertidur." sahut Vira.


"Tiga hari? apa yang terjadi padaku?" ku edarkan pandangan.


"Mas Juna,"


Vira menatapku dengan senyumnya.


"Mama... Kak Feri ... kak Dira sudah sadar." pekik Vira di pintu depan kamar.


"Dira... Alhamdulillah, kamu sudah siuman,nak." aku hanya bisa mengangguk.


"Aku dimana, ma?"


"Kamu dirumah sakit, nak."


"Apa yang terjadi, ma?"


"Kamu jatuh di kamarmu. Bi Inah menemukanmu pingsan di depan lemari kamarmu."

__ADS_1


"Mas Juna mana?"


"Kamu tenang saja, Juna sedang istirahat kasihan dia kecapekan."


"Ma, kenapa tubuhku ringan sekali? apa yang terjadi dengan bayiku. Dia masih ada kan, ma?"


"Dira kamu yang kuat, ya. Kamu keguguran, nak."


"Ke...gu...guran..!" dadaku rasanya sesak sekali.


"Aku keguguran! nggak! nggak mungkin! Mama pasti salah dengar. Anakku pasti masih ada. Aku pasti masih sedang hamil kan,ma."


Aku meraung saat mendengar kabar itu. Anak yang kami jaga kini sudah tidak ada lagi. Saat ini aku hanya butuh suamiku, tapi dimana dia? masih sempatkah dia terpikir istirahat sementara aku disini membutuhkannya.


Nak, kenapa kamu pergi meninggalkan mama? sekarang tak ada yang bikin aku semangat selain kamu, nak. Ku rasakan dekapan hangat dari mama. Dia selalu meminta aku untuk ikhlas. Bagaimana bisa aku ikhlas kalau Tuhan mengambilnya secepat ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tubuhku terasa lemas dan aku merasakan gelap. Sayup-sayup aku mendengar teriakan mama.


Sore ini aku terbangun mendengar suara gelegar petir. Suara gerimis terdengar sangat kencang. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar. Suasana di rumah sakit tampak begitu lenggang. Netraku beralih pada kaca rumah sakit yang basah di guyur hujan.


"Ma, mas Juna mana?" tanyaku.


"Ma, aku merasa sesuatu yang tidak enak?"


"Kamu hanya tidak biasa jauh dari Juna. Nanti setelah kamu pulih, mama izinkan kamu ikut sama Juna ke Lembang."


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"


"Ada mama, ada kakakmu Feri. Kamu tenang saja."


Aku melihat mama mendapatkan telepon entah dari siapa. Aku tidak tahu kenapa perasaanku gelisah. Satu yang ku pinta darimu ya Allah, lindungilah suamiku dimanapun dia berada.


"Assalamualaikum, Dira."


"Waalaikumsalam, Eta. Terimakasih sudah datang menjenguk aku."


"Sama-sama, Ra. Kamu yang sabar, mungkin si debay belum rezeki, lagian kalian masih banyak waktu untuk bikin lagi."


Aku mendengar suara orang berdebat di luar pintu ruang rawat. Entah apa yang apa yang mereka ributkan. Aku seperti mengenal pemilik suaranya. Ya, itu suara mama dan kakakku.

__ADS_1


"Mama mohon jangan sekarang kabari Dira."


"Cepat atau lambat Dira harus tahu, ma."


"Tapi situasinya sedang tidak memungkinkan, Dira baru semalam di operasi."


"Sampai kapan, ma. Sampai dia nanti tahu kalau sekarang dia sudah jadi janda."


Deg! janda! apa-apaan ini! aku bukan janda, aku masih punya suami. Kenapa mereka bilang aku sudah jadi janda.


Entah kenapa aku membuang rasa bingungku dengan membuka televisi. Entah kenapa jantungku seperti berdetak kencang.


"Pemirsa telah terjadi kecelakaan tunggal di simpang desa Mening agung. Mobil dan pemiliknya jatuh ke dalam jurang yang dalam. Di pastikan mobil dan pemiliknya masuk ke dalam danau. Saat ini mobil sudah di evakuasi. Hanya saja pemiliknya masih dalam pencarian."


Mobil itu!


Tidaaaaaakk!


POV author


"Tante... Pak Feri...!" Eta berteriak saat melihat Dira kembali pingsan. Ini sudah ketiga kedua kalinya Dira pingsan setelah tiga hari tertidur di rumah sakit.


Mama Dewi dan Feri mendengar teriakan Eta langsung berlari menuju ruang rawat Dira. Hati mama Dewi begitu sedih saat Eta mengatakan kalau Dira melihat berita kecelakaan di tv. Walaupun Eta sebenarnya bingung siapa yang kecelakaan? kenapa Dira begitu drop?


"Apa Dira mendengar pembicaraan kita, ma?" tebak Feri.


"Sudah mama bilang jangan dibahas dekat Dira, tapi kamu keras kepala. Sekarang kamu lihat hasilnya, Hah! lihat bagaimana reaksi yang terjadi pada Dira. Dia baru saja sadar, kehilangan anak saja sudah membuatnya down apalagi kehilangan suami."


Terdengar suara dokter dan para suster memasuki kamar rawat Dira. Semua yang dalam ruangan diminta keluar untuk memeriksa keadaan Dira. Lama dokter memeriksa Dira. Mama Dewi dan Vira tampak menangis takut terjadi sesuatu dengan Dira. Eta pun merasa cemas jika terjadi sesuatu dengan rekan kerjanya.


"Maaf, pak Feri sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kenapa Dira begitu down mendengar berita kecelakaan di tv tadi?"


"Yang kecelakaan itu adalah.... Arjuna."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun"


Tak berapa lama dokter keluar dari kamar rawat Dira. Dokter mengumumkan Dira mengalami kritis. Mama Dewi dan Vira menangis saat dokter minta mereka berdoa untuk keajaiban pada Dira.

__ADS_1


__ADS_2