
Di perumahan kompleks Kramat jati
pukul 14.00
"Sudah enakan,Mas." Tina duduk di samping suaminya.
"Alhamdulillah, sayang. Aku sudah mendingan. Terimakasih, ya. Kamu sudah mau merawat aku saat sakit. Maaf, ya gara-gara aku demam beberapa hari, kita malah belum..."
Beberapa hari yang lalu, saat Tina dan Feri baru satu malam di rumah Kramat jati. Tina melihat Feri meracau dengan badan menggigil. Tina langsung memeriksa suhu badan suaminya. Wanita itu langsung beranjak dari tempat tidur mengambil air dingin mengompres dahi suaminya.
"Ya Allah, mas. Badan kamu panas sekali." Tina panik.
Kalau selama ini jika Amar demam, Tina hanya mengompres dengan air dingin. Lalu membuatkan ramuan obat tradisional sesuai ajaran mamanya. Tapi ini suaminya, Tina tahu Feri kalau sakit pasti ke dokter bukan minum obat tradisional. Dia tahu tak cocok dengan kondisi tubuh Feri.
"Ma..ma.." racau lelaki itu.
"Ya Allah, apa aku telepon mama Dewi saja, ya." Batin Tina.
Tina langsung mengambil handphone menghubungi mertuanya. Sesaat dia berpikir kalau mengabari mama mertuanya, nanti dikira tidak becus rawat suami. Dia akhirnya mengurungkan niatnya. Lebih memilih merawat suaminya sebisanya.
"Ma...ma..." Lagi-lagi Feri mengingau memanggil sang mama. Tina tidak merasa risih dengan igauan suaminya.
Dia paham selama ini suaminya selalu bersama mamanya. Seorang ibu akan menjaga anaknya sepenuh hati. Bahkan seorang ibu melupakan sakit fisiknya demi menjaga anaknya. Itu lah yang Tina kagumi dari mamanya dan juga Mama mertuanya.
Sehari setelah mereka bermalam di rumah Kramat jati, Feri dan Tina bekerja membersihkan rumah peninggalan mamanya Tina. Akibat kelelahan, Feri mendadak demam tinggi. Tina pun dengan siaga menjaga dan merawat suaminya. Ini sudah hari ketiga suaminya sudah sembuh seperti sedia kala. Feri melarang Tina mengabari mama Dewi. Alasannya ini adalah urusan rumah tangga yang tidak terlalu genting.
"Tapi mama perlu tahu kalau kamu itu sedang sakit, mas. Aku tidak mau nanti di bilang membatasi kamu sama mama."
"Sayang begini. Kita ini sudah berumah tangga. Apapun yang terjadi dalam ruang privasi kita berdua, hanya kita berdua. Tidak perlu mama atau siapapun. Bukan kita tidak butuh orang lain, bukan! tapi ada batasannya. Kecuali kalau ada hal yang sangat darurat baru kita libatkan keluarga." ucap Feri.
"Maaf, mas." Tina masih menunduk malu-malu.
Feri memandang wanita yang sudah tiga hari menjadi istrinya. Tina merasakan suaminya perlahan mendekatkan wajahnya. Entah kenapa dia merasa berdebar kencang. Kini keduanya sudah tak ada jarak.
"Na, Aku boleh kan minta hak ku?" Tina mengerutkan dahinya. Karena semalam dia baru saja kering dari menstruasi.
"Mas, aku mau ..." Tina mencoba menghindari. Tangan Feri menahan dirinya.
"Ya Allah kok aku gemetaran begini." batin Tina.
"Sayang, kamu kenapa?" Feri melihat wajah istrinya memerah.
"Aku nggak apa-apa, mas. Kamu istirahat dulu, ya. Aku mau ke belakang." Tina masih merasakan grogi yang begitu dalam.
__ADS_1
"Oke," kata Feri.
Lelaki memilih kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak bisa langsung memejamkan mata. Dia memilih menyibukkan diri dengan membuka gawainya. Melihat berita yang sedang viral saat ini. Feri merasa Tina belum juga datang sejak dari dapur tadi.
Takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Feri pun berniat menyusul Tina ke dapur. Dengan langkah pelan dengan mengejutkan sang istri, kaki Feri terhenti di pintu depan.
"Na, selamat ya kamu sudah menikah dengan lelaki yang kamu cintai."
"Terimakasih, kak Jamal. Terimakasih sudah sempatkan datang ke pernikahan kami. Aku minta maaf soal yang malam lamaran itu."
"Sudahlah, Na. Itu kan aku juga yang nolak. Karena aku tahu kamu nggak cinta sama aku." kata Jamal.
"Iya, tapi aku merasa bersalah sama kak Jamal. Kata Ical, kak Jamal sampai demam gara-gara aku."
"Hahahaha ... Ical itu paling pinter dalam melebihkan cerita. Aku demam ya karena emang fisikku lagi drop saja. Bukan karena hal yang lain."
