SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 162


__ADS_3

Udara hujan semakin terasa. Atmosfir udara di sekitar gerbang kampus semakin menusuk tulang. Walaupun udara hujan masih menyerang langit kota Jakarta. Deru nafas yang mulai menyergap keduanya. Bagaimana tidak, dia sudah menyembunyikan identitasnya sebagai sosok "Sapi" di depan lelaki itu. Tapi nyatanya sikap Dawa menjadi malapetaka bagi Vira.


Masih berada di tempat yang sama mereka saling terdiam. Langkah kaki lelaki itu semakin mendekati. Kalau punya ilmu sakti Vira ingin sekali menghilang dari hadapan Pandawa. Tapi nyata lelaki itu masih menahan tangannya.


Dawa berjalan mendekati Vira. Kini mereka tidak berjarak lagi. Vira mencoba mundur selangkah, tidak ingin berurusan dengan Pandawa lagi.


"Sebenarnya aku sudah banyak mengantongi bukti kalau Elsa bukan yang aku cari. Hanya saja aku masih belum percaya hal itu. Hatiku selalu mengarah sama kamu, tapi aku juga salah karena sudah buat Elsa di posisi ini.


Aku sudah merasa kamu lah yang aku cari selama ini. Aku sudah merasa kamu "Sapi-ku". Aku selama ini merasakan feeling yang kuat sama kamu. Aku .."


"Stop! Bualan apalagi ini. Oh, anda mencoba merayu saya hanya karena Elsa sudah mulai jaga jarak dengan anda. Di kira saya bisa percaya sama ucapan anda. Nehi .. Saya tidak akan tertipu dengan anda.


Maaf kak Dawa, tapi sepertinya kamu salah orang. Aku bukan orang yang kamu cari. Aku ini Savira Gayatri anak dari Dewi Savitri."


"Sapi yang aku kenal tidak suka kulit ayam, Sapi yang aku kenal takut sama petir, Sapi yang aku kenal ..."


"Dengar, ya. Satu hal yang harus anda. Yang tidak suka kulit ayam emang si Sapi saja, banyak tuh yang seperti itu. Yang takut petir banyak yang seperti termasuk Elsa. Dia juga takut sama petir, dia juga..."


"Elsa bahkan melahap habis daging ayam goreng tanpa memisahkan daging dan kulitnya. Iya memang Elsa takut petir, tapi gelang itu...." Dawa tetap ngotot.


"Kenapa dengan gelang ini? Anda saja bisa memakainya itu menandakan barang itu bisa di dapatkan dengan mudah. Jadi please jangan bicara tidak masuk akal. Maaf Grab saya sudah sampai." Vira berlari memasuki grab yang sudah berdiri di depan gerbang kampus.


"Aku yakin kamu sebenarnya adalah "Sapi". Tidak aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku akan kembali mengejar cinta yang sudah lama di nanti. Dan aku semakin yakin cinta itu ada. Vira aku ingin memperjuangkan kamu." Dawa memasuki mobil untuk mengejar Savira.


Vira baru saja duduk di grab yang di pesannya. Mobil berwarna silver gelap itu sudah menunggunya di depan gerbang kampus. Dia belum siap mengatakan pada Dawa soal jati dirinya. Terbayang dibenaknya kemarahan dan kekecewaan mamanya terkait Pandawa. Dia juga tidak ingin membuat Elsa kembali membencinya. Banyak hal yang akan terjadi jika semuanya terungkap.


Setelah masuk ke dalam mobil, Vira menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Sesekali memejamkan mata, merenungkan apa yang terjadi barusan. Tangannya menyeka bulir-bulir air matanya yang membasahi pipinya. Helaan nafas berat terdengar dari mulutnya.


"Maaf," batinnya lirih.

__ADS_1


"Maafkan aku kak Panji." masih membatin.


Belum lama Vira hendak bernafas lega. Dia di kejutkan sebuah mobil yang terus mengejar mobilnya. Vira mengenal pemilik mobil tersebut. Lagi-lagi dia memilih bungkam. Enggan banyak berkomentar atau melakukan apapun. Beberapa kali mobil itu mengklakson. Sampai-sampai sopir Grab mengomel karena ada yang berusaha menjegal mobilnya.


"Ya ampun itu orang bawa mobil ugal-ugalan!" umpat sopir Grab.


