
“Jadi mama mau Dira pulang lagi ke Jakarta?” Dira menjawab telepon dari mamanya.
“Kita akan adakan rapat penting di perusahaan. Kamu ajak Juna juga.” Kata mama Dewi.
“Emang ada apa sih?” Dira masih bingung.
Dira baru saja merebahkan tubuhnya di hotel Aryaduta Bandung. Setelah perjalanan jauh dari Jakarta. Besok dia mau menemani suaminya bertemu dengan klien. Menurut Juna, pak Sudrajat adalah teman dekat papa Johan. Sudah seperti ayahnya sendiri.
Setiba di hotel Aryaduta yang langsung satu gedung dengan Bandung Indah plaza. Dira memilih rebahan, tubuhnya benar-benar Lelah. Sedangkan Juna sedang berada di kamar mandi. Membersihkan diri.
Tadi di jalan mereka sempat bermasalah dengan ban motor. Ban motor mereka terkena paku akibat ulah dari orang yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya ada bengkel tak jauh dari sana.
“Aku yakin bengkel itu yang menebar paku di sekitar sini.”
“Jangan nuduh tidak beralasan, Mas. Itu sama saja matikan rezeki orang.”
“Bukan begitu, disini tempatnya sepi. Tapi Cuma dia yang buka bengkel. Lagian disini jalannya bagus, jadi sedikit yang akan mau mampir ke bengkel. Aku sudah hapal strategi kayak gini.”
“Jadi, kita harus gimana, Mas. Nggak mungkin kalau kita bawa motor sambil jalan.” Dira membayangkan pasti sangat lelah berjalan iringan dengan motor. Duduk di motor saja sudah capek apalagi jalan kaki. Itu yang buat dia sejak awal tidak setuju suaminya membawa motor sejak dari Lembang.
“Aku bawa alatnya. Jadi aku sejak di Lembang sudah antipasi bawa alat tambal ban. Takut jangan tidak ketemu bengkel nantinya. Kita cari tempat teduh ya, biar kamu bisa istirahat dulu. Aku benerin motornya. Nggak apa-apa, kan sayang.” Dira mengangguk.
Dira dan Juna berjalan beriringan bersama motor yang mogok. Menghirup udara segar sekitar puncak. Rasa lelah hilang ketika berjalan bersama pujaan hati.
Puncak Pass terletak di jalur kawasan Puncak Bogor, tempat yang sering dijadikan tempat perhentian oleh pengendara. Menawarkan pemandangan alam perbukitan khas Cianjur. Kebun teh hijau akan disajikan untuk menyejukkan mata. Selain itu, tempat ini cocok untuk kamu yang terjebak macet dan ingin memantau situasi lalu lintas dari atas.
Kesetiaan pasangan diukur dari bagaimana mereka bisa saling menerima dan membersamai saat keadaan susah, seperti halnya saat sepeda motor mogok atau bannya bocor. Momen yang langka tapi penuh dengan keromantisan.
Ya, saat sepeda motor mogok atau ban bocor biasanya seorang pria akan meminta pasangannya untuk menunggu di suatu tempat atau malah sang wanita akan pergi meninggalkan sang pria dalam kondisi tersebut. Tapi juna malah meminta Dira untuk menemaninya memperbaiki motor.
Mereka menemukan gubuk kecil di pinggir jalan. Dira langsung merenggangkan otot badannya. Perjalanan masih jauh banyak berhenti. Sudah pasti mereka akan lama sampainya.
“Sayang,” panggil Juna.
“Iya, Mas.”
“Kalau kamu mau tiduran nggak apa-apa. Daripada nanti bosan menunggu aku.” Juna menggulung Jaket parasutnya untuk bantal kepala Dira.
__ADS_1
“Aku nggak ngantuk, Mas. Ngeliat kamu aja sudah bikin aku segar.”
“Ya ampun, sayang kamu itu bisa saja bikin hati aku teduh.”
“Istri siapa dulu.”
Juna mengeluarkan headset dan meminta Dira mendengarkan lagu penghilang jenuh. Angin segar daerah puncak terasa sepoi-sepoi. Dira yang tadi enggan tertidur akhirnya matanya terasa berat. Dia pun tertidur di pondok sekitar puncak.
Setelah perjalanan jauh akhirnya mereka tiba di kota Bandung. Memasuki kawasan pusat kota Bandung, Dira sudah di suguhi pemandangan gedung-gedung menyerupai peninggalan Belanda. Taman-taman kota yang tertata rapi. Ada taman Maluku yang terkenal dengan patung pastor Veerback. Ada lapangan olahraga Saparua yang bersebelahan dengan Taman Maluku.
Tiba di hotel Aryaduta, Juna langsung check dan mengambil kamar lantai dua. Alasannya biar tidak susah mencari jalan turun.
"Kamu terakhir ke Bandung kapan?" tanya Juna.
"Tiga tahun yang lalu. Mas ingat waktu angkatan kami adain reuni Akbar dan menginap di hotel Trans Bandung."
