
"Jadi, anakmu adalah Pandawa, Dirga?" Dewi kaget saat tahu siapa anaknya Deka.
"Iya, kak itu putraku, kak Dewi,"
"Kamu yakin dia putramu? sudah tes DNA?" Dewi masih menaruh curiga dengan kemunculan Pandawa.
"Sudah, pas 99%, kak," jawab Deka mantap.
"Ya, saya cuma mau kamu waspada buat orang seperti dia. Biasanya orang seperti dia bakal melakukan berbagai cara untuk menempuh tujuannya," nada sumbang kembali Dewi lontarkan pada Pandawa.
Deka melipat kedua tangannya. Mencerna apa yang di ucapkan Dewi.
"Apa kak Dewi mau bilang saya di tipu, begitu? bahkan saya melakukan tes DNA ketika dia masih koma. Tentu saja saya yakin dia anak saya, karena saya benar-benar menyelidikinya,"
"Ya baguslah kalau kamu merasa sudah menyelidikinya. Dan kamu harus didik dia jadi orang yang benar. Karena dia hidup dari keluarga penuh maksiat. Keluarga saya korbannya,"
"Mama!" suara Vira meninggi.
"Sepertinya kak Dewi terang-terangan menolak jika Dawa dekat dengan Vira, Iya kan? Jangan begitu, kak. Biarkan mereka ....."
"Vira, kita pulang!" Dewi menarik anak bungsunya dari hadapan Dawa dan Deka.
"Tante, saya mau bicara ...." belum selesai Dawa bicara Vira sudah di tarik menjauhi Dawa. Sambil mengikuti arah jalan mamanya Vira menoleh kearah Dawa. Berharap lelaki itu menahannya.
Dawa berjalan terseok-seok mengejar Vira. Hanya mengenakan tongkat penyangga Dawa berusaha berjalan sekuat tenaga.
"Tidak usah di kejar, Danu. Percuma kamu mencoba bicara sama mereka. Dewi sepertinya tidak suka sama kamu, papa heran kenapa dia sepertinya punya kebencian sama kamu? apa kamu punya kesalahan sama keluarganya?"
"Iya, Pa. Keluargaku memang punya kesalahan sama keluarga mereka. Panjang ceritanya, Pa. Tapi saat ini izinkan aku untuk bicara sama Savira,"
"Situasinya tidak tepat, Danu. Kamu harus tunggu waktu yang tepat,"
"Pak Deka," sapa seorang lelaki paruh baya.
"Wah, Pak James," Deka menyalami tangan lelaki di depannya.
"Selamat punya mantu, Pak. Pilihan Bondan tepat banget istrinya cantik. Saya kenal keluarga Alika, mereka memang terdidik attitude bagus," Deka terus mencerocos. Sementara Dawa masih mengedarkan pandangan mencari Vira di sekelilingnya. Siapa tahu gadis itu masih di dekat sekitar lokasi pesta. Sesaat dia mengendurkan nafasnya.
__ADS_1
"Ini anak kamu?" tanya pak James.
"Pandawa Danuarta, Pak," Dawa menyalami pak James.
"Bentar kamu bukannya anaknya Irul? kok bisa jadi anaknya Deka?"'
"Om Irul ayah angkat saya, Pak,"
"Owh, begitu. Pak Deka begini tujuan saya menemui anda untuk melakukan permintaan maaf akibat kejadian tadi. Saya sudah lihat di cctv sekitar kalau orang itu mengganggu anak anda. Saya minta maaf atas kekacauan yang di lakukan salah satu tamu kami,"
"Saya juga sudah tidak mempermasalahkan hal itu, Pak. Lagipula pria tadi di bawah pengaruh alkohol sepertinya,"
"Alkohol? pesta kami tidak menyediakan alkohol, bagaimana bisa ada orang yang masuk sudah dalam pengaruh alkohol?" Tuan James kaget ternyata panitianya menyediakan alkohol.
"Kami tidak tahu, Pak. Saat lelaki itu mendekati saya aromanya sudah terasa di indera penciuman," jawab Dawa.
"Oh, ya kalian tahu gadis muda tadi? sepertinya dia viral, barusan assisten saya memperlihatkan video yang di tersebar di sosmed,"
"Itu anaknya kak Dewi Savitri, Pak. Pemilik perusahaan PT. PUTRA NUSA," sambung asisten Tuan James.
"Waduh, pak terimakasih. Tidak usah repot-repot pakai hadiah segala. Lagian anak saya juga tidak kenapa-kenapa,"
"Tidak apa-apa, ini ucapan permintaan maaf sekaligus rasa terimakasih untuk keluarga Bu Dewi Savitri,"
"Sepertinya aku punya ide," batin Deka.
