
Waktu terus berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan pun dilalui setiap insan yang bernyawa. Sandi pun begitu, dia bisa berbaur dengan masyarakat di tempat tinggalnya. Setelah pemulihan berbulan-bulan akhirnya lelaki itu kembali menjalani aktivitas yaitu membantu pak Rohim dan Bu Halimah di ladang mereka.
Meskipun sebagian masyarakat belum bisa menerima dirinya. Akibat masa lalu Sandi yang buruk di mata orang desa Tulang Bawang. Sandi paham tak ada asap jika tak ada api. Api yang dia buat di masa lalu.
Sebelum berangkat ke ladang, Sandi harus mengantar Uti ke sekolah. Apalagi sebentar lagi Uti akan ujian akhir. Tentu sebagai kakak dia harus mensupport agar adiknya belajar dengan baik.
Pagi ini Sandi menyiapkan motor untuk mengantarkan Uti dan Jimmy ke sekolah. Jimmy adalah anak biologis Sandi dan Naura. Meskipun sampai saat ini dia belum bisa menikahi Naura karena belum punya pekerjaan tetap. Dia juga malu kalau harus bertanggung jawab tapi secara materi belum mapan.
Bukan hanya itu, Sandi perlu meyakinkan diri apa benar dia adalah ayah dari Jimmy. Apa benar dia adalah Sandi anaknya pak Rohim? Beberapa kali keluarganya mengajak dirinya ke tempat yang bisa membangkitkan ingatannya. Tapi ternyata tak mempan. Hingga pak Rohim tidak lagi mengungkit soal masa lalu putranya.
"Aku lebih suka Sandi yang sekarang. Setelah hampir sepuluh bulan dia pulang kesini. Setelah sekian tahun dia pergi tanpa kabar dan sekarang dia kembali menjadi lelaki lebih baik." kata pak Rohim saat bersantai di ladang menikmati kopi hangat buatan sang istri."
Bu Halimah mendengar ucapan suaminya pun menyetujui. Sandi yang dulu termasuk sosok yang pembangkang, ugal-ugalan, jarang pulang ke rumah. Pak Rohim sampai malu sama tetangga kanan kiri yang selalu mengadu kelakuan Sandi.
Putranya selalu nongkrong di depan gang mengganggu anak gadis atau wanita yang lewat. Hal itu sudah menjadi keresahan warga. Bukan dia tidak pernah mendidik anaknya. Dari cara lembut dan cara kasar pun sudah mereka lakukan. Tapi tetap saja putra sulungnya tidak pernah mau mendengarkan mereka.
"Hidup itu berproses, pak. Kata orang, umur seperti sandi itu sedang mencari jati diri. Dia belum paham mana yang baik dan benar. Walaupun usianya saat itu sudah 18 tahun. Tapi kalau kita sabar, serta tawakal pada Tuhan yang maha esa. Saya yakin Sandi bisa berubah. Bapak bisa lihat kan sekarang, karena sakitnya itu membuat sandi bisa belajar lebih baik lagi. Saya lebih suka Sandi yang ada sekarang. Dan jika ingatannya sudah kembali, saya harap dia tetap seperti ini. Bukan balik seperti dulu lagi. Itu doa ibu pak."
__ADS_1
"Doa semua orangtua, Bu. Tidak ada orangtua yang mendoakan anaknya jelek-jelek, Bu. pada asalnya, doa orang tua untuk anaknya adalah mustajab. Ini berlaku jika doa itu diucapkan dengan ikhlas dan kesadaran, tidak dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Kemudian kepada sang anak sangat durhaka kepada Ibu Bapaknya. Tapi Sandi bukan termasuk durhaka. Dia hanya salah jalan. ibu ingat saat sandi SD dan SMP, dia pernah menjuarai lomba sepak bola bawa nama kampung. Hasil uang lombanya di kasih buat bayar utang bapak sama pak Rahmat. Ibu ingat kan?" Bu Halimah menggangguk menyetujui ucapan suaminya.
