SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 75


__ADS_3

Juna akhirnya sampai di kediaman Dewi Savitri, kediaman mertuanya. Kursi yang menopang tubuhnya berjalan memasuki areal rumah. Diatas tangga yang menanjak. Tepat didepan pintu Bi Inah sudah datang menyambutnya. Bi Inah mempersilahkan anak majikannya dan menantunya masuk ke dalam. Tentu dengan suara kehebohan wanita itu karena terkejut Juna sudah kembali.


Rumah bergaya eropa classic yang terlihat kokoh dan mewah. Tampak aura positif yang tersirat dari siapa pun yang terlihat. Terletak di kawasan elite kuningan, itu adalah rumah kediaman keluarga Dewi Savitri.


Seorang lelaki duduk di kursi roda memandang setiap sudut ruangan. Ada kenangan di setiap tempat dimana dirinya berdiri. Tatapannya beralih tangan yang memegang kendali kursi rodanya. Bukan hanya itu saja, si pemilik tangan juga yang memegang kendali hatinya saat ini. Tangan itu kini bertumpu pada jemari lain yang memadukan cincin mereka yang terlihat kembar. Si pemilik tangan pun tersenyum menatap ke bawah.


"Kita pulang, mas." ucapnya penuh dengan senyum.


"Iya, kita pulang." suara bariton itu membalas ucapan sang pemegang kendali.


Kursi itu kini di tuntun selangkah lebih maju. Memutar ke arah sebuah ruangan. Photo besar itu terpampang jelas di ruangan tersebut. Ada televisi berukuran 40 inci.


"Bentar, ya, Mas." tubuh indah berjalan meninggalkan dirinya menuju sebuah ruangan lain.


"Maaaa.... Kak Feri.... Vira ...." panggilnya.


"Mereka kemana sih, Mas? Bi Inah mama dan yang lainnya dimana?" tanya Dira.


"Di teras, non." jawab Bi Inah.


"Kak, kami langsung pulang, ya." Awan muncul bersama Naura dan Jimmy.


"Lah kok pulang? kita kan baru aja sampai, Wan. Kalian disini aja dulu. Jimmy katanya mau lihat Dufan sama taman mini. Besok kita jalan kesana." ajak Juna.


"Ayah, aku mau jalan-jalan." rengek Jimmy.


"Jimmy, kamu kan lusa sudah harus masuk sekolah lagi. Ibu izinnya cuma sampai hari minggu. Senen kamu harus sekolah lagi." ucap Naura.


"Pokoknya kalian ikut ke teras." Dira mengajak Jimmy dan yang lainnya ke teras. Sementara Juna di tuntun oleh Bi Inah ke teras.


Dira memberi instruksi agar Awan dan yang lainnya untuk masuk ke dalam. Jaka ternyata sedang melintas ikut membantu membawa barang-barang milik Arjuna.


Juna dan yang lainnya tiba di teras. Tampak beberapa orang sudah berkumpul disana. Ada Feri dan Tina juga Amar, ada beberapa kerabat dekat keluarga Dewi Savitri, ada opa Han dan juga Jaka. Vira juga tak ketinggalan bersama Elsa sohibnya. Semua menyambut kedatangan Juna dengan bahagia.


"Selamat datang kembali menantu mama." Mama Dewi memeluk Juna.


"Terimakasih, Ma. Terimakasih atas sambutannya." Juna merasa terharu dengan acara sambutan tersebut.

__ADS_1


Juna masih dalam suasana terharu seketika dia terlihat menikmati acara tersebut. Walaupun dia sangat sedikit lelah karena perjalanan demi perjalanan dia tempuh. Perjalanan yang tadinya dia ragukan akan berakhir bahagia. Ternyata berakhir dengan bahagia.


"Hayo, Kak Juna jangan bengong?" suara Vira mengagetkan dirinya.


"Aku nggak bengong, Vira. Aku hanya terharu dengan semua ini."


"Dan semoga setelah ini, kak Dira tidak seperti orang mau mati. Seperti kemarin-kemarin dalam satu tahun dia kehilangan semangat hidup. Kan nyawanya sudah separuh di bawa cinta tumbuh sejak 20 tahun. Daebak!"


"Kamu sudah punya pasangan belum?" tanya Juna pada adik iparnya.


"Ngapain mikir pasangan? mending nikmati masa muda. perjalananku masih panjang, kak?" jawab Vira cuek.


"Masih Vira yang dulu. Kakakmu juga dulu gitu? diajak nikah susah banget, alasannya banyaklah, mikirin mama, terus apalah!


