SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 198


__ADS_3

"Assalamualaikum, Sa Ini aku Vira," suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Elsa yang sedang asyik nonton Barbie pun beranjak meskipun rada malas.


"Waalaikumsalam, masuk, Ra"


"Waduh, Tuan putri kok kusut amat. Amat aja nggak kusut kayak gini," celetuk Vira tanpa malu menghambur ke tempat tidur Elsa.


"Kamu masih nonton Barbie, Sa?" Vira menertawakan tontonan Elsa. Si pemilik kamar langsung menatap tajam ke arah dirinya.


"Ada apa, tiba-tiba kesini?"


"Kamu masih marah sama aku soal hari ulang tahun kamu? Sa, maaf, ya, aku benar-benar lupa. Beberapa hari ini aku selalu diajak mama ke semua acaranya. Undangan, Arisan, pertemuan sama klien, dan tadi dia mau lihat tanah pakai ajak aku. Ya, aku ngeles lah, untung mama mau antarkan aku kesini,"


"Sebenarnya bukan masalah ulang tahunnya, Ra. Tapi aku lagi di hukum sama papa," Elsa memulai ceritanya.


"Di hukum karena apa? kamu nggak ke gap ke hotel atau mungkin kamu ketahuan ke diskotik kan?"'


KEPLAAAK!


Vira meringis saat tangan Elsa mendarat di pucuk kepalanya.


"Kamu kira aku perempuan apaan, Ra? gini-gini aku masih punya harga diri,"


"Terus apaan?"


"Seminggu yang lalu aku kesal sama mama dan papa. Seharusnya mereka pulang dari Macau, nggak tahunya mereka menunda pulang dengan alasan mau bulan madu, mereka masih mikirin bulan madu. Sementara itu hari ulang tahunku, gimana aku nggak kesal, Ra.


Terus kak Pasha ajak aku jalan-jalan. Keliling kota sampai jam 11 malam. Dan ternyata kejutan ulang tahun bukan dari mama dan papa. Melainkan dari kak Pasha,"


"Kak Pasha itu sepertinya lebih ngerti kamu, apa mungkin dia suka sama kamu?"


"Entahlah, kalaupun iya, aku tidak mungkin menerima dia, Ra. Aku sudah pernah bilang kalau aku belum siap mengambil resiko berat kalau papa murka. Tapi saat dia nembak aku, Ra, aku tidak bisa berkutik dan akhirnya kak Pasha jadi first kiss aku,"


Vira mendengar cerita Elsa, tanpa sadar memegang bibirnya. Lintasan bayangan kejadian di Vila Elsa, saat bagaimana Pandawa hampir menyentuh bibirnya.


"Dan papa ternyata sudah pulang. Datang bersama anak buahnya, menyaksikan apa yang kami lakukan saat itu.


Sekarang kak Pasha tidak ada kabar. Apa dia pecat atau mungkin terjadi sesuatu, aku tidak tahu," Wajah Elsa terlihat murung. Namun gadis itu malah bingung, Vira seperti memikirkan sesuatu.


Elsa menatap gawai Vira di sebelah temannya. Dengan cepat dia mengambil untuk melihat photo-photo.


"Sa, kamu mau apain handphone ku," Vira kaget handphonenya sudah berada di tangan Elsa.


"Oh, jadi kalian sudah jalan bareng," Elsa menunjukkan sebuah photo yang menurutnya epic banget.

__ADS_1


"Itu dulu, pas kak Panji hilang tanpa kabar. Lagian dia datang masih berstatus sebagai sopir kak Panji, makanya dia masih antar jemput aku. Udahlah, Sa. Nggak usah di bahas, orangnya sudah tenang di sana," Elsa tertawa melihat wajah bete Vira.


