
Pernikahan adalah proses pengikatan janji suci antara laki-laki dan perempuan.ibadah yang mulia dan Suci. Pernikahan tidak boleh dilakukan sembarangan karena ini merupakan bentuk ibadah terpanjang dan dapat dijaga hingga maut memisahkan.
Jika sudah mampu dan matang secara emosional, dengan menikah, seseorang dapat menyempurnakan separuh agamanya. Dari mahligai rumah tangga, pelbagai hal yang selama ini dikategorikan sebagai dosa, jika dilakukan dengan suami atau istrinya dicatat sebagai ibadah di sisi Allah SWT.
Bagi Juna istri adalah amanah yang harus di jaga. Itu yang selalu di wanti-wanti oleh mama Salma kepadanya. Mama selalu berpesan agar memperlakukan wanita dengan baik.
"Kamu itu lahir dari seorang wanita. Dan kamu juga akan mempunyai keturunan dari seorang wanita. Maka itu perlakukanlah wanita dengan terhormat. Surga dibawah telapak kaki ibu. Tapi bagi istrimu, surga nya ada di suaminya. Jika kamu memperlakukan dia dengan baik. Insyaallah, dia juga akan melakukan hal yang sama.
Laki-laki yang ingat bahwa dirinya dilahirkan dalam rahim ibunya pasti akan berpikir seribu kali untuk menyakiti hati seorang wanita, karena dia menyadari bahwa ibunya juga seorang wanita.”
Setelah menemui Rian, Juna pun menjemput Dira yang menunggu di kantor. Langit tampak cerah dengan gumpalan awan yang menghiasinya. Juna masuk ke ruang kerja Dira. Tampak wanita itu sedikit tertidur di meja kerjanya. Juna membelai rambut Istrinya lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya. Sesaat Dira menggeliat melihat sang suami tak berjarak dengannya.
"Mas," sapanya lirih.
"Istriku nyenyak sekali tidurnya. Teruskan saja."
"Kepalaku sedikit pusing. Jadi aku pilih tidur saja." keluh Dira.
"Makanya aku bilang jangan ngantor. Biar aku saja yang selesaikan pekerjaan kamu. Mumpung aku cuti kerja di Lembang."
"Mas, maaf ya merepotkan kamu. Gara-gara aku kamu harus ninggalin pabrik."
"Sudah tugasku, sayang."
"Mas, kita jadi ke dokter Melati?"
"Nggak usah dulu. Kamu pucat banget, istirahat saja dulu nanti kalau kamu sudah fit kita baru ke dokter Melati."
"Enggak, mas. Kita berangkat sekarang saja."
"Tapi, sayang ..." Juna menuntun Dira duduk sofa ruang kerja.
"Mumpung fisikku sedang nggak baik, mas. Kita check up sama dokter Melati. Biar tahu kondisi anak kita. Apa berpengaruh? kata orang kalau ibunya nggak sehat anak kita juga ikut sakit."
"Sayang, kamu itu cuma bawaan hamil saja. Jangan terlalu di forsir kerjanya. Bukankah kamu sudah janji dengan mama dan aku kalau kerja hanya setengah hari saja. Jadi kita pulang ya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Iya, mas. Kita pulang." Dira mengambil tas nya di nakas. Sementara juna membereskan beberapa berkas untuk di bawa pulang.
"Kok di bawa, mas. Biarin saja."
"Biar aku yang selesaikan di rumah sambil nemenin kamu."
Mobil yang dikendarai Juna melaju meninggalkan kantor. Dira duduk disamping suami sambil memandang jalanan luas. hiruk pikuk kota Jakarta Jakarta menjadi kota dengan aktivitas warganya yang tanpa henti. Semuanya dimulai dini hari saat sang fajar menunjukkan diri. Di balik 1001 pencakar langit kota Jakarta sang matahari perlahan menyinari. Seolah menjadi energi baru bagi setiap makhluk yang menghuni Kota Jakarta. Warga Jakarta memang terkenal disiplin berangkat kerja pagi hari. Tidak lain ialah untuk menghindari kemacetan panjang.