"Terus saja pak nggak usah di pedulikan. Itu dari tadi punya maksud terselubung sama saya." jawab Vira.


"Yasudah, non turun saja. Saya tidak mau cari perkara."


"Bapak mau saya suruh turun. Kalau saya nanti di culik sama dia bagaimana?"


"Aduh, Non. Mau situ di culik atau enggak bukan urusan saya!"


"Yasudah, kalau anda mau saya turun. Paling kalau ada apa-apa, saya tinggal bilang sama pak polisinya. Kalau abang kerjasama dengan orang yang mau culik saya."


"Busyet dah, ini penumpang pakai ngancem lagi!"


"Emang kenapa sih, dia ngejar situ!"


"Saya mau di jadiin bini kesekian. Coba kalau posisi saya di tukar dengan anak atau adik abang. Ada bapak-bapak buaya darat mau jadiin keluarga abang bini muda. Emang ya, ada duitnya, Bang. Tapi nggak dapat akhirat" Vira terus cerocos.


"Iya, non pasti saya antar di depan rumah. Tenang saja, non. Tapi benar kan bayarnya 3 kali lipat?" Vira mengangguk kecil.


"Kita berangkat, Non." Pak sopir mulai menaikkan daya kecepatan mobil.


Vira sampai di rumah dengan selamat. Tentu saja tetap membayar uang grab sesuai di janjikan. Abang sopir Grab mengucapkan terima kasih dan meninggalkan rumah Vira. Walaupun Grab nya di larang masuk area perumahan. Tapi berkat rayuan Vira petugas gerbang kompleks langsung menurut. Sampai di depan pintu dia sudah di sambut satpam rumah yang berjumlah 2 orang. Dua lelaki dewasa itu menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya.


"Vira kamu sudah pulang?" sapa Tina.

__ADS_1


"Lah yang berdiri di depan kakak siapa, dong?"


"Qorinnya mungkin." Vira menjawab sekenanya.


"Bisa jadi. Soal nya Vira yang aku kenal selalu ceria. Tapi yang di depan aku sekarang nggak kayak biasanya."


"Ponakan ante, kenapa mama kamu kayak om Panji, ya. Hobi godain orang."


"Ciyeee, pantes mukanya gitu. Kangen ya sama Panji?" Tina semakin semangat menggoda adik iparnya. Vira mendengar hal itu hanya menjulurkan lidahnya.


"Kamu sudah pulang, Vira? Mama mau kenalkan sama kamu anaknya bi Inah, namanya.."


"Vira capek, Ma. Mau istirahat dulu." Vira langsung memotong ucapan mamanya.


Kejadian di gerbang kampus tadi sangat membuat moodnya hancur. Entah apa yang membuat Pandawa bisa tahu kalau dia adalah Sapi. Vira tidak tahu dan tidak mau tahu. Sekarang tubuhnya sudah rebahan di atas ranjang. Menarik nafas dalam-dalam. Mencoba buang pikiran tentang kejadian tadi.


"Kalau dia tahu aku adalah Sapi. Fiks dia pasti punya tujuan tertentu di keluargaku. benar kata mama, aku harus waspada. Kalau aku baik sama kak Danu eh salah Dawa, sama saja aku memancing ular masuk ke rumah orang.


Pokoknya Vira, kamu harus hati-hati sama Pandawa. Jangan sampai masuk dalam jebakannya."


...*****...


Dawa masih terdiam di dalam mobil. Beberapa kali mengerutkan dahinya efek apa yang dia lakukan tadi sama Vira. Bukan sembarang menebak, tapi instingnya mengatakan Vira lah yang dia cari selama ini. Namun satu yang dia sadari, gadis yang di cintai nya adalah anak dari lelaki yang merusak kakaknya. Dan sekarang dia terjebak dalam lingkaran cinta antara Vira dan Elsa.


Deringan teleponnya membuyarkan lamunannya. Sebuah nomor asing terpampang di layar pipih handphonenya.


"Ini nomor siapa, ya?" tanya nya masih memandang layar pipihnya.


Akhirnya Dawa mengangkat telepon asing tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum, kakak. Akhirnya kamu mengangkat teleponku. Tolong temui aku di Vila puncak Bogor."


"Kayla!"


__ADS_2