Feri langsung mendekati Tina. Dia merasa cemburu melihat kedekatan Jamal dan Tina. Mungkin wajar karena Jamal adalah rivalnya selama ini. Jamal yang beberapa tahun menemani Tina dalam suka dan duka. Sedangkan waktu Tina bersama Feri masih dalam hitungan bulan. Dari dekat, jatuh cinta hingga menikah.
"Ehmm...." suara deheman terdengar dari belakang wanita itu.
Tina menoleh ke arah suaminya langsung mendatangi. Apalagi cara jalan Feri masih terlihat lemas.
"Mas kok bangun, sih. Istirahat, ya." Tina memapah suaminya untuk kembali ke kamar.
"Mas kangen, ya sama rumah. Maaf ya, Mas. gara-gara aku kamu jadi drop begini. Kamu pasti nggak biasa dengan lingkungan disini. Lagian dari kemarin aku ajak mas pulang selalu saja tidak mau."
"Nggak tahu aku jadi kangen sama rumah. Kamu nggak apa-apa kan kalau kita pulang ke rumah."
"Nggak apa-apa, Mas. Asalkan sama kamu. Jangankan ke rumah mama. Ke ujung dunia pun aku akan ikut."
"Terimakasih, Istriku." Feri mengelus pipi istrinya.
Feri duduk di sudut ranjang. Sementara Tina kembali ke dapur mengambil minuman untuk suaminya. Amar sekarang tinggal bersama keluarga Amran. Itu atas keinginan bude dan pakde nya untuk merawat Amar. Tina sangat berterimakasih pada pakde dan budenya. Dia berharap Amar di perlakukan dengan baik.
"Kamu sepertinya sudah sehat, Mas. Besok kita pulang ke rumah mama." kata Tina sambil membereskan beberapa barang.
"Sayang," tangan Feri mengelus pipi Tina.
"Iya, Mas."
Kini mereka sangat dekat bahkan tidak berjarak lagi. Tina sudah berada di bawah kungkungan tubuh Feri. Tangan Tina meraba janggut tipis suaminya. Deru nafas keduanya berlomba-lomba. Feri memberikan kecupan manis di bibir Tina.
Kecupan yang berlanjut lebih dalam. Tina menggenggam erat leher baju suaminya. Ada gelegar yang beda. Belum pernah dia dapatkan selama menikah dengan Glen. Ada rasa yang menuntut lebih dari itu.
__ADS_1
"Mas.." Desahnya.
Tina menggigit ujung bibirnya ketika Feri menggigit ****** miliknya. Seakan ada sensasi tersendiri. Tangannya menarik rambut Feri. Tarikan kuat dari tangan Tina malah membuat lelaki itu semakin bersemangat.
"Kamu menikmatinya sayang, aku tahu kalau kamu masih perawan. Aku tahu kalau kamu bahkan belum di sentuh oleh Glen. Dan aku lah pemenangnya,sayang." bisik Feri.
"Mas, aku istrimu apapun yang ada dalam diriku adalah milikmu. Jika memang kamu takut kecewa maka aku minta maaf. Aku memang belum pernah di jamah oleh Glen. Tapi aku tidak tahu apakah diam-diam Glen pernah menyentuhku. Pasalnya Glen tiap pulang selalu dalam keadaan mabuk."
"Sayang, Glen sendiri yang bilang kalau dia belum pernah menyentuhmu. Dan aku yang akan menjadi pemilik kehormatanmu."
"Mas, bisakah kita tidak mengungkit masa lalu."
"Maaf, sayang. Aku janji tidak akan membahasnya lagi." Feri melabuhkan kecupan di dahi Tina.
"Kamu sudah siap, sayang?" bisik Feri.
Tina hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah menyerahkan semua hidupnya pada Feri Andreas. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Feri terus melancarkan serangan gerilyanya.
"Sayang, aku mau keluar." lirih Feri.
"Keluar kemana, Mas?"
"Sayang, aaaaaarrrrghh"
Feri langsung menancapkan tombak sakitnya. Menanamkan benih-benih calon kehidupan. Lenguhan panjang terdengar dari bibir keduanya. Tina merasakan sakit yang luar biasa. Dia menggigit pundak Feri demi menahan rasa sakitnya. Feri melirik sprei yang sudah mengeluarkan darah segar.
"Terimakasih, sayang." Feri mengecup bibir Tina.
...******...
Yuk mampir ke karya temanku
Arthemis Selena de Alexander, Putri Pertama Kerajaan Luminus yang ditakdirkan untuk melenyapkan Kurotsugi, Sang Penguasa Kegelapan yang menjadi penyebab kehancuran antar dimensi.
Ramalan itu membuat Kurotsugi semakin brutal dalam mencari gadis berambut putih bersinar yang cahayanya bisa menghancurkan keberadaan dirinya.
Karena hal itu, orangtuanya terpaksa menyegel kekuatan Selena dan melemparnya ke Bumi dan dia harus mencari adiknya yang terpisah saat penyerangan itu.
Apakah dia bisa memenuhi takdirnya?
Lalu, apa yang akan terjadi setelah Selena berhasil menjalankan tugasnya?
__ADS_1