"Iya, aku ingat. Waktu kamu sudah berangkat Tante Dewi suruh aku dan kak Feri nyusul kamu. Karena dia nggak percaya kalau kamu pergi tanpa ada yang mengawal. Tapi pas di Bandung kami malah nggak nemuin kamu."
"Emang kalian kemana?"
"Jalan-jalan ke Maribaya. Disana ada teman SMA yang kerja di salah satu hotel. Jabatannya sudah bagus. Jadi kami dapat penginapan diskon."
"Terus kalian bilang apa sama mama Dewi?"
"Nggak tahu. Kata kak Feri itu urusan dia. Ya, aku manut saja. Kan aku diajak bukan yang ajak."
"Sudah,Mas. Kamu bersihkan diri. Bau motor."
"Mandi bareng, ya?"
"Aku belum mau mandi, mas. Pengen tiduran saja dulu."
"Perasaan sejak kamu sampai di Jakarta, hingga sekarang ini. Kamu betah tiduran."
"Ya, capek, Mas. Di kira naik motor jalan jauh enak. Makanya aku minta naik mobil. Kamu ajak naik motor."
"Ya maaf sayang. Aku kira bakal romantis kalau naik motor. Aku mandi dulu, ya. Kamu istirahat saja."
__ADS_1
Seperti yang di ceritakan pada paragraf pembuka. Saat Dira sejak asyik beristirahat, mama Dewi menelpon meminta Dira secepatnya pulang ke Jakarta. Sungguh rasanya tidak mungkin kalau dia harus balik lagi ke Jakarta.
"Kenapa, sayang?" Juna melihat kegelisahan istrinya.
"Mama suruh kita balik ke Jakarta secepatnya. Katanya ada rapat direksi dan kita semua harus datang."
"Soal apa? kenapa mendadak?"
"Tidak tahu, Mas. Aku sudah tanya sama mama. Dia hanya bilang aku dan kamu harus datang. Itu saja."
Juna menghirup nafas dalam-dalam. Dia tidak mungkin kembali ke Jakarta. Karena ada beberapa pekerjaan yang sudah menunggunya. Setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Dira pun mengikuti suaminya merebahkan tubuhnya. Keduanya saling posisi menyamping dan berhadapan.
"Sayang, maaf aku tidak bisa ikut ke sana. Aku sudah banyak meninggalkan pekerjaan sejak satu minggu ini."
"Yasudah. Bagaimana kalau aku saja yang pulang, Mas."
"Maaf sayang, aku tidak bisa memberikan izin kamu pergi sendirian. Walaupun tempat yang kamu kunjungi adalah keluarga. Bukan maksud aku membuat kamu durhaka. Tapi keadaannya juga tidak memungkinkan. Toh, tanpa kita pun rapat itu tetap berjalan semestinya."
"Ya Allah, aku harus bilang apa sama mama. Aku merasa dia sangat berharap kita bisa datang. Mas, please jika ada pekerjaan mendesak kamu suruh Tio yang tangani. Kamu tahu kan kalau mama minta sesuatu dia tidak bisa di bantah."
"Tidak. untuk kali ini kamu tolong dengarkan aku. Setelah menikah urusan kamu menjadi urusanku. Semua gerak-gerik kamu adalah amanat yang harus aku emban. Maafkan aku, sayang. Untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu. Aku tidak bisa beri izin kamu untuk pergi sendiri pulang ke Jakarta."
...******...
"Apa kamu tidak bisa pulang!" suara mama Dewi meninggi.
"Iya, maaf, ma. Mas Juna tidak bisa ikut otomatis, aku juga tidak bisa pergi."
"Kalau Juna tidak percaya, biar mama suruh Jaka jemput kamu. Kita akan membahas tentang seseorang yang mau menyusup perusahaan. Kita akan sidang dia sama-sama. Vira pun juga akan ikut."
"Maaf, ma. Kalau suamiku tidak bisa aku pun tidak mungkin pergi sendiri. Maafkan aku, ya. Sekarang apa yang aku lakukan adalah tanggung jawab suamiku. Bukan mama tahu itu."
"Mama saja dulu tidak perlu meminta izin sama papamu. Dia tidak pernah protes dengan semua yang mama lakukan. Karena posisi mama ..."
"Ma, please. Ngertiin aku."
"Kamu tidak berubah Dewi." suara Andre dekat di belakangnya.
__ADS_1
"Andre,..."
"Kamu tahu kenapa aku dulu suka pergi ke tempat hiburan. Karena aku merasa kamu tidak pernah ada waktu buat aku. Dulu waktu masih dalam satu kantor, kamu suka ajak aku diskusi soal pekerjaan. Tapi setelah menikah, kamu sering lembur sendiri tidak pernah mengajakku diskusi lagi. Itu saja sudah membuat aku merasa tak dianggap sebagai suami. Itu yang membuat aku tidak pernah betah di rumah."