Sementara itu di depan parkiran lokasi acara, Vira menghempaskan tangannya dari genggaman sang mama. Dia kecewa atas reaksi mamanya di depan Pandawa, bukan karena ada rasa atau tidak, tapi seharusnya mama Dewi tidak bicara seperti itu di depan lelaki yang mengaku ayahnya Pandawa.
"Vira!" Dewi mengeluarkan nada tinggi pada putri bungsunya.
"Mama ngapain bilang begitu ke keluarga kak Danu?"
"Vira, mama cuma mengingatkan Dirga supaya tidak tertipu sama Pandawa. Kamu tidak lupa apa yang dia lakukan sama keluarga kita? kamu tidak lupa bagaimana dia masuk ..."
"Tapi mama sudah lupa dengan janji yang dulu. Mama pernah bilang tidak akan mempermasalahkan lagi soal kak Danu. Sekarang ucapan mama seakan tidak sejalan dengan janji yang dulu,
Vira kecewa sama mama," Vira berlari meninggalkan area parkiran.
__ADS_1
"Bu, kalau menurut saya jangan di kejar. Mungkin non Vira sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, saya tadi dengar pertengkaran anda dengan non Vira," kata Alex salah satu staf perusahaan yang di daulat jadi sopir.
Dewi masuk ke dalam mobil, merenungkan apa yang terjadi di acara koleganya. Sungguh dia masih trauma pada segala sesuatu yang berhubungan dengan Irul. Dari Padma hingga Pandawa, walaupun Kayla sudah pernah menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Vira menemukan sebuah kursi di dekat kolam buatan area pesta. Suara susutan hidung terdengar berulang-ulang.
Suara gemericik air yang perlahan mengalir memang membuat perasaan jadi tenang. Hampir semua orang merasakan ketenangan dan bebas stres. Vira memandang suasana di sekitar kolam yang termasuk sepi. Udara segar membuat pikiran panasnya sedikit menyejukkan hati.
Tenangnya perasaan saat berasa di dekat air bukanlah hal yang aneh. Ada alasan tertentu mengapa orang merasakan ketenangan saat ada di tempat yang sepi.
Ting!
Sebuah pesan mendarat di ponselnya. Vira hanya tersenyum kecil membaca tulisan yang memenuhi laman WhatsApp nya.
✉️Pengagum Sepanjang Masa
Siapa yang tidak tahu asmara, sebuah rasa yang membuat insan yang bernyawa berbahagia. Tapi bagaimana dengan asmara yang aku alami saat ini. Rumit iya sangat rumit.
Dinding yang besar menghalangi perjalananku menuju hati seseorang. Hati seorang gadis kecil yang kini tumbuh menjadi kembang perawan. Lika-liku yang aku rasakan karena di tutup dinding besar, yaitu dendam serta kebencian. Tembok tinggi yang membatasi segala pertemuan dan rasa rindu tak membuat kita pantang untuk mengungkapkan isi hati.
Vira, asal kamu tahu setelah sekian bulan purnama berputar. Aku menanti momen ini. Momen yang mempertemukan kita. Entah takdir atau kebetulan semata, aku tidak peduli. Yang pasti aku bahagia bertemu sama kamu. Aku telah menitipkan kesempatanku berasa dengan guratan takdir. Berada dalam lingkup yang memerintahkan aku untuk tetap kuat, tangguh, super
Dan momen ini aku merasa memang takdir yang mempertemukan kita. Menebus rasa rindu yang tak terobati. Sejauh ini aku hanya bisa memantau kamu lewat pesan singkat. Dengan bantuan teman dekat kamu.
✉️ Vira
Teman dekat? siapa?
Kamu bicara soal asmara dan pertemuan seakan kita pernah bertemu dan punya kedekatan. Jika memang kamu berada di sini. Kenapa tidak menampakkan diri, kenapa masih bersembunyi di balas ketikan. Hanya orang pengecut berlindung di balik layar.
✉️ Pengagum Sepanjang Masa
Kita memang pernah bertemu dan dekat. Kamu nya saja yang belum peka. Apakah sinyal-sinyal identitas yang terus aku berikan tidak membuat kamu mengenali aku Savira?
Vira tidak membalas lagi pesan dari lelaki secret admirernya. Baru saja dia berbalik seorang lelaki tersenyum sambil memegang ponsel.
"Akhirnya ku menemukanmu,"
__ADS_1