
"Assalamu'alaikum" Dira dan Juna serta keluarga besar suaminya sudah berada di kediaman Dewi Savitri.
Acara empat bulanan kehamilan Dira dan Tina tinggal beberapa hari lagi. Dira dan Juna sebenarnya hanya ingin mengadakan tujuh bulanan saja. Tapi ternyata mama Dewi tetap kekeuh mengadakan empat bulanan untuk anaknya dan juga menantunya. Mereka hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan sang mama.
"Ya Allah, non Dira tambah seger aja sejak hamil." Bi Inah menyambut anak majikannya baru saja tiba dari Lembang.
"Uti, bantu ibu bawa barang" kata Bi Inah.
Juna dan Awan kaget saat Bi Inah memanggil nama itu. Terlebih Awan dan Naura. Sejak kejadian pengusiran Mutiara dari rumah. Mereka kehilangan jejak keberadaan Uti, adik yang mereka sayangi. Ajeng pun ikut bungkam atas keberadaan Uti. Karena Naura lah yang mengantarkan Uti ke tempat Ajeng saat. Yang Naura tahu, Ajeng masih ada hubungan keluarga dengan ibu kandung Uti.
"Iya, Bu." Uti berlari tergopoh-gopoh sambil memakai setelan baju tidur serta serbet yang menyempil di pundaknya.
"Ini, Ada keluarga non Dira datang. Kamu kasih salam sama mereka." Bi Inah langsung memperkenalkan anaknya pada Dira dan keluarga besarnya.
"Kak Sandi," Uti melihat kakaknya dan istrinya berada di belakang Dira dan Juna.
Lelaki itu langsung menerobos dari sebelah Juna. Melihat adiknya yang dia cari selama ini. Sandi alias Awan langsung memeluk Uti. Rasa rindunya pada sang adik yang sejak bayi selalu bersamanya. Rasa rindu juga di rasakan Naura yang sejak Uti kecil selalu bersamanya. Baik Naura maupun Awan tidak menyangka akan menemukan Uti.
"Kamu kemana saja,Ti. Kakak cari kamu semua teman-teman kamu kakak datangi. Kata Bu Ajeng kamu mau kuliah sekaligus kerja di kota. Tapi ternyata kamu disini. Ya Allah, Dek. Kami sangat merindukanmu. Di rumah rasanya hampa tanpa ada kamu. Ibu sejak kamu pergi dia hanya melamun saja."
Uti melepaskan pelukan dari Awan. Mendengar sang ibu yang selama ini membesarkannya sedang bersedih. Uti merasa insecure, bagaimana mungkin ibu Halimah sedih, yang mengusir dirinya adalah ibu tirinya.
"Aku bukan adik kak Sandi. Aku ini hanya anak haram, seperti kata yang di bilang ibu Halimah. Jadi aku tidak pantas di rindukan sama kalian. Aku ..."
__ADS_1
"Dek, dengarkan kakak. Seburuk apapun yang terjadi dalam rumah tangga orangtua kita. Kamu tetap adik kak Sandi, Kamu tetap anak ayah Rohim. Kita satu ayah, kita ini masih keluarga. Bi Inah, saya mau ajak Uti pulang ke Tulang Bawang setelah acara disini. Bolehkah?" tanya Awan.
"Kalau saya terserah Uti saja. Saya senang kalau kalian sangat memperhatikan Uti. Saya senang kalau Uti dapat kehidupan lebih baik, daripada dengan saya malah jadi pembantu. Tapi untuk sementara biarlah Uti bersama saya dulu. Saya sangat senang bisa bertemu Uti lagi setelah saat bayi harus meninggalkan dia."
"Ya ampun kok pada kumpul disini. Bi, Uti ajak mereka masuk dong." Mama Dewi melihat tamunya masih di depan pintu.
"Mama," Dira langsung memeluk sang mama. Dewi pun membimbing anaknya masuk ke dalam rumah. Tampak semua sedang sibuk menata kamar anak dan menantunya. "Ma, Dira mau kamar diatas." rengeknya.
"Maaf, Nak. Vira sudah pindah ke kamar atas. Katanya kamu yang izinkan dia buat ambil kamar diatas." Dira mencoba mengingat perihal permintaan adiknya soal hibah kamar.
