
Juna, Feri dan Mama Dewi pulang ke rumah. Dalam perjalanan ketiganya hanya saling terdiam. Satu persatu manusia yang ada di mobil terlarut dalam pikirannya masing-masing. Hanya sopir saja yang tidak boleh melamun. Kalau itu bisa terjadi maka mereka bertiga tidak akan pulang dengan selamat.
Juna sedari tadi mendapatkan telepon dari sang istri. Tentu dengan seribu kecemasan karena belum juga pulang. Padahal tadi dia sudah menemani Dira di rumah sakit. Menemani Vira yang belum sadarkan diri.
Hanya saja beberapa kali Vira mengigau sambil menangis. Seakan meminta seseorang bangun. Entah siapa yang dimaksud mereka tidak tahu.
Mereka masih berada di kantor polisi. Mengetahui kabar tentang komplotan Adrian yang masih buron. Apalagi Adrian masih bungkam soal siapa yang ikut kerjasama dengannya. Para polisi tentu punya segudang cara membuat Adrian buka suara. Tapi tetap saja nihil. Lelaki itu tetap teguh pendirian.
Menurut keterangan polisi, mereka menggeledah semua ini ruang markas tersebut. Ketika gedung markas di gerebek mereka hanya menemukan Vira yang pingsan sendiri. Tak ada orang lain. Itu yang mereka dapatkan informasi dari pihak kepolisian.
Adrian pun mencoba kabur tapi langsung ketahuan. Mungkin karena semua gedung di kepung tak punya tempat sembunyi.
"Kami menemukan darah segar di sekitar nona Savira pingsan. Tapi setelah pemeriksaan dokter tak ada luka di tubuh nona Savira. Sepertinya ada korban lain." Polisi menjelaskan penemuan mereka.
"Sementara teman dari saudara Adrian di pastikan buron. Di duga saudara Adrian tidak melakukannya sendirian. Kami belum mendapatkan keterangan dari tersangka. Masih kami proses termasuk di tempat lokasi kejadian" kata polisi yang bername tag "Febriansyah".
Mama Dewi, Juna dan Feri mendengarkan keterangan dari polisi. Mereka menyerahkan proses sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Setelah meluapkan kekecewaannya pada Panji. Mama Dewi sudah tidak banyak bicara lagi. Tubuhnya lemas, memikirkan nasib sang putri.
"Mama ingat dulu, saat Dira di culik sama Shahab. Bagaimana lelaki itu melakukan hal itu karena kebenciannya pada seseorang. Kenapa ini terjadi lagi sama Vira. Kenapa ujian hidup tak henti-hentinya menimpa keluarga kita?"
Juna tahu arah tuduhan mama Dewi terkait penculikan yang dialami Dira dulu. Kepalanya menunduk, merasa bersalah akan kejadian itu. Dia pun tidak menyangka kalau mama Dewi masih mengungkitnya. Mungkin kejadian itu masih membekas di hati wanita itu.
Mobil yang di bawa Jaka pun sampai di depan perumahan Griya Samara. Hanya beberapa menit saja sudah berhenti di depan pagar rumah Dewi Savitri. Tampak satpam membuka pintu, dan ada Uti yang menyambut para majikannya.
"Bu," sapa Uti.
Mama Dewi hanya melewati gadis usia 18 tahun itu. Uti melihat sikap dingin majikannya merasa heran. Apakah dia ada salah? Juna melihat adik sepupunya bengong. Lelaki itu langsung mengajak Uti masuk kedalam.
"Bu Dewi, kenapa kak Juna?"
"Tadi sudah ketemu sama penculiknya Vira. Makanya dia rada seperti itu. Ibumu mana? biasanya dia yang nyambut di pintu."
"Ibu lagi kasih makan pak Andre. Tadi pak Andre muntah-muntah. Sepertinya dia tidak cocok di kasih makan yang berbahan keras. Makanya langsung di buatin bubur sama Ibu Inah." Kata Uti.
"Ti," panggil Juna.
