SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 179


__ADS_3

"Apa om Adrian di kantor polisi? kok bisa masalahnya apa?"


Panji baru saja duduk di kantornya, di kejutkan dengan berita kabar Adrian di tahan kantor polisi. Apa masalahnya dia pun tak tahu? bahkan Randi si pemberi kabar pun merasa heran.


"Aku nggak tahu kak, tadi Tante Anne telepon, mengabari soal papa yang di tangkap polisi. Sekarang kita kesana lihat papa. Aku duluan sama Mona. Kakak tolong kasih tahu Mia soal ini."


"Iya nanti aku kasih tahu, Mia. Ya Allah, ada-ada saja. Kenapa begitu banyak masalah akhir-akhir ini?" Panji langsung mengambil kunci mobilnya.


Sejak Pandawa dia pecat dari sopir, Panji kembali membawa mobil sendiri. Semua yang dia kerjakan untuk diri sendiri. Biasanya ada yang masak di apartemennya yaitu Pandawa. Rumahnya bersih karena lelaki itu rajin membersihkan rumah. Diakuinya Pandawa cukup bisa membawa diri selama tinggal dengannya.


Pagar makan tanaman itu yang Panji sematkan untuk Pandawa. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Temannya sudah tahu hubungan dia dan Vira. Malah ternyata menyimpan barang yang berhubungan dengan Savira.


Mobil yang kendarai Panji sampai di sebuah sekolah. Tentu dengan urusan menjemput Mia yang berkecimpung di dunia pendidikan. Mia menjadi psikolog di salah satu sekolah mahal di Jakarta. Padahal seorang psikolog harusnya berhati lembut. Tapi itu malah berkebalikan dari karakter Mia.


"Bedakan profesi dengan kehidupan pribadi," Mia selalu tegas jika ada membandingkan karakter dan apa yang dia geluti.


Panji turun dari mobil. Kedatangan menjadi tontonan bagi para kaum hawa. Apalagi beberapa guru wanita disana dan murid yang masih remaja karena ketampanannya. Melihat reaksi orang-orang di sekitarnya Panji semakin percaya diri. Sikap narsisnya yang sudah lama hilang kembali lagi.


"Mas ganteng amat sih, mirip idola saya. Park Hyungsik." kata salah satu guru.


"Enggak, dia mirip sama idola saya. Lee Jong suk." kata guru yang lain.


"Iyakah, Bu. Padahal banyak yang bilang saya mirip sama Brad Pitt. Jadi yang benar mana Bu? masa mirip nya beda-beda."


"Mas, ganteng mau apa kesini? mau cari saya ya?"


"Saya mau cari Mia? ada kan?"


Para ibu-ibu saling bertukar pandang. Mereka baru tahu kalau Mia punya pasangan tampan. Selama ini tidak ada yang tahu siapa pasangan Mia. Karena gadis muda itu selalu cuek soal lelaki.


"Mia siapa nya anda?"


"Dia ...."


"Dia calon suami saya, Bu." Mia berjalan elegan mendekati kerumunan ibu-ibu.


"Calon suami? kok nggak pernah cerita. Kenapa dia nggak pernah kesini menemui kamu." Bu Meta tidak percaya.


"Karena dia bukan barang yang di buat untuk pameran. Apakah saya harus kasih pengumuman pada kalian. Kan nggak penting amat orang harus tahu siapa saya dan siapa pasangan saya.

__ADS_1


Yuk, Mas. Tadi kak Randi sudah telepon. Katanya kita di suruh kesana."


Mia meninggalkan tempat kerjanya di sambut tatapan sinis dari para rekan sejawatnya. Dia tidak peduli dengan itu. Secepatnya mengajak Panji meninggalkan gedung sekolah menengah pertama.


"Akhirnya, ..." Mia bisa melepaskan rasa lega setelah mendapat seragam shock terapi dari orang-orang di sekolah.


"Kenapa kamu bilang seperti itu? kamu tahu kita ini saudara, tidak ada ceritanya saudara jadi pasangan seperti yang kamu bilang tadi."


"Harusnya kakak berterimakasih sama aku. Kalau aku bilang Kakak adalah saudaraku, yang ada mereka tetap mengganggu kak Panji. Atau jangan-jangan kakak menikmati sikap mereka.


Sekarang aku mau tanya? kakak benar sudah putus dari adiknya Dira. Kenapa nggak dari dulu aja sih. Pakai tunangan segala, kakak tahu bapak Dira pedofil. Anak sendiri aja di embat. Keluarga mereka sudah banyak masalah."


