
Dira membuka matanya perlahan-lahan. Kepalanya sedikit berat tapi masih punya tenaga untuk bangkit. Tangannya meraba ke samping ranjang. Tak ada suaminya. Biasanya dia merasa pelukan kencang di pinggangnya. Pandangannya mengedarkan ke sudut-sudut kamar. Siapa tahu suaminya sedang lembur. Dira melipatkan kedua kakinya sejajar dengan dagunya. Lalu turun dari tempat tidur.
Suara decitan pintu menandakan dia sudah berada di luar kamar. Mencari sosok imamnya yang tak nampak batang hidungnya. Ada sedikit takut jika dia hanya sendiri di rumah. Di rogoh nya gawai dari kantong. Sudah jam setengah enam pagi. Ada rasa heran kenapa Juna tidak ada di rumah se pagi ini.
Dira sudah berada di dapur. Memulai aktivitas dengan memasak sarapan. Namun dia kaget ketika membuka tudung saji. Beberapa menu sudah tersaji di depan mata. Ada nasi goreng, telur ceplok dan juga jus buah.
"Ini yang masak mas Juna?" batinnya.
Dengan cepat dia meneguk jus buah buatan suaminya. Entah kenapa dia belum berselera makan. Dira mengambil satu buat pisang Ambon jumbo. Segitu saja dia sudah kenyang. Setelah itu dia membersihkan bekas makan. Mengambil sapu rumah. Tapi lagi-lagi dia di buat kaget. Lantainya sudah bersih, bahkan sudah wangi sabun pel.
"Jangan bilang ini kerjaan mas Juna? Ya ampun, mas Juna. Aku jadi harus ngapain? pegel kalau cuma diam saja."
Setelah mengembalikan sapu rumah ke tempatnya. Dira duduk di teras rumah. Kalau suaminya ke pabrik rasanya tidak mungkin. Ini kan hari Minggu, sudah pasti pabrik tutup. Setelah mengunci pintu rumah Dira berjalan sedikit menjauh lalu melihat kebun bawang di belakang rumahnya.
Tampak daunnya mulai menguning. Katanya kalau menguning tanda bawang sudah bisa diambil. Aroma wangi daun bawang sungguh menusuk indera penciumannya. Kepala Dira mendadak pusing, perutnya serasa naik. Dira menjauhi kebun bawang dan langsung kembali ke rumah. Dia belum menemukan suaminya pulang ke rumah.
"Mas Juna kemana sih?" keluh Dira.
Pagi sudah kembali menyapa perlu mengisi pagi dengan energi positif agar dapat menjalani hari dengan baik nantinya. Bangun dan bekerja di pagi hari memang sangat nyaman, namun tidak sedikit dari kita yang ragu untuk bertemu di pagi hari.
Dira melihat siluet matahari menembus jendela kamarnya. Masih dalam posisi terlentang, dia membuka gawainya siapa tahu ada panggilan dari suaminya.
"Ra, istriku Hamil." Pesan dari Feri menjadi sambutan pertama.
"Selamat, ya, kak Feri. Semoga kak Tina dan bayi nya sehat sampai lahir nanti." balas Dira.
"Kamu pasti bakal nyusul kami, Ra." hibur Feri.
__ADS_1
"Aku juga sedang hamil, kak. Tapi aku belum berani cerita sama kalian. Aku takut ini bukan hamil. Bisa jadi ada penyakit lain." batin Dira.
Dira masih meragukan tentang kehamilannya. Bukan dia tidak bahagia dengan kabar ini. Siapa yang tidak mau hamil? semua wanita yang ada di dunia tentu menginginkan hal ini. Sama seperti Dira, dia cukup menikmati kehamilannya saat ini. Meskipun belum terdeteksi berapa usia kandungannya.
Sayangnya setelah satu minggu pertama kehamilannya. Dia justru sering mengalami kesakitan dalam tubuhnya. Gampang lelah, gampang drop. Itu sudah membuat dirinya takut dengan kehamilannya kali ini. Apakah dia benar-benar hamil. Atau cuma hamil ilusi saja.