Gadis itu menoleh ke arah Kakak sepupunya.
"Iya, kak."
"Kamu sudah pertimbangkan soal tawaran kakak untuk kuliah di Bandung. Masalah biaya dan Kost-kostan biar kakak yang tanggung. Ini balas budi kakak karena kamu dan keluarga pakde sudah merawat saya selama satu tahun ini. Walaupun kakak di perlakukan seperti sandi yang asli. Kalau kamu mau kakak akan bicara sama Bi Inah." Kata Juna masih mencoba meyakinkan Uti adik sepupunya.
__ADS_1
"Kak, maaf untuk saat ini Uti belum mau kuliah dulu. Uti mau sama Ibu Inah. Sejak kecil kami terpisah karena keadaan. Ibu Ajeng sudah cerita kalau ibu ku tidak berani pulang karena memang sudah di usir dari desa itu." kata Uti kepalanya menunduk.
"Kalau itu sudah jadi keputusan kamu kakak tidak bisa maksa. Tapi kalau kamu mau kuliah di sini biar kakak bantu cari tempatnya. Kamu mau kuliah dimana? apa satu kampus sama Vira, biar kakak yang urus." Uti menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Uti sudah tidak berani berharap soal kuliah.
Di Bekasi ada universitas terbuka. Dulu Uti berencana kuliah disana saja. Apalagi jadwal kuliahnya cuma Sabtu dan Minggu. Sekarang rencana itu sudah dia kubur dalam-dalam. Melihat profesi ibunya, tidak mungkin dia bisa kuliah dari hasil kerja ibu Inah.
"Kamu ada lihat Dira? apa dia di kamar?"
"Non Dira katanya pergi ke rumah bu parti. Nggak tahu aku dimana rumah Bu Parti."
"Kakak tahu kok di mana tempatnya. Kakak kesana dulu, ya. Oh ya kamu ada lihat Awan dan Naura?" Uti menggelengkan kepalanya.
"Yasudah, kakak mau ke tempat Bu Parti dulu. Sudah lama nggak main kesana" Juna meninggalkan Uti di dapur. Sementara Uti membantu ibunya membersihkan bekas muntahan pak Andre.
...****...
Sumpah ibu nggak nyangka kalau non Dira jadinya sama nak Juna. Padahal ibu nggak pernah lihat kamu berduaan atau sama-sama dengan nak Juna."
"Itu namanya jodoh,Bu" Timpal Ayu yang ikut bersama Dira.
"Hahahaha... iya tidak ada yang tahu kalau soal jodoh, maut dan rezeki. Ibu kira nak Dira sama cowok yang pernah diajak kesini. Anaknya baik, ganteng, pokoknya gudjod deh" Bu Parti memberikan jempol pada sosok itu.
"Rian, kami sering kesini. Dia nggak pernah minder tuh diajak makan disini. Malah dia pernah endorse makanan Bu Parti untuk orang kantornya."
"Ehmmm.... Nostalgia kok nggak ngajak aku?" Dira kaget ketika suaminya sudah ada di depan warung gado-gado milik Bu Parti.
"Mas sudah pulang? bagaimana penyelidikannya?" tanya Dira.
"Nanti aku jelaskan. Yang pasti aku rindu lotek buatan bu Parti. Bu gado-gado favorit ku masih ingat kan?"
"Lotek pake telur sama lontong kan nak Juna. Mau pakai rempeyek nggak. Ada bakwan juga."
"Banyak benar, Bu. Nggak lihat perut mas Juna sudah mulai buncit. Saingan sama perut aku."
"Iya, nak Juna sekarang gemukan, hebat kamu nak Dira sudah bikin nak Juna tambah sehat." puji Bu Parti.
"Alhamdulillah, Bu. Punya istri pinter masak. Ya walaupun sejak hamil dia mulai jarang masuk dapur."
