
Setelah proses ijab qobul, dilanjutkan dengan
acara sungkeman untuk memohon doa restu dari
orang tua.
Pasangan pengantin baru ini juga
diberikan nasehat penting tentang menjalankan
rumah tangga yang baik serta saling menyayangi
satu sama lain.
Sungkeman menjadi momen mengharukan dalam pernikahan setelah akad nikah dilangsungkan. Pasalnya, ini merupakan kesempatan pengantin untuk meminta maaf dan memohon izin kepada orang tua mereka untuk membangun keluarga baru.
Prosesi ini adalah simbol harapan agar kedua mempelai selalu hidup rukun baik dalam keadaan susah maupun senang. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan prosesi sungkeman di mana mempelai pengantin meminta maaf dan memohon izin kepada kedua orang tua mereka untuk memulai hidup berkeluarga.
"Mama,terima kasih atas cinta dan dukunganmu selama ini. kasih sayang telah melakukan semua yang mama bisa untuk memberi kami masa kecil yang tak terlupakan, serta selalu membimbing dan mendukung kami dalam mencapai impian kami.
Mama, saya belajar bahwa kegagalan hanyalah sebuah kesempatan untuk belajar dan mencoba lagi, bahwa bersikap baik kepada orang lain lebih penting daripada menjadi benar, dan bahwa cinta berarti memaafkan serta tidak mementingkan diri sendiri.
Bandel kami, tangis kami, tawa kami adalah salah satu proses pencarian jati diri. Mungkin selama ini Vira sering buat mama nangis, mungkin banyak sikap Vira yang bikin mama naik darah. Tapi percayalah baik Vira, kak Feri dan kak Dira selalu ingin lihat mama bahagia.
Mama, sekarang Vira sudah menikah. Vira akan menjadi seorang istri yang baik untuk kak Danu. Tentu masih butuh bimbingan dari mama Dewi dan juga kakak-kakakku. Terimakasih atas restunya, Ma. Doakan Vira bisa menjalaninya dengan baik,".
Perasaan berubah jadi campur aduk dan tidak bisa berpikir dengan runtut dan jelas. Suasana acara sungkeman mendadak haru. Vira mencium tangan mama Dewi diriiingi deraian air mata. Bukan hanya Vira saja, Dewi yang duduk bersanding dengan Feri pun sudah berurai air mata.
Danu pun menyalami papa Deka dan Oma Helena. Papa Deka ikut terharu anak yang baru saja dia temukan kini sudah menjadi seorang suami. Begitu juga Oma Helena, cucunya sudah menikah. Dan pastinya akan tinggal mandiri dengan Istrinya.
"Danu, jadilah suami yang baik bagi istrimu. Jaga
dia, bimbing dia, sayangilah dia, bahagiakan dia
dan jangan pernah menyakiti hatinya. Tugas
serta tanggung jawab mu sekarang sangat besar.
Jadi, belajarlah menjadi seorang suami terbaik
bagi istrimu." kata papa Deka.
"Danu akan berusaha membahagiakan Vira, Pa,"
"Savira, terimakasih sudah mau menerima Dawa sebagai suamimu. Selamat datang di keluarga Abraham. Nasehat papa, jadilah istri yang baik bagi suamimu. Dengarkan kata- katanya, turuti lah dia, tegur dia jika melakukan kesalahan atau pun menyakiti hatimu dan tumbuhkan rasa cinta diantara kalian berdua."
Begitulah nasehat dari papa Deka kepada anak
dan menantu kesayangannya. Keduanya hanya
mengangguk mengerti sambil memancarkan
senyuman.
__ADS_1
Setelah acara sungkeman selesai, pengantin berdiri untuk menerima uluran salam dari para tamu. Setelah nanti pengantin diminta istirahat sejenak. Karena sudah mau masuk jam Maghrib. Malam nanti akan ada pesta resepsi out door. Tentu akan memerlukan energi yang cukup.
Vira dan Danu diminta istirahat setelah menjalani rentetan acara dari akad hingga sungkeman. Belum lagi nanti malam mereka akan langsung mengadakan resepsi besar. Acara untuk putri bungsu Dewi Savitri.
Danu memasuki kamar pengantin mereka. Memandang istrinya yang sedang berdiri di jendela kamar hotel mereka. Langit sudah gelap. Suara adzan Maghrib pun menggema. Vira tersentak saat ada membelit di pinggangnya.
Vira menunduk malu, sorotan lampu terang benderang menampakkan kecantikannya. Aroma parfum tubuh Pandawa membawanya ke rentetan kenangan. Dawa mengangkat wajah gadis cantik yang baru saja dia nikahi.
"Kak...," ucapnya lirih.
"Kamu bahagia sayang," labuhan kecupan mendarat di pundak Savira.
Vira menganggukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Ketika suaminya menarik dagunya lebih dekat. "Tentu, aku bahagia kak Danu,"
"Tapi bisakah kamu tidak usah panggil aku dengan sebutan kak,"
"Lalu?"
"Panggil aku, Mas Danu,"
"Mas Da .... nu," ucap Vira terbata-bata.
Suara ketukan pintu membuat keduanya saling melerai. Hawa canggung membuat mereka bingung harus mengerjakan apa. Dawa pun membuka pintu kamarnya. Tampak Dira dan beberapa orang perias membawa baju ganti untuk Vira dan Dawa.
"Kalian sudah salat?"tanya Dira.
Dawa dan Vira menggelengkan kepalanya. Mereka bahkan belum sempat membersihkan diri setelah acara.
Dira menggelengkan kepalanya.
"Mbak, make up dan ganti bajunya tunda dulu ya, mereka salat Magrib dulu," dua perias tadi mengangguk serta mengikuti Dira meninggalkan kamar pengantin.
