SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 154


__ADS_3

Sepasang kaki tengah berjalan melewati petak-petak lantai berwarna putih. Terlihat si pemilik kaki memutar tubuhnya mencari nama ruangan yang di dapatnya dari salah satu temannya. Rambutnya di kuncir penuh. Tatap matanya menampakkan kecemasan yang dalam.


"Dia di ruangan mana, Eko? kenapa aku tidak menemukan dia?" ucapnya pada seseorang di telepon.


"Aku lihat dia di ruangan VIP. Tidak jauh dari kamar saudara yang aku jenguk." lapor Eko.


"Iya, tapi yang namanya Kayla tidak ada. Sudah aku cek." ucapnya gusar.


"Mungkin sudah pulang, Jo. Kamu ke rumahnya saja. By the way, secemas itu kamu sama Kayla. Bukannya kalian cuma teman saja" Tanya Eko.


"Bukan. Aku dan Kayla sudah ...." Jo menghentikan ucapannya. Dia takut Eko mulutnya bocor dan cerita pada orang-orang di kampus. Sudah pasti yang dia cemaskan Kayla akan di kucilkan. Apalagi istri sirinya itu sedang mengandung sudah pasti mempengaruhi kondisi kandungannya.


"Sudah apa? Kayla itu mau nikah sama seorang pengusaha. Jadi jangan mimpi kamu punya hubungan sama dia," ucapan Eko terdengar sinis.


"Sudah seperti adik dan kakak. Aku sudah anggap Kayla seperti adikku sendiri. Orangtuanya Kayla sudah banyak bantu keluargaku. Jadi wajar dong aku cemas sama Kayla," kilah Jordy.


"Syukurlah kalau begitu. Maaf kalau ucapan aku menyinggung kamu. Aku tidak mau kamu kayak Edi yang gila karena pacaran sama perempuan kaya, yang memanfaatkan dia sampai masuk rumah sakit jiwa." kata Eko sambil mengakhiri telepon.


Beberapa hari yang lalu Jordy mendapat kabar kalau Kayla masuk rumah sakit. Entah apa yang merasuki dirinya, meskipun dia tahu Kayla sudah mencampakkannya. Tapi dia tetap merasa cemas mendengar kabar itu. Sebenarnya yang membuatnya cemas bukanlah Kayla, melainkan anak yang di kandung Kayla. Dia rela cuti kuliah demi mencari nafkah untuk calon anaknya. Dia pernah mendatangi rumah Irul untuk mempertanggungjawabkan atas kehamilan Kayla. Tapi sayangnya Irul mengusirnya seperti binatang.


"Kamu pikir saya sudi punya menantu kelas rendahan seperti kamu! Jangan kamu kira saya tidak tahu sejauh mana hubungan kalian. Saya tidak akan tinggal diam. Kalau saya lihat kamu ganggu anak saya lagi. Bukan hidupmu saja yang berantakan. Keluargamu juga akan ikut hancur!" ancam Irul.


"Om, saya tidak takut dengan ancaman anda. Saya dan Kayla sudah menikah. Sudah seharusnya aku mempertanggungjawabkan atas Kayla dan bayinya, Saya dan Kayla saling mencintai,"

__ADS_1


"Ohoooo, kamu tidak takut kalau saya melakukan sesuatu pada keluargamu. Oh, ya adikmu sekarang berhenti sekolah karena asyik bekerja.


Saya bisa suruh orang-orang saya di Blitar melakukan sesuatu pada adikmu. Adikmu yang cantik bahkan katanya kecantikannya melebihi Kayla. Dan mungkin kecantikannya setelah ini akan dipandang sebelah mata.


Saya juga bisa membuat ibu tiri kamu yang katanya baik dan ramah menjadi kebalikan. Kamu tidak lupa, keluargamu masih di bawah kendali saya. Sekarang kamu pilih, meninggalkan Kayla atau satu persatu keluargamu hancur. Termasuk adik perempuan kamu,"


Tubuh Jo bergetar. Ancaman dari Khairul membuat amarahnya semakin menjadi-jadi. Jo mendadak tegang. Rasanya dia ingin mencabik-cabik sosok di depannya. Tapi lagi-lagi dia mencoba menahannya perasaannya. Jo mencoba menjernihkan pikirannya. Dia tetap teguh pendirian untuk menemui Kayla.