Dira pernah mendengar tentang hamil ilusi. Dimana si wanita merasakan aktivitas seperti orang hamil pada umumnya. Tapi ternyata semua kosong belaka. Baru saja dia hendak memenangkan matanya terdengar suara orang masuk ke dalam rumahnya. Dia menebak kalau yang masuk adalah suaminya. Dengan tertatih-tatih dia keluar dari kamar. Tentu menyambut kepulangan Juna.
"Kamu siapa?" seorang pria asing membawa kardus kecil serta satu kantong plastik.
"Maaf, Bu saya lancang masuk ke kesini. Tadi pintunya terbuka saya sudah ucapkan salam tapi tidak ada yang menjawab."
"Saya tanya kamu siapa lancang masuk ke rumah saya!"
"Saya Jordy, bu. Pegawai peternakan pak Hamdan. Saya diminta pak Arjuna mengantarkan susu segar sama daging sapi." Jordy meletakkan kotak kardus dan bungkusan plastik hitam ke dapur.
Sesuai instruksi Arjuna supaya melarang istrinya menyimpan sendiri. Karena istrinya sedang hamil tidak boleh banyak aktivitas.
"Iya, Bu. Saya baru seminggu disini. Saya aslinya orang Blitar, tinggal di Jakarta untuk kuliah. Tapi sekarang lagi cuti karena butuh tambahan biaya untuk persiapan kehamilan istri saya." jelas Jordy.
"Wah, kamu keren masih muda siap menikah dan bertanggung jawab. Kalau masalah kuliah ilmu itu bisa di cari dimana pun. Tapi jarang ada anak muda seperti kamu yang siap nikah saat masih kuliah. Istri kamu disini juga?"
"Enggak,Bu. Istri saya di Jakarta. Sementara tinggal sama orangtuanya. Kami LDR."
"Suami saya masih di perternakan?"
"Masih, Bu. Pak Juna masih sibuk di perternakan. Ada yang mau ibu pesankan?"
__ADS_1
"Saya mau kesana. Bosan di rumah terus, dari tadi saya hubungi tidak diangkat."
"Sebentar, Bu. Saya akan coba hubungi bos Hamdan." Tangan Jordy menari-nari di layar pipih tersebut.
"Halo, Bos. Ini Bu Dira mau ke perternakan menyusul pak Juna. Apa pak Juna masih ada di tempat?"
"Oh, begitu. Baik, pak."
"Maaf, Bu. Tadi kata atasan saya, pak Juna sudah pulang belum lama ini. Sebaiknya ibu tunggu di rumah saja."
"Oh, begitu. Terimakasih infonya."
"Baik, Bu. Saya permisi dulu." Pamit Jordy.
Selepas asisten pak Hamdan pulang. Dira pun mengecek barang yang di susun Jordy tadi. Sekilas dia berdecak kagum, lelaki seperti Jordy bisa menyusun barang sangat rapi. Dia saja masih amburadul beresinnya.
Dira membuka satu botol susu segar sapi. Aromanya membuat dirinya terasa lapar. Satu botol sudah tandas, tidak ada rasa mual saat meminum. Dira pun mencuci bekas botol susu. Siapa tahu bisa di pakai untuk yang lain.
Merasakan ada yang melingkar di pinggangnya, Dira memilih diam menikmati sentuhan penuh sensasi. Seketika dia membalikkan badannya. Juna mendudukkan Dira diatas wastafel. Tangannya setika menjalar ke bagian tubuh Dira yang lain.
Juna masih dengan pakaian kerja langsung melancarkan aksinya. Sikap pasrah Dira yang menerima sentuhan suaminya membuat Juna semakin bersemangat. Tangan Dira sudah menjalar liar ke atas rambut. Tak perlu membawa ke kamar. Di dapur pun sudah cukup buat mereka.
"Mas," deru nafas terputus-putus membuat keduanya saling mengerang.
"Mas, aahahah.." Dira terus mengerang. Hingga pada puncaknya Juna hanya mengeluarkan di luar. Karena istrinya masih hamil muda. Juna tidak berani lebih dalam lagi.
"Kamu, mas. Nakal banget. Mana bau sapi lagi." Dira memukul dada suaminya.
__ADS_1
"Kamu juga nggak protes. Bahkan sangat menikmati. Tadi kepalaku rada pusing. Makanya aku coba tempel di badan kamu. Eh, malah hilang pusingnya."
"Modus!" Dira mencubit hidung Juna.