
"Eh, ada tamu. Ma, ajak tamunya ke dapur. Kita makan bareng," Dira muncul di tengah ketegangan mereka.
"Ya Allah, mama lupa. Ayo Elsa, ayo Dawa, tadi Tante masak banyak," mama Dewi pun ikut mengajak dua tamunya ke dapur.
Suasana di kediaman Arjuna Bramantyo pun masih terasa tegang. Dira masih mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Vira dan Elsa menata meja makan. Hidangan yang sederhana nasi goreng, tempe goreng serta bakwan tidak ketinggalan. Dua tamu itu di perlakukan bak raja dan ratu.
Bagi Juna maupun Dira soal siapa Dawa bukan urusan mereka saat ini. Selama lelaki itu tidak mengusik kehidupan mereka, keduanya masih menganggap lelaki itu orang baik.
Juna meminjam kursi tambahan dari rumah mamanya. Meja yang kecil ternyata bisa di rubah menjadi lebih besar. Meja yang memiliki dua tingkat tinggal di tarik saja. Dira dan Vira pun membuat satu menu lagi.
"Bagaimana jantungmu, Vira? apa baik-baik saja?" Dira memulai obrolan di dapur.
"Maksudnya apa sih, Kak?" Vira merasa risih dengan pertanyaan Dira.
"Maksudnya aku kamu nggak apa-apa kan kalau mereka makan disini. Aku perhatikan kamu sedari tadi diam saja. Mata kamu nggak bisa bohong, Vira. Kamu itu .."
"Sudah siap menunya, Dira," mama Dewi membuat Dira bungkam meneruskan obrolannya.
"Sudah, Ma. Ini mau aku bawa ke depan," Dira menyenggol Vira agar ikut dengannya ke meja makan. Dua bersaudari itu sudah selesai mempersiapkan menu sarapan yang sebenarnya bukan lagi sarapan. Sudah jam sembilan pagi dan termasuk sudah siang.
"Assalamualaikum," suara orang yang datang di depan pintu.
"Vira coba kamu lihat siapa yang datang?" perintah Mama Dewi. Gadis muda itu meninggalkan meja makan dengan wajah cemberut.
Vira sudah berdiri didepan pintu rumah, sejak kedatangan Dawa dan Elsa tadi pintu memang tidak di tutup. Karena kata mama Dewi, dia masih menunggu Panji datang.
"Nggak ada orang," Vira celingak-celinguk melihat pintu depan kosong dan tak ada makhluk apapun. Baru saja dia akan berbalik, pinggangnya serasa ada yang memegang lalu muncul sebuket bunga mawar merah di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu tahu, bunga itu mawar merah merekah. Sama seperti kamu, pesona- mu sudah merekah di hatiku. Kamu tahu, kalau coklat itu manis lumer saat dimakan. Dan aku tahu meskipun kamu keras kepala tapi aku yakin hatimu lembut di dalam."
"Om, nyontek darimana? pasti dari google," decih Vira.
"Apapun yang aku lakukan sama kamu. Pasti dianggap begitu. Yasudahlah, mawarnya buat Tante Dewi saja. Kan kamu nggak mau?" Panji mengambil buket mawar merah dari tangan Vira.
Vira mengikuti Panji masuk ke dalam. Masih dalam keadaan dongkol karena bunganya di rebut kembali oleh Panji.
Panji sudah berdiri di depan ruang makan. Semua sudah berkumpul di meja makan. Termasuk ada Dawa dan Elsa. Panji mengucap salam pada tuan rumah, menyalami mama Dewi. Tampak mama Dewi semakin tersanjung saat Panji memberikan buket mawar merah.
"Ini buat Tante Dewi, sesuai dengan namanya mawar merah. Seperti wajah Tante Dewi yang merekah penuh kebahagiaan," rayu Panji.
"Plin-plan, tadi dia ngomong gitu sama aku juga. Sekarang ngerayu mama pakai kata itu juga. Nggak kreatif," omel Vira.
"Terima kasih, nak Panji. Kamu ini sepertinya perayu ulung. Kamu sudah lama di Lembang, nak?" tanya mama Dewi.