"Yasudah, Mas. Aku duluan ke kamar mandi, Mas mau ngapain?" Vira kaget ketika Dawa hendak ikut ke kamar mandi.
"Kayaknya gaun kamu riweh banget, takut kamu kenapa-kenapa? aku bantu ya,..."
"Aku bisa sendiri! sudah aku duluan!" Vira langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Pesta pun berlangsung meriah. Dira memandang tamu yang mulai menyusut atensinya. Memang untuk undangan malam jumlah di batasi. Karena itu sudah perjanjian dengan pengelola cottage. Karena menurut mereka kalau terlalu ramai akan mengganggu istirahat penghuni cottage lainnya.
Di dekat Dira ada seorang gadis muda. Sejak awal acara dia tidak berhenti membantu berlangsungnya acara. Walaupun dia merasa sangat sakit hati atas pengkhianatan Pasha.
"Non Elsa, aduh maaf saya dari tadi cari non," Elsa mengerutkan dahinya. Wanita berpakaian sexy tergopoh-gopoh mendekati dirinya.
"Kamu...," Elsa tidak asing dengan wanita muda tersebut.
"Oh ya, maaf saya Moza. Saya ini sekretaris pak Irwan Chandra. Saya baru dua bulan kerja di sini. Maaf, Non, saya tidak hapal dengan wajah non Elsa,"
"Oh," Elsa menunjukkan wajah datarnya.
Suara MC menandakan kalau kedua pengantin sudah memasuki area acara. Elsa pun mendekati Vira, siapa tahu temannya butuh bantuan. Dia bahkan tidak peduli kehadiran Moza yang ngakunya di tugaskan papanya menjaga Elsa.
Bukan hanya Elsa saja ada teman Pandawa entah siapa namanya juga ikut menjadi pengiring pengantin. Elsa memegang ujung gaun Vira, sementara lelaki itu hanya berjalan di belakang Pandawa. Sebelum mereka berjalan ke area acara, Pandawa memperkenalkan pengiringnya pada Elsa.
__ADS_1
"Sa, kenalin ini namanya Brandon, teman SMA ku dulu. Brandon ini duda tapi nggak ada anak. Jadi istrinya meninggal sakit keras, nah ini namanya Elsa sahabat istriku," Brandon dan Elsa bersalaman. Sesaat lelaki itu mengedipkan mata pada Elsa. Cepat-cepat Elsa melepaskan jabatan tangannya.
"Aduh, ni orang kayaknya ganjen,deh," batin Elsa.
Cottage Anyer terlihat lebih terang dari biasanya. Kemegahan pernikahan putra tunggal Merdeka Dirgantara dan putri bungsu Dewi Savitri area outdoor di desain begitu cantik dengan lampu-lampu warna kuning dan putih.
l digantung di tali-tali yang membentang bagai
lampion-lampion kecil, serta di letakkan di sisi
bawah tempat duduk tamu sebagai penerangan,
karena mereka akan melaksanakan pernikahan
di malam hari.
Ada sebuah jalan yang membelah
dua sisi tempat duduk. Yang nantinya masing-
masing pasangan mereka akan melewati jalan
tersebut untuk menuju altar.
"Rasanya seperti mimpi bisa menikah dengan lelaki yang kita cintai. Berjalan beriringan bersama menuju suatu bahtera rumah tangga, punya suami, nantinya punya anak, lulus kuliah, dan ..." Vira memandang lelaki di sampingnya. Dengan jas tuxedo hitam Pandawa terlihat lebih tampan. Entah sampai berapa dia tidak bisa memalingkan pandangan.
Kamu tahu,Sapi. Aku bahagia bisa menghalalkan kamu. Bisa melihatmu setiap saat, setiap detik, bahkan sepanjang umurku. Aku bahagia menjadi suamimu,
Aku mungkin tidak bisa mengatakan betapa aku mencintaimu dan betapa istimewanya kamu bagiku, tapi aku dapat mengatakan bahwa duniaku penuh dengan senyuman dan kebahagiaan setiap kali kamu ada di sekitarku. Aku mencintaimu dengan segenap hati.
Untuk istriku yang istimewa, cintaku padamu tidak pernah berakhir. Doaku terkabul saat aku bertemu denganmu. Aku tidak bisa memikirkan cara lain untuk menghabiskan hidupku selain bersamamu di sisiku.Kamu adalah alasan kenapa aku menjadi lebih kuat, tetapi tetap saja kamu adalah kelemahanku. Aku rela melakukan apa pun untukmu supaya kamu bahagia. Kan ku bawa matahari, bulan, bintang, dan seluruh hatiku selamanya."
sorak sorai para undangan yang meminta mereka berciuman. Membuktikan kalau mereka saling mencintai.
"Kakak kalau aku pakai gaun ini sudah besar nanti pasti cantik kan,"
"Pasti dong,"
"Jadi kalau aku sudah besar nanti pengen kakak yang jadi pangerannya,"
"Kok kakak? kalau sapi besar nanti kakak pasti sudah tua, emangnya sapi mau pangerannya jadi tua?"
"Kakak jangan tua dong, tunggu aku dulu sampai besar. Bisa secantik mama, secantik kak Padma,"
"Iya, Kakak janji tidak akan tua sampai kamu besar nanti,"
"Janji"
"Janji" keduanya saling menautkan jari kelingking.
"Terimakasih sudah tidak menua saat aku besar, terimakasih sudah menepati janji ucapan anak kecil,"
"Kan aku datang buat menepati janjiku sama kamu, sayang,"
__ADS_1
...******...
TAMAT