"Hahahaha ..... Muka kamu kok gitu? kangen, ya sama dia,"


Vira mengambil handphonenya dari tangan Elsa. Masih sama-sama rebahan diatas ranjang. Kamar Elsa yang super luas. Menyerupai kamar seperti Barbie, Elsa emang penggila Barbie sejak SMA. Ya karena Vira kenal Elsa sejak SMA.


Sejenak Vira memejamkan matanya. Selama beberapa hari sejak Panji hilang tanpa kabar. Pandawa selalu datang menjemput dirinya. Alasannya simpel, dia merasa masih punya tanggung jawab sebagai sopir Panji, mengantar jemput Vira kemana pun gadis itu pergi.


"Alasan yang masuk akal sih, sekaligus modus," tawa Elsa.


"Kamu nggak marah, Sa? padahal dia saat itu pernah bilang sama aku kalau dia ikhlas kalau aku sama kak Panji. Dia mau mempertanggungjawabkan janjinya sama kamu. Soal cinta dia bisa belajar menerima kamu apa adanya,


Ya walaupun entah kenapa kok aku yang kesal dengar jawaban dia. Katanya mau memperjuangkan janjinya dulu, eh malah main ikhlas segala,"


"Hahahaha .... kamu kesal juga kan itu tandanya kamu mulai ada rasa sama kak Danu.


Tapi aku bukan tipe apa adanya, Ra. Bukan berarti aku matre sih, tapi kalau kondisi perekonomian kak Dawa saja sudah tidak jelas bagaimana dia bisa memenuhi kebutuhan aku.


Sedangkan kata papa, kalau aku menikah nanti, dia tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga dari segi apapun. Dia mau suamiku nanti sudah punya usaha sendiri, mapan dan papa tidak akan mau memasukkan suamiku untuk kerja di perusahaan kami. Jangankan suamiku, sepupu papa minta anaknya kerja di sana saja harus pakai tes, sama seperti pelamar lainnya. Kalau tidak lulus ya harus terima,


Dan itu yang buat papa menerima tawaran om Adrian untuk menjodohkan aku dengan kak Panji,"


"Terus waktu kamu dulu magang disana, bagaimana, Sa? pasti kamu masuk tanpa tes juga kan?"


Sumpah, Ra kalau dia tahu siapa aku, sudah pasti tuh orang nggak punya muka," Elsa menceritakan pengalamannya selama magang di kantor papanya.


Vira memandang langit-langit dinding kamar Elsa. Entah kenapa dia tidak di tawari sama mamanya atau kakaknya untuk magang di sana. Apa karena orang sudah tahu siapa dia? bisa jadi? tapi waktu Dira kerja disana sebagai staf biasa yang tahu hanya Arjuna saja selain kakak dan mamanya.


"Ra, kamu yakin dia sudah meninggal dunia?" Elsa memamerkan postingan seseorang perawat yang meng-upload video tentang pasiennya masih koma.


"Ini ..." Vira langsung terlonjak kaget.


...****...


Mobil itu melaju kencang menembus jalanan sepi. Di dalam mobil tampak wanita usia senja duduk di kursi belakang sopir. Pandangannya beralih ke jalanan luas, pohon-pohon berjejeran seakan menemani perjalanannya.


"Ibu yakin dengan keputusan ini?" tanya seseorang berjas abu.


"Yakin sekali, Genta. Aku harus berdamai dengan masa lalu, walaupun masih setengah hati aku menerimanya," kata Helena.


"Bukan karena perjanjian perjodohan dengan teman ibu kan? siapa namanya?" tanya Genta, asistennya Helena sudah lima tahun bekerja dengan wanita itu.


Genta bukan seorang lelaki melain seorang wanita yang suka berpakaian seperti lelaki. Hanya saja dia tetap memanjangkan rambutnya layaknya wanita seperti pada umumnya.

__ADS_1


Sejak lima tahun yang lalu, Genta sudah bekerja di kediaman Helena Abraham. Nama belakang yang di sandang wanita itu adalah nama suaminya. Lelaki yang sangat dia cintai hingga akhir hayat.