Tapi aku berterimakasih sama Sayembara jodoh yang mempersatukan kami. Ya walaupun harus melewati kelokan yang tidak berujung."


"Dan sebentar lagi yang bakal ikut aturan sayembara jodoh adalah kamu, Vira." jawab Dira terkesan meledek sang adik. Dira sedikit puas karena dulu yang suka mengolok soal sayembara jodoh adalah adiknya.


"Kamu adiknya Dira?" sapa lelaki yang mendekatinya.


"Loh, kak Panji sudah ada disini? bukannya tadi..."


"Saya minta maaf atas sikap di cafe tadi. Saya kira istri saya kepincut lelaki lain. Maklumlah namanya juga cinta."


"By the way, adikmu manis juga." puji Panji.


Wajah Vira memerah seketika. Seandainya ada cahaya yang menerangi tubuhnya pasti terlihat kalau dia terbuai dengan rayuan.


"Kenalkan ini adik saya Savira Gayatri. Umurnya baru saja masuk 20 tahun." Panji menjabat tangan Vira.


"Saya Panji, umur saya 32 tahun. Saya masih single."


"Vira."


Panji hanya tersenyum sambil menunduk. Vira masih bersikap cuek pada Panji. Gadis muda itu meninggalkan Panji yang masih terpesona.


BRUUUUUKKK!

__ADS_1


Vira merasa menabrak seseorang, tubuhnya yang hampir jatuh tiba-tiba tertahan pada sebuah lengan kekar. Mata mereka bertabrakan.


"****! kenapa dengan jantungku. come on tujuan kamu kesini bertujuan mengundang keluarga ini untuk datang ke pertunangan. Ingat kamu sudah punya calon istri."


"Ya Allah, kenapa aku jadi tidak berkutik seperti ini. Please, Vira jangan gampang baper. Apalagi buat lelaki seperti dia! Uhhh, nggak banget!" batin Vira.


"Hey!" Vira menepuk pundak lelaki itu dengan kasar.


"Eh, iya. Aduh sakit! Kasar bener jadi cewek."


"Iya, dong. Perempuan harus bisa jaga diri. Apalagi dari lelaki kayak kamu. Emang kamu diundang? Ngapain kesini?"


"Saya malah nggak tahu disini ada pesta. Tadi mampir sebentar mau antar undangan. Kamu pasti tahu kan dengan siapa aku mau tunangan." Vira hanya menyengir kecut.


"Oh, selamat, ya. Jadi kan kamu nggak perlu caper sama keluargaku lagi terutama kak Dira."


"Emang kapan saya mau caper sama kakakmu, Hah!"


"Terus ngapain kamu sering kesini?"


"Ya saya punya kerjasama dengan perusahaan mama kamu. Wajarlah menjalin silaturahmi yang baik. Sudah saya mau ke Bu Dewi. Lama-lama saya stress ngeliat cewek kayak kamu."


"Kayak kamu? enak saja bilang begitu. Kayak pacarnya yang benar aja!" umpat Vira dalam hati.


Acara penyambutan itu berlangsung dengan baik. Semua tamu yang diundang sudah pulang satu persatu. Kini hanya Dira, Juna, Awan, Naura dan mama Dewi. Opa Han dan juga Jaka. Sementara Feri sudah pergi mengantarkan calon istrinya pulang.


Juna memperkenalkan Awan sebagai sepupunya bukan sebagai sopir. Juna juga memperkenalkan Naura dan Jimmy sebagai keluarganya. Mama Dewi menginstruksikan Bi Inah untuk menyiapkan kamar untuk Awan dan keluarganya.


"Juna, Dira mama mau bicara sama kalian, Boleh?"


Juna dan Dira akhirnya duduk di ruang tamu. Mereka penasaran apa yang mau di bicarakan mama Dewi.


"Mama senang kamu pulang, nak. Itu satu kebahagiaan Dira yang mama inginkan. Mama percaya kamu bisa menjaga kesetiaan seperti yang Dira lakukan saat ini."


"Terimakasih, ma. Sudah menerima aku kembali di keluarga ini. Terimakasih atas acara ini."


"Tentu, nak. Mama akan lakukan apapun demi kebahagiaan anak mama yaitu Dira. Hanya mama punya satu permintaan sama kamu."

__ADS_1


"Apa, ma?" tanya Dira dan Juna bersamaan.


"Kalian harus menikah lagi."


__ADS_2