"Kamu masih belum menyerah? kamu tahu kan saya tidak pernah main-main kalau bicara. Saya sedang menelepon anak buah disana. Saya bisa membuat adikmu yang katanya lebih cantik dari anakku. Saya bisa membuat adik kamu bukan lagi menjadi idola di sana. Tapi akan menjadi sampah disana.


Silahkan maju mendekati Kayla kalau kamu mau melihat keluargamu hancur!"


Jordy tahu kalau Irul tidak pernah main-main dalam berucap. Selama ini dia sudah banyak dibantu oleh Irul melalui tangan Kayla. Tapi dia tidak pernah meminta. Bukan dia saja yang pernah dapat ancaman dari Jordy. Tapi ada beberapa tetangganya pernah di teror sama antek-anteknya Irul.


Dulu Irul terkenal sebagai rentenir paling jahat di daerah mereka. Siapapun yang meminjam uang padanya akan berbuntut panjang kalau lambat membayar. Terkadang Irul tak segan menyiksa nasabahnya.


Imbas dari semua yang di lakukan adalah Kayla. Banyak yang tidak mau berteman sama Kayla karena takut pada Irul. Tidak hanya itu, kalau ada yang mengganggu Kayla, Irul akan membuat keluarga si pengganggu tidak tenang. Seperti membakar usaha orang lain, bahkan membuat orang itu meninggal sekalipun. Kayla menjadi penyendiri dan tidak gampang menerima orang lain. Tapi tidak buat Jordy, justru dia merasa Kayla disini sebagai korban kelakuan ayahnya.


Baru saja Jordy akan meninggalkan rumah Kayla. Dia mendapatkan telepon dari rumahnya. Masih berdiri di depan rumah Kayla, Jordi mengangkat telepon dari keluarganya.


"Kamu mau nya apa! mau kami semua mati gara-gara kelakuan kamu! sudah pakde bilang jangan dekat sama Kayla! dia itu berbahaya!"


"Pakde saya tidak mungkin meninggalkan Kayla, Pakde tahu sendiri kalau saya dan Kayla...."

__ADS_1


"Kalau buat masalah jangan bawa-bawa kami! paham!" pakdenya Jordy menutup teleponnya. Jordy duduk meringkuk di depan pagar rumah. Sesaat tangisannya pecah meratapi hidupnya.


Langkah kakinya berjalan gontai meninggalkan area rumah mewah Kayla. Sesaat dia menatap jendela paling atas berharap Kayla muncul menampakkan diri. Tapi percuma, tak ada tanda kalau istrinya ada di sana.


...***...


Kayla membuka matanya pelan-pelan. Sebuah ruangan asing menjadi pemandangan pertamanya. Tubuhnya masih terasa sakit entah apa sebabnya. Yang pasti terakhir dia ingat pergi ke clubbing untuk melepaskan permasalahan yang menghimpit hidupnya.


"Aku dimana?" ucapnya lirih.


"Nona di rumah puncak. Semalam nona masuk rumah sakit katanya nona kontraksi. Tapi tidak tahu kenapa bapak bawa nona pulang kesini." seorang wanita dewasa duduk di sampingnya.


"Anda siapa?" Kayla masih asing dengan sosok di depannya.


"Saya Wati, yang mengurusi villa ini,"


"Aaah..." Kayla mencoba bangkit dari pembaringannya.


"Non jangan banyak bergerak. Nona Kayla masih harus banyak istirahat. Kandungan non baru saja selamat dari maut."


"Kenapa tidak mati saja! kenapa masih mau bertahan! Apa aku harus mati biar kamu ikut mati!" Kayla terus memukul perutnya dengan keras.


"Non, jangan! kasihan bayinya, memang mungkin dia hadir karena tidak di harapkan. Tapi justru dia akan menjadi anak yang kuat, dan juga menguatkan ibunya."

__ADS_1


"Enggak dia nggak boleh hidup! percuma dia hidup tidak ada yang menginginkannya," pekik Kayla.


"Tapi Tuhan yang menginginkan dia hidup, Non." Wati tahu bagaimana kondisi psikis Kayla. Wanita itu langsung memeluk Kayla.


__ADS_2