"Kan dia cuma bilang kalau numpang tidur di kamarku. Bukan ambil hak kamarku. Lagian kamar Vira kecil. Layaknya kamar anak gadis pada umumnya." batin Dira.
"Mas, Gimana ini?"
"Ya nggak apa-apa kalau memang Vira sudah pindah kesana. Lagian dia kan juga bentar lagi mau tunangan." Juna meyakinkan istrinya.
"Kenapa, Ma?"
"Sampai sekarang baik Vira maupun Panji masih bungkam. Kalau mama tanya Vira selalu bilang tanya saja sama Panji. Sedangkan Panji, kata orang pabriknya, sudah tiga hari ke Hongkong."
"Sudahlah, Ma. Dari awal aku sudah bilang. Segala sesuatu yang bersifat memaksa akan tidak bagus untuk kedepannya. Mama lihatkan, Panji tanpa pamit malah pergi ke Hongkong padahal dia mau tunangan. Lelaki macam apa itu, nggak gentle banget. Kalau ada masalah atau merasa Vira punya masalah kan bisa di bicarakan."
"Sekarang Vira nya kemana?" tanya Dira. Entah kenapa ada rasa khawatir pada adiknya.
__ADS_1
"Belum pulang dari kampus. Mungkin bentar lagi pulang. Mama lihat dia sudah biasa lagi. Nggak ada sedihnya."
"Mama ingat saat dia gagal nikah sama Satria, nggak ada dia pakai meratapi seperti kebanyakan orang. Vira itu orangnya kuat, walaupun aku tidak tahu bagaimana dalam hatinya." kata Dira pada mama Dewi.
...***...
Vira berjalan memasuki koridor kampus. Tampak beberapa teman menyapanya dengan ramah. Tak ada yang aneh seharian ini. Setelah mengambil mata kuliah ulang demi mengejar perbaikan nilai. Kepalanya sedikit cenat cenut. Di bawah pohon rindang pun jadi tempat yang pas untuk menenangkan otaknya.
"Ra," Vira mengenal pemilik suara itu.
"Elsa," gadis itu langsung menghamburkan tubuh kearah Vira. Memeluk sahabatnya yang sempat dia sakiti. Terdengar isak tangis serta susutan hidung.
"Elsa, kamu nangis. Ya ampun kamu diapain sama kak Dawa. Dia nyakitin kamu lagi." Elsa menggeleng.
"Aku mutusin kak Danu. Aku sadar perasaan tidak bisa di paksa. Meskipun kak Danu pernah bilang kalau dia sudah ikhlas kamu sama kak Panji. Tapi merasakan ada rasa sakit setiap membahas kamu.
Aku memang cinta sama dia. Tapi sempat aku berpikir, percuma cinta bertepuk sebelah tangan. Sekuat-kuatnya aku berjuang kalau hati dan pikirannya lain arah. Aku nggak bisa maksa. Sejak dia turun jabatan, papa sudah melarang aku untuk dekat sama dia lagi.
Aku juga belum siap kalau papa mencabut semua fasilitas hanya karena ketidaksetujuan dengan Pandawa."
"Aku yang akan bicara sama dia. Dia yang kasih kamu harapan masa menyerah begitu saja. Aku nggak terima kalau kamu di sakiti. Aku juga nggak ada perasaan sama dia. Lebih penting persahabatan kita dari pada seorang lelaki. Aku tidak masalah kehilangan pasangan daripada kehilangan sahabat dan keluarga.
Sa, kamu main ke rumah ya, beberapa hari lagi kak Dira dan kak Tina mau empat bulanan." Elsa menggangguk.
__ADS_1
Sahabat adalah seorang teman dekat di mana bisa saling berbagi kasih sayang. Kedekatan dalam sebuah persahabatan lebih dalam dibandingkan kedekatan dengan teman biasa.
Sahabat memiliki nilai penting dalam kehidupan setiap orang. Dengan sahabat, kehidupan sehari-hari menjadi lebih menyenangkan untuk dilalui. Ketika masalah besar terjadi, kita tidak akan merasa sendiri karena ada sahabat yang selalu di samping untuk memberikan dukungan.