SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 195


__ADS_3

Mobil berjalan melaju, memecahkan keheningan di sekitar jalan yang masih sepi. Sudah pukul delapan pagi, tapi suasana masih seperti jam enam pagi. Mungkin karena efek habis hujan sampai menjepit subuh. Sehingga orang-orang memilih tetap berada di dalam rumah.


Vira memandang jalanan sambil menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Duduk di kursi paling belakang membuatnya bebas berekspresi. Di depannya ada mamanya dan opa Han. Sementara kakaknya berada di depan menemani Jaka, sebagai sopir.


Padahal awalnya baik Vira maupun Feri tidak ada rencana mau ikut. Tapi tiba-tiba mamanya mengajak gadis bungsunya, katanya biar ada temannya. Sementara Feri tadinya enggan ikut, mengingat sang istri sudah sembilan bulan. Ada rasa was-was meninggalkan Tina, namun dia sedikit lega saat budenya Tina datang berkunjung. Paling tidak istrinya ada temannya.


Area jalan sudah bukan lagi di tengah kota. Melainkan masuk ke daerah pinggiran kota. Jauh dari keramaian. Masih dalam menikmati perjalanan menuju Bogor. Lokasi tujuan mereka yang katanya dekat dengan pabrik milik opa Han.


Dewi berencana untuk investasi tanah. Buat tabungan dimasa tua nya.


Vira tadinya diajak Mama Dewi untuk melihat tanah. Katanya buat investasi hari tua. Kalau memang begitu kenapa harus jauh-jauh ke Bogor. Banyak daerah Jakarta yang bisa di carikan tanah buat investasi.


Sejak mamanya mengajak pergi Vira sudah membayangkan akan terasa membosankan. Bagian urusan seperti itu hanya urusan orang yang dewasa. Tapi dia juga sudah dewasa, sudah 21 tahun. Akan tetapi dia sudah enggan mengurusi hal yang bukan bidangnya.


Vira masih merasa dia adalah dewasa muda. Dalam hal ini dia memikirkan bagaimana merencanakan hari esok. Bagaimana menatap dunia lebih baik lagi, belum mau di rumitkan pada urusan orangtua.


Dewasa muda merupakan tahapan perkembangan yang paling dinamis sepanjang rentang kehidupan manusia.


Seorang dewasa muda telah menunaikan tugas perkembangan masa remaja seperti menyelesaikan pendidikan menengah maupun atas, mengikuti dan menamatkan pendidikan tinggi (universitas/akademi), meniti dan meraih puncak karier, menikah, membentuk dan membangun keluarga baru, berpartisipasi sebagai warga negara yang aktif dan produktif untuk memantapkan status sosial ekonomi keluarga dan sebagainya.


"Ma, aku mau ke rumah Elsa saja. Nanti jemput aku disana atau mungkin aku minta Elsa yang antar pulang. Pokoknya kalau mau pulang nanti aku kabari mama atau kak Feri," kata Vira saat mobil sudah berjalan jauh dari rumah.


"Vira, mama kan sudah bilang. Selama temannya Irul belum ketangkap kamu tidak boleh kemana-mana. Bahaya, Nak. Sekalipun kamu mau ke tempat Elsa. Mama tidak akan izinkan!," titah Dewi tegas.


"Please, Ma. Aku nggak enak sama Elsa. Minggu lalu kan Elsa ulang tahun masuk ke 20. Dan aku baru ingat tanggalnya sudah lewat satu minggu. Elsa pasti marah sama aku, Ma. Buktinya beberapa hari ini dia tidak angkat telepon aku, please!" Vira memohon pada mamanya.


"Sudah, Ma. Antarkan saja Vira kesana. Aku rasa Vira pasti aman kalau berada disana. Orangtuanya Elsa kan teman mama juga, pasti mereka mantau kok," kata Feri.


"Nah tu, kak Feri benar. Lagian aku nggak kemana-mana. Cuma di rumah Elsa doang buat mastikan apa dia marah sama aku apa tidak?" bujuk Vira. Tampak Dewi masih kekeuh dengan pendiriannya.


Bukan maksud mengekang, tapi situasinya sedang tidak memungkinkan untuk pergi ke luar rumah tanpa pengawasan dari mereka. Apalagi kata Vira masih ada Seno yang belum di tangkap. Menurut keterangan dari Vira Seno adalah asistennya Irul. Seno juga terlibat pembunuhan atas Pandawa.


Maka dari itu dia masih was-was meninggalkan anaknya di tempat lain. Walaupun dia tahu di tempat Irwan ada penjagaan ketat dari para bodyguardnya.


"Baiklah, mama izinkan kamu ke tempat Elsa. Nanti kalau mama sudah selesai urusan baru jemput kamu ke tempat Elsa. Handphone harus tetap aktif, oke!" Vira mengangguk dan langsung memeluk Mamanya.


"Terimakasih, Ma," ucapnya di balik dada sang mama.


"Apa sih yang enggak untuk anak-anak mama? ingat kata mama handphonenya harus tetap aktif. Jangan keluyuran dulu, bahaya. Paham!


Jaka, kita putar arah ke rumah Irwan Chandra, ya," Jaka mengangguk lalu memutarkan mobilnya ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


Mobil pun memasuki kediaman Irwan Chandra. Pagar yang otomatis terbuka sendiri setiap ada yang datang. Tinggal klakson pagar pun berjalan mundur hingga habis. Jaka pun melajukan mobil memasuki halaman rumah yang cukup besar. Memutar kolam air mancur lalu berhenti di depan teras rumah.


Vira menyalami mama, kakaknya dan opa Han. Lalu turun ke dari mobil, sesaat berbalik melambaikan tangan kearah orang-orang yang mengantarkan dirinya.


