
Sayup-sayup Dira membuka matanya pelan-pelan. Cahaya pertama menyilaukan pandangannya. Dira pun akhirnya terbangun. Sebuah kamar kecil berdinding beton. Poster superhero dan kartun anime bajak laut menjadi pemandangan pertamanya.
Dira melihat seorang wanita duduk sambil asyik dengan gawainya. Mengetahui tamunya sudah sadar, dengan sigap Naura mendekati Dira.
"Syukurlah, mbak sudah sadar?"
Wanita itu menatap langit-langit kamar ruang rawat inapnya. Dia mengingat-ingat kembali peristiwa yang dialaminya hingga tiba di tempat tidur yang empuk ini. Sedikit demi sedikit percikan kejadian yang menimpanya terbayang kembali. Perasaannya kembali merasakan perih yang begitu mendalam. Setelah 10 bulan dalam penantian kini terjawab sudah.
"Berbulan-bulan aku mencoba menjaga hatiku. Tapi nyatanya semua berbalik dari kenyataan. Aku tidak menyangka mas Juna mengkhianati pernikahan. Dengan aktingnya meninggal dalam kecelakaan. Ternyata itu semua hanya prank agar dia bisa bersama perempuan lain.
Mama, opa, Vira dan kak Feri, aku rindu kalian. Aku butuh kalian di saat seperti ini. Orang yang kalian anggap lelaki baik ternyata sama bejatnya dengan papa. Mereka berdua sama saja." batin Dira.
"Mbak sudah sadar. Alhamdulillah mbak." kata Naura sambil mengusap wajahnya.
"Mbak siapa?" Dira masih asing dengan wanita di depannya.
"Saya Naura. Saya yang punya rumah ini. Saya senang mbak mau mampir ke gubuk kami. Mbak namanya siapa?"
"Dira. Medhira Utami." jawab Dira lirih.
"Jadi dia istrinya mas Juna. Manis, wajahnya teduh. Persis dengan Delia yang juga memiliki wajah teduh. Tapi kenapa kriteria mas Juna balik lagi seperti Delia. Atau jangan-jangan mas Juna belum move on dari Delia. Dan aku memang hanya untuk pelarian semata.
Apa aku harus bilang kalau aku istri sahnya mas Juna? Ah, tidak Dira. Kamu harus main cantik. Ingat Dira kalau aku pernah berada diantara mas Juna dan Delia. Aku juga bisa diantara mas Juna dan istri barunya.
Istri baru? tapi mereka sudah punya anak. Bahkan anak mereka sudah besar. Apa jangan-jangan akulah istri kedua mas Juna. Ya Allah, kenapa nasibku seperti ini. Kenapa aku harus mengalaminya?"
Dira terus bermonolog mengingat semua yang terjadi akhir-akhir ini. Mengingat apa yang membuatnya bisa drop. Tangan Dira menggenggam ujung sprei. Bisa saja dia mengamuk pada Naura yang merebut suami. Tapi dia menahannya, mencoba berpikir waras. Faktanya sekarang dia bukanlah wanita pertama yang di nikahi Juna. Statusnya saat ini istri kedua Arjuna.
"Apakah aku adalah yang kedua?" batin Dira.
__ADS_1
"Mbak nggak apa-apa. Kalau masih kurang sehat istirahat saja. Ini kamar anak saya." tutur Naura.
"Aku hanya pusing sedikit, mbak." jawab Dira.
"Yasudah, saya keluar sebentar, mbak. Mbak nggak apa-apa kan saya tinggal dulu?" Dira mengangguk. Dia masih mencoba menenangkan diri setelah semua yang baru saja dilihatnya.
"Terimakasih, bisa tolong panggilkan Awan?" Naura mengangguk lalu meninggalkan Dira sendiri di kamar Jimmy.
Dira menyandarkan kepalanya di headboard ranjangnya. Sejenak dia menarik nafas dalam-dalam. Memikirkan apa yang baru saja dialaminya, siapkah dia jadi janda setelah tahu suaminya masih hidup? setelah tahu suaminya sudah punya kehidupan lain selain dirinya? siap tidak siap dia harus terima kenyataan. Dira mencoba untuk tidak menangis. Air matanya sudah kering sejak beberapa bulan yang meratapi kepergian suaminya.
Dira benci dengan semua yang berhubungan dengan pengkhianatan. Baginya sekali berkhianat tidak akan merubah semuanya. Meskipun dia pernah mencoba menjauhi Arjuna karena lelaki itu di jodohkan dengan Delia. Meskipun dia sudah menolak Arjuna nyatanya lelaki itu yang mendekatinya.