"Burhanuddin Harahap, dia dan mendiang kakaknya adalah teman baikku saat masih di kampung dulu. Tadinya aku mau menjodohkan Deka dengan anaknya Wirya, tapi sepertinya Deka masih mencari keberadaan Sekar dan anaknya. Tapi sekarang anaknya sudah di temukan.


Sementara aku yakin Deka tidak akan mau kalau di jodohkan sama ponakan Burhan. Maka aku dan Burhan sepakat mau jodohkan cucunya dan anaknya Deka. Karena Fadli sudah tiada, Menurut kamu bagaimana, Genta?


"Maaf, Bu. Kalau menurut saya ini terlalu terburu-buru. Ibu kan tahu kalau anak pak Deka masih koma. Kapan dia sadar tidak ada yang tahu? bisa jadi dia akan menyusul den Fadli. Bukan saya mau sumpahi anak pak Deka. Karena yang saya pernah dengar, dokter bilang kesempatan hidupnya sangat tipis,"


Helena menarik nafas dalam-dalam. Ada benarnya apa yang di bilang Genta. Kesannya terlalu terburu-buru, kalau emang iya anaknya Sekar bakal bangun, kalau tidak.


Mobil mereka tiba di depan kediaman Deka, lokasi rumah yang jauh dari keramaian. Deka pernah bilang kalau ingin membuat rumah jauh dari perkotaan. Dengan kehidupan yang tenang bersama anak dan istrinya. Tapi ternyata Deka baru bisa menikmati setelah anak dan istrinya tiada.


"Assalamualaikum, Bu Helena," sapa seorang lelaki berjas putih.


"Wido, kamu yang menjadi dokter untuk anak Deka,"


"Iya, Bu. Saya baru dua bulan ini menjadi dokter untuk Pandawa,"


"Jadi namanya Pandawa," batin Helena.


Dokter Wido masuk ke dalam rumah di sambut dengan tatapan aneh dari perawat disana.


"Kamu kenapa diam? antar dokter Wido untuk memeriksa cucu saya," Helena tidak suka sambutan dari perawat cucunya.


"Maaf, baru saja dokter Wido sudah datang dan sekarang di ruangan tuan Pandawa,"


Mendengar hal itu dokter Wido asli berlari ke kamar pasiennya. Tampak seorang lelaki berdiri di dekat alat medis Pandawa. Sejenak dokter Wido memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Seperti hendak mengutak-atik alat medis pasien.


"Ternyata kamu masih hidup, Dawa. Padahal kurang banyak apa kami membunuh kamu. Bebal juga tubuhmu, tapi tenang saja. Sebentar lagi kamu akan menyusul kakak-kakakmu di neraka. Satu tukang bunting anak gadis orang, satu lagi pelakor, klop, di tambah sama kamu anak hasil di luar nikah, dan sekarang...."


Lelaki itu langsung terpental ke lantai. Tendangan kuat dari dokter Wido mampu menghentikan niat jahat sosok itu.


"Seno!" pekik Helena.


"Dia mau bunuh tuan Pandawa, Bu Helena," adu dokter Wido.


"Hey, ibu Helena, apa kabar?" sapa Seno sambil tertawa.


"Buat apa kamu kesini? mau bunuh cucu saya! tidak akan saya biarkan, Genta! ringkus dia,"


Genta dengan cepat menarik tubuh Seno ke luar rumah Deka. Dua anak manusia berbeda jenis kelamin pun memulai aksi perkelahian. Meskipun perempuan, Genta juga bodyguard untuk Oma Helena.


Bukan hanya Genta, Dokter Wido juga bisa beladiri. Lelaki itu menghajar Seno habis habisan. Tidak sempat dia melarikan diri karena sudah tak berdaya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Polisi pun datang untuk menangkap Seno, buronan yang sudah berbulan-bulan lari dari kejaran polisi.


__ADS_2