Matanya membulat saat mama Dewi ikut turun dari mobil. Wanita paruh baya itu berjalan melewati tubuh Vira, menaiki tangga empat tingkat hingga berdiri di depan pintu rumah.


Vira dengan malas mengikuti mamanya. Apakah mamanya masih tidak percaya pada dirinya? sampai-sampai masuk bertandang saja harus di kawal.


"Mama kok ikut? sudah mama ikut kak Feri saja. Kasihan mereka menunggu nantinya. Mama kalau ngobrol sama mamanya Elsa kadang suka lama," oceh Vira.


Dewi hanya tersenyum simpul. Dia paham Vira cukup risih kalau di kuntit. Akan tetapi rasanya tidak sopan kalau sudah bersinggah tapi tidak mampir untuk menyapa tuan rumah. Paling tidak, dia lega anaknya sampai pada tujuan.


"Assalamualaikum," Dewi mengucapkan salam ketika pintu terbuka.


"Waalaikumsalam, eh, Mbak Dewi, apa kabar?" sapa mamanya Elsa.


"Alhamdulillah, saya sehat wal Afiat. Kamu apa kabar? rada gemukan, apa kamu nambah lagi?"


Mamanya Elsa tertawa kecil ketika ada yang mengira dia hamil lagi. Soalnya mama Dewi bukan orang pertama yang sudah melayangkan pertanyaannya seperti itu. "Hamil lemak," jawabnya dengan gaya berbisik. Keduanya lalu tertawa bersamaan.


"Saya kesini mau antar Vira, katanya kangen sama Elsa. Sudah seminggu nggak ketemu,"


"Oh, ya. Elsa ada kok di kamarnya. Samperin saja, Vira,"


"Ma, aku mau ke kamar Elsa dulu, Ya," pamit Vira.


"Saya juga mau permisi dulu, sudah di tinggu sama Feri di mobil. Mungkin nanti sore saya jemput Vira. Saya titip Vira, Nggak apa kan, Jeng?"


"Oh nggak apa-apa, Mbak Dewi. Nginap juga nggak apa-apa, jadi Elsa ada temannya," kata mamanya Elsa dengan ramah.


Setelah pamit dari kediaman Irwan Chandra, mama Dewi pun berjalan ke arah mobil. Tampak Jaka berlari tergopoh-gopoh mendekati mama Dewi.


"Ada apa, Jaka?"


"Bu, kita tidak jadi ke Bogor," kata Jaka.


"Kenapa?"


"Tadi saya dapat kabar kalau non Tina masuk rumah sakit mau melahirkan. Terus barusan kata Bi Inah non Dira tiba-tiba kontraksi hebat,"


"Apa! yasudah, saya kasih tahu Vira dulu," Dewi hendak kembali ke rumah Elsa untuk menjemput Vira.

__ADS_1


"Ma, tidak usah. Sudah tidak keburu!" Teriak Feri menyembulkan kepalanya di balik kaca mobil.


"Ya, Allah. Semoga anak dan menantuku serta cucu-cucu lahir dengan selamat," doa Dewi.


...****...


Suasana tegang berada di ruang ICU. Dimana beberapa orang menunggu di depan pintu. Menanti kepastian apakah keluarga mereka akan melahirkan atau bukan. Pasalnya dokter mengatakan kalau Dira masih lama melahirkan. Kenapa malah ikut kontraksi?


"Kak Juna tenang saja, kalau memang non Dira mau melahirkan pasti bakal di panggil," kata Uti yang menemani kakak sepupunya.


"Soalnya kata dokter Dira masih lama melahirkan. Targetnya Dira melahirkan tanggal 15 tapi ini masih tanggal 8," keluh Juna.


"Suaminya ibu Medhira," suara suster memanggil. Juna pun bangkit dari tempat duduknya.


"Iya, sus," Juna mengusap air matanya.


"Bapak diminta menemui dokter Melati di dalam,"


"Baik, Sus," Juna pun mengikuti langkah suster untuk menemui dokter Melati.


"Pak, Juna. Saya cukup speechless bertemu anda. Saya pikir Bu Dira hamil dengan suami barunya. Secara dia sempat koma lama saat tahu anda meninggal dalam kecelakaan," Kata dokter Melati.


Juna hanya tersenyum kecil, Dokter Melati tahu posisi pembahasan agak melenceng dari topik utama. Segera dia minta maaf dan langsung ke pembahasan utama.


"Oke, maaf, kita langsung ke pembahasan utama, Bu Dira sudah masuk pembukaan tujuh. Kepalanya sudah menuju ke bawah. Untuk beberapa saat Bu Dira harus di pancing dulu,


Dan maaf baik Bu Tina dan Bu Dira masih jauh untuk tanda melahirkan,"


"Katanya istri saya masih minggu depan melahirkan. Dia masih sembilan bulan awal,


Maaf, Dok. Kalau kak Tina bagaimana?" tanya Juna.


"Sama, Pak. Bu Tina sudah masuk pembukaan tujuh. Sepertinya dia menunggu suaminya,


Memang perkiraannya seperti itu, tapi sepertinya kepala bayinya sudah mulai turun ke bawah.


Pak Juna sudah siap?" Juna mengangguk. Dia siap menemani persalinan Istrinya.


"Maksudnya apa Istri saya memulai persalinan, Dok?


"Saya hanya minta pilihan pada anda, apakah anda mau Bu Dira menjalani proses induksi atau menunggu sampai benar-benar siap melahirkan?"

__ADS_1


"Apapun langkah yang terbaik buat dokter akan saya ikuti, asalkan anak dan istri saya selamat. Tapi untuk saat ini saya memilih pancingan alami saja,"


__ADS_2