Belum kering dari ingatannya bagaimana mamanya menangis saat seorang perempuan datang padanya. Perempuan itu mengaku hamil oleh papanya. Awalnya mama tidak percaya karena perempuan itu sudah bersuami. Apalagi mama mengenal baik perempuan itu. Sudah akrab dengan keluarga mereka, malah sudah dianggap adik sama mama Dewi. Tapi nyatanya tanpa malu datang ke mama mengaku hamil sama papa. Sejak saat itu Dira enggan membuka hati untuk pria manapun. Termasuk mengubur dalam-dalam perasaannya pada Arjuna yang dicintainya sejak kecil.
Belum kering juga dalam ingatannya bagaimana Wawan mendekatinya. Saat itu Dira masih kuliah semester tiga. Lelaki itu bahkan menggantikan posisi Arjuna di hatinya. Bak seorang lelaki yang selalu ada buat Dira, dan membuatnya melupakan cinta pertamanya.
Namun, tak berlangsung lama. Nyatanya Wawan sudah punya istri. Punya anak pula. Hal itu dia ketahui saat seorang melabraknya sebagai pelakor. Bahkan sampai tersebar di antero kampus. Dira terpuruk, karena merasa di bohongi. Dia bahkan sampai di bawa ke psikiater karena depresinya. Tanpa malu mamanya Wawan datang padanya dan sudah meminta Wawan menceraikan istrinya. Mama Dewi pun beradu mulut dengan mantan calon besannya.
Dan pada akhirnya tetap berlabuh pada sosok Arjuna. Lelaki cinta pertamanya. Mungkin itulah namanya jodoh. Tak pernah dia merasa curiga kalau Juna ternyata sudah lama menyimpan wanita lain.
"Non," suara bariton itu terdengar di depan pintu kamar.
"Masuk, Wan."
"Katanya non Dira nyari saya?" Dira mengangguk dan mempersilahkan lelaki itu duduk di sebelahnya.
"Ada apa, non?"
"Apa opa ada menelepon?" tanya Dira mengingat Awan pasti akan memberi laporan pada opa nya.
__ADS_1
Awan menggeleng. Atasannya belum ada menelepon. Dia pun belum memberi laporan apa-apa ke bos nya.
"Kalau opa menelepon tolong jangan kasih tahu soal kejadian tadi. Aku tidak mau orang-orang disana berpikir cemas. Rencana kita disini liburan bukan bikin pusing orang-orang."
"Maaf, non, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa non Dira pingsan tadi? apa non kecapekan tadi?" tanya Awan dengan nada cemas.
"Suamiku masih hidup."
"Ma... maksudnya gimana, non? suami non masih hidup? Alhamdulillah, non. Non Dira bisa bersatu lagi dengan suaminya."
"Tidak, Wan. Setelah liburan ini, aku mau ke pengadilan agama. Mau urus perceraian kami."
"Cerai? Non bukannya cinta sama suaminya. Kenapa cerai, non?" Awan masih belum paham arah bahasan Dira.
"Tidak ada yang bisa dipertahankan buat seorang pengkhianat. Dia sudah punya istri dan anak. Itu tandanya aku bukan yang pertama buat dia. Dari dulu saya selalu tekankan sama dia. Saya tidak mau di duakan atau sekedar menjadi pelarian. Dan ternyata dia pembohong."
"Non, pikirkan lagi dengan kepala dingin. Kalau kepala lagi panas tidak akan menyelesaikan masalah. Karena dalam diri non Dira masih ada emosi yang bersarang. Saran saya, non cari tahu kebenarannya. Jangan langsung ambil kesimpulan. Atau gini saja, nanti biar saya yang selidiki."
"Sekali pengkhianat tidak akan termaafkan, Wan. Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri. Tidak mungkin orang lain kalau sosoknya sama rupa dengan suamiku."
"Non, di dunia ini ada 7 kembaran manusia di setiap pelosok belahan dunia. Dan mungkin yang non lihat bukan suami, non. Bisa jadi mirip saja. Lagian kata pak Burhan mobil suami non remuk. Itu tandanya..,"
"STOP! SEKARANG KAMU KELUAR!"
Dira meminta Awan keluar dari kamar Jimmy. Hati nya masih sakit dengan kejadian tadi. Sesaat dia menumpahkan air matanya yang sedari tadi di tahannya.
Naura mendengar tangisan Dira hanya tersenyum kecil.
Tadi saat Dira tertidur dia melihat handphone tamunya. Memang tidak sopan, tapi saat Jimmy bilang tamunya pingsan saat melihat photo Sandi. Naura yakin perempuan itu ada hubungannya dengan Sandi sebelum amnesia.
__ADS_1
"Jadi dia istri Sandi. Pucuk dicinta ulam tiba. Dia harusnya mengalah setelah tahu ada anak antara dirinya dan Sandi. Semoga ingatan Sandi tidak akan kembali."