Meski begitu, macet memang selalu menjadi teman setia melintasi jalan di Kota Jakarta. Tanpa jarak sejengkalpun, jalanan dipenuhi dengan berbagai jenis kendarann. Mereka juga berburu dengan waktu seiring matahari yang mulai tinggi.
Pemandangan seperti ini memang mudah dijumpai di setiap sudut jalan Kota Jakarta. Pagi dan sore hari hilir mudik kendaraan tak pernah terelakkan.
*
*
*
Bu Delia, anda diagnosa menderita alzheimer."
"Kenapa harus aku yang kena..."
"Apa ada obatnya,dok?" tanya Rian.
"Saat ini penyakit itu masih langka penyembuhannya." Dokter Jaya menepuk bahu Rian.
"Apa ini mematikan?"
"Tidak sayang. Aku ada disampingmu." Rian memeluk istrinya yang syok dengan vonis dokter.
Delia terus berjalan di lorong rumah sakit. Pikirannya menerawang setelah mendengar vonis dokter. Sesaat dia menyusutkan bobot tubuhnya di sebuah kursi besi panjang.
Apakah itu penyakit parah?
Itu pertanyaan yang mendarat di dalam hatinya. Dia pernah mendengar kalau penyakit itu bisa membuat si penderita jadi linglung. Dia pernah mendengar saat kakeknya di vonis penyakit pikun, bahkan bisa mengompol dimana saja.
__ADS_1
Apakah aku akan jadi beban buat Rian?
Lagi-lagi pemikiran itu mendarat di otaknya. Kalaupun iya memang sudah kewajiban suami melindungi istrinya. Sudah kewajiban suami untuk dibebankan semua yang dialami istrinya. Meskipun dia merasa kasihan jika Rian menanggung semua yang dia alami.
Delia berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Tatapannya lurus kedepan. Sesaat dia terhenti melihat beberapa orang lalu lalang di sekitarnya. Sesaat dia merasa heran, kenapa dia ada di rumah sakit, padahal dia merasa baru saja di rumah bercanda ria bersama mama Yasmin. Delia memandang orang-orang dengan berbagai aktivitas.
"Aku dimana..." Delia merosotkan tubuhnya. Seketika dia merasa ketakutan berada di rumah sakit.
"Mama ... papa... aku takut..." isaknya.
"Kak Oka, kak Rayyan, kak Farhan, kalian dimana?" tangisannya semakin menjadi.
"Mama..." suara kecil menyapanya.
"Kamu siapa?" tanya sambil memundurkan langkahnya.
"Ogel." sahut suara kecil itu.
"Mama..." Roger memegang tangan Delia.
"Saya bukan mama kamu!" Delia berlari meninggalkan Roger sendirian.
"Sayang ...." Delia menoleh kearah panggilan.
"Rian ... Kamu Rian kan?"
Delia ketakutan melihat Rian. Sosok lelaki yang sudah merenggut mahkotanya. Mahkota yang akan dia jaga untuk Arjuna. Satu tahun lebih Delia menutup diri dari keluarganya di Indonesia. Satu tahun lebih dia menutup akses untuk menghindar dari Arjuna. Nyatanya, saat dia kembali ke Indonesia hati Arjuna sudah terpaut pada Dira.
"Pergi!" Teriak Delia seperti orang gila.
"Sayang," pekik Rian sambil menggendong Roger.
"Suster tolong susul istri saya. Dia Alzheimer, jadi rada linglung. Tolong suster saya tidak mau dia kenapa-kenapa." Beberapa aparat rumah sakit mengepung Delia yang mencoba kabur. Salah satu suster memberikan suntikan agar Delia tenang. Tak lama kemudian Delia pun sudah tak sadarkan diri.
"Maafkan aku, sayang." isak Rian.
__ADS_1