SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 166


__ADS_3

Sejak mundur dari jabatan serta resign dari perusahaan Global Machine, Pandawa tidak hanya duduk diam saja. Dia pun memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan. Paling tidak ada lowongan sebagai staf kecil tidak masalah asalkan dia tidak menganggur. Bahkan dia pun memasukkan lowongan sebagai OB di salah satu perusahaan yang pernah dia tolong semasa menjabat.


"Saya tahu kalau anda butuh pekerjaan setelah di resign dari perusahaan lama. Tapi saya rasa tidak etis kalau anda mau jadi OB. Untuk lowongan staf belum ada, tapi untuk OB saya akan merasa bersalah. Anda dulu banyak bantu saya. Saya akan hubungi beberapa kenalan untuk mencarikan anda pekerjaan."


"Dan maaf,pak Pandawa. Usia anda bukannya diatas 27 untuk kriteria pekerja laki-laki. Kami juga tidak bisa asal memperkejakan kalau tidak sesuai syarat"


"Tidak apa-apa. Sebenarnya saya sempat jadi OB saat masih kuliah. Kerja di Global Machine tidak langsung dapat jabatan besar. Selama lima tahun kuliah saya nyambi jadi OB disana. Karena saat itu kakak saya juga sedang sakit keras." Dawa pun bangkit dari kursi ruang Direktur perusahaan PT. Kertajaya. Menyalami lelaki yang dia kenal selama dia di Global Machine. "Saya pamit, maaf kalau saya sedikit mengganggu pekerjaan anda." Keduanya bersalaman dan Dawa pun meninggalkan ruangan tersebut.


Dawa berjalan di tengah teriknya panas matahari. Sambil menenteng map berwarna cokelat. Dengan kemeja putih yang sudah basah dengan keringat. Meskipun masih ada tabungan yang jumlahnya tidak sedikit. Hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun bekerja di Global Machine. Apartemen dan juga rumah mewahnya sudah diambil sama Irul. Sekarang dia tinggal di apartemen Panji sambil menunggu dapat pekerjaan baru.


Ternyata tidak mudah mencari pekerjaan. Menipisnya lowongan pekerjaan dan membludaknya jumlah sumber daya manusia yang berlomba-lomba mencari pekerjaan menyebabkan persaingan yang sangat ketat dalam mencari mata pencaharian dan meningkatknya jumlah pengangguran di Indonesia.


Sulitnya mendapat sebuah pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia yang jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pencari kerja, melainkan juga akibat adanya kesenjangan antara kompetensi atau keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dengan keterampilan.


Sudah empat perusahaan dia datangi jawabannya tetap sama. Kosong tidak ada lowongan. Padahal jelas-jelas dia dapat informasi lowongan dari info surat kabar. Dawa menepikan matic nya. Pandangannya beralih ke warung makan lesehan di pinggir jalan. Dia butuh energi untuk melancarkan aksinya.


Baru saja dia akan menepikan motornya. Handphonenya berdering, Dawa melabuhkan tubuhnya di sebuah kursi panjang pinggir jalan. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang menelepon.


"Elsa," sapanya lirih.


"Kakak di mana?" tanya Elsa.


"Aku di luar sedang cari kerja"


"Oh, yasudah kalau begitu. Tadi aku mau menemui kakak di apartemen."


"Aku sudah tidak tinggal disana lagi. Saat ini aku tinggal sama kak Panji. Sambil cari kerja dan kontrakan baru."


"Tapi nanti malam kakak ada di rumah kan?"


"Insyaallah, Sa. Kabari saja kalau memang kamu kerumah. Aku juga ada yang mau di bicarakan sama kamu. Soal ..."


"Soal kita kan? sama, aku juga mau bicara soal ini." Elsa menutup telepon sebelum Dawa mengakhiri pembicaraan mereka. Dawa menarik nafasnya dalam-dalam. Ada rasa bersalah ketika selama ini dia memang salah sasaran. Tentu secara tidak langsung dia sudah memberi harapan pada gadis itu. "Maafkan aku, Sa." batinnya.


Dawa tiba di apartemen Panji. Tentunya setelah seharian mencari kerja tubuhnya terasa sangat lelah. Dawa masuk ke kamarnya. Di apartemen Panji ada dua kamar. Katanya itu untuk kalau ada tamu keluarga yang menginap. Dawa membasahi tubuhnya setelah seharian di luar rumah. Suara alunan adzan terdengar dari gawainya. menandakan waktu ashar telah tiba.

__ADS_1


Dawa mengambil sarung dan baju kokonya. Menghadap sang khalik sebagai kewajiban seorang muslim. Berserah diri atas apa yang dialaminya akhir-akhir ini.


Selasa sholat Dawa pun keluar dari kamar. Tampak Panji sudah santai di depan televisi. Dawa pun membaur diri. Panji pun mengajak Dawa mengobrol ringan.


"Bagaimana?"