"Biasanya itu anaknya cowok, Nak Juna. Waktu ibu hamil Boni juga gitu. Ibu sempat mogok jualan. Ke dapur saja sudah malas. Cuma ya itu semua harus di lawan. Kalau nggak begitu ya tidak bisa makan." Kenang Bu Parti.
Dira mendengar nama Boni mendadak sendu. Dia ingat teman kecilnya yang jatuh dari pohon karena mengambil layangan Dira yang tersangkut. Malah Dira yang mengompori Boni supaya naik ke pohon.
__ADS_1
"Bu maafkan saya, kalau saja saat itu tidak minta Boni buat ambil layangan mungkin dia masih ada."
"Nak Dira, bukan salah kamu, Nak. Itu sudah takdir dari yang kuasa. Bukan salah kamu, Nak. Itu murni kecelakaan. Boni sudah biasa naik pohon. Bahkan ngambil kelapa dia sudah sering. Tapi saat itu memang lagi apesnya" Dira dan Bu Parti saling berpelukan. Bu Parti tahu kalau Dira saksi mata kecelakaan yang dialami Boni. Bahkan anak tetangganya itu sampai trauma berat.
****
Dua pasang kaki berlari menelusuri ke hutan tak jauh dari lokasi kejadian. Lelaki muda membawa pistol, dan lelaki paruh baya pun membawa barang yang sama. Kaki mereka yang penuh dengan darah berlari tanpa henti. Suara nafas yang sudah tak teratur lagi.
Setelah membuang Pandawa ke hutan. Mereka sudah terlalu jauh berjalan menembus hutan belantara.
Sang asisten pun tidak bisa berbalik arah. Kalau saja dia tidak di tugaskan membuang Pandawa yang di yakini mereka sudah meninggal dunia. Kalau dia melawan bisa habis nyawanya di tangan atasannya.
"Kita harus kemana lagi, Tuan." Keluh Seno sang asisten.
"Pokoknya jauh dari kejaran polisi!"
"Tapi kita sudah jauh, Tuan" Mereka sudah duduk di salah satu pohon besar di hutan.
"Bapak kenapa membunuh Pandawa. Bukannya dia anak angkat bapak? bahkan dia mau menikah dengan non Kayla?"
"Karena dia keluarga Paundra. Meskipun mereka bertiga bukanlah saudara kandung. Orangtua Paundra mengadopsi Padma diambil dari panti asuhan. Sementara Pandawa adalah anak dari pembantu rumah tangga mereka. Pembantu yang hamil tanpa suami atau bisa di katakan hamil di luar nikah.
Paundra sudah membuat adikku mati gantung diri. Adik saya hamil sebelum di nikahi lelaki itu. Karena malu perutnya semakin besar. Dia pun memilih bunuh diri.
Aku benci pada keluarga itu!"
"Salah adik Tuan tidak bisa menjaga milik pada lelaki yang belum muhrimnya. Sama kayak non Kayla. Tuan menyalahkan orang lain tapi tidak berkaca diri." Tawa Seno.
Irul melemparkan tatapan tajam pada Seno. Ada rasa tidak suka dengan opini Seno. Lelaki muda itu menyadari reaksi bos nya, dia memilih tetap muka tebal.
Sayup-sayup mereka mendengar suara orang berjalan. Irul dan Seno mencari tempat persembunyian. Mengendap-endap berjalan ke semak-semak.
"Bapak sepertinya ada tempat disana'' Tunjuk Seno.
"Ah, Iya. Coba kamu check kesana." Irul lega menemukan tempat persembunyian.
"Bapak saja yang duluan kesana. Saya mau check keadaan dulu." Irul pun menuruti perintah Seno.
BUUUUUGH!
Satu senjata yang sudah di siapkan Seno. Pukulan kearah kepala Irul membuat lelaki paruh baya itu langsung tersungkur. Seno hanya menatap atasannya dengan menaikkan sudut bibirnya. Belum lagi Seno menghujamkan kakinya ke punggung belakang Irul tanpa ampun. Lelaki itu tidak bereaksi apapun membuat Seno semakin mudah melakukannya.
__ADS_1