"Saya sampai tadi malam sehabis isya. Diantar sama Jaka, asistennya om Burhan. Ya tadinya saya mau ajak Feri. Karena istrinya sedang hamil Feri tidak berani membawa Tina ke luar kota. Alhamdulillah kalau Feri hamil. Tinggal tunggu kabar Dira hamil,"
Deg! Dira terdiam mendengar ucapan sang mama. Dia lupa mengabari kalau sebenarnya dia juga tengah berbadan dua. Karena ketakutannya soal kehamilan yang mirip seperti kehamilan pertama. Pandangannya dialihkan kearah suaminya. Seakan meminta solusi kecanggungan perasaannya.
"Sebaiknya kita jujur sama mama soal kehamilan kamu. Vira saja sudah tahu, masa kita tidak cerita sama mama," kata Juna.
"Tapi aku takut mama marah. Aku kenal mama, Mas. Semua yang di miliki anak-anaknya mama selalu ingin jadi orang pertama yang tahu. Sekarang mama adalah orang yang kesekian belum tahu keadaanku."
"Maka itu, kita jujur dari sekarang. Biar kamu lega dan tidak merasa bersalah. Biar mama tidak merasa marah lagi. Kemarahannya orangtua biasanya sebagai tanda rasa khawatir pada anaknya. Aku yakin meskipun mama nanti marah, itu hanya sementara. Percayalah, Sayang."
"Iya, Mas. Tapi apa harus sekarang? aku takut, Mas,"
__ADS_1
"Bagaimana nanti setelah tamunya pergi kita bicarakan sama mama. Kayaknya momennya nggak enak. Entah kenapa waktu kedatangan Dawa dan Elsa muka mama muram. Aku yakin mama tidak suka kehadiran Dawa. Feeling aku semoga salah," kata Juna.
"Iya, Mas." Dira menunduk lemas.
"Mas, aku lihat Panji dan reaksi mama jadi keingat sama Rian. Maaf ya, Mas bukan aku mau bahas masa lalu ku. Tapi kenapa aku merasa nasib Panji akan sama dengan Rian. Dan aku melihat Elsa seperti melihat Delia dulu. Sepertinya Elsa terobsesi sama Pandawa, dan Pandawa itu kayak kamu. Peka nya lama, katanya suka dari kecil masa nggak bisa bedain mana Vira dan Elsa.
Dan aku melihat kalau Vira itu sebenarnya..."
Dira tidak lupa bagaimana mama Dewi begitu semangat saat Rian mendekati putri keduanya. Bahkan pakai konferensi pers di perusahaan bersamaan dengan lengsernya jabatan Juna sebagai manajer di gantikan Dira. Sepanjang perjalanan hubungannya dengan Rian, Dira mulai belajar menerima lelaki itu. Disamping rasa pesimis tentang Arjuna. Belum lagi Arjuna yang pantang menyerah mendekati Dira, padahal sudah ada Delia.
Acara sarapan entah masih bisa disebut sarapan pun berlangsung dengan lancar. Mama Dewi mengundang Elsa untuk acara malam tahun baru. Tentu dengan rencana yang sudah dia buat.
"Maaf, Tante Dewi. Elsa harus pulang ke Jakarta. Tante tahu kan lusa adalah rencana pertunangan aku dan kak Dawa. Jadi maaf Elsa tidak bisa bergabung dengan kalian,"
"Sa, papa kamu barusan telepon aku, dia bilang kamu tidak angkat telepon, buruan hubungi papa kamu. Kayaknya penting," sahut Dawa.
"Astaga handphoneku di simpan dalam tas. dan tas ku didalam mobil, aku ambil dulu kak. Papa pasti cemas karena kita belum pulang,"
"Kalian di villa cuma berdua?" tanya mama Dewi.
"Enggak ada bibi sama anak gadisnya yang tinggal di villa. Kebetulan Villa papa ada 4 kamar," cerita Elsa.
"Oh, syukurlah. Hati-hati Elsa, kamu kan baru kenal sama Dawa. Belum tahu bagaimana asal usul. Entah dia dari keluarga mana, apalagi dia cuma anak angkat Khairul," Mama Dewi terus melancarkan aksinya.
"Iya, Tante terima kasih sudah mengingatkan. Saya permisi mau ambil handphone di mobil," pamit Elsa.
Elsa sudah mendapatkan handphonenya di mobil. Masih berdiri di dekat mobil, Elsa pun membuka handphonenya. Benar, ada 15 panggilan telepon dari papanya. Dahinya mengkerut, mempertanyakan kenapa papanya memanggil sebanyak itu.
__ADS_1