Sandi sudah berdiri di depan rumah Naura. Tentu saja menjemput putranya yang masuk kelas siang. Saat ini Jimmy sudah kelas dua SD. Di daerah mereka, anak-anak masuk sekolah di usia di bawah tujuh tahun sudah hal yang lumrah. Begitu juga sama Jimmy yang usianya tujuh tahun sudah duduk di kelas dua. Jimmy masih sekolah di usia 6 tahun.
Naura menyambut lelaki itu dengan meminta mengobrol di teras depan. Saat ini Naura tinggal sendiri karena kedua orangtuanya sudah tiada. Naura juga belum menikah karena dia tahu diri. Mana ada lelaki yang mau sama dirinya. Wanita yang sudah punya anak tanpa status pernikahan.
Sandi sudah mendengar kisah masa lalunya dari Inggar, teman masa kecilnya. Dia bukan diam saja selama ini. Beberapa orang membantu membuka ingatan tentang dirinya. Sandi pun akhirnya mengetahui kenapa masyarakat sangat tidak menyukai dirinya. Kelakuannya di masa lalu yang dianggap tidak punya kesopanan menjadi poin. Inggar mengajak Sandi menengok makam Dodi, teman main mereka. Kata Inggar, Dodi yang lebih banyak tahu tentang rahasia Sandi. Dodi termasuk dekat dengan Sandi ketimbang Inggar.
Itu yang membuat Sandi memberanikan diri menemui Naura. Wanita yang sudah memberinya anak tampan yang bernama Jimmy.
"Duduk, Di. Maaf aku cuma bisa kasih jamuan seadanya." kata Naura sambil meletakkan secangkir teh dan pisang goreng.
"Maaf kenapa, Di?"
"Maaf kalau aku belum bisa menikahimu. Maafkan aku yang saat masa lalu sudah melukai hatimu. Tapi saat ini aku masih berusaha menyembuhkan diri. Membuka memori dari masa lalu."
"Sampai kapan, Di? Jimmy sudah besar, dia pasti mempertanyakan kenapa ayahnya tidak tinggal disini. Dulu dia minder bergaul dengan orang-orang atau teman sebayanya. Orang-orang selalu bilang dia anak haram. Dan setelah kamu kembali harapan Jimmy sangat besar. Sejak kecil aku mencoba mendekatkan Jimmy dengan keluargamu, Di. Biar Jimmy tahu dia punya kakek nenek dan bibi."
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu tidak membuka diri pada lelaki lain, Naura. Kamu berhak bahagia. Jangan berharap pada lelaki seperti aku, Ra. Carilah kebahagiaanmu."
Naura tersentak mendengar ucapan Sandi. Secara tidak langsung lelaki itu tidak mau bertanggung jawab atas dia dan Jimmy. Secara tidak langsung dia di tolak oleh Sandi.
"Kamu kira segampang itu orang lain mau menerima keadaanku, Sandi. Kamu ternyata tidak berubah, hanya saja kali ini penolakanmu secara halus. kalau saja ada lelaki yang mau sama aku mungkin sudah lama aku menikah. Tapi nyatanya..."
BRAAAAAK!
Naura menangis masuk ke kamar. Rasanya sakit sekali mendengar ucapan Sandi. Sandi berdiri di depan kamar Naura.
"ibu kenapa nangis, ayah?" suara Jimmy mengagetkan Sandi.
"Ayah tidak tahu, Jimmy. Kamu sudah siap? kita berangkat sekarang. Ayah mau ke Ladang bantu kerjaan kakek."
"Sudah siap, Yah! Jimmy pengen main ke ladang juga, boleh?"
"Boleh, tapi izin sama ibu dulu, ya." Jimmy mengangguk. Tangan mungilnya meraih jemari Sandi. Mereka pun berangkat ke sekolah Jimmy.
__ADS_1
Dari jauh Naura memandang kepergian anak dan mantan kekasihnya. Rasa sesak masih menyelimuti hatinya. Naura merasa niatnya mengambil hati keluarga Sandi berujung sia-sia. Namun rasa optimis kembali menguatkannya.
"Ini baru awal Sandi, kemanapun kamu menghindar aku akan tetap mengejar kamu. Demi Jimmy aku rela membuang rasa malu untuk kembali mengejar cintamu. Pelan tapi pasti kita pasti akan menikah."