"Sudah ngomelnya. Iya aku sudah putus dari Vira. Itu juga karena pemaksaan dari papa kamu. Kamu tahu perempuan yang mau di jodohkan sama aku ternyata sahabatnya Vira. Gila kayak tidak ada yang lain saja."


"Ya sama kayak abangnya Ayu. Sudah punya tunangan masih dekat sama Dira. Dira nya juga gatal. Mau sama Arjuna kayak nggak ada cowok lain."


Panji mendengar celotehan Mia menjadi gemes. Rasanya mau dia kasih cabe pada mulut sepupunya.


"Pantesan saja sampai sekarang kamu belum punya pasangan. mulut isinya comboren semua. Laki-laki malas punya pasangan kayak kamu."


"Ya biarin saja. Aku kan limited edition, jadi nggak sembarangan yang jadi pasangan aku.Harus seimbang."


Mia menjelit kearah Panji. Dia masih penasaran apa yang membuat papanya berakhir di kantor polisi.


"Dasar tua Bangka! udah tua masih banyak tingkah! lagian si Adrian lupa kalau bininya lagi bunting. Kalau punya bini bunting jangan banyak tingkah. Tapi dulu juga gitu, papa banyak tingkah pas mama hamil adikku. Eh, buntutnya adekku meninggal dunia bareng mama." Mia menyebut Adrian tanpa embel-embel sebagai orangtua.


"Mia kamu ngomong gitu sih? itu papa kamu!"


"Bukan, aku dan kak Randi sudah merasa yatim piatu sejak papa nikah lagi." Mia hendak keluar dari mobil Panji tapi di tahan sama Panji.


"Kalau kamu keluar itu sama saja buang-buang waktu saya. Sekarang kita berangkat, kasihan Randi sudah menunggu kita dari tadi." Panji merasa handphonenya bergetar.


"Iya, Di."


"Kamu cepat kesini. Ada keluarga korban yang datang ke kantor polisi. Pokoknya kamu datang ke sini cepat."


"Korban? emang nya apa yang Om Adrian melakukan apa?"


"Papa nyulik anak gadis orang. Kakak nggak akan menyangka siapa korbannya. Rekan sesama penculiknya malah buron. Aku saja kaget."

__ADS_1


"Emangnya siapa, Di?"


"Pokoknya kak Panji cepat kesini" Randi langsung menutup teleponnya.


Mobil yang di kendalikan Panji akhirnya sampai di depan kantor polisi. Panji turun diikuti Mia memasuki kantor polisi. Randi sudah menunggu di sudut ruangan. Dua lelaki tampan itu berpelukan.


Suara mama Dewi yang marah sama Adrian terdengar keras dari luar.


Panji kaget saat tahu keluarga korban adalah Tante Dewi. Wanita paruh baya itu mencengkeram leher baju Adrian seperti orang kesurupan.


"Kenapa kamu melakukan itu sama anak saya. Apa salah dia pada anda?"


"Salah dia apa? dia yang membuat perjodohan Panji dengan pilihan saya gagal. Dia sudah membuat calon besan saya mencabut semua yang mereka berikan sama perusahaan saya."


"Itu bukan salah dia, Pa. Papa sengaja menjual kak Panji demi kepentingan bisnis papa. Papa menjelekkan Vira dan membuat kak Panji tercuci otaknya"


"Apa! jadi om menculik Vira!" suara Panji meninggi.


BUUUUUGH!


Satu bogem melayang ke wajah Adrian. Panji tidak menyangka lelaki yang sudah seperti ayahnya sendiri melakukan hal nekat. Panji tidak peduli lagi kalau ada Randi dan Mia. Hatinya terlanjur panas mendengar gadis yang dia cintai dalam bahaya.


"Tante sekarang dimana Vira?" tanya Panji.


"Buat apa? buat nyakitin dia lagi? kalau saja kamu tidak tunangan sama Elsa. Vira tidak akan seperti ini. Ini semua gara-gara kamu Panji." amuk Dewi.


"Tante please, Vira bagaimana keadaannya?" desak Panji.


"Semua korban yang disekap om Adrian di bawa ke rumah sakit Medika." Jelas Juna yang ikut mendampingi Mama mertuanya.


"Emang ada berapa korbannya?"


"Tiga perempuan semua" jelas Juna.


Panji mengusap wajahnya dengan kasar. Tangannya langsung meraih kunci mobil meninggalkan orang-orang yang ada di kantor polisi.


"aku mohon kamu bertahan, Vira. Aku mohon kamu bertahan demi kita berdua. Aku janji akan memperbaiki hubungan kita." batin Panji.


...****...

__ADS_1


Kira-kira kalau Panji ajak Vira balikan di terima apa enggak?


__ADS_2