
Dira akhirnya mengikuti permintaan warga untuk datang ke balai desa. Tadinya dia enggan untuk menyusul kesana, atas desakan dari Awan akhirnya Dira mau datang kesana.
Suasana di balai warga tampak ramai. Beberapa warga tampak kasak kusuk berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan Dira pun tak peduli. Dia sudah terlanjur kecewa dengan sambutan warga. Sebagai tamu harusnya dia di sambut dengan baik. Dira tak butuh sambutan meriah, dia cuma butuh ketenangan dan tidak dia temukan selama tiga hari.
"Assalamualaikum, mbak Dira." sapa pak kades.
"Waalaikumsalam, pak kades. Maaf kalau boleh tahu ada apa saya di panggil? bukankah kalian sudah mengusir saya? apa ada yang salah lagi?" cerocos Dira pada pak kades.
"Non, Dira pak kades. mohon sopan dikit." bisik Awan.
"Maaf, tapi saya sudah terlanjur kecewa sama mereka." jawab Dira sambil berbisik.
"Saya maklum, non. Sebagai perwakilan warga sini saya minta maaf atas sikap mereka. Saya yakin ini hanya salah paham saja." jawab Awan.
"Iya, Wan. semoga seperti dugaanmu. Kamu tahu tujuan kita kesini hanya liburan bukan bikin masalah." balas Dira.
"Sudah, non. Sekarang kita ikuti saja dulu. Apa permintaan warga pada non Dira."
Acara bisik berbisik antara Dira dan Awan ternyata tak luput dari pantauan seseorang. Entah kenapa hatinya panas melihat kedekatan keduanya. Jika dia mendekati mereka berdua pasti masalah akan semakin runcing. Akhirnya dia memilih berdiri di luar. Melihat langit yang mulai menghitam. Pastinya sebentar lagi bakalan hujan. Padahal masih pagi.
Pak kades pun meminta para warga berkumpul di dalam. Tentu saja perihal masalah Dira dan Inggar yang menyita perhatian warga.
Dira diminta pak kades untuk duduk di sebelah kanan. Sementara pak Arif, selaku ayah dari Inggar pun duduk di sebelah kiri diikuti oleh Inggar. Masih dalam suasana tegang. Para warga masih terdengar membicarakan Dira dan Inggar.
__ADS_1
"Kira-kira kenapa, ya kita di suruh kumpul disini?"
"Ya paling juga mau nikahkan Inggar dan perempuan itu. Kan biasanya gitu kalau berzinah di kampung kita. Kalian ingat kan dulu, waktu Naura dan Sandi di sidang karena kedapatan hamil duluan. Mereka di paksa nikah. Tapi sayangnya Sandi nya nggak mau tanggung jawab. Makanya nasib Naura nggak jelas. Punya anak tapi belum nikah."
"Ya, tapi aku salut sama Naura. Tetap melanjutkan pendidikan meskipun cuma ijazah paket C. dan akhirnya jadi bidan satu-satunya di desa ini."
"Ya itu karena belum ada yang berani buka praktek untuk menyaingi mbah karto. Sudah banyak dokter yang mundur dari desa kita. Mungkin mereka sadar warga sini lebih percaya sama mbah karto. Lagian pasien Naura juga sedikit, paling sebagian di tolong ke puskesmas."
"Sudah, kita dengarkan saja apa yang akan pak kades sampaikan."
Para warga masih menunggu pak kades menyampaikan sepatah kata. Mengingat tadi malam sudah sepakat atas keputusan Dira meninggalkan desa Tulang Bawang. Sekarang mereka kembali diminta berkumpul di balai desa tersebut.
Inggar sedari tadi hanya menunduk malu. Bahkan untuk menegakkan kepala saja dia tak berani. Semalam setelah sidang di balai desa, ia pun kembali di sidang keluarga besarnya.
Sebagian dari mereka kecewa dengan kelakuan Inggar yang di luar batas.
"Tapi kamu sudah di luar batas, nak. Itu urusan Naura dan Sandi. Bukan urusan kamu. Iya saya tahu sejak kecil kalian bertiga itu dekat. Tapi tidak segitunya juga, kan. Wanita itu tamu desa kita. Nanti orang enggan berkunjung ke desa kita karena masalah ini." kata Bu Arif.
"Maafkan saya, Bu, pak." jawab Inggar masih takut menatap kedua orangtuanya.
"Kamu itu sudah besar, nak. Sudah 24 tahun. harusnya kamu itu sudah berpikir ke depan. Usia seperti kamu rata-rata sudah bekerja dan menikah. Tapi kamu masih juga nongkrong tidak jelas. Umur kamu jalan terus, nak. ibu dan bapak juga belum tentu umur panjang.
Ibu minta kamu minta maaf sama perempuan itu. Barusan ibu dengar kalau ada yang melihat kamu nyelonong ke rumah Naura. Itu artinya kamu tamu yang tidak sopan."
__ADS_1
"Apa ibu dan bapak meminta aku tanggungjawab sama perempuan itu? menikahinya?"
"Itu kalau dia mau sama kamu. Ibu ngeliat dia sudah terlanjur ilfeel sama kamu. sebagai sesama perempuan ibu malu dengan kelakuan kamu." kata Bu Arif sambil mengurut dada.
Sekarang mereka sudah berkumpul di balai desa. Setelah dirasa semua warga sudah memenuhi aula balai, pak kades pun membuka suara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Puji syukur kita panjatkan pada Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Semoga rahmat dan kasih sayang-Nya menyertai kita semua. Amin.
Yang terhormat, bapak Arif beserta ibu dan juga nak Inggar. Yang terhormat mbak Dira. Dan yang saya hanturkan terimakasih kepada warga desa tulang bawang yang menyempatkan waktunya untuk datang ke balai desa ini.
Saya mengundang kalian dalam rangka menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi semalam. Dimana kita tahu ada kejadian yang tidak mengenakkan di desa. Tidak ada perempuan yang mau di lecehkan. Saya pahami itu, sebab saya juga lahir dari seorang wanita. Saya juga punya istri dan anak perempuan. Maka saya tidak membenarkan apa yang dilakukan Inggar.
Maka dari itu, saya selaku kepala desa Tulang Bawang. Saya meminta maaf pada mbak Dira atas kejadian yang tidak mengenakkan di desa itu. Saya juga sebagai kepala desa merasa tertampar dengan kejadian ini.
Tapi tujuan saya adalah memenuhi permintaan keluarga pak Arif. Beliau merasa bersalah pada mbak Dira. Mungkin sebagai orangtua dia hanya ingin membela anaknya. Tapi nyatanya disini adalah murni kesalahan dari anaknya. Jadi sekiranya kita disini akan mendamaikan mereka yang berseteru.
Kepada pak Arif silahkan."
Pak Arif mengambil alih mikrofon yang di pegang pak kades.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," ucap pak Arif.
"waalaikumsalam." sahut para warga.
__ADS_1
"Saya berdiri disini menyampaikan sepatah kata untuk permasalahan yang anak saya lakukan. Memang sebagai umat manusia kita harus saling memaafkan. Dan saya berdiri di sini untuk meminta maaf pada mbak Dira.
Sebagai orangtua saya malu atas kelakuan anak saya. Sudah tua tapi banyak tingkah. Saya tahu mbak pasti masih kecewa atas kelakuan anak saya. Saya juga tahu tadi malam ada sikap dan ucapan saya menyinggung perasaan mbak. Maka saya disini meminta maaf pada anda."