"Zonk, banyak lowongan yang nggak sesuai dengan infonya. Kayaknya gini ya jadi pengangguran, cari kerja susah"


"Sebenarnya masih jadi misteri buat aku, kenapa kamu mundur dari perusahaan itu. Iya kamu pernah bilang kalau kamu membatalkan pernikahan karena calonmu sudah hamil tiga bulan. Tapi nggak perlu lah pakai mundur segala."


"Kak Panji nggak tahu seperti apa om Irul. Justru dia mengancam akan mengambil semua yang saya punya. Bukankah semua keputusan yang kita ambil harus siap konsekuensinya.


Kak, aku mau minta kerja sama kamu boleh. Nggak usah di kantor. Jadi tukang bersih rumah boleh, jadi sopir juga nggak apa. Sebagai balas jasa atas kebaikan kak Panji sama saya. Padahal kita baru kenal. Tapi kakak baik sekali sama saya."


Panji tertawa mendengar permintaan Dawa. Seorang mantan direktur meminta kerja sebagai sopir. Bagaimana mungkin bisa kerja seperti itu.


"Ya emang kamu nggak malu jadi sopir?"


"Kalau itu halal kenapa enggak? daripada jadi perampok."


"Bisa, pak."


...****...


Sesuai instruksi atasannya Dawa pun menjemput Vira untuk pergi ke butik. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Vira terus membuang muka kearah luar.


"Kalau kamu memang bukan Sapi, kenapa kamu tidak bersikap biasa saja. Semakin kamu berkelit aku semakin yakin kalau kamu ..."


"Berisik! nyetir saja nggak usah banyak cengcong"


"Beberapa hari yang lalu Kayla menghubungi aku. Dia minta bertemu dan memberi alamat. Tapi saat aku datang rumahnya di kunci dan nomornya tidak bisa di hubungi. Aku sudah suruh kenalanku melacak keberadaan Kayla. Tapi zonk."


"Terus urusannya apa sama saya?"


"Bukankah kamu peduli dengan Kayla. Kalau tidak kamu tidak marah sama saya."

__ADS_1


"Aku peduli sama Elsa. Aku nggak mau Elsa sama seperti Kayla di campakkan saat lagi sayang-sayang nya."


"Aku tidak pernah mencampakkan Kayla. Justru mereka yang sudah menipu aku selama ini. Aku sudah membuktikan bakti pada om Irul, aku sudah mencoba menerima Kayla dan aku juga sudah mulai belajar mencintai Kayla. Tapi apa balasannya."


"Sudah mulai mencintai? Hah! gampang ya ngomong seperti itu. Kamu malah masuk ke keluargaku dan mencoba mengambil hati mamaku. Dan mendekati kak Dira, iya kan? Dasar kamu brengsek!" Vira terus memukul tubuh Dawa atas kekecewaannya.


"Bukan mendekati Dira tapi aku jatuh cinta sama adiknya Dira!" jawab Dawa lantang.


PLAAAAAK!


"Kak Dawa" Dawa tersentak saat suara lembut menyapa dirinya.


Dawa memandang kearah gadis di sampingnya. Ternyata obrolan tadi hanya khayalannya semata. Jika dia memang menceritakan hal itu pada Vira soal Kayla.


"Iya,"


Vira melihat lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Itu tanda sudah bisa berjalan walaupun pelan-pelan. Dawa pun melanjutkan perjalanan ke butik untuk fitting.


Hingga akhirnya mereka sampai di butik sesuai dengan alamat yang Panji berikan. Vira turun dari mobil tanpa memperdulikan Pandawa. Memasuki butik matanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Panji. Tapi sayangnya dia tidak menemukan keberadaan calon suaminya. Vira memilih duduk sambil memainkan handphonenya.


Seorang wanita pegawai butik menyapa Vira. Menanyakan kepentingan Vira datang ke butik. Vira bilang kalau dia menunggu calon suaminya.


"Maaf, Mbak. Semua yang disini sudah di booking semua. Kalau boleh tahu siapa nama mbak dan pasangan mbak."


"Nama calon suami saya Panji dan Saya Savira. Kami berencana akan fitting gaun untuk pertunangan minggu depan."


"Bentar, Mbak saya check dulu."


"Maaf, mbak. Mas Panji sudah membatalkan bookingan tadi. Dan gaun yang tadi di batalkan sudah di booking orang lain."


Vira langsung berdiri setelah mendengar keterangan pramuniaga. Apa dia tidak salah dengar? Vira kembali meminta mereka memastikan kembali. Tapi tetap saja karyawan butik mengatakan kalau Panji sudah membatalkan pakaian mereka.


Vira berjalan menjauhi butik. Tidak ada hujan tidak ada angin calon suaminya membatalkan bookingan gaun mereka. Vira beberapa kali menghubungi Panji sayangnya tidak diangkat. Serasa melihat kupu-kupu mengelilingi kepalanya, Vira merasa pandangannya gelap.


"Sapi!" Vira hanya mendengar suara Dawa memanggil dirinya. Setelah itu dia tak tahu lagi.

__ADS_1


__ADS_2